DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Kikuk


__ADS_3

"Pak, Pak Ardhi, ada Pak Zainuddin ingin bertemu. Pak, Pak Ardhi...!" Desi sengaja mengeluarkan suara kerasnya, agar Bosnya yang berada di dalam mendengarnya. Desi sang sekretaris, ada feeling bahwa telah terjadi sesuatu hal aneh dan mencurigakan di kamar ruang kerja Bosnya itu. Dia seorang wanita. Melihat sang Bos begitu panik dan khawatirnya pada Melati, membuatnya penasaran dan akhirnya menghubungi Rudi. Menanyakan apa hubungan sang Bos dengan Melati yang pernah bekerja selama satu hari di kantor itu.


Desi melakukan itu, setelah melihat CCTV di lobi kantor. Dan sekarang Desi sedang melihat Pak Zainuddin sedang menuju ke ruang kerjanya Ardhi. Makanya wanita berteriak kencang. Berharap sang Bos mendengarnya dan menyambut kedatangan Pak Zainuddin dengan normal. Dia tidak mau Bos nya terciduk oleh sang ayah mertua. Mantap-mantap di kantor.


Tapi, ini panggilan ke tiga, tanda-tanda pasangan yang ada di dalam mendengar teriakannya belum ada. Sepertinya pasangan pengantin baru itu, tidak mempersoalkan sekeliling lagi. Karena sudah dimabuk cinta.


Desi pun langsung menghadang langkah Pak Zainuddin yang melintas di depan meja kerjanya.


"Selamat siang Pak Zainuddin..?" ucapnya masih dengan suara yang keras dan cengar-cengir di hadapan Pak Zainuddin. Desi berharap Ardhi dan Melati yang ada di dalam ruangan mendengarkan teriakannya.


"Siang Desi, kamu habis makan apa? koq energik sekali." Pak Zainuddin yang punya jiwa santai itu, tidak mempermasalahkan Desi yang nampak tidak sopan bicara keras kepadanya. Bahkan menghalang-halangi langkahnya. Yang membuat Pak Zainuddin mengerutkan kening.


"Saya baru makan kue ombus-ombus Pak." Masih tersenyum lebar dan tetap menghadang pak Zainuddin. Kue Ombus- ombus adalah makanan atau jajanan khas Batak yang berasal dari Siborongborong, Tapanuli Utara. Kue ombus-ombus terbuat dari tepung beras yang diberi gula di tengahnya dan dibungkus dengan daun pisang. Pak Zainuddin sangat suka kue itu. Makanya Desi sengaja mengajak Pak Zainuddin bicara, dan mengukur waktu. Bicara dengan keras, berharap suaranya terdengar ke dalam ruangan Ardhi.


"Packing untuk Amang boru mu ini ya!" Pak Zainuddin sudah memegang handle pintu ruangan Ardhi bahkan sudah terbuka sedikit.


"OH Ya, MINUMNYA APA PAk!" ucap Desi keras, mengintip Ardhi apa sudah duduk di kursi kerjanya. Tapi, Bos nya itu tak ada di situ.


"Lemon tea saja." Oak Zainuddin sudah masuk ke ruangan. Tentu saja Desi masih berusaha menghadang pak Zainuddin agar tidak melangkah jauh ke dalam.


"Ok Pak Zainuddin... Bos, Bos Ardhi.... Pak Zainuddin datang...!" teriak Desi, mengarahkan mulutnya ke arah pintu kamar yang tertutup, tapi tidak dikunci.


Untuk teriakan kali ini, akhirnya didengar oleh Melati. Dia yang memang dari awal, sudah mawas diri. Walau hanyut juga dengan gairah suaminya yang membara itu.


"Mas, sepertinya ayah ada di ruangan ini." Ucap Melati pelan, berusaha melepas hisapan bibirnya Ardhi dari pucuk gunung kembarnya yang hangat, kenyal dan padat itu. Dengan mengangkat wajah suaminya itu.


Ardhi yang tidak sadar diri itu lagi. Tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Terlalu nikmat bermain di gundukan yang menggiurkan itu.


"Ardhi, Ardhi...!" Kali ini Melati yakin, ayahnya memang ada di ruang kerja suaminya itu.


"Mas, ada ayah!" Melati mendorong kuat wajah suaminya itu. Dengan cepat Melati mendudukkan tubuhnya setelah Ardhi melepaskan dirinya dari dadanya Melati.


"Ardhi, kamu di kamar?" suara Pak Zainuddin semakin jelas terdengar.


Ardhi gelagapan, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mulut pria itu menganga dengan mata melotot sempurna. Dengan debaran jantung yang berdetak tak menentu, karena ketakutan dan merasa malu, pria itu pun memeriksa keadaannya yang sudah acak Adul. Kemeja sudah sedikit kusut, rambut acak-acakan. Karena dijambak sang istri. Disaat menahan nikmat yang tidak bisa dijabarkannya dengan kata-kata.


