DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Aku juga ingin diperhatikan


__ADS_3

Tiga hari pun berlalu. Ada sedikit perubahan skapnya Ardhi pada Melati. Perhatian dan bicara lembut masih tetap dilakukan pria itu. Hanya saja, pria itu sudah tidak mau menggoda sang istri lagi. Dia tidak memaksa memeluk Melati saat tidur lagi. Atau nyelenong masuk ke kamar mandi, padahal dia tahu sang istri di dalam. Dia sengaja melakukan itu, karena dia ingin Melati merasa nyaman dengannya.


Yang jadi masalah sekarang adalah. Melati sedikit bertanya-tanya tentang perubahan sikap suaminya itu. Emang sih, setiap pergi bekerja. Suaminya itu selalu berkomunikasi dengannya. Baik melalui chat atau pun bertelepon. Tapi, suaminya itu tidak pernah lagi memeluknya saat tidur. Bahkan suaminya itu tiga hari ini, selalu pulang larut malam. Dia kangen juga dipeluk oleh Ardhi.


Melati tahu, Ardhi sedang banyak pekerjaan dan urusan keluarga. Terutama mengurus Ibu Jerniati yang video syur nya kena proses hukum. Ditambah suaminya itu harus menjaga sang ibu di rumah sakit.


"Mas, obat serta vitaminku sudah habis. Aku mau minta izin pergi periksa kandungan nanti sore." Ucapnya lembut, saat mereka hendak keluar dari kamar, mengantar Ardhi untuk pergi bekerja. Ardhi membalik badan menatap sang istri dengan tersenyum tipis. Kemudian pria itu menurunkan pandangannya ke arah perut nya Melati. Perut yang sangat ingin dielusnya. Tapi, sang istri selalu menolak sentuhannya secara halus.


"Aku dan kak Embun janjian untuk periksa sama-sama." Terangnya lagi, karena melihat Ardhi seperti tidak senang dengan permintaannya. Embun hanya menemani sebenarnya. Dia kan baru periksa kandungannya tiga hari yang lalu.


"Yang jadi suamimu si Embun atau aku?" Ardhi benar-benar kecewa pada Melati. Wanita itu seolah-olah, seperti menyembunyikan kondisi anaknya. Kenapa malah buat janjian periksa kandungan dengan Embun. Emang sih Embun hamil. Tapi, kan dia juga ingin melihat dan mengetahui kondisi anaknya di rahim istrinya itu.


Ceekkkggh


Ardhi berdecak kesal.


"Apa maksud Mas bicara seperti itu?" tanya Melati dengan raut wajah sedih. Ucapan suaminya itu terasa kasar. Ditambah ekspresi wajah Ardhi sedikit kesal. Melati tersinggung, dengan cara bicara Ardhi pagi ini


"Mas tahu, adek tidak suka dengan Mas. Sebelum kita menikah, Mas pernah ajak adek untuk periksa kandungan. Tapi, Adek menolak untuk Mas temani. Adek pergi sendiri, untuk USG. Dan meninggalkan hasil USG di meja, serta ponsel pemberianku. Kemudian adek lari dengan pria yang adek cintai.

__ADS_1


"Tiga hari yang lalu, saat Mas ada waktu luang di sore hari. Mas ajak Adek untuk periksa kandungan. Adek gak mau, dengan alasan tidak ingin keluar rumah dan obat serta vitamin masih ada." Ya, tiga hari yang lalu, setelah curhat dengan Pak Zainuddin. Ardhi mendatangi Melati ke kamar mengajak wanita itu untuk perjksa kandungan, tapi Melati menolaknya.


"Hari ini malah ingin pergi dengan Embun. Bukannya meminta Mas nemenin adek." Melati tersentak dengan ucapan suaminya itu. Raut wajah kecewa, serta sedih jelas terlihat di wajah Ardhi. Melati jadi merasa bersalah. Suaminya itu ternyata bisa marah juga.


"Apa adek gak sadar, Mas ingin sekali melihatnya di monitor, sangat penasaran tentang anak kita. Ingin membelainya, walau mungkin harus melalui perantaraan adek. Semua keinginan itu Mas pendam sekarang. Agar adek bisa nyaman hidup bersama Mas. Tapi, mendengar adek meminta izin pergi dengan Embun. Mas kecewa Dek. Mulai sekarang suka adek lah mau berbuat apa. Kalau itu menurut adek yang terbaik dan membuat adek nyaman.


"Mungkin sampai kapanpun, adek tidak akan bisa menerima Mas sebagai suamimu. Karena kamu terus saja memikirkan si Ilham. Mencuri-curi kesempatan menghubunginya malam-malam."


"Apa? Mas bilang apa?" Melati terperangah mendengar nama Ilham dibawa-bawa. Kenapa suaminya itu malah membahas Ilham.


