DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Menggigit


__ADS_3

"Abang mau apa?" Embun gelagapan. Kini wajah Tara sudah berada tepat dihadapannya. Tara tersenyum menatap lekat Embun yang grogi.


"Mau apa? kenapa menatapku seperti itu?" Tatapan Tara benar-benar membuat Embun salah tingkah. Keningnya mengerut, dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tatapan Tara yang menatapnya dengan takjub, benar-benar membuat Embun salah tingkah.


Embun yang merasakan hembusan napas Tara menerpa wajahnya, perlahan ia menutup kedua matanya dengan harap-harap cemas, bibirnya sedikit terbuka. Dia terhipnotis dengan hembusan napas Tara yang terasa sejuk.


Embun merasakan benda kenyal dan hangat menyentuh bibirnya yang dari tadi memang sudah disiapkannya untuk dikecup Tara. Entah kenapa Dia menginginkan Tara menciumnya. Mungkin efek hormon esterogennya yang lagi naik, atau tersugesti karena, baru saja melihat tontonan pasangan yang lagi bermesraan di layar Televisi di hadapannya.


Saat ini raut wajah Embun begitu bahagia, senyum tipis damai jelas terlihat. Lidahnya bergerak genit membasahi bibirnya, sambil merasakan sensasi nikmat di bibirnya tersebut.


"Dek, Embun, Embun!" Tara melap bibirnya Embun. Tara sangat heran dengan ekspresi wajah istrinya itu. Wajah Embun begitu mesum, bahkan gerakan lidahnya di bibirnya begitu liar dan menggoda.


Eemmmmhhmmm.... Embun hanya mengguman menanggapi ucapan Tara.


Sungguh Tara dibuat bingung dengan tingkah Embun yang seperti tersulut birahi itu.


"Dek, Embun....!" Tara menepuk pelan pipi Embun agar tersadar. Benar saja usaha Tara kali ini membuahkan hasil. Wanita itu akhirnya tersadar, membuka lebar kedua bola matanya, melihat Tara yang nampak bingung dihadapannya.


"Adek kenapa?" Tara kembali memperhatikan lekat wajah Embun yang masih linglung itu. Kini Embun mengubah posisinya menjadi duduk. Meraba bibirnya dan mengingat kembali, kejadian yang baru saja dialaminya.


"A--ku, aku emangnya kenapa?" Embun tergagap, merasa bingung dengan pertanyaan Tara.


"Adek tadi seperti orang yang horny gitu?" ucapan Tara membuat Embun tersedak, padahal Dia sedang tidak makan. Embun pun terbatuk-batuk, karena tenggorokannya jadi terasa gatal.


"Adek kenapa?" lagi-lagi Tara begitu mengkhawatirkan istrinya itu. Dia mengelus pelan punggung Embun. Dia heran dengan sikap Embun. Sikap istrinya ini sudah berubah sedikit lebih baik dan sopan. Tapi, tingkahnya jadi aneh.


"Adek tidak apa-apa. Abang kenapa naik ke atas ranjang? kita kan tidak boleh tidur satu ranjang" celoteh Embun, menatap Tara dengan lekat.


"Abang hanya melap saos di bibir Adek." Tara kembali menyentuh bibir bawah Embun. Embun terkejut, Dia langsung memegangi tangan Tara.


"Astaghfirullah.... ternyata dia hanya mengelus bibirku. Kenapa aku malah memejamkan mata dan merasakan bibirku diciumnya. Dasar otak mesum. Apa aku sudah saatnya kawin ya? lama-lama dengan pria ini, koq aku jadi terangsang. Apa karena baca novel yang hot itu, aku jadi kepikiran. Aaaahhh ini sangat berbahaya." Embun membathin, dia bengong karena otaknya tadi sempat traveling, mencari pembenaran bahwa Tara memang menciumnya.


"Adek itu selesai makan langsung mau tidur. Bibir belum diperiksa bersih apa gak. Biasanya juga Adek, bersih-bersih dulu baru tidur." Tara kembali melap bibir Embun. Sebenarnya saosnya sudah tidak ada. Tapi, Tara kecanduan menyentuh bibir Embun yang halus dan kenyal.


