
Melati bahkan memejamkan kedua matanya
Saat tangan Ardhi menyusuri wajah cantik itu. Hingga tangan jahil itu, kini berhenti di bibir kenyalnya Melati. Mengusap lembut bibir itu yang membuat Melati ingin lebih.
Melati membuka kedua mata syahdunya. Menatap Ardhi dengan tatapan mendamba dan pemasrahan diri. Ardhi tersenyum manis, membalas tatapan sang istri dengan penuh cinta dan ketulusan. Lama pasangan suami istri itu beradu pandang, karena saat ini mulut keduanya seolah tak bisa lagi berkata-kata, untuk mengutarakan perasaan cinta yang membara yang dirasakan mereka berdua. Hanya tatapan mata mereka lah yang bicara saat ini.
Ardhi yang tak bisa menahan gairah cinta itupun mulai mencium bibir ranum Melati yang manis itu dengan lembut dan penuh penghayatan. Memangut-mangut kecil dan pelan bibir bawah sang istri, yang membuat birahi Melati tersulut.
Wanita itu pun akhirnya membalas pangutan sang suami. Tentu saja Melati yang bergairah membuat Ardhi semakin semangat. Tangan kekar pria itu, kini telah merambah dari pinggang bergerak ke punggung dan berhenti di tengkuknya Melati. Ia menopang kepala bagian belakang Melati. Agar bibirnya bisa lebih leluasa dan puas meraup manisnya bibir kenyal istrinya itu.
Ardhi tidak menyangka istrinya itu sangat lihai mengimbangi pangutannya saat ini. Ciuman itu pun semakin panas. Hingga Melati harus memundurkan langkahnya, karena Ardhi semakin menekan bibirnya untuk merasakan nikmat yang lebih dalam lagi. Hingga kini tubuh rampingnya Melati harus mentok ke meja kerjanya Ardhi, yang ada di ruang tengah itu.
Dahsyatnya serangan Ardhi membuat Melati gelagapan mengimbanginya. Dia sampai menjatuhkan tempat pensil dan vas bunga yang ada di atas meja itu. Tentu saja suara barang-barang berjatuhan sedikit mengurangi konsentrasi Ardhi. Dia pun menjauhkan wajahnya yang memerah, sama merahnya dengan wajah sang istri saat ini.
Manusia yang sedang di mabuk cinta itu, sedang menenangkan diri dan menghirup oksigen yang banyak untuk cadangan napas saat aksi berikutnya.
Dengan lembut dan penuh pemujaan. Ardhi melepaskan hijabnya Melati. Sehingga terpampanglah wajah putih mulus dan leher jenjang itu.
Tangan Ardhi bergerak membelai kepala sang istri dengan sayangnya. Yang membuat Melati terharu. Mata indahnya kini berkaca-kaca. Cara Ardhi mengekspresikan cintanya begitu menghanyutkan.
Ardhi yang sudah tidak sabar itu pun kembali mengecup bibir Melati dengan sekilas dan langsung berpindah ke kening sang isteri. Lama Ardhi mencium kening istrinya itu. Yang membuat Melati, benar-benar merasa disayang. Wanita itu pun akhirnya memejamkan kedua matanya, meresapi curahan kasih sayang itu. Tak terasa air matanya pun menetes satu persatu disaat Ardhi mencium kelopak mata indah sang istri.
"Kenapa menangis?" bisik pria itu di daun telinga sang istri. Yang membuat Melati bergidik geli, karena lidah Ardhi kini sudah menyusuri telinga sang istri. Untuk kali ini, Melati tak bisa menahan desahannya.
"Mas Ardhi..!" tangan wanita itu langsung memeluk erat suami tercintanya itu. Mendengar suara erotisnya Melati, semakin menyulut birahinya. Dia tak sabar lagi. Ini sudah sangat panas.
Dengan satu gerakan Ardhi langsung membopong sang istri ke kamar. Melati yang masih malu itu, sebenarnya tak sanggup menatap tatapan Ardhi yang begitu menghanyutkan itu. Tapi, saat ini, menatap wajah suaminya itu membuatnya senang. Akhirnya dia pun menatap terus Ardhi yang ini telah membaringkannya di atas ranjang yang sudah ditaburi oleh banyaknya bunga mawar berwarna merah.
"Mas, Mas ini apa?" Melati yang terkejut itu, malah mengeluarkan pertanyaan bodoh
Dia tahu yang ada di atas ranjang dan yang ditidurinya saat ini adalah, bunga mawar yang masih segar dan wangi. Tapi, dia malah bertanya.
__ADS_1
Ardhi tidak menjawab pertanyaan sang istri. Dia yang tak sabar ingin bersentuhan langsung dengan kulit sang isteri. Melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya dengan tergesa-gesa. Sebelum sang istri melihat kelakuan tak sabarnya. Sedangkan Melati yang sudah berbaring itu, asyik menghamburkan bunga mawar yang di raihnya dari atas ranjang. Dengan kaki yang berayun, karena saat ini, tubuh Melati bagiannya lutut ke bawah, masih tergantung.
