DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Naas


__ADS_3

"Abang Ilham," Tangan Melati gemetar saat memegang ponselnya itu, nama Ilham terus saja memanggil, membuat hatinya jadi sedih. Air mata semakin deras jatuh bercucuran membasahi pipinya yang pucat. Mengingat pria itu semakin membuat hatinya sedih. Baru kemarin siang, pria itu mengutarakan cintanya, dan hari ini, rencananya dia akan menjawab pernyataan cinta pria itu, tentu saja dia akan menerimanya. Tapi, setelah apa yang barusan dialaminya. Mana mungkin dia menerima Ilham, pria baik dan Sholeh. Sedangkan dia saat ini adalah wanita kotor yang tidak suci lagi.


Tangisan Melati semakin menjadi, mengingat-ingat dirinya tidak suci lagi. Dia menyumpal mulutnya dengan kedua tangannya, setelah memasukkan kembali ponselnya ke tas ranselnya.


Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana dia akan menghadapi dunia, jikalau orang mengetahuinya fakta bahwa dia tidak perawan lagi. Orang-orang pasti akan mengucilkannya, memberi sanksi sosial padanya.


"Ya-- Tuhan, ja_ngan hukum aku seberat ini..!" ucapnya lirih dengan si as Ra bergetar, menahan tangis.


Mana mungkin dia akan meminta pertanggung jawaban pada pria yang menodainya. Mana mungkin pria itu mau bertanggung jawab. Karena sudah jelas, pria itu akan menikah. Lagian, mana mungkin orang kaya mau menikah dengan pembantu. Ditambah ibu pria yang menodainya, sangat benci padanya. Bahkan ingin memenjarakannya, agar dirinya tidak mengusik sang anak.

__ADS_1


"Tidak...!" teriaknya histeris, Melati merasa tidak ada lagi gunanya hidup di dunia ini. Masalah yang dialaminya sangatlah pelik. Dia bangkit dari duduknya dengan menahan sakit di sekujur tubuh. Apalagi di bagian inti di bawah pusatnya dan tangannya di bagian bahu.


Sambil menahan rasa sakit, Melati melangkah tak ada tujuan. Dia gak tahu harus ke mana? tidak mungkin dia menginap di hotel. Itu sama saja akan menghabiskan sisa uangnya yang dimilikinya yang tak banyak itu. Dia baru saja mengirim uang pada keluarganya di kampung.


Dia juga tidak mungkin pergi ke kost an si Butet. Sekarang sudah pukul tiga pagi. Dan dia tidak mungkin menghubungi Ilham. Dia tidak mau Ilham curiga dengan keadaannya sekarang. Dia tidak mau orang mengetahui, kalau dia sudah dinodai secara paksa. Itu aibnya, dia harus bisa menyembunyikan aib itu.


"Mak.....!" Melati kembali menangis histeris. Dia juga sudah tidak sanggup lagi berjalan. Dia pun bersujud di trotoar jalan itu. Kesendiriannya di tengah malam sudah tidak dihiraukannya lagi. Angin malam yang semakin dingin, menyucuk sampai ke tulang, tidak dirasakan wanita itu lagi. Karena, besarnya sakit kehilangan kesucian.


Sebelum dia pulang ke kampung naik bus pagi ini. Sebaiknya dia mengistirahatkan tubuhnya sejenak di Mesjid yang ada di kampusnya. Sampai waktu sholat subuh tiba. Kantornya Ardhi dengan Kampusnya Melati bersebelahan. Bahkan saat ini, kedua kaki lelahnya sedang berjalan ke arah kampus tersebut.

__ADS_1


Suara ngauman anjing membuat Melati semakin ketakutan. Berjalan sendirian di tengah malam dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, tentu membuat wanita itu ketakutan yang luar biasa.


Ketakutannya semakin menjadi-jadi, ketika mata sembabnya menangkap seekor anjing yang mengaum tadi berjalan ke arahnya. Sepertinya anjing itu akan menyerangnya.


Mengetahui jiwanya sedang terancam, Melati mempercepat langkahnya. Gerbang kampus dari samping sudah dekat. Tinggal menyeberang.


Kedua mata sembabnya itu terus mengawasi pergerakan anjing yang sudah semakin dekat kepadanya. Melati menahan sakit yang luar biasa di tubuhnya saat kakinya di tuntut untuk berlari kencang. Menghindar dari kejaran anjing.


Chiiitttt....

__ADS_1


Aauuuwww.....


Melati berteriak sekuat-kuatnya. Inilah akhir hidupnya. Dia pasrahkan dirinya saat ini. Sepertinya akan lebih baik dia mati saja. Toh kalau dia hidup pun, tidak akan ada orang yang mau berteman dengannya. Dia sudah kotor.


__ADS_2