DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
30 juta


__ADS_3

"Saya bisa makan sendiri, lebih baik Abang pulang ya? minta tolong buatkan surat sakitku. Nanti Abang kasih sama Si Butet." Ilham menghela napas mendengar permintaan wanita yang sedang memelas di hadapannya. Wanita itu begitu takut, jikalau Ilham dan Ardhi bertemu di ruangan itu.


"Baiklah, Abang pulang." Ilham meraih ponsel Melati yang ada di bed di dekat wanita itu duduk. Kemudian pria itu menghubungi no ponselnya menggunakan handphone mahal miliknya Melati.


"Siapa tahu, kamu gak pakai nomor yang Abang berikan. Jadi Abang perlu tahu nomor ponsel ini."


Melati hanya mengangguk, dia yang lagi bimbang hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan Ilham. Pria itu begitu tulus padanya. Pria itu mengetahui apa maunya. Selalu ada disaat dia susah. Beda dengan Ardhi yabg sama sekali tidak peka.


Setelah kepergian Ilham. Melati mulai menyantap makanannya. Menunya ikan gembung bakar, capcai, tahu goreng dan nasinya dibuat seperti bubur.


Melati memakan makanan itu dengan tidak seleranya. Tidak ada tambahan cabe di menu makanannya. Itu yang membuat dia jadi tidak selera. Melati terbiasa memakan makanan pedas.


"Assalamualaikum...!" suara riangnya Ardhi terdengar di balik pintu. Belum juga wanita itu menjawab salamnya. Pria itu sudah masuk, dengan senyum manis tipis penuh kehangatan di pagi yang cerah ini. Melati terkesima sesaat memandangi Ardhi yang menghampirinya.


Melihat senyum pria itu, Melati merasa ragu dengan ucapan Ilham. Bahwa Ardhi pria bejat. Tapi, bukti sudah dilihatnya tadi. Melati sungguh bimbang dibuatnya. Coba Ibu Jerniati tidak seperti monster mengerikan. Mungkin dia tidak akan seragu ini untuk menikah dengan Ardhi.


"Lama ya, tadi saya mencari ini. Syukur ternyata ada warung yang buka dua puluh empat jam." Ardhi membuka semua makanan yang dibelinya. Ada bubur ayam, sate Padang dan mie Aceh."


Melati terbengong melihat apa yang terhidang di atas nakas dekat bed nya Melati. Mie Aceh, mantan majikannya itu membeli mie Aceh di pagi ini.


Perasaan Melati langsung senang melihat tampilan mie Aceh yang menggiurkan itu. Ingin rasanya dia langsung menyantapnya.


Ardhi melirik Melati yang memplototin mie Aceh itu dengan mata yang berbinar-binar. Ada kebanggaan tersendiri buat Ardhi pagi ini


Karena melihat rawut wajah Melati yang terlihat senang.


"Kamu mau ini kan?" Ardhi tersenyum, menyodorkan mie Aceh yang ada di wadah streofom itu kepada Melati.


Keduanya beradu pandang. Hingga Melati pun memutus tatapan mereka. Setelah wanita itu meraih mie Aceh dari tangannya Ardhi.


"Saya tahu, kamu ingin mie Aceh tadi malam. Tapi, saya gak mau menawarkannya. Kenapa? karena, perutmu masih bermasalah. Kalau pagi ini, saya yakin perutmu sudah sembuh."


"Tapi, saya inginnya mie Aceh yang semalam." Ucap Melati dengan plolosnya. Ardhi tersentak mendengar ucapan Melati.

__ADS_1


"Apa Mie Aceh ini gak enak?" Ardhi menyendokkan mie Acehnya Melati. Saat sendoknya tergeletak di atas wadahnya itu. Dan pria itu memasukkan mie Aceh itu langsung ke mulutnya. Melati terkejut dengan kelakuan sang mantan majikan. Ardhi makan menggunakan sendok bekasnya. Oh ini sungguh mengejutkan. Apa pria itu tidak meraa jijik. Apalagi Melati belum gosok gigi. Sedangkan pria itu saat ini terlihat sudah segar, rapi dan wangi.


Melati benar-benar tercengang melihat Ardhi yang memakan mie Aceh bagiannya.


"Enak koq, rasanya tetap sama dengan mie Aceh yang aku makan tadi malam. Rasanya begini juga, sedap, gurih, maknyos." Ardhi menyodorkan satu suapan mie Aceh ke hadapannya Melati. Auto, wanita itu memundurkan tubuhnya. Dengan rawit wajah tercengangnya. Kelakuan Ardhi benar-benar membuatnya spot jantung pagi ini.


Debaran jantung nya cepat, sangat cepat. Seperti habis lari cepat 100 meter saja. Ada apa dengan sang mantan majikan? kenapa perubahan nya drastis sekali sejak tadi malam.


Ardhi meletakkan sendok itu kembali di wadah mie Aceh yang ada di tangannya Melati. Dia tersenyum tipis. Mengerti dengan sikap Melati yang enggan padanya.


"Kenapa tuan, memakai sendokku?" Melati melirik Ardhi yang masih duduk di tepi bednya.


"Emang gak boleh menggunakan sendok bekasmu?" Ardhi memperhatikan lekat Melati yang tidak berani menatapnya. Ada kesenangan tersendiri di hati Ardhi melihat Melati yang nampak malu-malu takut itu.


