
Embun cukup lama di rumah Pak Zainuddin. Wanita itu benar-benar sukses membuat dua menu cemilan yang pas disantap sore hari yaitu piscok dan martabak telur. Ternyata masakan Embun itu enak juga. Melati yang tadinya sedang tidak selera ngemil. Akhirnya habis juga satu piring piscoknya.
Keseruan mereka pun terhenti disaat Tara datang menjemput Embun ke rumah Pak Zainuddin. Sore itu pasangan yang lagi mesra-mesranya itu akan memeriksakan kandungan Embun ke praktek Dokter Obgyn.
Setelah kepergian Embun, rumah itu jadi terasa sepi. Padahal tadi begitu ramai. Bahkan ART yang lagi gak ada kerjaan ikut nimbrung bareng mereka di ruang makan. Menghabiskan masakan Embun.
Melati memperhatikan jam dinding yang ada di kamarnya dengan malasnya. Dia benar-benar BT di rumah gedong itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.10 WIB. Tapi, tanda-tanda suaminya pulang belum ada. Bahkan ayahnya juga belum pulang.
Sejak terputusnya kontak mereka tadi siang. Suaminya itu tak pernah lagi menghubunginya hingga saat ini. Melati jadi kepikiran, kenapa sudah larut malam begini, suaminya itu belum pulang juga. Bahkan nanyain kabarnya pun tidak lagi. Padahal mulai tadi pagi sampai siang hari, suaminya itu terus-menerus kirim chat padanya.
"Mas Ardhi dan Ayah ke mana ya? koq belum pulang?" Kini Melati sudah turun ke lantai bawah. Tepatnya mondar-mandir di beranda rumah gedong itu. Ingin rasanya dia menghubungi nomor ponsel sang suami. Menanyakan kenapa belum pulang. Tapi, Melati merasa gengsi melakukannya. Kenapa pula dia ingin tahu keberadaan suaminya itu. Bukannya dia masih takut pada suaminya itu?
Tapi, hati kecilnya benar-benar mengkhawatirkan sang suami. Karena, tiba-tiba suaminya itu gak menghubunginya lagi. Emang sih, sewaktu Melati bekerja sebagai pembantu di rumahnya Ardhi. Dia sering melihat majikannya itu pulang larut malam. Tapi, kan tadi saat chat, suaminya itu bilang akan cepat pulang. Karena, mereka akan ke praktek dokter obgyn.
Melati yang merasa sudah tidak enak badan itu, akhirnya memutuskan menunggu suami dan ayahnya di dalam saja. Dia tidak mau masuk angin, karena terlalu lama mondar-mandir di beranda rumah itu.
Wanita itu duduk di sofa dengan tidak tenangnya. Mengotak-atik ponselnya, melihat kapan terakhir kalinya suaminya itu, menggunakan aplikasi WA. Ternyata terakhir kalinya suaminya itu online pukul 14.08 WIb. Itu artinya suaminya itu terkahir online setelah tiga puluh menit, mereka selesai chatingan.
Melati semakin tidak tenang saat ini. Dia pun mencoba untuk memberanikan diri untuk menghubungi nomor ponselnya Ardhi. Menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan, dia berulang kali melakukan itu. Mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar-debar. Karena dia tidak siap untuk menghubungi sang suami.
Gengsi dan ego masih tinggi. Karena, dia kan selama ini menunjukkan sikap dingin dan seperti tidak menginginkan suaminya itu. Apa kata dunia nanti, jikalau dia menelpon Ardhi dan menanyakan keberadaan sang suami. Itukan namanya bertolak belakang dengan sikapnya selama ini.
Melati menatap lekat layar ponselnya. Kontak WA sang suami sudah diplototin. Sibuk meyakinkan diri, agar keputusan yang diambilnya untuk menghubungi sang suami adalah benar.
"Bismillah.... Semoga Mas Ardhi gak GR, karena aku telepon." Ucapnya dengan memicingkan sebelah matanya, menatap ponselnya yang sedang memanggil kontak sang suami.
Dia pun jadi kecewa dan semakin penasaran, karena WA suaminya itu gak aktif.
__ADS_1
"Gak mungkin kan, Mas Ardhi gak ada paket data?" ucapnya dengan perasaan tak tenang, terus saja menghubungi sang suami. Tapi, tetap gak masuk.
Dengan tak sabarannya. Melati mengirim chat emoticon senyum. Hasilnya centang satu. Mengetahui itu, Melati buru-buru menghapus pesannya itu. Tapi, ternyata pengaturan pesan suaminya adalah pesan untuk saya saja. Tak ada pengaturan pesan hapus semua orang.