"Apaan sih, dari tadi bibirku di gesek terus. Emangnya yang menempel di bibirku lem setan, yang tidak bisa hilang. Kalau benar saos, sekali usap aja kan hilang." Ketus Embun, setelah menjauhkan tangan Tara.


Tara tertawa, " Habis ekspresi wajah Adek lucu banget tadi saat Abang usap bibir Adek. Jadi Abang usap-usap aja terus." Tara tersenyum jahil. Embun memukul lengan Tara kuat. Dia malu kepada diri sendiri. Dia mengkhayal, Tara mencium bibirnya dengan penuh kelembutan dan pengkhayatan. Rasanya nikmat sekali.

__ADS_1


Embun cemberut, "Sudah sana abang keluar, aku mau istirahat." Ketus Embun, Dia sangat malu.


"Adek tadi khayalkan apa sih? gak mungkin kan adek khayalin kita sedang begituan?" Tara mematuk-matukkan kedua jari telunjuknya. Menggambarkan dua insan sedang berciuman.


Wajah Embun merah padam, dia malu.


"Enak saja, kalau aku mau pasti aku cium langsung ngapain mengkhayal segala. Sudah aahh... sana keluar. Aku mau tidur." Embun mendorong bahu Tara dengan kuat


Suaminya itu hanya tersenyum. Dorongan Embun tidak berpengaruh.


"Mana ketehe, lagian mana mungkin itu terjadi. Kita berdua tidak ada rasa. Apalagi Adek benci kali sama Abang." Ucap Tara sedih sikap Tara jadi melunak dan minder.


"Itu Abang tahu tapi, Abang Gak ada rasa sama Adek. Tapi, dulu selalu main nyosor." Embun protes dengan sikap Tara yang dulu selalu mencuri-curi kesempatan.


"Namanya laki-laki dek. Ya wajarlah, lagian kan Adek sudah istrinya Abang. Apa salahnya dicium." Tara mencari pembenaran dan mencoba menutupi perasaannya kepada Embun. Laki-laki gengsinya masih tinggi.


"Harusnya Abang jangan main cium-cium dong. Buat ilfel aja." Embun menampilkam ekspresi kesal. Nyali Tara semakin ciut, sepertinya dia tidak akan bisa mendapatkan hati Embun.


"Iya, itukan dulu. Sekarang kan gak pernah lagi. Soalnya sudah ada yang mau dicium. Hehehehe..." Tara tertawa kecil, Embun melotot tidak percaya dengan ucapan Tara.


"Aaa--pa kalian sudah ciuman? apa Abang sudah pernah berciuman dengan Lolita?" Embun menarik napas dalam, menyiapkan dada yang lapang untuk mendengar jawaban Tara.


"Koq kalian pacarannya gak sehat sih?" Embun kesal sekaligus kepo dengan hubungan Tara dan Lolita.


"Ya namanya sudah sama-sama dewasa. Itu kebutuhan kali." Jawab Tara santai. "Habis, punya istri gak bisa di apa-apain." Tara tersenyum sinis. Embun membulatkan kedua matanya. Ucapan Tara masih diragukannya.


"Aku tidak percaya kalau Lolita begitu orangnya. Dia itu rajin beribadah. Dia tahu batasan." Embun tidak percaya dengan ucapan Tara. Tapi, hatinya ragu juga.


Aaaahhh... EGP, ngapain aku pikirkan hubungan mereka. Embun membathin.


"Orang rajin ibadah, belum tentu bisa nahan nafffsu. Apalagi dekat dengan pria setampan Abang." Tara menyombongkan diri. Embun terpelongok.


Saat itu juga ponsel Tara berdering. Dia meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang itu.


Tara menegakkan posisi duduknya membelakangi Embun. "Lolita menelpon, Abang angkat dulu ya." Tara menghidupkan speaker ponselnya.


