
"Astaghfirullah... " Embun memegangi dadanya yang berdebar kencang itu. keberadaan Ardhi dihadapannya membuatnya terkejut.
Embun terkejut, bukan karena bertemu dengan mantan terindah. Tapi, dia memang tidak menyangka, kalau ada orang di hadapannya.
"Apa kabar mas?" Embun langsung bisa menguasai dirinya, dan tersenyum tipis pada Ardhi yang juga membalas senyumnya ala kadarnya.
"Baik." Hanya itu yang keluar dari mulut pria itu.
Embun tersenyum lagi pada Melati, dia pun melangkah ke kanan, dan Ardhi yang hendak masuk ke dalam melangkah ke kanan.
"Aku mau keluar mas."
"Oohh iya." Ardhi pun sebenarnya ingin masuk ke dalam.
Merasa gak enak hati pada Melati. Embun kembali melirik Melati di belakangnya. Tentu saja, Melati tersenyum tipis, membalas senyumnya Embun yang merasa salah tingkah itu. Embun pun berniat melanjutkan langkahnya, dengan melangkah ke kiri dan anehnya, Ardhi juga melangkah ke kiri.
"Aduhh... Mas..! Jangan gitu dong, aku mau pulang nih. Sudah aahh... bercandanya. Nanti Melati cemburu lagi." Ucap Embun menatap keduanya bergantian.
Melati mengangkat bahunya, pertanda gak mau tahu, dengan apa yang terjadi pada mantan kekasih itu. Yang salah tingkah dihadapannya. Akhirnya Ardhi pun diam di tempat. Embun akhirnya bisa keluar dari rumah itu, dengan mengusap-usap dadanya yang masih berdebar-debar. Rasanya aneh, aneh sekali. Dibilang masih cinta? dia gak cinta lagi sama pria itu. Tapi, kenapa kalau bertemu membuat salah tingkah.
"Eehhmmm.... adegan tadi terlihat romantis loh Mas." Ucap Melati, meraih tas kerjanya Ardhi. Kemudian menjulurkan tangannya untuk menyalim sang suami.
Ardhi tersenyum dan mencium keningnya Melati. Kemudian dengan cepat merangkum wajah sang istri. Memperhatikan lekat wajah nya Melati yang tiba-tiba memerah itu.
"Cemburu?" Mati menggeleng kan kepalanya yang masih dirangkum sang suami.
"Karena adek gak cemburu, mas gak senang. Adek harus dihukum." Ardhi dengan cepat mel*umat bibirnya Melati dengan gemes. Melati yang dapat serangan mendadak itu pun akhirnya menepuk dada sang suami berulang kali. Agar ciuman itu terhenti m Karena dia kesusahan bernafas. Ciuman Ardhi sangat menuntut.
"Iihhh... Mas, mau buat adek mati." Ucapnya kesal, berbalik badan dan melangkah dengan kesalnya.
"Marah, beneran marah?" Ardhi mengekori sang istri dan langsung memeluk istrinya itu dari belakang.
"Mas kangen tahu." Membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Melati yang kesal terus saja menggerakkan bahunya. Gak suka digodain oleh Ardhi.
Melati menyimpan tas kerja Ardhi di atas meja riasnya. "Kangen, kangen mantannya kali. Tadi aja, mas dan kak Embun salah tingkah. Kak Embun bergerak ke kanan. Mas mencegatnya, kak Embun Bergerak ke kiri. Mas juga ke kiri. Eehhmmm.... Benar-benar sehati. Mantan terindah." Ucap Melati ketus dengan ekspresi wajah kesalnya. Ardhi bisa melihat jelas wajah masamnya sang istri di dalam cermin.
"Mantan terindah, ada lagunya itu.
Oh mantan kekasihku
Jangan kau lupakan aku
__ADS_1
Bila suatu saat nanti
Kau merindukanku
Datang datang padaku.."
Melati menyanyi dengan semangat dengan sorotan mata tajam penuh kesal. Menatap sang suami penuh dengan kobaran api kebencian. Ardhi yang melihat tatapan mata tajam itu, dibuat tercengang. Ternyata istrinya itu benar-benar marah.
"Sudah deh Mas. Gak usah meluk-meluk. Iihhh.. lepas..!" Ardhi pun akhirnya melepas belitan tangannya dari pinggang sang istri.
