DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Sukses butuh kerja keras.


__ADS_3

Ibu Jerniati benar-benar kehilangan jejak sang anak. Dia tidak pernah putus asa untuk mencari keberadaan Ardhi. Dia setiap hari mendatangi Rudi di kantor, menanyakan tentang kabar Ardhi. Seperti pagi ini, wanita itu sudah sampai di kantor sang anak.


"Rudi, tolonglah pertemukan Ibu dengan Ardhi." Ibu Melati sedang terisak di hadapan Rudi, asistennya Ardhi. Mengatupkan kedua tangannya di hadapan pria itu" Rudi menatap sedih Ibu majikannya itu. Dia tidak tega melihat keadaan Ibu Jerniati saat ini.


"Maaf Nyonya, saya pun sampai saat ini tidak mengetahui keberadaan Bos." Jawabnya jujur, komunikasi terakhir mereka seminggu lalu, saat Bos nya itu menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan kepadanya. Bahkan Bosnya itu juga menyuruhnya mencarikan nomor ponselnya Melati. Dia sudah mengetahui nomor ponselnya Melati, yang didapatkannya dari Bi Kokom.


"Ke mana dia perginya? apa dia tidak mau tahu lagi tentang pernikahannya dengan anggun?" Ibu Jerniati masih menatap penuh harap pada Rudi. Dia ragu dengan ucapan Rudi, jangan-jangan asisten anaknya itu menyembunyikan Ardhi.


"Bukannya Nona Anggun sedang dalam proses hukum. Gimana mau melangsungkan pernikahan Nyonya." Rudi jadi bingung dengan cara berfikir Ibu majikannya itu. Kenapa ngotot banget. Calon pengantinnya saja masih ditahan pihak berwajib.


"Itu dia masalahnya. Ardhi harus membantunya keluar dari masalah itu. Tidak mungkin Anggun ditahan saat hamil nanti." Ibu Jerniati menampilkan ekspresi wajah sedih dan bingung.


"Hamil?" tanya Rudi bingung.


"Iya, seminggu yang lalu. Mereka melakukannya di kamar yang ada di ruangan ini."


"Apa?" Rudi terlonjak kaget mendengar ucapan Ibu Jerniati. Dia menarik napas dalam dan menghembuskan kasar. Dia tidak percaya Bos nya itu melakukan hal seperti itu. Berarti anak dan ibu sama dong.


Apa kejadiannya saat kami mabuk-mabukan? Rudi membatin, mengigit bibir bawahnya. Otaknya berfikir keras, mencari solusi yang ditimbulkan Bosnya itu. Salah dia sendiri, kenapa dia menawarkan Ardhi minum, minuman keras saat itu.


"Nyonya besar tenang dulu. Saya akan tetap mencari Bos. Biasanya kalau Bos lagi banyak masalah pribadi dan tertekan. Dia itu akan mengalihkan perhatiannya dari masalah dengan bekerja keras. Aku yakin, sekarang Bos sedang membuka usaha baru." Ya, Rudi kenal betul dengan karakter Ardhi. Pria itu sangatlah pekerja keras. Masalah asmara tidak akan membuatnya hancur. Untuk menjadi sukses itu sangatlah susah. Dia tidak akan menghancurkan semua yang telah dicapainya hanya karena masalah asmara.


Dulu saja disaat Embun meninggalkannya. Dia langsung membuka usaha di Singapura. Jadi, bisa saja saat ini Bosnya itu sedang berada di suatu tempat. Sedang merancang atau menjalankan usaha barunya. Ardhi bukan tipe pria yang hancur karena masalah pribadi.

__ADS_1


Rudi bukan hanya asistennya Ardhi, tapi pria itu benar-benar kepercayaan Ardhi. Rudi hapal betul karakter Ardhi. Paling lama dua Minggu, pria itu akan muncul lagi. Mengevaluasi hasil kerja sang asisten.


"Nyonya tidak usah terlalu banyak memikirkan masalah ini. Sebaiknya nyonya mulai dari sekarang membenahi diri." Ucap Rudi pelan. Dia ragu dengan apa yang dikatakannya. Sepertinya dia akan kena sembur.


"Apa maksud ucapanmu itu?" ketus Ibu Jerniati. Ardhi menatap canggung wanita tua di hadapannya. Kan benar dia kena semprot.


"Maaf Nyonya, jika saya lancang. Perangai buruk nyonya sudah diketahui Bos." Rudi langsung menunduk, sebagai seorang pria dewasa. Dia juga akan malu, punya Ibu seperti Ibu Jerniati.


"Apa maksudmu..?!" Ibu Jerniati masih tidak yakin dengan apa yang diucapkan Rudi. Tidak mungkin anaknya tahu, kelakuan buruknya.