"Nanti juga setelah menikah kita akan jadi satu pemilikan."


"Satu pemilikan?" Melati bisa-bisa spot jantung pagi ini. Masih pagi, dua pria sudah memporak-porandakan hatinya. Kedua pria itu seperti sedang menunjukkan keseriusannya.


Ardhi tersenyum. "Iya." Ardhi pun menjauh dari Melati. Dia memilih duduk di sofa untuk memakan sate padangnya. Dia tahu Melati sedang enggan padanya. Akhirnya keduanya pun sama-sama memilih untuk diam, sambil memakan sarapannya.


"Sus, aku sudah bisa pulang kan, hari ini?" tanya Melati, dia sudah selesai makan. Menerima obat dari suster dan meminumnya.


"Tunggu visit Dokter ya Dek." Jawab Suster ramah.


"Infusnya dibuka saja Sus, aku sudah sehat." Melati menatap tangannya yang diinfus.


"Ok Dek, kita buka saja." Suster pun melepas infus nya Melati. Ardhi memperhatikan dengan seksama suster yang melepas infusnya Melati.


"Setengah jam, saya beri waktu untuk siap-siap. Ini baju yang harus kamu pakai." Ardhi meletakkan paper bag di atas bed dekat wanita yang masih tercengang itu. Ardhi membelikannya baju.


Melati menatap kepergian Ardhi dari ruangan itu dengan perasaan yang tak karuan. Makin kesini, dia makin bingung harus memilih siapa. Pria itu tak seburuk yang dikatakan Ilham. Ardhi sudah jadi majikannya selama enam bulan lebih. Walau dua bulan terakhir ini, dia lebih sering komunikasi dengan sang majikan.


"Mau dibantu dek?" tawar suster, yang melihat Melati seperti ragu saat masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Gak usah sus." Dengan hati tidak tenang itu, Melati masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Ardhi yang pergi menghirup udara pagi ke taman, nampak sedang menghubungi Rudi sang asisten.


"Bagaimana Rud?" suara Ardhi terdengar tidak tenang.


"Sudah beres Bos. Tapi, kami masih di desa ini. Udara disini sejuk banget Bos." Rudi makin hari semakin selengekan. Dia disuruh untuk kerja bukan untuk liburan.


"Banyak kerjaan, belum waktunya untuk liburan." Suara Ardhi terdengar gusar.


"Iya bos. Tadi malam gak bisa pulang. Jalan longsor, hujan terus di sini Bos." Rudi memberi pembelaan, dia sedang berada di balkon hotel tempatnya menginap.


"Apa saja yang dikatakan calon mertua saya?" Ardhi senyam-senyum saat ini. Entahlah dia merasa senang, akan menikah. Setelah tafakur, dia merasa mantap untuk menikah dengan Melati. Wanita itu punya akhlak yang baik. Jadi dia akan jadi madrasah yang baik kelak untuk anak-anaknya.


"Orang tuanya Non Melati. Ingin pernikahan diadakan di kampung. Mereka menolak, untuk dibawa ke kota Medan. Mereka menyanggupi mempersiapkan semuanya dalam waktu satu Minggu. Dan mahar yang mereka minta langsung aku berikan tadi malam Bos.


"Karena, aku memberikan mahar tadi malam. Orang tuanya Non Melati, mengumpulkan tokoh masyarakat dan alim ulama. Jadilah acara selesai jam 11 malam Bos. Padahal, siang nya kami sudah di sana." Jelas Rudi panjang lebar, makanya sang asisten tidak jadi pulang malam itu. Karena, lamaran mendadak itu, diselesaikan semua pada hari itu juga.


"Berapa maharnya kamu kasih?" tanya Ardhi dengan perasaan yang berdebar-debar. Harusnya dia menanyakan mahar pada Melati dulu.


"Orang tuanya Non Melati minta uang sebanyak tiga puluh juta rupiah dengan emas seberat 10 gram tuan. Kata Ibunya Non Melati. Emas itu akan dibelikan dalam bentuk kalung. Karena, katanya putrinya itu tidak punya perhiasan yang melekat di tubuhnya.


"Orang tuanya akan merasa bangga, apabila putrinya yang menikah memakai perhiasan Bos. Non Melati, kata Ibunya tidak punya perhiasan. Hanya punya anting. Itupun antingnya hanya 1 gram."


Ardhi merasa terharu mendengar penjelasan Rudi yang detail. Dia jadi teringat anting Melati yang masih disimpan di dompetnya.


Ardhi bisa membayangkan bagaimana keadaan keluarga Melati di kampung, setelah mendengar laporan itu. Gak jauh bedalah dengan keadaannya dulu saat masih miskin.


"Mahar tiga puluh juta, itu gak terlalu sedikit Rud? aku malu nanti saat ijab kabul, mengucapkan nominal yang sedikit itu. Apa tidak bisa ditambah lagi?" Ardhi menekuk bibirnya setelah mengatakan itu. Dia malu juga, apabila berita itu diketahui rekan bisnisnya. Masak miliader, mahar calon istrinya hanya tiga puluh juta. Padahal rekan bisnisnya lainnya mahar istrinya sampai Miliyaran, belum lagi, diberi mobil, tanah dan rumah.


Hahahaha...


Rudi tertawa terbahak-bahak, Ardhi kesal mendengar tawa sang asisten.

__ADS_1


"


__ADS_2