
"Ko---lor hijau, kamu si kolor hijau kan? ngapain kamu di sini?" Embun yang hendak terplanting, langsung menyeimbangkan tubuhnya. Dia tergagap karena, merasa sangat terkejut melihat keberadaan pria yang pernah bertemu dengannya di kebun salak mereka.
Dia benci pria itu, gara-gara pria ini Dia tertangkap.
"Oiya, aku yakin kamu si kolor hijau. Ngapain kamu kesini haaahhhh?" teriak Embun mendorong bahu pria itu dengan kasar. Dia kesal bukan main. Akhirnya dia bisa juga membalaskan dendamnya, kepada pria ini. Saat di kampung, Dia sempat mencari-cari keberadaan pria ini. Tapi, tidak ketemu.
Pria itu terbengong, otaknya kembali berputar mengingat kejadian tiga minggu yang lalu, saat bertemu dengan Embun.
"Kenapa kamu diam saja? kamu bisu ya?" Embun yang kesal kepada si kolor hijau, tidak bisa membendung kemarahannya lagi.
"Doly, kamu sudah datang?" kedatangan Tara membuat Embun terkejut. Apalagi kupingnya mendegar nama Doly keluar dari mulut Tara.
Dengan tatapan penuh keterkejutan dan kebingungan Embun memperhatikan dengan detail sosok manusia dihadapannya.
Peristiwa belasan tahun yang silam langsung berputar-putar dipikirannya. Suara petir, kilat dan hujan lebat yang dulu pernah terjadi. Kini seolah benar-benar terjadi lagi. Peristiwa itu terekam lagi di otaknya Embun.
Tubuh Embun pun terhuyung lantaran terkejut dan terlalu lemas mendengar kenyataan yang di ketahuinya hari ini. Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Sebelum Embun terjatuh ke lantai. Tara yang berada di belakangnya, langsung menangkapnya. Dengan penuh kekhawatiran Tara membaringkan Embun di sofa ruang keluarga.
Embun yang terbaring dengan lemah, berusaha memperjelas penglihatannya. Dia ingin menatap lekat si kolor hijau, yang ternyata adalah Doly. Teman waktu kecil mereka, yang dianggap Embun sudah meninggal saat terbawa arus sungai.
"Dek, Embun, kamu baik-baik sajakan?" Tara mengelus pelan pipi Embun yang nampak pucat itu. Tatapannya lurus ke arah Doly yang juga Berdiri di sebelahnya Tara.
"A---pa benar Dia Doly?" suara Embun bergetar, Dia belum yakin dengan apa yang didengar dan dilihatnya hari ini. Doly yang dihadapannya sangat berbeda dengan Doly teman masa kecilnya.
Doly kecil itu hitam, kurus kerempeng. Tapi, Doly yang dihadapannya sekarang kulitnya putih dan badannya bagus sangat proporsional.
Tara menatap ke arah Doly yang kini tersenyum kepada Embun.
"Iya saya Doly Nona. Saya adalah asistennya Bos Tara." Lagi-lagi ucapan Doly membuat Embun bingung dan terkejut. Kenapa Doly seolah tidak mengenalnya.
"Dek, kamu baik-baik sajakan? kamu sakit?" Tara begitu mengkhawatirkan Embun.
"Kenapa Dia seperti tidak mengenalku?" kini mata indahnya Embun sudah berkaca-kaca. Pria yang sangat dikhawatirkannya. Tidak mengenalnya.
"Nona, saya mengenal anda. Anda istrinya Bos Tara. Dan kita pernah bertemu di perkebunan salaknya Pak Baginda." Ucapan polosnya Doly membuat Embun semakin bingung. Dia terus saja memperhatikan pria teman kecilnya itu.
"Mulai besok, selain jadi asistennya Bos Tara
Saya juga akan bekerja sebagai supir pribadinya Nona." Doly tersenyum, sangat bangga dengan tugas yang diembannya.
Embun kini meraih lengan Tara yang duduk di sisi sofa dengannya. "Apa dia tidak mengenalku?" lagi-lagi Embun tidak bisa menahan rasa sedihnya.
"Tenang Dek. Nanti Abang ceritakan." Tara memegang lengan Embun yang berada di lengannya. Embun langsung menepis tangan Tara. Dia benci Tara, bahkan kini Dia juga membenci keluarganya, yang menyembunyikan keberadaan Doly selama ini.
"Kalian semua membohongiku..!" Embun menangis histeris.
