
"Permisi... permisi.... " Suara wanita yang tak asing, membuat Embun dan Tara menoleh ke asal suara yang terdengar kuat dan tak sabaran itu. Ternyata Melati sedang berlari menuju ke belakang, Mecari kamar mandi dengan menyumpal mulutnya dengan kedua tangannya.
Suasana warung yang ramai membuat Melati kesusahan berjalan ke kamar mandi. Mencari celah untuk melewati para pengunjung warung yang sedang mencari tempat duduk. Ilham yang mengkhawatirkan Melati, akhirnya ikutan berlari menyusul wanita itu ke belakang dengan paniknya.
"Melati kenapa?" Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya Tara. Dia menatap Embun, seolah meminta jawaban.
Embun bergidik bahu." Mana ketehe, hamil kali." Kalimat itu spontan juga keluar dari mulutnya Embun. Sesaat keduanya tersadar dengan ucapan keduanya Mereka pun saling pandang, dengan ekspresi wajah terkaget-kaget. Kemudian keduanya secara bersamaan menggeleng. Merasa tidak yakin dengan apa yang mereka ucapkan.
"Sedikit mencurigakan!" seru Tara.
Embun tercengang, benarkah Ardhi sang mantan melakukan pelecehan pada pembantunya?
Aakkhh... untuk apa juga dia memikirkan itu. Apa untungnya buatnya mengurusi kehidupan mantannya itu.
"Abang kenapa sih?"
__ADS_1
"Emang Abang kenapa?
"Heran saja, koq akhir-akhir ini sikapnya seperti emak-emak, yang suka menggibah." Tara tertawa kecil mendengar ucapan Embun. Ya, dia jadi sedikit sensitif kalau yang dibahas mengenai Ardhi.
Tara seperti sedang mengumpulkan kelemahan Ardhi, menunjukkan kelemahan itu dihadapan Embun. Agar sang istri ilfeel kepada Ardhi. Karena, Tara menilai Embun masih ada rasa yang tertinggal kepada sang mantan.
"Itu hanya penilaian adek." Kilah Tara. Embun menekuk bibirnya, dia sedikit kesal kepada Tara akhir-akhir ini.
Melati keluar dari dalam kamar mandi. Saat itu juga dia dikejutkan oleh Ilham yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Abang, ngangetin saja." Melati memegangi dadanya yang berdebar kencang. Dengan cepat tangannya melap butiran air yang menempel di keningnya. Wanita itu keringat dingin, saat mengeluarkan isi perutnya.
"Kita pulang ya bang. Adek mau istirahat." Melati langsung menyambar tas Selempangnya di atas meja.
Saat dirinya berjalan menunduk, seseorang sedang menghadangnya.
__ADS_1
"Kak Embun." Melati terkejut, karena Embun menghadangnya.
"Kamu sakit, wajahmu pucat banget." Melati langsung memegangi wajahnya.
"Gak kak, sepertinya hanya masuk angin." Jawab Melati lemah. Dia menoleh kepada Ilham yang masih berdiri di belakangnya. Mereka harus cepat pergi dari tempat itu. Melati sudah merasa tidak nyaman.
"Kak, kami duluan ya?" Melati yang merasa lemah itu, melempar senyum manis pada Embun. Kemudian wanita itu menoleh kepada Tara yang ternyata juga memperhatikan mereka.
"Iya dek, hati-hati di jalan ya?!" Embun tersenyum tipis.
"Iya kak, Terimakasih banyak." Melati pun berjalan cepat.
"Kami duluan kak." Ilham mengangguk kepada Embun, kemudian menoleh kepada Tara dengan tersenyum tipis, menyusul Melati yang sudah berjalan cepat keluar dari warung bakso itu.
Embun menatap kepergian Melati dan Ilham dengan banyaknya dugaan-dugaan dipikirannya. Benarkah Melati korban dari pelecehan Ardhi dan sekarang wanita itu sedang hamil.
__ADS_1
Haruskah dia ikut campur? berbicara face to face dengan Ardhi? karena, saat di pesta tadi, Embun merasa, mantannya itu sedang ingin membahas sesuatu dengannya. Ada baiknya dia akan berjumpa dengan Ardhi.
TBC