
Setelah satu bulan, Ardhi akhirnya nongol dari pertapaannya. Itu dilakukannya, karena dia ingin mengevalusi hasil kerja karyawannya. Walau dia percaya seratus persen pada Rudi. Dia juga harus tetap memeriksa keadaan perusahaannya.
"Bos datang..!" Salah satu Security langsung berlari ke dalam gedung, untuk memberi tahu para karyawan di kantor itu. Semua para karyawan langsung mempersiapkan diri, dengan perasaan berdebar-debar, memberi hormat pada Ardhi yang melintas menuju ruangannya dengan menundukkan kepalanya, sudah berada di posisi masing-masing.
Rudi yang ada di ruangannya langsung berhambur menyambut Bos yang datang dengan penampilan baru. Kepala plontos, dengan perawakan tubuh terlihat lebih berotot. Ekspresi wajah cool, seperti biasanya.
"Bos, ada banyak masalah."
"Kamu akan saya pecat, kalau kamu melaporkan masalah padaku." Ardhi langsung mendudukkan bokongnya di kursi kekuasaannya.
Rudi sedikit merasa ketakutan, sikap Bos nya banyak berubah. Bos nya itu seperti memproteksi dirinya.
"Bukan masalah di kantor Bos. Tapi, masalah pribadinya Bos." Ardhi nampak berfikir mendengar ucapannya Rudi. Dia benar-benar tidak mau tahu tentang masalah keluarganya sehingga dia memutus kontak dengan sang ibu.
"Nona Anggun dipenjara tiga bulan dan sekarang Nona Anggun juga sedang hamil." Ucapan tegas Rudi membuat Ardhi terkaget-kaget. Kenapa Anggun bisa dipenjara? kalau soal kehamilan dia tidak akan terkejut, karena, wanita itu bisa saja hamil. Mereka sudah melakukannya.
Ardhi sudah yakin, kalau malam terlarang itu dilakukannya dengan Anggun. Karena wanita itulah yang bersamanya saat dirinya dalam keadaan polos. Dan rekaman cctv juga menunjukkan seperti itu.
Awalnya dia sempat ragu, kalau dia melakukannya dengan Melati. Tapi, saat dirinya mendatangi Melati ke rumah sakit. Wanita itu malah diam seribu bahasa. Kalau dia melakukannya dengan Melati. Tentu Melati akan menuntutnya untuk bertanggung jawab.
"Apa hal yang membuat Anggun di penjara?" Ardhi mengetuk-ngetuk jemarinya ke meja kerjanya.
"Kasus percobaan pembunuhan Bos." Ardhi tersentak mendengar ucapan sang Asisten.
"Siapa lagi orang yang ingin dibunuhnya?" Ardhi berdecak kesal, dia menyayangkan sikap sang ibu, yang getol ingin dirinya menikahi Anggun.
"Melati Bos."
__ADS_1
"Apa?" lagi-lagi Ardhi semakin terkejut, bisa spot jantung dia, menerima banyaknya laporan dari sang asisten hari ini.
"Apa sangkut pautnya dengan Melati? kenapa dia ingin menyingkirkan Melati?" Ardhi nampak berfikir keras. Ini ada yang tidak beres.
"Kalau pembelaan Non Anggun di pengadilan, dia ingin memberi pelajaran pada Melati. Karena, katanya Melati adalah wanita pelakor." Jelas Rudi, tertawa tipis, merasa heran dengan kelakuan calon istri Bos nya.
"Melati pelakor? dia emangnya mau rebut suami orang?" Ardhi menggelengkan kepalanya, koq ada wanita seperti Anggun. Sepertinya otak wanita itu sudah korslet.
"Dari penjelasannya saat sidang, dia terbakar api cemburu. Karena Bos baik pada pembantu itu. Jadi dia ingin memperingati Melati. Tapi malah terjadi perkelahian. Dia juga mengaku di pengadilan bahwa Bos sudah menghamilinya. Dan keputusan pengadilan agar Bos segera menikahinya. Seumpama Bos tidak menikahinya dalam waktu satu bulan ini, katanya Bos juga akan dipenjara."
"Apa?" Ardhi bangkit dari duduknya, dia benar-benar bisa jantungan. Koq ada keputusan pengadilan seperti itu.
"Itu semua karena Bos menghilang. Jadi, masalahnya jadi runyam. Coba Bos, tidak menghilang. Mungkin akan beda ceritanya." Jelas Rudi, menggeleng penuh kekecewaan. Dia merasa Bosnya salah ambil tindakan.
