DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Uneg-uneg


__ADS_3

Melati akhirnya dirawat inap. Ardhi yang tidak tahu harus menghubungi keluarga Melati. Akhirnya memilih mengabari Embun, bahwa Melati sedang dirawat di rumah sakit. Tentu saja Embun dibuat terkejut dengan kabar yang disampaikan mantan kekasihnya itu.


Embun menghubungi Tara, meminta izin, menjenguk Melati ke rumah sakit. Tentu saja Tara memberi izin. Dia juga akan menyusul sang istri ke rumah sakit, setelah pulang bekerja.


"Assalamualaikum .!" ucap Embun sembari mengetuk pintu kamar tempat Melati dirawat.


"Walaikumsalam..!" jawab penghuni kamar itu. Ada Melati yang sedang terbaring lemah di bednya. Ardhi yang duduk dengan memasrahkan kepalanya di sandaran sofa dan satu perawat, duduk di sebelah Bed nya Melati.


Ardhi yang merasa canggung berduaan dengan Melati di ruangan itu. Akhirnya meminta satu perawat agar stay menjaga Melati. Apalagi Melati masih sering mencret. Tidak mungkin, Ardhi yang membantu wanita itu ke kamar mandi. Karena, Melati menampilkan bahasa tubuh tidak suka dengannya.


Embun masuk ke ruangan itu, beserta satu ARTnya. Membawa perlengkapan Melati.


"Bagaimana keadaanmu Mel?" tanya Embun, masih berdiri, disisi bednya Melati.


"Sudah agak baikan kak.Tapi, masih lemas." Ucapnya tersenyum tipis. Saat menatap Embun, secara tidak sengaja mata Melati melirik Ardhi yang menatap Embun dengan lekat. Mendapati kenyataan itu, hatinya tambah sakit. Bagaimana nantinya biduk rumah tangga nya, apabila menikah dengan Ardhi. Karena, Melati tahu betul. Majikannya itu sangat mencintai Embun.


Embun yang melihat pergerakan ekor matanya Melati, akhirnya menoleh ke arah Ardhi. Akhirnya kedua manusia yang pernah saling mencintai itu, saling landang selama 5 detik. Tatapan keduanya langsung diputus oleh Embun. Dia langsung menoleh lagi kepada Melati.


"Aku bawakan baju ganti. Kamu mau ganti sekarang? biar kak bantu." Embun masih memperhatikan lekat Melati yang masih terbaring itu.


"Iya kak." Melati merasa sudah tidak nyaman dengan gamis yang dikenakannya. Karena, gamisnya itu sudah kena material muntahannya. ********** juga tentunya sudah bau.


"Ayo Sus, bantu aku." Suster pun akhirnya membantu Embun menuntun Melati masuk ke kamar mandi. Embun membawa pakaian ganti Melati.

__ADS_1


Saat di kamar mandi. Perut Melati kembali mules. Dia pun meminta suster dan Embun keluar dari kamar mandi. Suster menempatkan tiang infusnya Melati dengan baik. Agar wanita itu, tidak merasa kesusahan saat buang hajatnya yang bercampur bakteri jahat itu


Embun dan Suster keluar dari kamar mandi itu. Ardhi hanya memperhatikan apa yang dilakukan Embun dan Suster. Tanpa bicara sepatah katapun.


"Pak, Bu. Aku tinggal sebentar ya. Aku ambil obat yang harus diinjeksikan ke infusnya pasien dulu." Tanpa mendapatkan jawaban persetujuan dari Ardhi dan Embun. Suster itu sudah berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.


Kini tinggallah Ardhi dan Embun di ruangan itu, dengan canggungnya. Apalagi saat ini, Ardhi menatap lekat Embun yang duduk di bednya Melati. Tatapan Ardhi benar-benar membuat Embun jadi serba salah. Dia pun menunduk, tidak berani membalas tatapan pria itu. Padahal dulu kalau dia ditatap Ardhi seperti itu, dia pasti senang dan tersenyum bahagia. