DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kesetrum


__ADS_3

Ardhi dan Melati sedang menunggu antrian di ruangan khusus. Dia tidak kepikiran lagi untuk menghubungi Dokter Obgyn saat diperjalanan, saking paniknya. Sehingga saat sampai di tempat praktek obgyn itu, dia harus tetap antri. Melati sadarkan diri, saat sampai di parkiran tempat praktek Dokter Obgyn.


Ardhi yang sempat kehujanan saat berkelahi dengan anak buahnya Pak Zainuddin. Tidak merasakan lagi tubuhnya yang kedinginan. Kulit Pria itu seolah mati rasa, karena paniknya dia saat ini. Dia ingin memeluk sang istri. Yang duduk di bangku antri di sebelahnya. Tapi, karena bajunya basah. Dia mengurungkan niatnya itu.


Aneh memang hujannya di sore hari itu. Hujannya kilat, tapi deras. Hujan itu sukses membuat Ardhi dan anak buah Pak Zainuddin basah kuyup. Disaat Tara dan Embun sampai di rumah Pak Zainuddin. Hujan sudah reda.


"Pak Ardhi, sebelum Ibu Melati diperiksa. Sebaiknya bapak kami periksa dulu luka-lukanya." Praktek langganan Ardhi ini. Adalah praktek yang dikelolah oleh sepasang suami istri.


Sang istri membuka praktek kandungan. Dan sang suami Dokter umum. Perawat yang melihat Ardhi dalam keadaan tidak baik itu. Meminta agar Ardhi ditangani dengan cepat. Takut imun tubuh Ardhi menurun, karena tubuhnya basah kuyup.


"Gak usah sus. Yang terpenting sekarang istri saya harus diperiksa. Apa masih lama giliran kami Sus?" tanya Ardhi dengan penuh kekhawatiran, menatap Melati yang duduk di sebelahnya, yang juga ditemani Bi Romlah.


"Gak Pak, sebentar lagi pasien akan keluar." Ucap Suster itu ramah. Padahal kalau menurut antrian, belum dapat giliran Melati untuk diperiksa. Tapi, karena Dokter itu, dekat dengan Ardhi. Terjadilah Nepotisme di tempat itu. Ya biasalah Indonesia.


Benar saja, baru juga dibahas. Pasien itu sudah keluar dari ruang pemeriksaan. Suster menuntun Melati untuk masuk ke dalam. Sedangkan Ardhi mengekor.


"Pak Ardhi? kenapa dengan wajah bapak?" tanya sang perawi wanita dengan terheran. Wajah Ardhi sudah memerah dan lebam. Penampilan juga sudah lusuh kucek.


"Bukan saya yang harus dikhawatirkan Dok. Tapi, istri saya." Ucapnya dengan ekspresi dingin. Saat ini, Ardhi begitu tegang, rasanya tak tertarik lagi untuk berbasa-basi.


"Iya Pak. Tapi, keadaan bapak juga sedang tidak baik." Tegas Dokter, mulai melakukan pemeriksaan pada Melati.

__ADS_1


Saat ini Melati juga sedang tegang dan heran. Dari tadi suaminya itu, lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya. Banyak cerita dan bersikap hangat padanya. Apakah suaminya itu sudah membenci sang ayah, karena menyuruh anak buahnya menghajarnya.


Melati melamun saat diperiksa. Dokter harus dua kali mengulangi pertanyaannya kepada Melati.


"Bu, Bu Melati..!"


"Istri saya tadi terjatuh Dokter. Makanya aku buru-buru bawa dia kemari." Ucap Ardhi penuh dengan kekhawatiran. Melati lagi-lagi tidak mendengar ucapan sang Dokter. Dia sibuk memikirkan sang suami, yang keadaannya tidak baik itu.


Melati tidak merasakan sakit pada perutnya. Hanya saja, dia merasakan sedikit ngilu dan nyeri di siku dan pergelangan tangannya sebelah kanan. Karena saat hendak terjatuh. Melati dengan cepat bertumpu pada lantai halaman pak Zainuddin. Sehingga tekanan dari tubuhnya, mungkin menyebabkan keseleo di sendi siku dan pergelangan tangan.


Dokter mengelus lengannya Melati dengan pelan berulang kali. Akhirnya Melati pun menoleh kepada sang Dokter.


"Ya Dok, anakku baik-baik sajakan dok?" akhirnya dia sadar juga dari lamunannya.