"Assalamualaikum Hubby?" Embun yang mendengar ucapan Lolita, dibuat terkejut. Air yang baru saja masuk ke mulutnya kini tersembur dan mengenai kepala Tara.

__ADS_1


Tara menoleh ke arah Embun dengan Ekspresi wajah kesal. Dia pun menarik napas dalam. Embun mengangkat tangannya. "Sorry.!" Meminta maaf dengan pelan, tapi gerakan bibirnya sangat jelas.


"Walaikumsalam dek." Jawab Tara lembut. Embun yang mendengarnya dibuat kesal. Entah kenapa dia cemburu abis.


"Gak bisa bobo ni By, dongengin lagi dong.. " Embun lagi-lagi dibuat terpelogok dengan ucapan Lolita.


Apa? didongengin? balita kali didongengin.


Tara menatap Embun yang menampilkan ekspresi kesal. " Apa dia cemburu? gak mungkinkan dia cemburu." Tara membathin, menatap Embun yang kini membuang muka.


"Adek istirahat ya. Abang ke ruang kerja saja." Tara bangkit dari atas ranjang, berjalan menuju ruang kerjanya. Ponsel masih menempel di daun telinga.


"Aauuuwww.... perutku sakit...!" Embun meringis. Kedua tangannya memegangi perutnya. Tara yang mendengar Embun mengaduh kesakitan, akhirnya berbalik badan.


"Dek, sudah dulu ya. Embun masih kesakitan ini." Tara langsung mematikan ponselnya. Mendekat kepada Embun yang masih meringis kesakitan.


"Dek, masih sakit perutnya?" Tara begitu khawatir. Bagaimana pun jahatnya istrinya itu. Tara tidak sanggup membalas sikap jahat istrinya itu, terlalu besar rasa cinta di hatinya.


"Iya, kumat lagi. Aku harus merasa happy, agar sakitnya reda." Jawabnya melirik Tara yang nampak begitu mengkhawatirkannya.


"Apa Adek merasa tidak happy, atau tertekan saat ini?" Tara kembali duduk di tepi ranjang. Dia memberanikan diri, menyampirkan anak rambut Embun yang menutupi sebagian wajahnya, karena acting.


"Iya." Jawabnya menampilkan ekspresi wajah menderita.


"Sebentar Abang telepon Dokter saja." Tara sudah menempelkan ponselnya di telinganya. Panggilan pun tersambung. Tapi, dengan cepat Embun meraih ponselnya itu.


"Gak usah telpon Dokter. Aku hanya dismenore ringan. Minum jamu dan perut dikompres air hangat saja, nanti juga sembuh." Tolak Embun. Dia tidak mau terlalu sering mengkonsumsi obat-obat untuk pereda rasa nyeri.


"Ooohh... Abang akan buatin kamu jamu." Tara mengelus kepala Embun. Dia pun berjalan menuju dapur.


Kini Embun melorotkan tubuhnya. Ternyata aktingnya itu mantap juga. Tara percaya, kalau dia benar-benar kesakitan. Padahal sakitnya masih bisa ditahannya.


Sementara di dapur. Tara memerintahkan ARTnya membuat jamu kunyit asam. Tentu saja Tara memperhatikankan detail cara membuatnya. Besok pagi, dia akan membuatkannya untuk Embun.


"Tuan ini jamu bagus sekali diminum Nona Embun, aku juga menambahkan ketumbar." ART yang berjenis kelamin wanita itu, menjelaskan khasiat ketumbar. Tara beberapa kali menelan ludah mendegar penjelasan ART nya itu. Dia laki-laki normal, kalau ada yang bicara menjurus ke situ, tentu dia terangsang.


"Mana ku tahu, itunya menggigit atau gak, belum pernah dicoba." Tara membathin, tersenyum kikuk kepada ART nya yang gaul itu.

__ADS_1


Setelah jamu selesai diracik. Tara masuk ke kamar.


TBC. Like, coment positif,vote dan gila dong say.😊


__ADS_2