"Aku berfikir keras selama satu bulan ini, sambil buka usaha baru di kota Sibolga. Keputusan ku sudah bulat, aku tidak akan menikah dengan Anggun." Ardhi melangkah lemah, ke arah jendela. Menatap keluar dengan tatapan kosong.
"Aku ingin bertemu dengan Melati. Atur waktu dan tempatnya. Pastikan dia mau bertemu denganku. Aku yakin, ada yang tidak beres. Kenapa Anggun ingin melenyapkan Melati." Ardhi menatap lekat Rudi, itu artinya perintahnya harus segera di laksanakan.
Tadinya Ardhi sudah ingin melupakan pembantu itu. Tapi, mengetahui kejadian Anggun ingin membunuhnya. Dia jadi penasaran dengan keadaan Melati. Dia juga akan menanyakan, di mana keberadaan Melati malam itu.
"Siap Bos." Jawab Rudi cepat.
"Mana no ponselnya Melati?" Ardhi akhirnya mengingat bahwa dia pernah memerintahkan Rudi untuk mencari nomor pembantunya itu.
"Nomor ponselnya Melati sudah tidak aktif Bos. Dan Nomor barunya aku tidak dapat." Rudi menunduk, Ardhi pasti kesal padanya. Karena perintahnya tidak membuahkan hasil.
"Kamu payah, untuk kali ini, kamu harus mempertemukan aku dengan Melati."
__ADS_1
Krek...
Pintu ruangan itu terbuka, Ardhi dan Rudi menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Ada Ibu Jerniati berdiri di ambang pintu, menampilkan ekspresi wajah sedihnya.
"Anakku... kamu ke mana saja?" Ibu Jerniati berhambur ke pelukan sang anak. Sungguh, dia begitu kehilangan sang anak.
Ardhi membalas pelukan sang Ibu, "Menenangkan diri Ma, atas masalah yang Mama timbulkan." Ibu Jerniati menangis mendengar jawaban sang anak.
Ardhi memberi kode dengan matanya kepada Rudi. Agar Rudi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
Setelah kepergian Rudi, Ardhi menuntun sang Ibu, agar duduk di sofa.
"Ardhi tidak akan menikah dengan Anggun." Ucapnya tegas, setelah duduk di hadapan Ibu Jerniati.
"Apa Nak? jangan kamu lakukan itu. Kamu akan dipenjarakan Nak. Anggun hamil anakmu." Ibu Jerniati memang bodoh, dia tetap saja mau menjadikan Anggun menantu. Padahal Anggun sudah hamil, dan itu jelas bukan anaknya Ardhi. Usia kandungan Anggun sudah dua bulan.
Ibu Jerniati sudah masuk perangkap Anggun. Anggun sudah menekan Ibu Jerniati. Ada video mes*um ibu Jerniati pada Anggun. Kalau Ibu Jerniati tidak menikahkan Ardhi dengannya. Maka video itu akan tersebar.
"Aku akan menikahinya, kalau anak yang di kandungnya adalah benar anakku. Harus dilakukan Test DNA." Tegas Ardhi, menatap ibunya dengan kesal. Ingin rasanya Ardhi mengutarakan uneg-uneg di hatinya. Atas kekecewaannya pada sang Ibu. Tapi, Ardhi tidak mau membuat Ibunya itu malu sendiri. Cukuplah aib sang ibu disimpannya sendiri.
"Apa bisa janin dalam kandungan di test DNA nya sayang?" Ibu Jerniati perlu meyakinkan hatinya. Tindakan apa yang akan diambilnya berikutnya.
"Untuk pastinya, aku gak tahu Ma. Kita konsultasikan ke Dokter." Ardhi menghela napas berat. Baru juga datang ke kantor, sudah banyak masalah menanti.
"Iya sayang." Ibu Jerniati menunduk lemah. Ternyata, anaknya tidak mau menurut lagi padanya. Dia harus mengatakan ini pada Anggun. Mereka harus menyusun rencana baru.
Dia tidak mau video mantap-mantapnya tersebar. Itu akan mencoreng nama baiknya dan Ardhi pasti akan kecewa padanya. Ardhi akan tahu kelakuan buruknya. Oalah Ibu Jerniati, anakmu sudah tahu kelakuanmu yang lagi puber ke 100 itu.
__ADS_1
TBC