"Kandungan Bu Melati sangat kuat Pak Ardhi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebaiknya bapak, ke ruang sebelah agar diobati suami saya." Ucap Sang Dokter ramah. Bangkit dari duduknya, berpindah ke kursi meja kerjanya. Mulai meresep vitamin baru pada Melati.


"Vitamin yang saya beri dua minggu lalu, masih ada Bu Melati." Tanya Dokter, jemari lentik sang dokter terlihat lincah menggores kertas putih di hadapannya.


"Masih ada Dok " Jawab Melati lemah. Membenahi pakaiannya, yang tadi sempat tersingkap. Ardhi hanya diam berdiri, tanpa ada membatu sang istri membenarkan pakaian Melati. Entahlah, Ardhi jadi takut pada Melati saat ini. Dia pun tak tahu apa yang ditakutkannya pada sang istri. Makanya dia lebih banyak diam.


"Ohhh... Sebenarnya itu saya kasih resep untuk satu Minggu. Tapi, kenapa masih ada ya Bu? berarti ibu gak rajin minum vitamin yang saya kasih. Vitamin yang saya kasih itu harus diminum teratur loh Bu. Agar perkembangan otak janin ibu berkembang dengan baik. Itu vitamin mahal, jangan dibuang ya Bu." Jelas Dokter menggeleng lemah. Dia sedikit kecewa pada Melati yang tidak teratur minum vitamin yang diberikannya.

__ADS_1


"Iya dok." Jawabnya gak banyak basa basi. Gak mungkinkan Dia mengatakan, bahwa dia juga minum madu asli saat ini. Karena kata Ibu Khadijah, minum madu juga tak kalah bagusnya dengan vitamin mahal yang tiap hari dikonsumsinya.


"Untuk seterusnya diminum teratur nanti obatnya ya Bu." Dokter memberi resep pada Ardhi yang bisa ditebus di praktek itu juga.


Melati turun dari ranjang pasien. Kali ini Ardhi membantu sang istri dan menuntunnya berjalan keluar dari ruangan itu.


"Mas, harus diperiksa juga." Melati menghentikan langkahnya, saat Ardhi menuntunnya keluar dari tempat itu, yang dibantu Bi Romlah.


"Gak usah dek. Mas bisa obati luka sendiri di rumah nanti." Masih menuntun sang istri berjalan yang nampak bingung itu. Melati sedang bingung dengan sikap Ardhi yang nampak dingin.


"Loh Mas, koq Bi Romlah tidak naik bareng kita." Setelah Melati naik ke mobil dan duduk di jok depan. Di sebelah supir. Kepala ART pak Zainuddin itu, memasuki mobil lain. Ardhi juga tidak tahu, kenapa pak Zainuddin menyuruh supirnya ke tempat itu.


"Mas gak tahu sayang." Ucap Ardhi mulai menghidupkan mesin mobilnya. Dengan wajah serius. Melati yang melihat ada perubahan dari sikap Ardhi akhirnya memiilih diam saja. Berusaha rileks, agar pikirannya tenang. Sehingga mereka berdua akhirnya terdiam sepanjang perjalanan. Bahkan Melati yang heran, karena Ardhi membawanya ke rumah sederhananya mereka. Tidak berani bertanya, kenapa mereka malah ke rumah sederhana itu. Bukannya sang Ibu mertua sedang ada di rumah mereka.


Sesampai di rumah sederhananya mereka. Ardhi menuntun Melati untuk masuk ke kamar mereka.


"Adek istirahat ya. Mas mandi dulu, mungkin mas mandinya agak lama. Karena mas akan mengompres luka di wajah mas." Melati mengangguk dengan tersipu malu. Pasalnya sang suami sedang membelai lembut pipinya. Tapi, yang membuatnya tidak tahan adalah. Sikapnya Ardhi yang terkesan dingin. Sehingga membuat Melati jadi penasaran. Dari tadi sedikit pun tak ada senyum di wajah babak belur suaminya itu.


"Mas lapar banget sayang. Kalau adek sudah merasa baikan. Pesankan gofood ya dek." Masih membelai pipi sang isteri dengan tatapan menghanyutkan.


"Iya mas." Jawabnya lembut. Seketika Melati merasa kesetrum, karena Ardhi tiba-tiba mengecup bibirnya. Entahlah, kenapa Melati merasa deg deg an saat Ardhi menciumnya. Padahal ini bukan kali pertama mereka berciuman.

__ADS_1


TBC.


Kantuk say, coba like, coment positif dan vote nya banyak. Pasti grazy up dong..?!'😊🤭


__ADS_2