
Sore yang mendung, semendung hati Ardhi saat ini. Ibunya yang ngotot ingin pulang ke rumahnya, mau tak mau Ardhi pun mengiyakan setelah Dokter memberi izin pulang.
Tentu saja Mamanya itu sangat semangat untuk pulang. Karena, Anggun datang menjenguk ibunya Ardhi. Bahkan wanita itu ikut memberesi barang-barang calon mertuanya itu.
Anggun selalu tersenyum manis pada Ardhi, sedangkan Ardhi tak pernah membalas senyuman wanita itu. Dia bahkan benci wanita itu, gara-gara kelakuan wanita gila itu, Embun tidak memilihnya. Dia sangat yakin, jikalau Anggun tidak ikut campur. Maka Embun akan tetap berada disisinya.
"Sayang, kita disini saja. Mobilmu supir saja yang membawanya." Titah Ibunya Ardhi. Dia ingin Anggun satu mobil dengannya. Ardhi melirik kesal Anggun yang cengengesan itu. Berharap wanita itu, menolak permintaan ibunya.
"Gak apa-apa Mommy. Aku naik mobil ku saja. Aku menyusul di belakang." Ucapan Anggun yang memanggil ibunya dengan Mommy. Membuat Ardhi syok. Sedekat itukah mereka, belum juga wanita itu jadi bagian hidupnya. Tutur sapanya kepada Ibunya Ardhi sudah memanggil 'Mommy'.
Ardhi dibuat tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya saat ini. Dia hanya bisa menggeleng. Kemudian menarik napas dalam.
"Gak boleh gitu, Mommy ingin kamu satu mobil dengan kita." Ibunya Ardhi menatap sendu Anggun yang masih berdiri didekat pintu mobil.
"Ayo masuk sayang!" titah ibunya Ardhi tak bisa ditolak Anggun.
"Sayang, mulai sekarang Mama akan tinggal denganmu di Kota ini. Mama tidak mau lagi tinggal sendirian di Surabaya." Ucap Ibunya Ardhi, melirik Anggun yang duduk di sebelah kirinya. Sedangkan Ardhi sekarang duduk di sebelah pak supir.
Ardhi asli dari Surabaya. Dia sangat suka dengan kota Medan. Jadi pria itu memilih kuliah dan bekerja di kota Medan. Perjuangan Ardhi tidaklah mudah, hingga mencapai kesuksesan seperti sekarang ini.
Setelah tamat SMA dia merantau ke kota Medan. Bekerja sebagai kuli bangunan. Enam bulan dia hidup terlunta-lunta di kota itu. Hingga hidupnya berubah, setelah menolong seorang pengusaha yang mengalami kecelakaan tunggal di depan Mesjid. Saat dirinya hendak melaksanakan sholat shubuh berjemaah.
__ADS_1
Ternyata supir yang membawa mobil itu kantuk berat. Sehingga sang supir menabrak tiang listrik daengan kuatnya. Bahkan mobil itu terpelanting. Sang supir meninggal di tempat. Sedangkan pengusaha kaya yang di tolong Ardhi, terjepit di dalam mobil yang terbalik.
Dari situlah awal mula, Ardhi menjadi pengusaha kontraktor yang sukses. Ardhi awalnya jadi anak buah sang pengusaha kontraktor. Melihat Ardhi punya keahlian di bidang konstruksi. Pengusaha yang merasa berhutang Budi kepada Ardhi, akhirnya memberikan modal untuk Ardhi membuka usah kecil dan sekarang sudah berubah menjadi perusahaan raksasa. Bahkan Ardhi sudah masuk majalah Forbes.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya Ardhi, pria itu tidak ada membuka suara sama sekali. Dia memilih pura-pura tertidur. Agar dirinya tidak diajak bicara oleh ibunya.
Sesampainya di depan rumah mereka. Dengan penuh perhatian dan penuh kasih sayang. Dia membantu ibunya turun dari mobil. Tentu saja Anggun tidak mau ketinggalan, mengambil alih sebelah kanan, untuk ikut memapah calon ibu mertuanya itu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Bu, Ardhi ke kamar dulu. Ibu istirahat ya?!" ucapan Ardhi membuat ibunya tidak senang. Dia masih ingin bicara dengan putranya itu sekarang, mumpung Anggun ada didekatnya. Tapi, melihat wajah putranya yang begitu lelahnya. Wanita itupun mengiyakan permintaan anaknya itu. Kini tinggallah Anggun di kamar itu bersama satu ART yang sudah ditugaskan Ardhi, menjaga khusus ibunya.
