
Puk...
Melati menoleh ke belakang. Embun dengan senyum mengembangnya langsung merangkul sepupunya itu. Sontak Ardhi langsung melepas tangan Melati dari genggamannya.
"Kalian di sini juga?" Wajah senang dan ceriah terlihat jelas di wajah cantiknya Embun yang memakai pasmina warna nude dengan memakai one set bahan satin silk yang atasannya dipenuhi kancing aktif mutiara. Penampilan ibu bumil itu memang selalu trendy. Sesaat Melati memperhatikan penampilan sepupunya itu dengan lekat, yang memang cocok jadi istri konglomerat.
Melati yang selama ini polos saja dan belum ada sifat Hedon dalam dirinya. Ya stylenya seperti pembawaan orang kampung, yang tidak terlalu mengikuti perkembangan trend. Karena, dulu dia tidak punya uang untuk ikuti fashion. Di tambah dia bukan tipe wanita yang suka belanja. Tapi, setelah dihina tadi siang di kantor Ardhi. Ingin rasanya dia memperbaiki cara berpakaiannya. Yang islami tapi terlihat elegant.
"Iya kak, Mas Ardhi lagi pingin makan mie Aceh." Ucap Melati dengan polosnya. Embun menatap ke arah mantannya yang ekspresi wajahnya biasa saja. Dan matanya sedang melihat keramaian di tempat itu. Sama sekali tidak menatap ke arah Embun.
"Gabung saja yuk?!" Masih menatap penuh harap pasangan pengantin baru di hadapannya. Embun tak sengaja melihat Melihat dan Ardhi, saat dia menoleh ke belakang. Embun yang tak sombong dan baik hati itu, tentu saja menyamperin saudaranya itu.
Melati melirik ke Ardhi yang menampilkan bahasa tubuh ingin pergi saja dari tempat itu. Masih banyak warung yang menjual mie Aceh. Satu ruangan dengan mantan, pasti akan mengusik suasana hati Ardhi. Karena, kenangan manis dengan Embun pasti akan melintas dipikirannya.
Itulah beda pria dan wanita. Pria itu sebenarnya selalu akan mengingat kebaikan dari sang mantan. Beda dengan wanita. Jikalau sudah putus, pasti hanya mengingat keburukan mantannya saja.
Tara akhirnya menyamperin mereka. "Ayolah pak Ardhi, gabung bareng kita."
Melati menunjukkan wajah memelas pada sang suami. Kalau Ardhi tidak mau gabung. Wanita itu merasa tidak enak pada Embun.
__ADS_1
Ardhi pun akhirnya mau bergabung. Embun menyamperin pelayan, menambah pesanan untuk Ardhi dan Melati. Tanpa menanyakan dulu selera pasangan pengantin baru itu. Kemudian Pasangan itu pun memasuki ruangan yang sudah dipesan oleh mereka tadi.
Mereka berempat pun duduk di ruang privat yang lesehan itu dengan canggungnya. Apalagi tadi sempat ada kejadian penolakan dari Ardhi. Tara dan Embun duduk bersebelahan. Sedangkan Melati dan Ardhi di hadapan mereka yang dihalangi oleh meja.
"Pak Ardhi, bagaimana kalau kita kerjasama lagi." Ucapan Tara memecah keheningan yang sempat tercipta. Ardhi yang sibuk dengan ponselnya menoleh dengan ekspresi wajah sedikit terkejut dan penasaran akan maksud lebih jelas ucapan Tara.
"Kerja sama?" Kerja sama dengan perusahaan Tara, akan membawa dampak baik pada image perusahaannya yang lagi buruk saat ini. Itu jelas akan memperbaiki harga sahamnya.
"Iya Pak Ardhi, saya mau merambah ke dunia bisnis perhotelan. Saya mau membangun Hotel di Sipirok. Saya ingin perusahaan kontraktor bapak yang menanganinya." Tentu saja Ardhi senang mendengar kabar itu. Tawaran Tara ini, seperti angin surga yang tertiup ke wajahnya. Membuatnya jadi tenang dan bersemangat.