__ADS_1
"Doly, kamu duluan ke ruang makan." Tara memberi kode dengan tangannya kepada Doly, agar meninggalkan tempat itu.
Embun memperhatikan dengan detail sosok Doly yang berjalan ke arah ruang makan. Dia bahkan sudah mendudukkan tubuhnya.
"Jelaskan sekarang..?!" lirih Embun. "Doly masih hidup, kenapa tidak ada yang memberitahuku selama ini?" Embun mendesak Tara untuk bercerita. Tapi, Tara diam saja. Dia bingung darimana mulai menjelaskannya.
"Kalau Adek sudah tenang, akan Abang jelaskan. Sekarang Adek rileks dulu." Tara berusaha menenangkan Embun dengan mengelus lengannya. Tapi, sedetik kemudian Embun menepis tangan Tara. Dia menangis tersedu-sedu. Tara pun berbalik badan. Dia tidak mau menyentuh istrinya itu lagi. Takut kena semburan lava panas.
"Sekarang kita makan dulu, kamu bisa mengobrol dengan Doly sepuasnya. Dia kan laki-laki yang kamu sukai dari dulu. Gara-gara Dia kan kamu membenci Abang."
"Tidak.... dari dulu aku memang membencimu. Bukan gara-gara Dia aku membencimu.
Memang Aku benci kamu. Dari dulu sampai sekarang. Ngerti gak kamu...! Dasar laki-laki gak punya harga diri, sudah dicuekin, malah sok baik lagi. Dasar gak punya malu."
"EMBUN....!" Tara menaikkan nada bicaranya. Matanya melotot sempurna.
"Bersiaplah malam ini, akan ku gigiti setiap inchi tubuhmu, Abang tidak akan melepaskanmu lagi. Persetan dengan perjanjian." Seru Tara tegas, yang membuat Embun menutup mulutnya dengan cepat.
Saat Tara hendak bangkit dari duduknya. Embun menarik tangannya.
"Maaf, aku keceplosan. Aku, Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ku mohon, jangan nodai aku. Please....!" Embun mengatupkan kedua tangannya dengan berderai air mata.
Tara membuang napas kasar dan menyusul Doly ke ruang makan.
Di ruang makan, Doly nampak sudah makan dengan lahap. Dia memang sering makan di rumah ini.
"Maaf Bos, Aku makan duluan. Lagian tidak enak rasanya. Jika nanti makan bersama dengan pengantin baru." Ucap Doly dengan tersenyum.
"Iya dilanjut aja Doly. Aku kan sudah bilang berulang kali. Tidak usah panggil Aku dengan sebutan Bos. Panggil nama saja." Tara mendudukkan bokongnya di kursi. Lagi-lagi pria itu menghela napas dalam.
"Gak enak Bos. Rasanya gak sopan gitu." Doly terus saja menyantap soto Medan dihadapannya dengan rakusnya. Tara sampai tergiur melihat cara Doly melahap soto Medan itu.
"Enak Bos sotonya. Bisa membuatku jadi mood booster. Gurih, segar, pedas. Mantap dech." Doly memang jarang makan enak. Tentu saja makan soto Medan yang pakai kuah santan dan suwiran daging ayam itu, membuat lidahnya bergoyang.
"Iya, aku jadi ngences lihat kamu makan." Tara yang masih kesal dengan sikap Embun, membuatnya jadi tidak selera untuk makan. Dia lagi-lagi menarik napas dalam, kemudian mengusap wajahnya kasar. Berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Maaf Nona, Aku makan duluan." Ucapan Doly membuat Tara menoleh ke sebelahnya. Nampak Embun sedang menyiapkan peralatan makan untuk Tara.
"Iya silahkan." Ucap Embun tersenyum menatap Doly sesaat. Kemudian Dia mengambil nasi ke piring Tara.
Tara terkejut dengan perlakuan Embun. Wanita itu ingin melayaninya makan.
"Abang mau makan soto juga? atau menu lainnya?" Embun tersenyum kepada Tara dengan nada bicara yang lembut. Cara Embun berbicara membuat Tara tercengang. Wanita ini pandai sekali bersandiwara.
Tara menatap lekat Embun yang masih tersenyum itu.
"Soto, i---ya aku mau soto." Sikap Embun yang lembut, membuat Tara terpesona. Sikap kasar saja bisa ditolerirnya. Apalagi lembut begini. Tara tambah kesengsem.
