
Embun grasak-grusuk di tempat tidurnya. Pikirannya kacau, hatinya tidak tenang. Sudah jam 2 pagi, tapi Dia sedikitpun tidak bisa tertidur. Padahal Dia berniat tidur sebentar sebelum, melaksanakan niatnya kabur sebelum shubuh.
Embun sengaja memilih kabur sekitar pukul 4 pagi. Karena pukul 4 pagi, pedagang sayur yang berdagang ke luar daerah, sudah banyak menunggu angkutan dipinggir jalan. Kalau Dia kabur tengah malam, maka resikonya besar.
Embun mondar-mandir, hilir mudik sambil menggigiti kukunya sebelah kanan, sedangkan tangannya sebelah kiri berkacak pinggang.
Orang tuanya begitu kejam kali ini. Dia benar-benar di lockdown. Di kurung di kamar, bahkan tidak boleh komunikasi. Orang tuanya melakukan itu, karena mereka takut Embun melarikan diri lagi.
Capek mondar-mandir, Embun menghempaskan tubuhnya di ranjang, dengan kedua kaki masih menggantung, Dia menautkan jemarinya yang diletakkannya di atas perutnya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Matanya berkaca-kaca.
"Mas Ardi, apakah kamu merasakan yang kurasakan?" Ucapnya sambil memikirkan rencana yang akan dijalankannya saat kabur.
🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain tepatnya di kota Medan. Seorang pria nampak begitu prustasi, sedang tiduran diranjang dengan posisi telentang. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Dari tadi pagi Dia tidak bisa menghubungi no ponsel kekasihnya. Dia adalah Ardi Shiraz.
"Embun, kenapa kamu tidak ada kabar. Ponselmu pun mati. Semua sosial mediamu diblokir. Apa yang terjadi sayang? harusnya Aku memaksa ikut ke kampung mu." Ucapnya, Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju ruang kerjanya. Dia mendudukkan bokongnya di kursi empuknya dan membuka laptopnya dan menekan tanda on.
Ardi mencoba memeriksa semua Akun sosmed Embun. Siapa tahu sudah bisa diakses. Tapi, sialnya tidak bisa.
Ardi yang rencananya akan pulang ke Surabaya. Tapi, rencananya itu batal. Karena Dia dapat kontrak untuk membangun sebuah Gedung untuk perusahaan. Hari itu juga, pengusaha yang mempercayai pembangunan gedungnya kepada Dia mengajak bertemu. Sehingga Dia membatalkan planingnya pulang ke Surabaya.
"Sayang, haruskah Aku menyusul ke kampungmu? tapi, alamat lengkapmu tidak ku ketahui. Aku hanya tahu nama Kotanya. Sedangkan kamu pernah cerita, keluargamu tidak tinggal dikotanya. Bahkan alamatmu tinggal tidak pakai RT/RW dan no rumah." Ardi bicara sendiri dalam ruang kerjanya. Otaknya berfikir keras untuk mendapatkan informasi mengenai Embun.
__ADS_1
"Besok Aku harus mencari informasi mengenai Embun ke kos dan kampusnya. Siapa tahu, ada yang tahu no ponsel keluarga Embun." Gumanya dalam hati. Dia pun berjalan kembali ke kamarnya, Dia akan mencoba untuk tidur.
🌄🌄🌄
Embun nampak mengendap-endap berjalan menuruni anak tangga rumah mereka. Ya, kamar Embun ada di lantai dua. Dia harus cepat keluar dari rumah itu, sebelum Ayahnya bangun. Karena Ayah dan Ibunya biasanya bangun setengah lima pagi.
Kebetulan sekali kamar Embun tidak dikunci lagi dari luar. Dia bisa meyakinkan Mamanya habis acara makan malam, kalau Dia tidak akan kabur.
Dia melangkah kakinya pelan sekali, dengan penampilan menyandang ransel, pakai celana jeans warna hitam, dipadu dengan t-shirt lengan panjang warna hitam, lace Outer Brokat Serut warna maron, sepatu cats warna maron Tak lupa Dia mengenakan hijab yang warnanya senada dengan outhernya dan masker, serta kaca mata terselip di kerah bajunya.
Prang.... prang.....Dia tidak sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada di meja hias di ruang tamu. Mendengar suara pas bunga terjatuh, Dia terlonjak, dan memegangi dadanya yang rasanya jantungnya hampir lepas dari tempatnya. Dia membiarkan saja Vas bunga itu terjatuh.
