DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
H-1 Akad Nikah


__ADS_3

Hari Jumat


Suasana di rumah Embun sejak kemarin sudah ramai, oleh kehadiran sanak saudara dekat dan jauh. Rumah bagian dalam sudah dihias dengan begitu mewahnya dengan ciri khas suku Batak Angkola, oleh pihak WO. Bahkan di dalam rumah ada pelaminan yang cantik.


Rumah orang tua Embun yang sangat luas pekarangannya, sangat memungkinkan membuat hajatan di rumahnya saja, tanpa perlu menyewa gedung.


Setelah selesai sholat Magrib berjamaah di Mushollah, Embun langsung masuk ke kamarnya. Menolak untuk makan malam bersama. Dengan alasan masih kenyang.


Dia masuk ke kamarnya dan langsung menguncinya. Mendudukkan tubuhnya dengan lemas di kursi meja riasnya. Tangannya dengan tidak semangatnya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja riasnya. Ponsel itu adalah ponselnya Ardhi kekasihnya. Yang diberikan kepadanya, saat pertemuan mereka terakhir.


Flashback on


"Adek jangan sedih, Adek harus yakin kita bisa melewati semua masalah ini. Kalau kita saling percaya." Ucap Ardhi, meraih Embun kembali ke pelukannya. Embun mengangguk, kemudian membalas pelukan pria yang sangat dicintainya itu.


"Ini ponsel Mas, Adek simpan baik-baik. Kalau Adek kangen Mas. Adek buka aja galerinya. Disitu banyak foto-foto kita dan video lucu yang sering kita rekam." Ucap Ardhi lagi, kembali menyodorkan ponselnya kepada Embun. Dengan ragu Embun meraihnya.


Ardhi yang mendengar cerita Embun, bahwa Dia Dipaksa Menikah dengan Tara. Membuatnya jadi sedih sekaligus takut. Dia tidak mau kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu. Ardhi tipe pria setia, yang sangat susah untuk jatuh cinta. Apalagi Dia sampai empat tahun menunggu. Agar Embun mau menerima cintanya.


Tara itu saingan berat, kalau Ardhi bersikap keras. Dia takut, Tara akan benar-benar merebut Embun darinya.


"Mas tidak akan tahu, apakah Mas akan tahan tidak komunikasi denganmu selama enam bulan ini. Tidak komunikasi satu hari saja, rasanya sudah uring-uringan sayang..!" ucapnya menatap Embun yang juga menatapnya.


"Adek harus tiap hari lihat foto Mas. Agar Adek, tidak melupakan Mas." Ucapan Ardhi membuat hati Embun berdenyut nyeri. Dia tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Ardhi kembali memeluknya dengan sayangnya. Menenangkan Embun yang lagi galau berat itu.


"Mas akan pergi ke Singapura. Mas akan fokus membuka cabang usaha di sana. Seperti rencana kita dulu. Kalau Adek sudah lulus kuliah, maka Adek akan ambil S-2 di Singapur dan Abang akan handle sendiri usaha yang baru dibuka disana." Ucapnya menatap sedih Embun. Semua rencana dan impian mereka sepertinya harus diundur. Sampai mereka kembali bersatu.


"Adek gak mau. Kalau Adek nanti kangen ingin berjumpa bagaimana?" rengek Embun, masih menangis.

__ADS_1


"Ini juga terpaksa Mas lakukan. Karena kalau Mas di Negara ini. Mas akan setres kepikiran kamu terus. Padahal kita tidak bisa komunikasi dan bertemu sebelum enam bulan. Kalau Mas ke Singapura. Mungkin Mas, akan bisa menjalani hari-hari Mas dengan normal dengan fokus bekerja." Ucap Ardhi, masih menatap sendu Embun. Mengelus lembut rambut Embun yang tergerai panjang itu.


Embun kembali menitikkan air mata, menarik napas dalam. Dia merasa saat ini dadanya begitu sakit dan sesak. Ada ketakutan besar yang tiba-tiba menyergap dirinya. Disaat Ardhi mengatakan akan pergi ke luar Negeri.


"Di sana Mas jangan ganjen ya? ingat ada Aku di sini yang menunggu." Ucapnya dengan ekspresi merajuk dan cemburu.


Ardhi terseyum, jikalau Embun cemburu. Wajahnya jadi nampak menggemaskan.


"Mas yang seharusnya takut. Koq malah Adek?" Ardhi menjepit hidung Embun yang sudah memerah karena menangis.


"Ayo buruan buang ingusnya. Mumpung Abang pegang hidung Adek ini." Ucapnya menggoda Embun yang cemberut itu. Sehingga Embun kesal dan memukul dada Ardhi dengan gemesnya.


Bisa-bisanya Embun takut Ardhi berpaling darinya. Yang ada saat ini, Ardhi yang ketar-ketir menitipkan Embun kepada Tara.


Tok...tok..tok...


Mendengar suara pintu kamar di ketuk. Embun terkejut. Dia dengan cepat menyeka air matanya dengan jemarinya. Menyimpan ponsel pemberian Ardhi ke laci meja riasnya.


