
Mama Maryam membuntuti mobilnya Ardhi dengan penuh umpatan dan kekesalan. Bisa-bisanya putranya itu tidak takut dengan ancamannnya.
Sepanjang perjalanan Mama Maryam pun berfikir keras, apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mau Melati mengatakan semua yang terjadi. Kalau dia menceritakannya pada Ardhi. Anaknya itu pasti membatalkan pernikahannya dengan Anggun dan menikahi Melati. Itu tidak boleh terjadi, dia tidak mau punya menantu yang miskin. Dia hanya ingin menantu yang kaya.
"Cepat pak!" titah Ibu Jerniati. Dia sedang mengirim pesan kepada Melati. Jemarinya dengan lincah mengetik di keyboard qwerty itu.
Sempat kamu mengatakan kepada orang atau pihak berwajib, bahwa kamu dinodai anakku. Maka tamatlah riwayat mu dan seluruh anggota keluarga mu di kampung. Aku tidak mau citra anakku buruk. Jangan pernah lapor ke polisi atau menuntut anakku untuk bertanggung jawab kepadamu. Pikirkan baik-baik. Aku bisa melakukan sesuatu yang lebih kejam pada keluargamu di kampung. TUTUP MULUTMU! pesan itu pun dikirim ibu Jerniati kepada Melati.
Ekspresi wajahnya saat menuliskan pesan itu penuh dengan kebencian. Entah kenapa wanita itu, bekerja di rumah mereka. Dulu, sebelum wanita itu kerja di rumah mereka. Dia merasa tenang dan damai. Merasa belum puas dan yakin, dia kembali meneror Melati dengan SMS.
Saya sedang menuju ke tempatmu, begitu juga dengan Ardhi. Anak saya tidak mau dilaporkan kepada Polisi. Jadi dia ingin bertemu denganmu. Kamu tutup mulutmu. Kamu tahu orang kaya bisa melakukan apapun! kamu sayang dengan keluargakmu di kampung kan?! setelah mengirim pesan kedua itu, Ibu Jerniati menarik napas panjang. Dia harus mempengaruhi Melati. Seolah-olah Sang Anak yaitu Ardhi, adalah pria yang tidak ingin bertanggung jawab dengan perbuatannya.
Ibu Jerniati mengecek chat nya itu ternyata sudah centang biru. Berarti wanita itu sudah membaca pesan yang dikirimnya.
Sementara di sebuah rumah sakit, di ruang rawat inap kelas VVIP. Seorang wanita nampak ketakutan bukan main. Siapa lagi kalau bukan Melati.
Tubuh kurus pucatnya kini bergetar hebat. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dia syok membaca pesan yang dikirimkan oleh Ibu Jerniati.
Pikiran-pikiran negatif berlarian diotaknya. Hal itu membuatnya semakin ketakutan. Bagaimana kalau Ibu Jerniati benar-benar datang menemuinya, disaat dia sedang sendirian di ruangan, seperti saat ini.
"Abang Ilham, cepatlah kembali!" Melati yang ketakutan itu, langsung bersembunyi dibalik selimut. Dia sudah berkeringat dingin.
"Ya Allah, apa dosaku dikehidupan sebelumnya? Kenapa takdirku begitu menyedihkan." Melati menangis sesenggukan, meringkuk memeluk lututnya. Dia merasa tubuhnya panas dingin. Karena ketakutan yang luar biasa. Dia tidak memperdulikan jarum inygusnya yang sudah mengeluarkan darah.
"Ya Allah, Aku tidak akan menceritakan aib ini kepada siapapun. Tapi, ku mohon, hindarkan aku dari Nyonya besar. Ku Mohon Ya Allah!" Melati masih saja bicara sendiri dengan derai air mata yang mengalir deras. Kalau memang dia harus mengakhiri hidupnya. Dia tidak mau mati sia-sia di tangan ibu Jerniati.
__ADS_1
Krekk...
Dug....!
Jantung melati rasanya sudah copot, darah sudah berceceran di rongga dadanya, saking takutnya mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Hatinya mengatakan yang datang adalah Ibu Jerniati.