Pria itu masih bengong memperhatikan Melati yang nampak kesusahan mengkancing gamisnya, karena gugup. Syukur pengait BRA nya tidak lepas. Sehingga Melati dengan mudah menutup lagi gunung kembarnya dengan BrA nya.


"Mas, ada Ayah." Mengingatkan suami yang masih terbengong-bengong dengan wajah merah padam dan kesal bukan main.


Sosisnya masih berdenyut-denyut dan mengacung sempurna. Ini rasanya sangat menyakitkan. Benar-benar tersiksa.


"Kalau ada ayah emangnya kenapa?" ucapnya dengan cemberut. Harusnya istrinya itu tidak menghentikan kegiatan mereka.


"Ya Mas harus jumpai ayah. Tidak mungkin kita melakukannya, padahal ayah ada juga di ruangan ini." Ucap Melati pelan, dia sudah sukses mengancing gamis ya bagian dada dan memakai hijab.


"Ardhi, kamu di dalam?" Desi hanya bisa menyipitkan kedua matanya. Merasa malu dengan kelakuan sang Bos. Dia yakin, Bos nya itu sedang mantap-mantap di dalam kamar itu.


"Ardhi... Kamu di dalam?"

__ADS_1


"Iya Ayah, ini lagi sama putrimu..!" Melati langsung mencubit lengannya Ardhi geram. Dia kesal dengan suaminya itu.


"Sakit tahu Dek." Mengusap lengan yang dicubit oleh istrinya itu, dengan berdecak kesal. Entah kenapa ayah mertuanya itu datang, menggagalkan semuanya. Dia itu sudah lebih dari seminggu menahannya. Disaat ada kesempatan malah gagal lagi.


"Melati di kamar bersamamu?" suara ayahnya terdengar riang gembira, yang membuat Melati mengerutkan dahi mendengarnya.


"Oohhh... astaga, maaf ayah mengganggu, lanjutkan saja." Ardhi akhirnya tertawa tipis mendengar ucapan ayahnya itu, setelah diresapi kelakuan mereka memang memalukan ya? siang-siang bolong, melampiaskan gairah cinta yang bergelora.


"Ayo kita lanjut lagi. Ayah saja senang dengar kita lagi di kamar." Memeluk Melati yang ada di hadapannya. Memasrahkan kepalanya di perut sang istri dan menciuminya.


"Ayah bahagia banget, akhirnya Mamamu, mau juga menerima ayahmu ini." Memciumi lembut perut Melati yang ditutupi pakaiannya dan mengusap-usap. Melati terharu dengan sikap manisnya Ardhi padanya. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk bermesraan. Ada orang tua mereka yang sedang menunggu di ruang kerja.


"Mas, jangan buat Melati malu pada ayah. Sana temui ayah." Melati merangkum wajah sang suami dengan lembut. Mengangkat wajah tampan itu, sehingga kini Ardhi sudah berdiri di hadapannya.


"Ayah bilang lanjutkan." Tersenyum mesum dan mengedipkan mata.


"Iiihh... ayah itu hanya menghargai perasaan kita. Kita itu harus punya sopan." Tersenyum tipis pada Ardhi.


"Temui ayah" Merapikan rambut suami dengan jemarinya. Serta kemeja pria itu.


"Adek perlu penjelasan yang masuk akal nanti. Kenapa ada noda lipstik di kerah baju Mas." kali ini raut wajah masam mendominasi wajah manisnya Melati.


"Untuk sebuah penjelasan perlu bayaran?" mengedip-ngedipkan kedua mata dengan mesumnya.


"Kalau masuk akal, batu dapat bayaran." masih merapikan baju sang suami.


"Itu burung, sangkarnya ditutup dulu." Melati menoleh ke bawah, dengan tersipu malu


"Res kan dong!" Muka memelas.


"Gak ahkk... Cepat sana mas. Kasihan ayah menunggu." Mendorong tubuh kekar sang suami agar keluar dari kamar itu.


"Sun dulu dong?!"


"Aakkhh.... apaan si!" malu-malu menunduk, Ardhi yang gemes, mengecup keningnya Melati yang masih menunduk itu. Menutup sangkar burungnya dan keluar dari kamar itu, dengan tersenyum bahagia tanpa rasa malu.


Melati mendudukkan bokongnya di tepi ranjang dengan bergidik geli, menggoyang-goyangkan kepalanya dengan rasa malu yang luar biasa. Dia tidak menyangka mereka akan seintim itu di kantor.


Mau ditaruh di mana nanti mukanya ini, jika bertemu dengan sang ayah. Jujur setelah kejadian hari ini. Dia pasti akan malu sekali kepada ayahnya itu. Kebiasaan di adat Batak, hal seperti itu sangat lah tabu.


Melati menarik napas dalam dan menghembuskan pelan. Rasanya dadanya begitu sesak. Sesak bukan karena sedih, tapi kami malu dengan semua yang terjadi hari ini.


