
"Ya Allah, indahnya." Ardhi terpesona melihat indahnya sungai dekat sawah itu. Sungai itu tidaklah lebar dan tidak dalam sama sekali, arusnya juga tidak deras, ditambah airnya begitu jernih sehingga bebatuan dan kerikil serta pasir di dalam sungai itu terlihat jelas. Bahkan ikan-ikan kecil juga nampak berenang.
Melati melirik Ardhi yang kini berdiri di sebelah kanannya. Mencuri-curi pandang pada suaminya itu. Ekspresi wajah Ardhi terlihat begitu bahagia. Melati tersenyum tipis. Disaat Ardhi menoleh kepadanya.
"Ayo kita mandi." Melati tetap diam di tempat. Saat suaminya menarik tangannya untuk nyemplung ke sungai. Melati masih kaku, merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi pada mereka hari ini. Mandi bersama dengan pria yang semalam sudah sah jadi suaminya. Menikah tanpa dasar cinta, tapi jadi dekat seperti ini.
"Maaf!" Ardhi melepas genggaman tangannya dari pergelangan tangan nya Melati. Dia tahu, Melati tidak senang disentuh olehnya. Bahasa tubuh Melati mengatakan itu.
Ardhi pun akhirnya menyemplungkan tubuhnya ke dalam sungai. Mandi dengan hebohnya, menjatuhkan badannya yang masih berpakaian lengkap itu, ke air yang sejuk, menyentuh kalbu, membuat hati jadi adem.
Ardhi membersihkan rambutnya yang kena lumpur. Menggoyangkan kepalanya, sehingga air yang ada di rambutnya itu berjatuhan. Merasa sudah bersih. Pria itu menatap ke arah Melati yang sedang menyingsingkan lengan gamisnya, duduk di batu di tepi sungai. Pria itu memperhatikan lekat Melati yang membasuh tangannya dan juga kakinya.
Ardhi terkesima melihat pemandangan indah di hadapannya. Seandainya dia bawa camera, mungkin dia akan mengabadikan moment ini semua. Air sungai yang diterpa cahaya matahari memantul memancarkan sinar indahnya ke wajah cantiknya Melati. Wajah ayu tegasnya Melati jadi bergradasi.
Ardhi mencuci kembali wajahnya, serta mengucek matanya secara berulang-ulang. Guna memperjelas penglihatannya, dia Ingin memperjelas apa yang ditangkap oleh matanya saat ini. Wajah Melati bersinar indah dipenglihatannya. Istrinya itu seperti bidadari yang turun dari surga saja di matanya.
Refleks Ardhi mencipratkan air kepada Melati, yang membuat wanita itu menoleh kepada suaminya itu dengan tersenyum kecut. dia tidak ingin mandi. Mana mungkin dia sanggup mandi bareng dengan suaminya itu. Karena dia masih merasa canggungdengan sang suami.
"Jangan Mas." Melati menghadang air yang dicipratkan Ardhi padanya dengan tangannya.
"Sini mandi, airnya seger Loh." Menggerakkan tangannya dan tersenyum manis pada sang istri.
Melati menggeleng kesal. Ardhi pun tidak mau mengganggu istrinya itu lagi. Dia pun kembali menyemplungkan badannya ke dalam air. Menghentak-hentakkan kakinya dengan kuat. Berteriak dengan penuh kepuasan.
"Seger... Huuuaaakkk..!" Teriak Ardhi lagi, pria itu seperti tidak pernah mandi saja. heboh sendiri di dalam air itu. Melati hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Ardhi seperti anak kecil yang heboh saat bermain air.
Melati kembali fokus membersihkan gamisnya bagian belakang. Tepat di bokongnya. Gamisnya itu gak bisa bersih sempurna. Setidaknya lumpur yang menempel di gamis itu terlepas sudah.
__ADS_1
Prak...prak..prak...
Suara kain di banting ke batu menyita perhatian Melati. Wanita itu pun menoleh ke asal suara. Ternyata itu adalah kerjaan sang suami. Yang membanting-banting bajunya ke batu.
"Astaghfirullah..!" Melati langsung menutup matanya dengan jemarinya. Dia terkejut dan tak sanggup melihat tubuh atletisnya Ardhi yang kini bertelanjang dada itu. Bulu- bulu halus hitam tersusun rapi sampai ke bawah pusat sang suami. Itu pemandangan yang tak pernah dilihat oleh Melati.
Ke **** an suaminya itu semakin terlihat menantang dan menggiurkan, disaat celana jeans yang dikenakan suaminya itu sedikit melorot hingga ke panggul. Mungkin karena celana jeans itu berat karena basah.
"Astaghfirullah..!"
Melati langsung memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup melihat Ardhi yang bertelanjang dada itu kini menghampirinya dengan menyampirkan kemeja dan kaos dalamnya yang basah, di bahunya.