Tok....tok...tok....


"Sayang, buka pintunya. Kenapa di kunci? Mama mau masuk. Kamu makan dulu sayang." Suara Mama Nur nampak tidak tenang di balik pintu.


"Iya Ma, sabar." Embun berjalan cepat dan membuka pintu kamarnya.


Mama Nur yang memegang nampan yang diatasnya ada makanan untuk Embun. Menatap putrinya itu dengan sedih dan berdecak kesal. Dia tahu Embun sedang menangis.


"Kamu makan dulu ya Nak.!" Mama Nur masuk ke dalam kamar. Meletakkan nampan di atas meja belajarnya Embun.

__ADS_1


"Aku tidak lapar Ma. Aku mau tidur sekarang. Mama keluar aja deh." Ucapnya malas dan langsung terbaring di ranjangnya.


"Tidur? sebelum makan dan pakai Inai. Kamu belum boleh tidur." Ucap Mama Nur dan menarik lengan Embun agar bangkit dari pembaringannya.


"Aduhh Ma, Aku malas pakai Inai. Aku kantuk." Embun kembali menjatuhkan tubuh nya di kasur. Mama Nur berdecak kesal dan menatap tajam Embun. Melempar selimut yang menutupi setengah tubuhnya.


"Ayo bangkit, jangan buat malu keluarga kita, dengan sikapmu yang tidak dewasa ini. Jangan sempat saudara jauh kita nantinya bertanya-tanya dengan tingkahku dan ekspresi wajahmu yang butek itu. Wajahmu di tekuk terus. Lihat tu matamu sudah sembab karena menangis terus." Ucap Mama Nur kesal. Putrinya ini sesekali harus dikasari. Kalau sikap lembut tidak diopeninya.


"Mama," Ucapnya kembali menahan selimut nya yang ditarik Mama Nur. Embun semakin kesal aja. Dia tidak tertarik untuk ber Inai. 'Pernikahan bohongan aja pun mesti kali pakai Inai?'' Embun membathin.


"Ayo bangun, Nak Tara akan kesini. Dia juga akan sama-sama dipakaikan Inai. Petugasnya sudah di bawah sayang." Mama Nur kembali menarik kuat tangan Embun. Sehingga mau tqk mau Dia bangkit juga dari ranjang nya.


"Sayang, Mama mohon. Bersikap dewasalah. Jangan tunjukkan penderitaanmu itu. Kalau kamu memang merasa menderita. Kalau kamu bersikap seperti ini. Saudara dan keluarga besar kita akan bertanya-tanya dengan ekspresi wajah mu yang selalu masam dan cemberut itu.


"Mama mohon, berakting lah, seolah pernikahan ini adalah pernikahan impianmu Nak. Please...!" Mama Nur mengatupkan kedua tangannya dihadapan Embun, yang membuat Embun mendekati Mamanya dan meraih tangan Mamanya. Mencium tangan Mamanya dengan menitikkan air mata. Menatap Mamanya dengan sedih.


"Nak, kamu harus bisa menyimpan lukamu. Tidak perlu menunjukkan ekspresi menderita seperti itu. Orang-orang tidak suka melihat wajah cemberut. Maka ber actinglah sayang. Agar orang tidak bisa menebak isi hatimu." Ucap Mama Nur menatap putrinya yang nampak berfikir itu.


"Habis acara ber Inai. Maka sekitar jam sepuluh malam akan diadakan acara Makkobar adat Boru marbagas, sekaligus penyerahan mahar yang disaksikan oleh ketua adat dan alim ulama. Maka dari itu, acara ber inai nya harus selesai sebelum pukul sepuluh malam." Ucap Mama Nur, meraih tisu basah dari meja rias dan melap wajah Embun yang sembab.


Kemudian Mama Nur, menempelkan bedak padat ke wajah Embun dan mengoles liptin di bibirnya.


"Kamu harus nampak cantik dan fres. Karena kamu sekarang jadi pusat perhatiannya sayang." Ucap Mama Nur, menuntun putrinya untuk berjalan menuju ruang keluarga tempat diadakannya berinai. Wajah Embun sudah nampak segar dan cantik.


Saat menuruni anak tangga, Embun melihat Tara sudah duduk di tempat yang disediakan. Dengan memakai baju batik lengan pendek warna Hijau botol dipadu dengan celana keper warna hitam. Tara sedang digangguin makhluk jadi-jadian yang mempunyai jenis kelamin diragukan.


Si Bencong yang akan melukis tangan dan kaki Embun, langsung menyamperin Embun yang sudah turun dari tangga. Makhluk astral itu, langsung meraih tangan Embun. Memegang kedua lengannya dengan kuat dan menariknya agar berjalan cepat untuk mendudukkan Embun dengan gerakan sedikit kasar dan kuat, sehingga Embun terdorong kuat dan menyebabkan bokongnya mendarat di paha Tara yang sedang duduk bersila.

__ADS_1


__ADS_2