"Astaghfirullah...!" ucapnya dengan ekspresi wajah terkejut dan sedih. Dia baru ingat kalau dia belum menunaikan sholat Dzuhur dan sekarang sudah pukul tiga lewat lima menit. Waktu sholat Dzuhur sudah selesai.


"Aauhhwwhh..." Dia pun memegangi perutnya yang terasa perih karena kelaparan. Dia baru ingat kalau belum makan siang. Tadi saat bercumbu, wanita itu melupakan rasa laparnya. Saking terhanyutnya dengan permainan sang suami.


Perut wanita itu terasa mengisap dan perih. Ingin sekali dia keluar dari kamar itu. Untuk makan, tapi dia malu kepada ayahnya yang ternyata masih ada di ruang kerjanya Ardhi. Melati yang bingung harus melakukan apa di kamar itu. Akhirnya mendekati pintu kamar, menguping pembicaraan Ayah dan suaminya.


"Si Lidya tadi menelpon ayah. Katanya kamu dan dia tidak jadi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Iya Ayah, tadi Melati pingsan di loby." Jawabnya sedih, jika mengingat kejadian tadi siang, istrinya itu seperti tidak berharga terkapar di lantai marmer cream itu.


"Jadi sudah bagaimana keadaan putri ayah sekarang?" Oak Zainuddin terlihat khawatir dengan anaknya itu.


"Sudah baikan Ayah." Jawabnya dengan mengguyur rambutnya dengan jemarinya.


"Syukurlah, Lidya mengatakan akan tetapi membantu kasus ibumu. Dia bahkan sudah mengumpulkan bukti pembelaan tentang keadaan Ibumu yang sekarat di rumah sakit tadi siang. Katanya sih, harusnya kamu ikut ke sana. Tapi, akhirnya dia sendiri yang bekerja."


Ardhi tersentak mendengar penjelasan ayahnya itu. Berarti Lidya tidak marah padanya,


Padahal tadikan dia sudah membentak wanita itu. Sedangkan Melati dibuat tidak tenang dan penasaran di balik daun pintu. Wanita yang bernama Lidya, sepertinya sedang mengincar suaminya itu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" ucap Ardhi dengan wajah seriusnya. Dia jadi ragu untuk menggaet Lidya jadi pengacaranya.


Desi sang sekretaris masuk dengan menenteng paper bag dan sebuah flashdisk di tangannya. "Bos, ini hasilnya." Ardhi memperhatikan Desi dan flashdisk di tangan wanita itu. Dia pun meraih flashdisk itu dan menyimpannya di laci lemari kerjanya. Dia sungguh penasaran dengan rekaman cctv di loby. Tapi, tidak mungkin dia memeriksanya padahal ada sang ayah di situ.


"Kenapa Melati berkurung di kamar. Ayah jadi khawatir, setelah kamu mengatakan dia tadi sempat pingsan." Melati pun kembali merapikan dirinya, karena mendengar laporan Ardhi. Bahwa putrinya itu tadi pingsan.


"Melati malu pada ayah." Ardhi tersenyum tipis. Ayahnya itu tak kalah senang mendengarnya. Dia bangga pada sang putri yang masih punya rasa malu itu. Itu artinya putrinya itu masih punya adab.


"Oh ya Des, itu apa?" memperhatikan tas bekal di tangan Desi.


"Ini miliknya Non Melati Bos." Ucap Desi


"Kemarikan!" Ardhi yang duduk di kursi kerjanya, langsung bangkit meraih tas bekal itu.


"Bekal?" memeriksanya yang ternyata sebagian isi rantang itu sudah tidak pada tempatnya lagi.


Hati Ardhi menghangat saat ini. Ternyata istrinya itu datang membawakan makan siang untuknya.


"Kamu boleh keluar, terus pesankan lagi makanan untukku seperti biasa."


"Iya Bos." Desi pun keluar dari ruangan itu dan Pak Zainuddin bangkit dari duduknya.


"Ayah pulang dulu. Cepat kasih makan putri ayah. Ayah tunggu cerita selengkapnya, apa yang terjadi hari ini." Ucap Pak Zainuddin tegas. Dia tahu ada yang tidak beres. Tapi, dia tidak mau langsung ikut campur.


"Iya ayah." Ardhi seperti banyak pikiran.


"Kalau ayah berlama-lama di sini. Pasti Melati akan enggan untuk keluar." Ardhi tersenyum lebar. Dia tahu maksud sang ayah.


"Melati, putriku, ayah pulang dulu." Tiba-tiba saja Melati sudah nongol dan menghampiri sang ayah dengan kikuknya. Rasanya begitu memalukan. Ingin rasanya dia menyembunyikan dirinya di dalam lubang semut saja.


"Santai saja ya sayang. Ingat jangan banyak pikiran." Melati menunduk malu, saat sang ayah mengelus punggungnya. Pak Zainuddin pun meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


TBC.


Like coment positif dan vote ya say😍🙏


__ADS_2