"Koq jadi marah, salah mas apa?" Menyusul Melati yang keluar dari kamar ke arah dapur. Kali ini, Ardhi sedikit terpancing. Sikap Melati benar-benar membuatnya kesal. Dia sudah lelah bekerja di kantor. Karena banyaknya masalah di perusahaannya. Memilih cepat pulang, agar bisa merilekskan pikiran dengan bermanja dan bercanda dengan sang istri. Tapi, lihatlah, gara-gara dirinya berpapasan dengan Embun. Istrinya itu jadi marah padanya. Biasanya juga istrinya itu pengertian. Tidak frontal seperti saat ini.
"Mas gak salah koq." Jawab Melati ketus, sambil membersihkan beras. Dia akan menanak nasi.
"Terus, adek kenapa sikapnya begitu sama Mas?" tanya Ardhi bingung. Memperhatikan Melati yang menanak nasi.
"Ya tiba-tiba aja aku gak suka sama mas. Felingku ni, mas itu masih cinta mati sama kak Embun. Makanya tadi terjadi kejadian yang romantis." Ardhi langsung menarik lengan sang istri. Hingga istrinya itu kini berbalik ke arahnya dan mereka berhadap-hadapan.
"Ya Allah sayang, mas bukan orang yang kurang kerjaan dan gak belajar dari pengalaman. Untuk apa mas mencintai istri orang." Memegang bahu Melati dengan penuh keyakinan.
"Dulu mas juga mencintai kak Embun. Padahal sudah menikah dengan Abang Tara. Mas itu sampai frustasi sekali karena diputuskan. Dinding ditabok, kaca ditinju. Kamar hancur seperti kapal pecah. Terlihat sekali, mas itu cinta banget sama kak Embun." Melepas tangan sang suami dari bahunya. Dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
"Itukan dulu sayang. Jangan buat mas pusing ya. Sikap adek yang tiba-tiba berubah, karena bertemu dengan Embun. Buat Mas sedih loh. Mas cepat pulang, karena ingin bermesraan dengan adek. Agar lelah dan penat ini hilang."
"Dasar laki-laki di otaknya itu itu mulu. Adek muak, adek kesal sama Mas. Asal Mas tahu, wanita butuh ikatan emosional agar bisa melakukan hubungan intim. Saat ini adek itu lagi kesal, sama mas. Jadi lebih baik jauh-jauh. Jangan dekat-dekat. Aku lagi gak syoor...!" Cara bicara Melati penuh dengan kebencian. Bahkan kini nenas yang dipotong dadu olehnya sudah banyak melayang ke mana-mana, karena dia memotongnya penuh emosi.
Ardhi sungguh terkaget-kaget melihat sikap kasarnya Melati. Sikapnya benar-benar berubah hari ini. Apa yang dikatakan Embun pada istrinya itu. Sehingga kini Istrinya itu jadi marah-marah padanya.
Ardhi yang tidak mau ribut. Akhirnya memilih masuk ke kamar. Dia harus mandi, karena dia belum melakukan sholat ashar. Padahal hari ini, Ardhi ingin mandi bareng di kolam renang bersama sang istri. Makanya dia cepat pulang. Tapi, lihatlah dia malah dimarah-marahi. Karena adegan dirinya dan Embun di depan pintu tadi.
Ardhi mandi ekspres, karena dia akan melaksanakan sholat Ashar. Setelah sholat, Ardhi menghampiri lagi sang istri ke dapur. Belum juga dia mengeluarkan sepatah kata. Suara benturan spatula terdengar keras dengan wajan.
Sontak kelakuan sang istri membuat nyalinya ciut. Dia pun mundur teratur. Tidak jadi membantu sang istri memasak. Ardhi melirik-lirik sang istri. Hingga dirinya kini sudah terduduk di kursi kerjanya di ruang tamu.
Tidak mau bertengkar dengan sang istri. Akhirnya Ardhi memilih bekerja saja. Dia pun mencoba fokus bekerja dengan laptop dihadapannya. Tapi, gak bisa. Sikap istrinya yang berubah drastis membuatnya sedih. Walau gak bisa fokus, dia tetap saja menyibukkan dirinya di meja kerjanya itu.
Sedangkan Melati sibuk di dapur. Entah apa yang dimasak sang istri, hingga memakai waktu yang lama.
Hingga waktu magrib pun tiba. Melati tetap tidak mau buka suara. Tapi, wanita itu langsung mengambil posisi jadi makmum. Sholat berjamaah itupun selesai juga.
Setelah menyalim tangan sang suami, Melati langsung bangkit dengan raut wajah masam. Menyimpan mukenanya dan langsung menuju dapur. Menyiapkan makan malam mereka.