Ardhi langsung mengukung tubuh sang istri dengan menopang kedua tangannya di atas ranjang, Menatap syahdu sang istri yang ada di bawahnya.
"Mas..!" teriak Melati gemes. Menutup kedua matanya dengan tangannya. Dia terkejut dan malu, melihat sang suami yang sudah polos itu.
"Mas menginginkanmu sayang, istriku!" bisiknya lagi di daun telinganya Melati,
Kemudian menatap sang istri yang kini, wajahnya sudah merah merona bak tomat matang itu. Melati benar-benar tidak menyangka suaminya seagresif itu.
Melati akhirnya hanya bisa diam terpaku, memperhatikan tubuh kekar bersih berototnya Ardhi di atas tubuhnya. Pesona Ardhi memang memukau, ditambah dada bidang itu, dihiasi bulu-bulu yang tersusun rapi, bak semut beriring. Yang membuat pria itu terlihat semakin sexy dan menggoda. Benar-benar membuat gairah Melati melonjak.
Jemari lentiknya, tanpa disadarinya, bergerak menyusuri dada bidangnya Ardhi. Ardhi begitu meresapi sentuhan sang istri, yang membuatnya menarik tangan istrinya itu beralih ke wajahnya. Pria itu ingin sekali Melati membelai wajahnya.
Melati pun melakukan apa yang dimau suaminya itu. Menyusuri setiap inchi Wajah tampannya Ardhi. Dengan tatapan yang penuh gairah. Yang membuat Ardhi mengikuti setiap sentuhan gerakan sang istri. Tidak tahan dengan sentuhan lembut itu. Ardhi menangkap tangan nakal itu dan menguncinya di atas kepala Melati.
Pria yang sudah on itu pun mulai melancarkan aksinya. Bibir dan lidahnya menyusuri setiap inchi wajahnya Melati. Yang membuat Melati merintih nikmat. Apalagi kini lidah keduanya saling membelit dan beradu. bertukar Saliva dan menciptakan suara decapan erotis, yang menyukut birahi. Keduanya menutup mata, menikmati sensasi yang tercipta yang membuat tubuh jadi panas dingin, menggelinjang tak tentu arah.
Melati merasa malu, apalagi dia tak sanggup melihat tubuh polosnya Ardhi. Wanita itu dengan cepat menarik selimut, guna menutupi tubuhnya. Tapi, Ardhi dengan cepat menariknya lagi. Sehingga keduanya tarik menarik selimut.
"Mas adek malu!" ucapnya, saat selimut lembut itu, sudah terlempar ke lantai. Ardhi tersenyum gemes pada sang istri. Yang memang terlihat malu sekali. Kini wanita yang terduduk yang hanya memakai dalaman itu, telah menutupi tubuh bagian depannya dengan bantal. Dan membenamkan wajahnya di bantal itu. Sangat malu rasi menatap tubuh polosnya Ardhi.
"Iya sayang, Mas juga malu. Tapi, kalau kita malu-malu terus. kapan selesainya sayang." Menarik bantal dengan lembut, sehingga Melati tidak melakukan perlawanan.
Kini keduanya duduk berhadapan dengan Melati yang hanya pakai dalaman itu. Wanita itu merasa tidak percaya diri, dengan bentuk tubuhnya. Takut tidak sesuai dengan standard sang suami.
Ardhi menurunkan tangan Melati yang menyilang di dada menggoda istrinya itu dengan perlahan. Mengangkat bokongnya Melati. Hingga terduduk di atas paha berotot pria itu. Tentu saja, Melati merasa kesetrum. Disaat bokongnya bersentuhan dengan kulit paha sang suami
Dengan tersenyum manis, Ardhi membelai rambut Melati yang masih disanggul itu. Menikmati indahnya ciptaan Tuhan di hadapannya.
Menjawir dagu Melati yang menunduk karena malu. Kemudian mengecup pelan bibir ranum itu berulang kali. Yang membuat Melati gemes dan membalasnya dengan lum*atan. Tentu saja Ardhi semakin bergairah karena Melati membalas pangutannya. Hingga ciuman panas itu turun ke leher jenjang putih mulusnya Melati. Meninggalkan banyak tanda merah di leher itu.
__ADS_1
Melati semakin melayang dengan permainan itu. Ardhi kembali mengulangi sentuhannya dengan mengeksplor telinganya Melati hingga turun ke leher dan bahu istrinya itu. Membuka pengait gunung kembar yang montok dan mukus itu. Hingga kini gunung kembar hangat itu, menyembul. Ardhi meremas gunung kembar yang kenyal dan padat itu, memilin pucuknya dengan lembut. Melati merem melek, menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir sang suami yang begitu nikmat. Memporak-porandakan pertahanannya.