Tubuhnya semakin bergetar dibalik selimut warna cream itu. Disaat kupingnya mendengar suara sepatu heels dan langkah seorang pria. Dia yakin, yang masuk ke kamarnya adalah ibu Jerniati dan anak yaitu Ardhi.
"Dek...!"
"Tolong...! jangan... aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Ku mohon kalian keluarlah!" suara Melati yang terdengar begitu ketakutan itu, membuat Tara dan Embun yang datang untuk menjenguk Melati. Jadi heran serta bingung. Pasangan suami istri itu saling pandang.
Melati benar-benar trauma. Bahkan dia tidak sanggup untuk melihat wajah Ardhi lagi.
Ditambah dia baru dapat chat teror dari Ibu Jerniati.
"Dugaanku, gadis ini adalah korban pelecehan." Bisik Tara pada Embun, tepat di daun telinga sang istri yang ditutupi hijab itu. Sontak Embun terkaget-kaget. Dia bergidik ngeri. Kalau benar dugaan sang suami. Betapa menyedihkan nasib si gadis ini.
"Sudah, jangan sedih gitu. Abang hanya menduga-duga saja." Tara langsung merangkul Embun dari samping. Memberi penguatan pada sang istri yang kini lagi sensitif.
Hati Embun terenyuh, mendengar suara isakan tangis Melati dalam selimut. Dia memberanikan diri, menyingkap selimut itu dengan gerakan perlahan dan lembut.
"Jangan takut dek. Kami ini orang yang membawamu ke rumah sakit. Kami bukan orang jahat." Wajah pucat pasi, terlihat jelas di wajah cantiknya Melati, setelah selimut yang menutupi dirinya tersingkap.
Melati yang ketakutan itu sedang menutup kedua matanya. Dia pun merasa legah, ternyata yang masuk ke kamarnya bukanlah Ardhi ataupun Ibu Jerniati.
__ADS_1
Perlahan dia pun mulai membuka mata sembabnya. Dia juga penasaran dengan orang yang telah menolongnya.
Saat kedua matanya menangkap sosok manusia dihadapannya. Melati kembali terkejut.
"Anda?!" ucapnya dengan dengan tercenung. Melati tidak percaya dengan sosok wanita yang ada di hadapannya. Saking terkejutnya dia refleks mendudukkan tubuhnya.
Wajah wanita itu seolah tidak asing. Dia pernah melihat wajah wanita yang kini sedang tersenyum manis padanya. Tapi, di mana?
Melati menunduk, mencoba mengingat. Di mana dan kapan dia melihat wajah wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Akhirnya dia pun tahu, wanita berhijab yang ada di hadapannya adalah mantan kekasihnya Ardhi. Dia pernah melihat foto wanita ini di kamar nya Ardhi.
Melati akhirnya mengangkat wajahnya. Wanita yang ada di hadapannya sangat cantik. Lebih cantik aslinya daripada di foto.
"Kenapa terkejut begitu?" Embun mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Tara masih saja merangkul bahu nya Embun.
Saat ini Melati masih terkejut bathin. Walau yang datang bukanlah Ibu Jerniati. Tapi, dia juga tidak menyangka, akan bisa bertemu dengan mantan kekasihnya sang majikan.
"Ti---tidak apa-apa kak. Aku hanya takut saja sendirian di kamar ini." Ucapnya terbata-bata. Tidak mungkin dia membahas Embun dan sang majikan. Dia pun memperhatikan Embun dan Tara dengan tatapan penuh tanda tanya. Embun dan Tara, merasa heran dengan cara Melati menatap mereka.
"Kata perawat tadi kondisi kamu sudah membaik. Syukur lah!" Embun memegang jemarinya Melati.
Karena kaget, Melati menarik keras tangannya. Embun juga tersentak dengan sikap dinginnya Melati. Tapi Embun masih berusaha bersikap tenang dan bersahabat. Dia masih tersenyum manis pada Melati. Dia juga yakin wanita ini sedang mengalami hal buruk.
"Assalamualaikum..!"
Ceklek...
__ADS_1
Pintu terbuka, Melati kembali terlonjak kaget melihat siapa yang masuk.
TBC