
Makan siang di rumah orang tuanya Embun terasa nikmat buat Tara hari ini. Karena, makanan yang di makan mereka saat ini. Adalah masakan Embun. Embun memasak makanan sederhana. Ikan mas arsik, yaitu ikan mas yang bumbunya seperti asem pade. Sayurnya campur-campur. Daun ubi, daun katuk, kangkung, kacang panjang, terong, dan cempoka. Direbus jadi satu, kalau namanya di kampung Embun adalah sayur bolgang.
Ada juga ayam goreng Kalasan, sambal ikan teri, tak lupa ada sambal terasi udang dan sambal tuk tuk. Sambal tuk tuk adalah sambal kesukaan pak Baginda. Kali ini ikan yang di tuk tuk adalah ikan mas yang di bakar.
Tara tidak menyangka Embun bisa memasak.
"Tambah Bere Tara," Pak Baginda menyodorkan bakul yang berisi nasi yang padinya berasal dari sawah mereka. Ya, orang tua Embun punya sawah yang luas. Jadi mereka tidak pernah beli beras, bahkan setiap kali panen jual beras.
Ikan yang dimakan juga dari kolam sendiri. Sayur yang dimakan juga tidak membeli. Karena, Mama Nur rajin menanam sayur di pekarangan rumah belakang mereka yang kosong.
"Iya Tulang, aku pasti tambuh. Masakan Nantulang begitu sedap." Tara mengacungkan jempolnya memuji makanan yang dimakannya.
Embun memayunkan bibirnya, dia kesal. Tara tidak memujinya, yang masak kan dia, Mama dan ART mereka hanya membantu-bantu. Yang menentukan bumbunya adalah dia.
"Yang memasak ini istrimu loh Bere Tara." Mama Nur tersenyum melihat Embun yang cemberut di sebelah Tara. Saat ini mereka sedang makan siang, di taman belakang. Ditemani pemandangan indah, hamparan sawah luas yang padinya menguning, taman-taman yang penuh dengan bunga di dekat kolam ikan. Sungguh suasana yang tentram. Hawa sejuk semakin terasa karena tiupan angin sepoi-sepoi.
"Apa? Adek bisa memasak?" Tara tersenyum manis pada istrinya yang sedang merajuk itu. Dia sengaja menggoda istrinya itu. Dia juga tahu, setelah Embun mengantar minuman untuknya dan Tulangnya. Mama Nur mengajak Embun untuk memasak makan siang.
__ADS_1
"Eehhmmm..." Jawab Embun dengan menekuk bibirnya. Ekspresi wajah Embun terlihat lucu.
"Enak banget dek. Terimakasih sudah memasak makanan senikmat ini. Gurih, lezat, pedas nya menggoyang lidah." Puji Tara masih menatap Embun yang masih menampilkan Ekspresi wajah masam.
"Embun, apa kamu tidak pernah memasak selama ini? kenapa suamimu seperti baru merasakan masakanmu?"
Uhukkk...hukk.. uhukk.. Embun terbatuk-batuk, karena tersedak. Dia terkejut dengan pertanyaan Ayahnya itu. Gimana ini, kalau dia mengatakan iya. Pasti pak Baginda akan memarahinya. Dia akan dikatakan sebagai istri yang tidak pandai mengurus suaminya.
Embun menatap orang tuanya secara bergantian. Kemudian pandangan terhenti kepada Tara.
"Pernah Tulang, tapi gak masak menu seperti ini. Hanya masak nasi goreng, telor ceplok gitu. Embun lagi fokus pada skripsinya, jadi saya tidak memaksanya untuk memasak. Kadang kami, memilih makan di luar. Atau makan makanan yang dimasakin ART." Ucapan pembelaan Tara padanya, membuat hati Embun tersentil. Dia semakin merasa bersalah pada suaminya itu.
"Beruntung kamu sayang, punya suami seperti Tara. Lah kalau Ayahmu, lihat sendiri. Kalau Mama gak masak, dia gak bakalan mau makan. Ajak makan ke Rumah makan juga kagak." Mama Nur melongos kesal, sesekali dia juga pingin libur memasak.
"Harusnya kamu bersyukur dek. Suamimu ini selalu ingin makan masakanmu." Pak Baginda memberi pembelaan. "Kita kan sering juga makan keluar." Pak Baginda melanjutkan ucapannya.
"Iya makan di luar, saat kekondangan." Ketus Mama Nur, Tara dan Embun tertawa lebar. Kemudian pasangan itu, sama-sama menutup mulutnya karena merasa kelakuannya salah, tertawa disaat makan.
__ADS_1
"Gak juga Ma. Seingat Embun kita sering makan ke Restoran." Embun mengingat-ingat moment kebersamaannya dengan keluarganya itu.
"Iya, kalau kamu pulang dari asrama saja." Jelas Mama Mira.
"Eehmmm makan di rumah lebih sehat loh Nantulang. Karena kita tahu apa saja ya g kita masukkan ke masakan kita. Makanan diluar terasa enak, biasanya kebanyakan MSG." Timpal Tara, membela Ayah mertuanya.
"Apa itu MSG?" tanya Pak Baginda penuh selidik.
"MSG (Monosodium glutamat) jenis penyedap rasa gitu. Alias micin, Ayah." Jelas Embun tersenyum manis. Kebersamaan hari ini begitu hangat dan menyenangkan.
Sesaat Tatapan Embun menerawang, menyesali sikap dirinya yang memutus silaturahmi dengan Tara selama bertahun-tahun.
"Lagi mikirin apa?" Tara menatap lekat Embun yang menerawang.
"Mikirin kamu!" jawabnya tersipu malu.
Pak Baginda pun beranjak dari Gazebo itu, merasa malu sendiri dengan tingkah putrinya. Sok romantis di depannya. Sedangkan Mama Nur, dengan tertawa lepas, memberesi piring bekas makan mereka.
__ADS_1
TBC.