Puas bermain-main di leher dan bahu. Kini tangan yang merangkum gunung kembar itu , mengarahkan pucuk gunung yang berwarna coklat ke pink-pink an itu ke bibir nakal yang kehausan itu, bibir itu akan minum susu kosong di gunung kembar miliknya Melati. Berharap ada air mancur keluar dari gua di bawah sana. Sehingga penetrasi bisa lancar nantinya.
Melati yang frustasi dengan sentuhan bibir sang suami di gunung kembarnya. Mendorong kuat wajah sang suami. Membenamkannya di gundukan hangat, kenyal, lembut itu. Menarik kiat rambut Ardhi. Wanita itu tak tahan lagi, dia harus melampiaskan nikmat surga dunia ini. Yang kenikmatannya membuat kita merasa terbang ke awang-awang. Serasa lupa, tentang dunia.
Melati mendesis penuh frustasi disaat Ardhi sukses memperbesar pucuk gunung kembar itu. Ardhi yakin, Melati sudah sangat terangsang, karena suhu tubuh istrinya itu sudah meningkat. Bahkan, tangannya yang menelusup ke balik CD nya melati sudah merasakan adanya cairan di gua sang istri.
"Mas ..!" suara Melati yang manja karena menahan nikmat, membuat Ardhi sudah tidak tahan lagi. Mereka sudah sangat lama bercumbu, walau permainan ini hanya Ardhilah yang berperan. Melati lebih banyak pasrah menerima semua sentuhan suaminya itu.
"Iya Sayangku, istriku." Ucapnya dengan suara serak, karena menahan gejolak birahi yang sudah sampai di ubun-ubun, sudah saatnya peng*e*njotan dimulai. Tapi, rasanya dia belum puas menyusuri setiap inchi tubuh sang istri yang mulus halus dan putih bak salju itu, dengan bibir dan lidahnya.
"Mas..!" kali ini suara melati benar-benar ingin penyatuan keduanya. Saat ini Ardhi masih betah berlama di perut sang istri. Mengajak jabang bayi berinteraksi. Sekalian pria itu menyodot habis pusat nya Melati. Kelakuan Ardhi benar-benar membuatnya mabuk. Karena semua yang ada di tubuhnya sudah disinggahi oleh bibir nakal suaminya itu dan ini untuk kedua kalinya, bibir nakal itu akan bermain-main di gua yang ditutupi oleh sarang laba-laba itu.
Ardhi membuka paha mulus itu. Melati yang malu, kembali menutupnya. Sungguh dia tidak menyangka Ardhi suka sekali bermain disitu. Emang tidak bau acem. Secara Melati dari tadi siang tidak ada mencuci kewanitaannya. Terakhir dia bersih-bersih saat sholat magrib. Emang sih, dia pakai sabun kewanitaan. Tapi, rasi kurang percaya diri. Harusnya tadi dia bersih-bersih dulu sebelum penyatuan.
"Sayang..!" Protes Ardhi, tidak suka dengan kelakuan Melati yang seolah melarang bibir dan lidah bermain di gua kenikmatan itu.
"Mas adek malu." Ucapnya, berusaha menarik wajah Ardhi dari bawah sana. Tapi, Ardhi tidak memperdulikannya. Dia tetap melakukan apa yang dia mau. Yang membuat Melati serasa mau terbang, karena nikmat yang dihasilkan dari sentuhan penuh gairah itu. Tubuh itu menegang dan menggelinjang, sampai bokong Melati terhentak-hentak. Ini nikmat kedua yang dirasakannya, sebelum penyatuan.
Keringat kini membasahi tubuhnya Melati. Ardhi benar-benar membuatnya puas. Seumur hidup, baru kali ini, Melati merasakan nikmat seperti itu. Padahal mereka belum melakukan penyatuan. Bagaimana lagi rasa nikmat kalau penyatuan?
Mengetahui sang istri org*asme. Ardhi menghentikan aksinya mengeskpor bagian bawahnya Melati. Kini dia berpindah ke paha dan kaki sang istri. Membalik lagi badannya Melati dengan lembut. Menyusuri lagi bokong hingga punggungnya Melati dan kembali ke perutnya Melati.
"Anak ayah, ibumu hebat. kita sehat-sehat ya sayang " mengecup bertubi-tubi perut datar putih mulus itu. Kembali naik ke gunung dan bermain-main di sana hingga ke puncak.
"Mas...!" Melati gak tahan lagi, dia ingin lebih. Tapi, dia malu untuk mengatakan pada Ardhi, untuk memasukkan batang singkong suaminya itu.
Ardhi tersenyum puas, karena dia merasa bisa memuaskan sang istri. Dengan membaca doa dengan suara lembut berbisik di daun telinga sang istri. Rudal itu pun berusaha masuk ke sarangnya. Mendorong pelan dan pelan hingga blus masuk semua. Ardhi merenggangkan otot lehernya yang terasa tegang. Dengan menggerakkan lehernya. Dia sedang menyiapkan tenaga untuk memompa.
TBC
__ADS_1
Jangan dihujat, aku gak pandai membuat narasi yang indah. Semoga lulus review. Kelanjutannya bayangin sendiri ya bunda2 sayang.