
"Namanya sama dengan nama putri bapak yang menghilang. Wajahnya juga sangat mirip dengan Almarhumah istrinya bapak. Apa mungkin calon istri mu itu, putrinya bapak yang menghilang Ardhi?" Pak Zainuddin benar dibuat tidak tenang, setelah mengetahui wanita yang akan menikah dengan Ardhi namanya sama dengan nama putrinya yang menghilang.
Dia sangat berharap wanita itu adalah putrinya yang hilang sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Pak Zainuddin benar-benar merasakan namanya harap-harap cemas.
"Bisa jadi Pak, karena Melati bukan anak kandung Pak Samsul." Ucap Ardhi dengan ekspresi tak kalah terkejutnya. Jika benar nantinya Melati adalah putri Pak Zainuddin, dia akan semakin merasa bersalah. Dia telah menodai putri dari seorang ayah yang telah membuatnya jadi orang kaya seperti saat ini.
Pak Zainuddin semakin terkejut bathin mendengar pernyataan Ardhi. Dia harus bertemu dengan Pak Samsul. Dia harus memastikannya. Dia yakin itu adalah putrinya. Firasatnya mengatakan seperti itu.
Setelah menatap tajam Ardhi dengan ketercengangannya. Pak Samsul langsung beranjak dari duduknya. Dia sangat penasaran kepada Melati. Pak Zainuddin meninggalkan Ardhi yang masih terbengong-bengong di tempat duduknya. Kemudian pria itu mengekori Pak Zainuddin.
Tujuan Pak Zainuddin adalah untuk mencari Pak Samsul ke kamarnya. Setelah sampai di depan kamarnya Pak Samsul. Pak Zainuddin menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia sedang mempersiapkan hatinya, saat mendengar jawaban dari Pak Samsul nantinya. Dia sangat berharap Melati adalah putrinya.
Tok
Tok
Tok
Berulang kali Pak Zainuddin mengetuk pintu kamarnya Pak Samsul. Tapi, tidak ada sahutan dari dalam.
"Bapak, sepertinya Pak Samsul di kamar nya Melati." Ucap Ardhi, pria itu kini sedang berada di belakang Pak Zainuddin, masih dengan ekspresi wajah harap-harap cemas.
Pak Zainuddin mengangguk lemah, keduanya kini menuju kamarnya Melati. Benar saja di ruangan itu, nampak Pak Samsul, Ibu Khadijah, Melati dan kedua adiknya sedang tertawa ringan, sepertinya adiknya Melati sedang melawakan. Berkumpulnya semua anggota keluarga, bercerita hal-hal yang telah dilalui dan bercengkrama bisa membuat mood membaik. Melati jadi merasa punya semangat dan tenaga, setelah berkumpul dengan keluarganya.
"Nak Ardhi, Pak Zainuddin?" Pak Samsul langsung bangkit dari duduknya. Menyambut kedua pria itu dengan ramahnya.
Saat sampai di kamar itu, tatapan Pak Zainuddin tak pernah lepas dari Melati yang duduk bersandar di headboard tempat tidur. Melati tersenyum tipis pada Pak Zainuddin yang menatapanya dengan lekat itu.
Pak Zainuddin tidak bisa mengendalikan perasaannya terharunya lagi, kini mata rabunnya yang memakai kaca mata itu sudah berkabut tebal. Sepertinya cairan bening, akan keluar dengan derasnya dari mata rabun itu. Dia yakin, Melati adalah putrinya.
__ADS_1
"Me--lati, Melati Assyifa." Bibir Pak Zainuddin bergetar saat memanggil namanya Melati. Air mata yang menyeruak keluar dengan deras membasahi pipi keriput pria itu. Pria itu menghampiri Melati
Melati, Kedua orang tuanya dibuat bingung serta heran dengan sikap Pak Zainuddin yang menangis di hadapan mereka. Kenapa pria tua yang baru dilihat mereka tadi pagi ini, datang dengan keadaan menangis.
"Putriku... Putriku Melati..!" Pak Zainuddin langsung memeluk Melati dengan fosesifnya. Pria itu sudah menemukan harta karunnya. Menemukan buah hatinya yang menghilang, saat Melati berumur menginjak empat tahun.
Melati benar-benar bingung dan heran dengan tindakan Pak Zainuddin yang memeluknya dengan tiba-tiba itu. Walau dia masih bingung, dia menyambut hangat Pak Zainuddin. Tapi, tatapan Melati seolah meminta penjelasan dari kedua orang tuanya. Yaitu Pak Samsul dan Ibu Khadijah. Melati sama sekali tidak tahu, sa.pao detik ini, kalau dia bukanlah anak Pak Samsul dan Ibu Khadijah.
"Nak, putriku, Ya Allah... Terimakasih banyak ya Tuhan..!" Pak Zainuddin langsung memeriksa pergelangan tangannya Melati setelah dia mengurai pelukannya dari Melati. Air mata kebahagiaan masih terus keluar dari mata sembabnya Pak Zainuddin.
"Ini, Ini tahi lalat ini. Kamu benar-benar putriku." Ternyata Melati punya tahi lalat sebiji kacang hijau di pergelangan tangan kanannya.