"Ya begitulah Nyonya. Tidak mungkin ku jabarkan lagi lebih detail. Nyonya tahu, apa yang ku maksud."


Ibu Jerniati langsung pucat dan lesuh. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa. Jantungnya berdetak sangat cepat, Karena wanita itu ketakutan. Dia terkejut, sangat terkejut. Ardhi telah mengetahui kelakukan buruknya. Tapi, anaknya itu, malah diam. Tidak memarahinya.


"Aku pamit dulu nyonya. Ada briefing dengan karyawan." Rudi langsung beranjak dari duduknya, keluar dengan tergesa-gesa dari ruang kerjanya Ardhi. Dia memegangi dadanya yang bergemuruh. Dia merasa dirinya terlalu lancang, membahas masalah pribadi orang lain. Dan sok-sokan memberi nasehat. Padahal dia saja, masih suka bermaksiat dengan minum, minuman keras.


Hari ini Melati berangkat kuliah bersama Embun. Ya ternyata mereka satu kampus dan beda Fakultas serta jurusan. Sudah lebih dari seminggu Melati tidak masuk kuliah. Dia banyak ketinggalan mata kuliahnya.


"Terimakasih kak, sudah boleh nebeng. Setelah kuliah, Aku akan cepat pulang." Melati merasa sangat sungkan pada Embun. Dia masih saja menundukkan kepalanya, setelah turun dari mobil mewah merk Mercedes warna silver itu. Dia benar-benar merasa tidak enakan pada Embun. Embun sangat baik.


"Iya, emang kamu pulang jam berapa?" tanya Embun tersenyum manis kepada Melati. Dia merasa tidak enak hati juga, melihat sikap enggannya Melati.


"Jam 12 siang kak." Melati masih menunduk. Berdiri kaku di sisi mobil yang pintunya masih terbuka itu.

__ADS_1


"Oohh baiklah, ternyata kita beda waktu pulangnya. Hati-hati, semangat ya?!" Embun tersenyum lebar. Mengangkat dan mengepal tangannya memberi semangat pada Melati.


"Iya kak, Terima kasih banyak." Melati melambaikan tangan kepada Embun. Kini Mobilnya yang di tumpangi Embun, membawanya ke Fakultasnya.


"Doorr....!"Melati terlonjak kaget. Punggungnya di tepuk keras dari belakang. Melati memegangi dadanya yang masih berdebar cepat dan kuat itu. Dia menekuk bibirnya, kesal akan kelakuan sahabatnya Si Butet.


"Aakkhh Butet, kamu ngagetin saja." Melati memukul lengannya si Butet. Si Butet langsung nyengir dan merangkul Melati dari samping. Dia kangen sekali dengan sahabat nya itu. Sudah Satu Minggu lebih mereka gak ketemu.


"Kangen tahu," Butet menaik turunkan alisnya, tidak suka dengan tatapan Melati yang terheran-heran. "Apa? kaget lihat penampilan gua? gimana, cantik kan? ya cantiklah, si Butet, gitu loe!" Si Butet mengibas-ngibaskan rambutnya yang baru saja selesai di rebonding. Bahkan bau obat smoting masih tercium kuat.


Senyum mengembang menghiasi wajah cantiknya si Butet. Ya, penampilan si Butet sangat berbeda. Dia bahkan sudah memakai make up, walau tipis. Si Butet, benar-benar make over habis.


"Ya ampun Butet, kamu itu cantik sekali. Tapi?"


"Tapi apa?" Butet dibuat penasaran. Kedua matanya membola, menunggu penjelasan detail dari Melati.


"Rambut yang kau luruskan ini, kenapa seperti ijuk gitu. Tegang sekali." Melati memegangi rambut si Butet yang tebal dan tegang.


"Akkhh kamu, tadi katanya aku cantik. Sekarang malah mencaci. Bilang rambutku seperti ijuk lagi." Si Butet cemberut, melepas rangkulannya dari bahunya Melati. Dia pura-pura merajuk. Kini keduanya sedang berjalan menuju ruang kelas, yang ada di lantai dua.


"Maaf, kalau aku terlalu jujur. Tapi, memang rambutmu tebal banget. Itu ciri khas mu sobatku, jangan marah ya? aku bicara apa adanya." Melati menahan langkah nya si Butet.


"Jangan marah dong?!" Melati menampilkan ekspresi wajah lucu, menarik kuat sudut bibirnya dengan mata membola, Si Butet jadi tertawa.

__ADS_1


"Nanti kalau libur semester, Aku ikut kamu pulkam ya?"


TBC


__ADS_2