__ADS_1
Ardhi semakin frustasi sekali dengan sikapnya Melati hari ini. Dia benar-benar diabaikan. Rasanya tidak enak dan nyaman. Benar-benar nyebelin. Mana wajahnya Melati masam dan cemberut melulu. Masih cantik sih, walau cemberut. Tapi, atmosfer di rumah mereka sekarang jadi terasa panas dan mencekam.
Ardhi menghela napas, beranjak dari duduknya. Menyimpan sajadahnya. Melepas sarung yang dikenakannya saat sholat. Menggantinya dengan celana jeans, kemudian melepas baju Koko dan memakai kaos lengan panjang berbahan Lacoste. Penampilan Ardhi sudah Kren dan rapi. Dia akan mengajak sang istri makan malam di luar saja. Mungkin istrinya itu lagi bad mood. Apalagi wanita hamil, suasana hatinya cepat berubah. Ardhi sudah membaca banyak artikel tentang ibu hamil. Jadi, dia bisa memahami perubahan sikap sang istri hari ini.
Eehmmmm
Eehmmmm...
Pria itu berdehem, menarik perhatian sang istri. Dia jadi bingung, gimana cara memulai percakapan dengan sang istri yang lagi bad mood itu.
Melati yang mengetahui kedatangan sang suami ke meja makan itu, melirik sekilas sang suami yang terlihat keren dan tampan itu. Bahkan ruangan itu saat ini dipenuhi oleh harumnya parfum yang yang menempel di tubuh sang suami.
"Dek, malam ini kita makan di luar ya?" ucapnya dengan hati-hati, menatap sang istri dengan sedikit ketakutan. Dari bahasa tubuh istrinya itu, sudah jelas bahwa istrinya itu masih kesal padanya.
"Ya begitulah orang kaya, suka menghamburkan uang. Istri sudah capek masak. Malah gak dihargai." Masih bicara ketus dan raut wajah masam.
Tu kan dia salah lagi. Ardhi pun akhirnya terdiam. Dia gak mau berdebat lagi. Ini sisi lain dari sang istri. Ardhi harus belajar memahami karakter baru istrinya.
Ardhi pun akhirnya duduk di kursi seperti anak yang dimarahi sang ibu. Karena dipaksa makan Melati pun mengambilkan makanan untuk suaminya itu, masih dengan raut wajah masamnya.
"Gak enak ya mas?" tanya Melati ketus. Melihat sang suami, hanya mengaduk-aduk makanan dengan tidak berselera.
"Enak, enak dek. Adekkan masakannya enak. Makanya dulu mas, jadikan adek sebagai koki khusus untuk mas." Ucapnya masih dengan nada hati-hati. Mulai ada angin segar, karena sang istri sudah mau mengeluarkan suaranya.
"Iya, aku dulu pembantu. Tahulah pembantu selalu direndahkan. Bahkan dihina dan dianiaya." Ucapnya masih sewot dengan mata berkaca-kaca. Aduhh .... dia salah lagi. Ardhi harus sabar.
Ardhi menarik napas panjang. Sungguh dia jadi tidak selera melihat makanan yang ada di hadapannya. Istrinya itu selalu menanggapi ucapannya dengan sinis. Hati Ardhi sakit jadinya. Dia yang tidak mau membuat kesalahan lagi, dengan nantinya dikatakan menyia-nyiakan makanan. Tetap memakan semua makanan di piringnya dengan rasa makanan yang sudah hambar. Hingga acara makan itu pun selesai.
Melati memberesi bekas makan mereka. Saat itu juga, Ardhi langsung mengambil alih mencuci piring.
Saat dirinya mencuci piring. Ardhi sesekali melirik sang istri yang duduk di kursi meja makan, sambil meminum vitaminnya serta madu asli. Setelah istrinya itu minum vitamin itu. Sang istri mengelus perutnya yang masih terlihat datar. Ingin rasanya Ardhi bergabung, ikut membelai perut sang istri. Dari tadi pagi dia belum menyapa sang anak.
"Dek, Dek .!" panggil Ardhi, dia masih mencuci piring, sedangkan Melati nampak mengupas buah apel.
Melati menoleh kepada sang suami. "APA...?" jawaban ketusnya Melati, membuat gelas di tangannya terjatuh. Tapi syukur tidak pecah.
Ardhi sungguh terkejut dengan nada bicara Melati yang kasar itu. Dia pun akhirnya memilih diam, tidak melanjutkan ucapannya.
TBC
Melati kenapa ya?
__ADS_1