Setelah diinfus, Melati merasa punya tenaga. Tapi, kehadiran Pak Zainuddin yang dengan tiba-tiba mengatakan kalau dia adalah putrinya, membuatnya jadi tegang dan bingung.
"Melati putriku," Pak Zainuddin mencium tangannya Melati. Melati dianggapnya seperti putriku kecilnya saja saat ini. Pak Zainuddin tak bisa lagi membendung rasa bahagianya. Dia yakin 100 persen, kalau Melati adalah putrinya.
"Sebentar sayang, sebentar putri kecilku, kesayangan ayah." Pak Zainuddin merogoh dompetnya. Dengan tangan bergetar pria itu mengeluarkan foto berukuran 3 R, dari dompetnya. Menunjukkan foto itu pada Melati.
Melati benar-benar dibuat bingung. Dia memperhatikan dengan lekat foto itu. Ya foto itu mirip sekali dengan fotonya saat kecil. Karena, dia juga punya foto saat kecil dengan Pak Samsul dan Ibu Khadijah. Bahkan kalung yang ada di leher anak difoto itu yang dipegangnya saat ini, sama persis dengan kalung yang ada difotonya dengan Pak Samsul dan Ibu Khadijah. Kalung itu mainannya bertuliskan inisial Melati.
Melati menatap Pak Samsul dan Ibu Khadijah secara bergantian dengan penuh tanda tanya. Meminta penjelasan dari apa yang didengarnya saat ini.
Melihat Melasti seperti bingung. Pak Zainuddin beranjak dari duduknya. Pria itu menghampiri Pak Samsul yang berdiri tak jauh darinya.
"Kata Ardhi, Melati bukanlah putri kandung kalian. Benar seperti itu Pak Samsul?" tanya Pak Zainuddin dengan suara yang mengibah. Dia tidak mau dengar jawaban penyangkalan.
Pak Samsul menatap Melati yang juga masih tercengang itu. Kini ekspresi wajah sedih serta bingung terlihat jelas di wajah pucatnya Melati. Bahkan air mata sudah jatuh membasahi pipinya.
Sudah saatnya dia mengatakan ini pad Melati.
__ADS_1
"Iya Pak Zainuddin." Ucap Pak Samsul lirih. Pria itu langsung menyeka air matanya.
Huahuahuaaaaaa.... Huaaa...
Tangis Melati pecah, fakta apa lagi ini. Ibu Khadijah langsung memeluk Melati. Wanita itu juga menangis. Tapi, dia harus tegar.
"Inang, Unang tangis beho. Ligin keadaanmu, ho Inda tola setres. On berita na jeges, Unang be tangisi. (Putriku, jangan menangis lagi. Ingat keadaanmu. Kamu tidak boleh setres. Ini berita baik sayang, jangan ditangisi.) " Ibu Khadijah berusaha menenangkan Melati yang kini selalu menggeleng-geleng itu. Sungguh kejadian hari ini sangat mengejutkan. Melati sampai merasa dadanya sesak, oksigen seolah tidak bisa dihirupnya lagi.
"Indak Umak, AU anak ni umak dohot Ayah." Ucap Melati masih dalam dekapan sang ibu. (Tidak Bu, aku ini anak Ibu dan Ayah)
"Olo inang, ho tetap do borukku si denggan roha. Huahauaa.,!" Ibu Khadijah pun kembali menangis histeris. Gadis yang dibesarkannya, didiknya, telah menemukan jari dirinya. (Iya putriku, kamu akan tetap jadi putriku yang baik hati.)
Ardhi mendongak, menahan air mata yang memberontak ingin keluar itu. Setelah fakta mengejutkan ini terkuak, bagaimana sikap Melati nantinya padanya. Semoga wanita itu tidak menolak untuk menikah dengannya.
"Pak Samsul, tidak perlu test DNA. Aku yakin Melati adalah putriku." Pak Zainuddin memegangi bahunya pak Zainuddin yang masih tercenung itu.
"Iya Pak, saya percaya. Bukti yang Bapak katakan semuanya benar. Tapi, maaf kalung emas itu, sudah kami jual " Pak Samsul menunduk, Dia merasa malu dan bersalah karena menjual kalungnya Melati.
"Sebulan kami rawat Melati, dia sakit parah. Kena tipus, kami tidak punya uang waktu itu. Jadi kamu menjual kalung itu." Ucap Pak Samsul sedih, teringat dengan Melati yang sakit waktu itu.
"Iya Pak Samsul, tidak apa-apa." Pak Zainuddin dengan wajah bahagia dan mata yang berbinar-binar, Kembali mendekati Melati.
"Ini Aby mu Nak. Dulu kamu manggilnya dengan Aby." Melati melap air matanya, dia tersenyum pada Pak Zainuddin. Dia tidak berani memeluk pria tua itu. Dia belum percaya sepenuhnya dengan apa yang terjadi hari ini.
Melihat keraguan di matanya Melati. Pak Zainuddin pun kembali menghampiri Pak Samsul. "Kita lakukan test DNA." Tegas Pak Zainuddin, dia ingin meyakinkan Melati.
"Test DNA?" Ardhi menyamperin kedua pria tua itu.
"Iya Ardhi, seperti nya Melati tidak percaya bahwa Bapak Ini adalah ayahnya." Pak Zainuddin kembali menitikkan air mata.
__ADS_1
TBC