"Mas Ardhi ke mana sih?" praduga negatif pun bermunculan di kepalanya yang membuat dia makin pusing. Dia pun menghubungkan tak ada kabar nya sang suami dengan mimpi buruknya. Tapi, tak mungkin juga Abang Ilham membunuh Mas Ardhi. Dia tak sebodoh itu. Gara-gara seorang wanita mau membunuh. Pikir Melati. Dia menepis dugaan itu.
"Aku telepon ayah saja." Melati pun akhirnya melakukan panggilan suara pada sang ayah. Lagi-lagi hasilnya nihil, gak menyambung.
Melati semakin panik saja. Akhirnya dia merasa kehilangan sang suami. Gimana gak merasa kehilangan. Sudah tiga hari ini, suaminya itu menemaninya terus. Memperlakukannya dengan baik dan manis. Sehingga dia tidak takut lagi pada suaminya itu. Walau masih ada rasa canggung. Itu biasa, karena mereka tidaklah dekat sebelumnya. Apalagi status mereka awalnya adalah majikan dan pembantu.
Untuk menenangkan dirinya, atas dugaan negatif tentang Ardhi yang dibunuh oleh Ilham seperti dalam mimpinya. Dia memutuskan untuk menghubungi ponselnya si Butet. Dia sebenarnya penasaran juga dengan sahabat nya itu.
Melati dengan tidak tenangnya. Mulai menelpon si Butet. Tapi, ternyata si Butet tak bisa di hubungi.
"Ada apa dengan si Butet? kenapa dari kemarin-kemarin nomornya tak bisa dihubungi. Butet, kamu baik-baik saja kan? kamu di mana sekarang? di kampungmu kah? atau masih di kampung Abang Ilham?" Ucapnya dengan suara lirih. Sungguh, dia sangat ingin tahu kabar teman akrabnya itu.
"Aku harus menghubungi Abang Ilham. Aku akan jelaskan semuanya. Semoga dia belum tidur." Melati mengusap wajahnya berulang kali. Rasanya wajah sudah tegang dan kaku sekali.
Wanita itu kembali menarik napas dalam. Mempersiapkan diri, agar tenang saat bicara dengan pria yang masih dicintainya itu. Saat ingin melakukan panggilan telepon suara itu. Bayangan wajah Ilham yang menyedihkan melintas lagi dipikirannya. Saat dia melihat Ilham berdiri di tepi jalan, menatap ke arahnya saat acara syukuran di kampung.
"Bismillah... Ya Allah.. Lindungi hamba." Ucapnya dengan ekspresi wajah takut dan tidak tenang. Panggilan suara sudah dilakukan. Ponselnya Ilham aktif dan belum diangkat.
Melati yang kepalang telah menghubungi Ilham. Akhirnya kembali melakukan panggilan lagi untuk kedua kainya.
Tut.
Tut
__ADS_1
Tut
"HALO, SiAPA INI..?!" suara ketus dan kasar membuat Melati tersentak. Benarkah yang mengangkat teleponnya itu bang Ilham. Dari suaranya sih iya, tapi nada bicaranya seperti orang gak sadar saja. Apa bang Ilham tidak menyimpan lagi nomor nya. Seperti nya iya. Kan biasa itu, orang yang ditinggal kawin. Maka semua yang berhubungan dengan sang mantan. Akan dilenyapkan, termasuk nomor hape juga pasti di delete.
"Kamu siapa? Halo.. Halo..!" Kali ini terdengar suara orang seperti orang mabuk.
"Assalamualaikum Bang, ini aku Melati." Suara Melati terdengar lemah dan pelan. Jelas pelan, wanita itu ketakutan saat ini.
"SIAPA..?" Ilham terdengar penasaran.
"Ini Melati Bang." Jawabannya lembut.
"Oohh Melati? ngapain kamu telepon aku? suamimu sudah mati ya? makanya kamu telepon aku. Mau balik sama ku kan? baiklah aku akan kesana, tunggu aku di rumahmu."
"Bang, bang .!"
"Suamimu sudah mati sekarang!"
Tut..
Panggilan terputus.
Melati semakin cemas dan tidak tenang. Menelpon Ilham semakin membuatnya ketakutan. Kenapa Ilham mengatakan Mas Ardhi sudah mati. Benarkah yang ada dalam mimpinya itu?
Melati tak bisa menahan emosi sedihnya lagi. Air mata sudah jatuh membasahi pipi pucatnya. Dia harus dapat kepastian dari ucapan Ilham itu. Melati kembali menghubungi nomornya Ilham. Dan ternyata ponselnya Ilham tak aktif lagi.
TBC
__ADS_1