Dengan lemasnya Ardhi masuk ke kamarnya. Menutup pintu kamar itu dengan kuat. Berteriak dengan frustasinya, sambil meninju dinding kamarnya yang berwarna biru itu secara membabi buta. Rasa sakit di jemarinya seolah tidak dirasakan pria itu. Karena, saat ini rasa sakit di hatinya lebih parah dan mendalam.
Masih terduduk lemah dan penuh kekecewaan. Hati kecil Ardhi mulai berbicara. Pria itu mulai berperang batin. Ya pria ini sangat bijak.
Seandainya saja kita hidup sendiri, kita akan melakukan semua hal yang ingin kita lakukan. Tapi sayangnya, kita tidak bisa hidup sendiri. Kita masih memiliki orang-orang yang wajib kita bahagiakan, karena mereka telah membahagiakan kita.
Saat ini Ardhi sedang memikirkan ibunya. Jikalau dia tidak mengikuti apa mau ibunya itu. Pasti wanita yang telah melahirkannya itu akan kecewa padanya. Dan akibatnya, dia bisa kehilangan ibunya itu untuk selama-lamanya.
Tapi, dia tidak ingin menikah dengan Anggun. Dia tidak mencintai wanita itu. Tadinya dia tidak membenci wanita itu. Tapi, setelah mengetahui fakta. Bahwa Anggun lah yang mencoba membunuh Embun. Membuat pria itu jadi membenci wanita pilihan ibunya itu. Tidak mungkin dia mau menikah dengan wanita yang punya kelakuan buruk itu.
__ADS_1
Arrggh..
Ardhi kembali teriak histeris, sambil menjambak rambutnya, penuh dengan keputusasaan.
Mimpinya, semua mimpinya telah hilang. Mimpi terbesar saat ini hanyalah ingin menikahi Embun. Tapi, itu sudah tidak mungkin lagi. Mimpinya besarnya telah sirnah.
"Em--bun---!" pria itu kembali teriak histeris, dengan terduduk lemah. Tangannya sudah berdarah-darah. Bahkan dia merasa tulang jari-jarinya seperti patah. Sungguh pelampiasan yang buruk.
Ada pujangga bilang, 'Manusia tidak makan 7 hari masih tetap hidup, tidak minum 3 hari masih tetap hidup. Tapi, sehari manusia tidak memiliki mimpi/harapan, dia akan mati!'
Kini Ardhi sudah seperti mayat hidup. Mimpinya sudah sirnah, Embunnnya sudah meninggalkannya.
"Embun--- kamu sudah bahagia bersamanya, sedangkan aku, aku----!" teriak pria itu lagi. Pria itu menitikkan air mata. Terlihat cemen, untuk seorang pria menangisi seorang wanita. Tapi, itulah yang dirasakan pria itu saat ini.
Kekecewaannya yang mendalam membuat tidak bisa membendung air mata itu untuk jatuh.
Terkadang..., mimpi dan realita bertolak belakang. Jika sudah demikian, hanya satu yang dapat kita pilih, yaitu realita yang ada yang digunakan sebagai pijakan menciptakan mimpi-mimpi baru di kemudian hari.
Hal yang menyakitkan adalah menghapus mimpi indah yang telah kita ciptakan dan kita usahakan. Jika benar hati kita lapang seperti telaga, segenggam garam tidak akan bisa mengubah rasa air telaga itu. Tapi jika hati kita kecil seperti air dalam gelas, betapa pahitnya rasa air itu jika dicampur dengan segenggam garam.
Akankah kita mengorbankan hari esok untuk waktu yang telah lewat? Tidak!!! Meskipun itu perih menyayat hati dan selalu menghantui sampai mati.... Masih banyak hal yang dapat kita lakukan, orang yang dapat kita bahagiakan, senyum yang dapat kita tebar, kesabaran yang kita tanamkan...., untuk mengobati luka yang telah terpatri dalam kalbu.
__ADS_1
Semangat Ardhi Shiraz, semoga kebahagiaan segera menghampiri. Lupakan Embun.
TBC