"Gak usah dibahas lagi. Mas malas kalau ingat wajah pria itu." Mengusap kepala Melati yang ditutupi hijab itu. Dia tidak boleh terbawa emosi, ini masih pagi. Kalau dia menurutkan kekesalan di hatinya. Moodnya akan semakin buruk. Pekerjaan banyak menanti di kantor.


"Bukan tak ada waktu untuk bicara. Tapi, adek yang tak mau komunikasi dengan Mas. Selalu menghindari Mas. Tahu gak sikap adek itu buat Mas kesal dan bosan, Mas merasa tidak inginkan. Mas gak ada yang memperhatikan. Selalu mas yang menanyakan tentang adek. Kalau Mas gak nanya kabar, adek gak mau tahu tentang mas. Bahkan, mas sudah mengutarakan keinginan Mas. Adek tetap tidak mau mengerti.


"Mas kirim pesan, nanyain sudah makan. Jawabnya hanya iya, sudah. Adek itu gak pernah nanyain balik. Huuhhh... Klise sekali memang, tapi itulah yang terjadi. Berapa kali mas katakan, Mas ingin belajar mencintai addk. Tapi, sepertinya Mas gak akan bisa. Adek itu susah dipelajari." Melati semakin menunduk saja mendengar uneg-uneg suaminya itu. Ucapan suaminya itu mengena di hatinya.


"Mas ada waktu sore ini. Kita pergi periksa kandungan adek. Baik-baik di rumah. Jangan setres. Ingat ada anak kita di dalam tubuh adek." Dengan cepat Ardhi mencium kening Melati yang masih terlihat syok itu. Gimana tidak syok, Ardhi menyebut-nyebut nama Ilham, juga mengutarakan semua kekesalan di hatinya. Melati tidak menyangka Ardhi serapuh itu. Ingin diperhatikan segala


Ardhi yang hendak membuka pintu, mengurungkan niatnya karena, ponsel yang berada di saku Jas nya bergetar. itu artinya ada yang menelpon.

__ADS_1


"Walaikum salam Dek Lidya " Melati mengangkat wajahnya setelah mendengar suaminya itu menyebutkan nama Lidya. Ekspresi wajah nya langsung berubah jadi berkabut. Padahal tadi Melati tersipu malu, karena dikecup sang suami.


"Iya, ok, ok!" Ardhi tertawa tipis saat bicara dengan Lidya. Melati jadi tidak senang melihat ekspresi wajah sang suami yang terlihat bahagia itu. Tawa suaminya itu terdengar ringan dan menyenangkan. Tidak pernah suaminya itu tertawa seperti itu padanya.


Hingga panggilan itu pun berakhir dan Melati dengan cepat kembali menunduk. Seolah tidak mendengar semua perbincangan Ardhi dengan wanita yang bernama Lidya itu.


"Mas pergi ya." Suaminya itu masih tersenyum, kembali mengelus puncak kepala Melati.


"Iya mas." Ucapnya melirik Ardhi yang membalik badan. Pria itu pun turun ke lantai bawah. Sedangkan Melati berlari ke arah balkon. Dia akan menatap kepergian sang suami dari balkon kamar mereka.


Melati menatap mobil suaminya itu, hingga hilang dari pandangan matanya. Ucapan Ardhi tadi cukup mengusik hatinya. Begitu jujur dan tulus suaminya itu tentang perasaannya. Jahat sekali dia yang tidak menyambut hangat perlakuan baik sang suami.


Melati menarik napas kasar. Dia berdecak kesal. Benci dengan dirinya yang susah sekali untuk bersikap layaknya sebagai istri pada Ardhi. Rasa canggung dan gengsi itu masih mendominasi. Rasanya untuk bersikap manis dan manja begitu aneh buat wanita itu.


"Haruskah aku memulainya hari ini? melawan rasa canggung dan gengsi ini, menyambut perlakuan manis dan romantisnya mas Ardhi? Tapi, dia tidak manja lagi. Dia juga tidak memelukku lagi saat tidur. Dia juga tidak minta untuk mandi bersama lagi. Masak aku duluan yang minta peluk? aakkhhh.... aku ini wanita, malu sekali rasanya, minta peluk sama Mas Ardhi." Ucapnya dengan menggerutu, kenapa dia sekarang jadi pingin bermanja-manja dengan suaminya itu?


"Bagaimana cara memulai PDKTnya? haruskah aku perhatian pada Mas Ardhi. Mengirimkan pesan untuknya terlebih dahulu? tadi kan dia bilang ingin diperhatikan juga?" Melati uring-uringan di balkon kamarnya. Duduk, bangkit, mondar-mandir. Memikirkan cara agar suaminya itu tahu bahwa dia juga ingin belajar mencintai pria itu.


"Baiklah, aku akan coba dengan membawakan makan siang untuk Mas Ardhi. Terus aku akan menunggu dia selesai bekerja. Sorenya, kami akan periksa kandungan." Melati bicara sendiri, dengan penuh semangatnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2