DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Minta maaf


__ADS_3

"Kalian boleh pergi, tapi Melati harus sarapan dulu " Ardhi dan Melati langsung menoleh ke asal suara. Siapa lagi yang bicara kalau bukan Pak Zainuddin. Ternyata pria itu menguping pembicaraan Ardhi dan Melati.


Lagian siapa juga yang minta izin pada Pak Zainuddin. Tapi, lihatlah pria tua itu, seolah tahu bahwa sang putri akan meminta izin padanya.


Merasa sudah dimaafkan. Ardhi berjalan cepat menghampiri sang ayah angkat sekaligus ayah mertuanya itu. Memeluk pria itu dengan perasaan bahagia. Sedari awal dia tahu, kalau pria yang sedang dipeluknya ini, gak akan tega bersikap jahat padanya. Makanya Ardhi tidak mau melawan mertuanya itu dari kemarin.


"Kalian sarapan dulu. Baru kita berangkat bareng." Mengurai pelukan Ardhi. Dan melangkah menuju kamarnya. Tentu saja Melati dan Ardhi saling pandang mendengar ucapan sang ayah. itu artinya Pak Zainuddin akan ikut ke rumah sakit membesuk besannya.


Kini dua mobil mewah merk Mercedez yang ditumpangi Pak Zainuddin dan mobil Lamborghini yang ditumpangi Ardhi dan Melati, sudah sampai di parkiran rumah sakit.


Pak Zainuddin nampak menunggu sang putri dan menantunya, berdiri tak jauh dari mobil Lamborghini itu. Karena Melati dan Ardhi tak kunjung keluar dari dalam mobil.


"Apa adek belum siap bertemu dengan ibu?" meraih tangan sang istri yang terasa dingin dan berkeringat. Kalau sudah panik dan takut, Melati pasti akan merasa pusing dan mual. Obat yang diminumnya setiap pagi agar jangan mual, tidak akan mempan Kalau pikiran dan hatinya tidak tenang.


"Mas, jujur ya, aku, A--ku takut untuk bertemu dengan Nyonya besar." Saking tak siapnya, Melati sampai terbata-bata saat bicara. Perlaikuan kejam sang ibu Jerniati, masih membekas di hati dan pikirannya. Dia benar-benar takut Melihat ibu Jerniati. Pikirannya sudah tersugesti seperti itu.


Ardhi tersenyum tipis, mencoba memahami kecemasan dan rasa takut yang dirasakan istrinya itu.


"Iya sayang, kalau adek belum siap bertemu dengan ibu. Ya gak apa-apa. Kalau begitu kita pulang saja ya?" Membelai pipinya Melati dengan lembut. Mencurahkan kasih sayang kepada sang istri. Agar istrinya itu tidak setres.


"Jangan, jangan mas. Mana mungkin kita pulang mas. Mas sangat dibutuhkan ibu saat ini . Mas masuk saja, adek nunggu di mobil." Melati tidak mau memaksakan diri. Dia sungguh tidak siap untuk berjumpa dengan ibu Jerniati.


"Baiklah, mas hanya sebentar di sana. Hanya memastikan keadaan ibu."


"Iya mas, maaf ya. Bukan adek gak mau berjumpa dengan nyonya besar. Tapi, adek merasa gak sanggup." Memelas dan merasa bersalah dihadapan sang suami.


"Iya sayang, mas ngerti koq. Semuanya butuh proses. Ya sudah mas masuk ke dalam dulu. Adek baik-baik di sini " Ardhi mengelus lembut lengan Melati Kemudian turun dari mobilnya, menghampiri Pak Zainuddin.


"Kenapa Melati gak turun? dia baik-baik saja kan?" tanya Pak Zainuddin menoleh ke arah Melati yang duduk di dalam mobil yang kacanya terbuka itu.


"Iya ayah, Melati merasa belum siap bertemu dengan ibu." Jawab Ardhi sedih dengan menunduk. Sebegitu membekasnya rasa sakit di hati sang istri. Sehingga istrinya itu, tak sanggup bertemu dengan ibunya.

__ADS_1


"Kamu dan ibumu sudah terlalu banyak memberi penderitaan pada putriku. Harusnya aku tak memaafkanmu sampai kiamat." Ucapan Pak Zainuddin begitu tajam, hingga sukses mengiris hatinya. Tak usah diungkapkan, dia juga sadar telah banyak menyakiti istrinya itu.


"Iya ayah, maafkan lah kesalahanku dan ibuku." Ardhi yang sudah mengangkat wajahnya, menatap Pak Zainuddin penuh harap.


"Gak tahu saya, berdoa saja yang banyak agar rasa kesal dan benci yang datang tiba-tiba di hati ayah angkatmu ini cepat menguap." Berbalik badan, mengakhiri pembicaraan. Ardhi pun mensejajarkan langkahnya di sebelah pak Zainuddin.


"Ayah ruangannya masuk dari sini." Pak Zainuddin main langkah terus. Dia sok tahu tempat Ibu Jerniati dirawat.


Sesampainya di ruang rawat Ibu Jerniati. Pak Zainuddin langsung masuk dan berdiri di sisi bed menatap sang besan, dengan tatapan datar. Kali ini Pak Zainuddin belum bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Sedangkan yang ditatap, menampilkan ekspresi sedih dan menahan sakit.


"Pak... Zai, a---ku minta maaf!" suara ibu Jerniati terdengar sangat pilu dan menyedihkan. Tapi, sama sekali pria tua itu tak simpatik.