"Tenang....tenang..... Ya Allah, untuk kali ini bantulah Aku." Ucapnya sambil mengatupkan kedua tangannya dan matanya melihat ke atas plafon. Seolah Dia sedang berbicara langsung dengan Sang Pencipta.
"Syukur tidak ada yang mendengar." Gumamnya dalam hati. Dengan pelan Dia memutar kunci pintu depan rumahnya. Dia mengelus dadanya pelan, dan matanya masih mengawasi sekitar.
Pintu pun terbuka, Dia keluar dan menutup pintu itu kembali dengan sangat pelan. Senyum terlukis di wajah cantiknya. Niat untuk kabur, hampir berhasil. Tinggal menuju gerbang rumah.
"Moga Pak Udin, lagi tertidur lelap di pos satpam." Gumamnya dalam hati.
Diapun melangkah dengan pelan, dengan kedua mata tetap mengawasi sekitar. Dia sampai di pos satpam. Benar saja Pak Udin sedang tidur dengan nyenyaknya. Terbukti Embun yang melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Pak Udin, tidak digubris. Dengan cepat Dia mengambil kunci pagar yang tergantung di gantungan kunci di pos satpam tersebut.
"Yes....... , Yes.....!" Ucapnya meloncat kegirangan, disaat Embun sudah berhasil keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Embun celingak-celingukan dipinggir jalan, sekarang Dia bingung. Mau berlari ke arah kota dulu dan menunggu angkutan disana, atau berlari ke arah kota S. Jadi disitu ada angkutan lewat, Dia akan menyetopnya.
Akhirnya Dia memutuskan berlari ke Arah jalur kota S. Rencananya sesampainya di Kota S. Dia akan naik pesawat menuju kota Medan. Dia akan mengambil tiket dibandara saja.
Setelah berjalan sekitar 50 M, Embun bertemu dengan seorang pedagang sayur wanita, dipinggir jalan. Wanita itu, sering juga sebagai pekerja lepas di kebun salak mereka.
"Nak Siti ya?" ucap wanita yang berusia sekitar 45 tahunan itu. Embun melirik wanita yang mengenalnya itu. Dia pun menggeleng kan kepalanya. Dan berjalan cepat meninggalkan wanita itu.
Kini Dia sudah berjalan jauh dari pekarangan rumahnya. Tapi, satupun mobil angkutan yang menuju kota S, tidak ada yang lewat. Hingga Adzan shubuh pun berkumandang.
Ya Allah, tolong munculkan satu angkutan. Please.....!" ucapnya dengan perasaan was-was dan tidak tenang. Dia takut aksi kaburnya tidak jadi. Kalau keburu orang tuanya bangun dan mencarinya.
Embun masih berdiri dipinggir jalan, dengan memainkan-mainkan krekel dengan kakinya. Sesekali Dia berjongkok dan berdiri lagi, hilir mudik, mondar-mandir menunggu angkutan. 15 menit menunggu di depan warung miesop warga, akhirnya mobil angkutan pun muncul. Embun menyetopnya, tapi angkutan itu tidak mau berhenti, karena penumpang sudah penuh.
Perasaan Embun sudah mulai tidak enak. Suara sedang melaksanakan sholat shubuh berjemaah di Mesjid pun sudah tidak terdengar lagi.
"Jangan-jangan orang rumah sudah mengetahui Aku kabar. Pasti Ibu akan datang ke kamarku. Dia kan selalu datang membangun kan ku untuk sholat shubuh." Gumamnya dalam hati.
"Ya Tuhan,.... Tolong Aku. Aku tidak mau menikah dipaksa begini." Ucapnya sambil melihat langit yang masih gelap itu.
"Sekali ini saja kabulkan permintaan ku Ya Allah, Aku akan sangat menderita apabila menikah dengannya. Dia jahat, Dia itu pembunuh. Aku pun heran kenapa orang tuaku menginginkan Aku menikah dengan pembunuh. Ya Allah, Aku tidak mau mati ditangannya." Ucapnya, sambil meremas-remas tangannya. Sungguh Dia sangat membenci Paribannya itu.
Suara mobilpun terdengar, dengan sorot lampu yang sangat menyala. Embun menyetopnya dan mobilpun berhenti.
__ADS_1
TBC.
Mohon like, coment positif dan jadikan novel ini sebagai favorit ya kak.