__ADS_1
Embun dengan senyuman manisnya meladeni Tara makan. Dia harus baik-baikin Tara. Agar suaminya itu membatalkan niatnya untuk menggaulinya.
"Doly, apa kamu tidak mengenalku?" Embun yang penasaran dengan Doly, langsung menanyakan yang mengganjal di hatinya.
Doly menatap Embun dengan tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Tara yang lagi menikmati makan malamnya.
"Nona Embun, istrinya Bos." Jawabnya singkat.
Embun menganggukan kepalanya, Dia masih saja tersenyum. Menyembunyikan rasa penasarannya.
"Hanya itu yang kamu tahu tentang aku?" Embun menilik penuh dengan rasa penasarannya. Sedangkan Doly dibuat bingung dengan pertanyaan Embun.
"Masih banyak Nyonya." Jawab Doly bercanda.
"Nyonya? jangan panggil aku nyonya. Panggil saja Adik Embun." Embun tersenyum, Dia bahagia sekali. Teman masa kecil yang dianggapnya sudah meninggal dunia. Ternyata masih hidup.
Tara yang melihat perubahan sikap Embun setelah bertemu dengan Doly dibuat tercengang. Anggapan bahwa Embun akan defresi, apabila mengetahui bahwa Doly masih hidup adalah salah. Harusnya keluarga Embun, dengan cepat memberitahunya bahwa Doly masih hidup. Dan mungkin Embun tidak membenci Tara sampai berkarat begini.
"Adik?" Doly menatap Tara yang juga menatapnya.
"Iya Adik Embun. Dulu juga Abang dulu sering manggil Aku bunbun?" ucap Embun keceplosan. Raut wajah bahagia terpancar jelas di wajahnya. Sedangkan Doly dibuat sedikit bingung.
"Iya Doly." Ucap Tara memberi kode dengan matanya agar Doly mengiyakan setiap ucapan Embun.
"Iya, aku dulu manggil Abang itu dengan sebutan Dodol. Hahahaha...!" Embun tertawa renyah. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, mengetahui fakta bahwa Doly masih hidup.
"Dodol?" Kening Doly mengkerut. Dia merasa istri bos nya itu sok akrab dengannya.
"Iya Dodol, karena dulu Abang suka sekali makan dodol." Jawab Embun semangat.
"Abang tidur di sini kan? besok kita cepat ya pergi ke kampusnya. Terus sorenya kita jalan-jalan ya! ada banyak hal yang mau ku tanyakan dan ku ceritakan kepada Abang dodol." Embun benar-benar tidak sabar menunggu esok hari. Dia harus tahu, tentang kehidupan Doly setelah dirinya hanyut terbawa arus sungai.
"Eeehhmmmm....Eehhmmmm..." Tara berdehem, Dia merasa tidak dianggap di tempat itu. Dari kecil sampai sekarang, Embun benar-benar tidak menganggapnya ada.
"Doly itu asisten Abang. Jadi Dia tidak boleh berlama-lama dengan Adek besok. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Doly." Tara cemburu, Dia tidak mau Doly dekat dengan Embun. Tahu begini, lebih baik Doly tidak usah bekerja dengannya. Biar saja Doly tetap jadi pekerja di ladang ayahnya Embun.
Embun melirik Tara, "Hanya satu hari saja, aku benar-benar ingin tahu tentang Abang dodol."
"Nanti di kamar Abang ceritakan semua." Ucap Tara. Dia tidak mau Embun terlalu dekat dengan Doly. Bisa gawat nantinya, karena saingannya bertambah satu.
Tara menggelengkan kepalanya. Heran dengan kepribadian Embun, yang tidak tertarik kepadanya. Padahal banyak wanita mengejar-ngejarnya.
Embun terdiam, Dia kembali menatap lamat-lamat Doly.
"Aku senang sekali bisa bertemu denganmu Abang dodol." Lagi-lagi Embun meluapkan rasa bahagianya.
"Doly, sudah saatnya kamu pulang." Tara menggerakkan bola matanya, memberi kode agar Doly pulang ke apartemennya.
__ADS_1
"Oh iya Bos." Doly yang sudah selesai makan itu, langsung pamit pulang.
"Kirain Doly tinggal di sini." Ucap Embun lemas menatap kepergian Doly. Setelah Doly hilang dari jangkauan matanya. Dia pun melenggang pergi meninggalkan Tara yang masih belum selesai makan.