"Oohhh akan saya pertimbangkan, nanti saya hubungi pak Tara lagi." Ardhi pura-pura jual Mahal. Padahal dia sudah senang dalam hati. Dia juga sedang malas membahas pekerjaan, kalau bukan di waktu bekerja. Dia juga sedang tidak ingin bicara banyak. Karena, takut Tara banyak bertanya tentang kasus ibu Jerniati.
Tara tertawa tipis. Dia tahu Ardhi sreg dengan tawarannya. Tapi, lihatlah pria itu sok jual mahal.
Saat pramusaji menghidangkan pesanan mereka. Pramusaji itu meletakkan asal di atas meja, ke empat porsi itu. Melihat penempatannya tidak tepat. Embun pun dengan sigap, membagi ke empat porsi mie Aceh itu. Wanita itu terlebih dahulu menyodorkan satu piring mie Aceh kering ke hadapan Tara dan satu piring Mie Aceh basah untuk Ardhi. Lalu untuknya dan Melati
Melati hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Embun. Apalagi saat ini Embun mengambil potongan jeruk nipis dari atas piring mie acehnya Ardhi dengan sendok.
"Kak, kenapa potongan jeruk nipisnya disisihkan." Ucap Melati dengan polosnya. Saat melihat Embun menyiapkan mie Aceh untuk mereka semua. Tapi, ada perlakuan khusus untuk mie acehnua Ardhi.
__ADS_1
"Mas Ardhi gak suka mie acehnya ditetesi air jeruk. Dia lebih suka dikasih sambal acar yang banyak. Tentu saja harus banyak irisan bawaannya dan potongan daging." Ucap Embun dengan tersenyum penuh semangat, tanpa dosa. Dia tidak sadar, kelakuannya sudah membuat tiga orang terheran dan bingung di tempat itu. Siapa lagi yang paling heran dan kesal, kalau bukan Tara.
"Ingat betul kesukaan mantan." Ucap Tara dingin, dan langsung melahap mie Aceh yang masih terbilang panas itu. Panasnya mie Aceh tidak dihiraukan pria itu lagi. Karena hatinya leih panas saat ini.
"Oohh..!" Embun pun tersadar dengan kelakuannya. Sepertinya sang suami cemburu,
Padahal dia tidak ada maksud apa-apa. Dia hanya ingin menjamu Melati dan Ardhi, secara dia lah yang mengajak pasangan itu untuk gabung.
"Bang, ini minumnya." menyodorkan minuman untuk Tara, karena pria itu keselek.
Tara meraih gelas berisi air putih itu dan meneguknya. Dia benci dirinya yang tak bisa mengontrol diri, atas sikap perhatian Embun pada Ardhi sang mantan yang terlihat berlebihan itu.
"Kirain adek gak peduli lagi dengan Abang. Dari tadi asyik ngurusin Pak Ardhi." Tara tersenyum tipis, setelah menyindir istrinya itu. Dia pun kembali fokus dengan mie Aceh dihadapannya. Tanpa mau melihat bagaimana ekspresi wajah Ardhi dan Melati di hadapan mereka yang juga tidak enak hati lagi. Bahkan Ardhi sama sekali tidak menyentuh mie Aceh yang dihadapannya. Dia tidak mau Melati juga nanti salah paham padanya. Jika memakan mie itu.
"Ya Allah Bang. Sumpah demi Allah, Adek gak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik saja. Emang Mas Ardhi gak suka mie nya pakai jeruk nipis." Embun benar-benar jadi serba salah. Ya begitu lah terkadang. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain.
Ardhi semakin merasa tidak nyaman di ruangan itu. Ini lah tadi yang ingin dihindari pria itu. Mereka belum lama berpisah. Pasti pasangan masing-masing akan cemburu jikalau mereka masih menunjukkan sikap saling perhatian. Walau sebenarnya di hati mereka sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi.
Tara akhirnya menatap Ardhi dan Melati yang nampak tidak nyaman itu. "Pak Ardhi jangan tegang begitu. Saya hanya berseloroh. Embun, memang suka sekali mentest mental dan kejiwaan saya." Tara tertawa lebar. Ingin mencairkan suasana yang terlanjur tegang itu.
__ADS_1
"Iya Pak, saya memakluminya. Seandainya saya dalam posisi bapak juga akan cemburu." Jelas Ardhi berusaha tenang. Melirik Melati yang dari tadi diam saja.
TBC