"Iya Bu, cepat sembuh ya? agar kamu bisa melihat anakmu bahagia dengan Melati, putriku. Wanita yang kamu aniaya dan hina-hina. Karena kamu menganggapnya gak berguna karena miskin. Tanpa kamu ketahui, kamulah yang miskin." Ternyata Pak Zainuddin masih kesal pada wanita yang berbaring lemah di hadapannya itu.


"I--ya Pak, saya salah. Maafkan saya Pak!" ucapnya lemah dengan suara bergetar. Air mata terus saja keluar bercucuran membasahi pipi keriputnya.


"Minta maaf sama Allah Bu. Minta diampuni segala dosa-dosanya." Pak Zainuddin masih bicara ketus. Ardhi hanya bisa terdiam melihat interaksi Ibu dan ayah mertuanya itu.


"Iya Pak, a--ku memang salah, sangat banyak do- dosaku di dunia ini. Allah telah menegurku, tapi, a.. aku tetap tidak menghiraukannya." Tangis ibu Jerniati semakin menjadi saja. Wanita itu tadi malam bermimpi buruk. Bermimpi disiksa di akhirat dan masuk api neraka.


Ardhi akhirnya duduk di sebelah sang ibu. "Ma, jangan menangis lagi. Mama harus kuat dan semangat agar bisa sembuh." Melap air mata yang membasahi pipi sang mama dengan jemarinya.


Ibu Jerniati menatap lekat wajah sang anak yang memar dan masih bengkak itu. Dia tidak mau menanyakan lagi, kenapa wajah anaknya bisa bejek seperti itu. Karena dia tahu, anaknya seperti, akibat dari imbas kejahatannya.


"Mel, Me--ati, Melati mana nak? I-- ibu mau minta ma maaf!" Masih susah berbicara, karena wanita itu sudah stroke.


"Melati sedang kuliah Ma" Jawab Ardhi bohong, padahal sang istri ada di parkiran. Belum pergi kuliah.


"Mama, Mam ing in bertemu." Ibu Jerniati semakin tidak jelas saat berbicara.


"Pak, sebaiknya ibunya tidak usah duku diajak bicara banyak. Pasien masih perlu istirahat " Sang perawat yang ada di ruangan itu memberi tahu kondisi ibu jerniati. Ardhi pun menoleh kepada sang perawat mendengarkan dengan serius ucapan perawat itu.

__ADS_1


"Ok saya permisi dulu ya ibu. Cepat sembuh ya?" Pak Zainuddin tersenyum tipis pada ibu Jerniati yang kini menatapnya, kemudian mengangguk. Pria tua itu pun keluar dari ruangan itu terlebih dahulu.


Sebenarnya dia masih kesal pada besannya itu. Tapi, untuk apa dendam. Toh sepertinya besannya itu, sudah mau berpulang ke Rahmatullah.


Ardhi yang masih ada di ruang rawat itu, memijat-mijat lembut kaki sang ibu yang terkulai lemas.


Sebelum menikah dengan Melati. Wanita yang terbaring lemah inilah, satu-satunya harta yang paling berharga yang dimilikinya. Walau ibunya terjerumus, dia tidak mungkin membencinya.


Ardhi menghela napas berat, saat memijat kaki sang ibu. Dadanya terasa sesak dan ngilu. Kenapa sang ibu, di masa tuanya jadi seperti ini. Harusnya diumur yang tak mudah lagi. Ibunya itu harus lebih dekat kepada sang pencipta.


Ardhi menatap langit-langit kamar ruangan itu, agar matanya yang dari tadi berkaca-kaca, tidak mengeluarkan cairan bening yang mendesak ingin keluar itu. Rasanya sangat malu, dihadapan perawat dan Bi Kom jika dia menangis.


Merasa hatinya sedikit baikan. Ardhi menatap wajah tenang sang ibu yang lagi tertidur pulas. Pijatannya ternyata membuat ibunya itu rileks. Dia pun mencium kening ibunya itu, melap air mata yang masih tersisa disudut mata sang ibu.


"Bi Kom, jangan lupa beri kabar mengenai ibu setiap setengah jam ya!" Ucapnya pada kepala ART nya itu. Dia memberi kepercayaan pada wanita itu, untuk menjaga ibu Jerniati.


"Iya tuan " Ardhi pun meninggalkan ruangan itu. Berjalan cepat ke parkiran. Sembari mengusap-usap wajahnya yang tadi terasa tegang, saat berada di ruang rawat sang ibu.


Sesampainya di dalam mobil, Melati sudah menunggunya dengan wajah penuh selidik. Sepertinya Melati sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.


"Bagaimana keadaan ibu Mas?" tanyanya memegang paha sang suami yang sudah duduk di sebelah kirinya.


"Ibu sudah melewati masa kritisnya setelah operasi. Ibu juga masih bisa bicara, walau kurang jelas." Ucap Ardhi meraih botol minum yang ada di hadapannya. Meneguk air mineral itu, hingga habis setengah botol. Melati memperhatikan sang suami yang kehausan itu.


Wanita itu pun mengambil tisu, dan melap bibir sang suami yang basah. Ardhi minum pun bertumpahan. Mungkin disebabkan oleh bibirnya yang belum sembuh itu.


"Terima kasih sayang." Menangkap tangan sang istri yang melap bibirnya yang basah. Melati pun tersipu malu, karena sang suami mencium punggung tangannya.


"Apa sih Mas, malu pada pak Andi." Ucapnya pelan, sambil menarik tangannya dari genggaman Ardhi. Pak Andi adalah supir barunya Ardhi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2