Melati berjalan dengan cepat, menuju pondok mereka. Sedangkan Ardhi mengekor di belakang sambil bersiul. Perhatiannha pun kini tertuju pada jagung itu. Ternyata kalau dari arah sungai, ada jalan lain menuju kebun jagung itu dan jalannya tidak becek.
"Mas ambilkan jagungnya dulu. Adek bawain baju Mas ya?!" langkah Melati terhenti mendengar ucapan sang suami. Dia pun menengadahkan tangannya ke belakang. Dia benar-benar tidak berani menoleh ke belakang. Dia pun tak mau banyak tanya lagi. Dia memang sangat ingin makan jagung bakar.
"Hati-hati jalannya Dek!" Melati mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke pondok. Sedangkan Ardhi menyimpang ke arah kebun jagung Lak Samsul.
Sesampainya di pondok, Melati menjemur pakaian Ardhi di pondok itu. Dia pun naik ke lantai dua. Karena memang pondok Pak Samsul bertingkat. Dia akan mencarikan sarung untuk dikenakan suaminya itu. Dia tidak mau Ardhi masuk angin. Selalu ada sarung ditinggal Pak Samsul dan Ibu Khadijah di pondok itu. Yaitu sarung untuk sholat. Semua serba lengkap di pondok itu, bahkan Priuk dan kuali juga ada. Garam, gula, bubuk teh serta kopi juga lengkap.
Kini Melati sudah duduk manis di pondok lantai satu, memperhatikan Ardhi yang berjalan ke arahnya dengan membawa enam buah jagung.
Melati berani menatap sang suami, karena masih berada dijarak yang jauh darinya. Disaat posisi Ardhi sudah dekat ke pondok. Wanita itu pura-pura sibuk melipat sarung yang tadi diambilnya. Dia tidak berani lagi menatap sang suami, yang kini sudah duduk dihadapannya.
"Jagung nya besar-besar banget dek." Melati menatap jagung yang diletakkan Ardhi di lantai papan pondok itu.
"Kita bakar jagung ya, mas pingin makan jagung bakar di sini." Melati langsung mengangguk, dia pun sangat ingin makan jagung bakar di sawah mereka saat ini.
__ADS_1
"Tapi, gimana cara bakarnya. Mas gak punya korek api."
"Disini ada korek koa Mas. Sebentar saya ambilkan dulu." Melati mengambil korek api tak jauh dari tempatnya. Tatapan Ardhi tak pernah lepas dari sang istri yang nampak malu-malu itu. Ardhi semakin gemes saja. Kenapa setelah ijab kabul, dia jadi senang banget kepada istrinya itu? apa karena wanita itu sedang mengandung anaknya. Apakah istrinya itu sudah tidak membencinya? seperti nya iya, karena Melati sudah mau banyak komunikasi dengannya.
Ardhi senyam-senyum menatap istrinya itu yang kini menyodorkan korek padanya. Pria itu teringat kejadian saat mereka terjatuh di sawah. Peristiwa yang begitu romantis.
"Mas, ini koreknya." Dari tadi tangan Melati sudah mengatung di udara, tapi Ardhi yang melamun itu, tidak melihat lagi Melati yang memberikan korek padanya.
"Ohh iya." Ardhi tersenyum meraih korek itu. Dia pun mulai menghidupkan api dengan daun daun kering serta ranting kayu yang ada di pondok itu.
Ardhi yang terbiasa berkemah dan naik gunung dengan gampang menyalakan api. Dia pun mendekat kan kedua tangannya ke api. Dia ingin menghangatkan tubuhnya yang memang sudah kedinginan.
Melihat suaminya menghangatkan badan, Melati pun mendekati pria itu.
"Mas ganti dulu celananya, pakai ini." Melati menyodorkan sarung bermotif kotak-kotak warna hijau mix hitam. Masih tidak berani menatap Ardhi yang sangat sexy itu. Ardhi dengan sigap meraih sarung itu, dia mengerti maksud sang istri.
Gimana gak sexy. Belahan bokong pria itu terlihat jelas, saat pria itu jongkok saat menyalakan api. Bahkan kolornya juga terlihat bagian talinya.
Narkoba alias Nampak kolor bangga. Melati membatin, mencuri-curi pandang pada Ardhi yang naik tangga ke lantai dua. Guna mengganti celananya yang basah dengan sarung yang diberikan oleh Melati.
Setelah pria itu tak nampak oleh matanya lagi. Melati pun berniat membuatkan kopi untuk Ardhi. Di pondok itu serba lengkap memang. Ada piring, gelas, sendok. komplit deh, karena Pak Samsul dan Ibu Khadijah sering makan siang masaknya di sawah itu.
Saat sedang menuangkan air kedalam teko aluminium yang dibuat khusus untuk memasak air. Suara Ardhi yang teriak di lantai dua, sukses membuat Melati terserang jantung
"Tidak.... Tolong....!" Teriak Ardhi untuk kedua kalinya.
TBC
__ADS_1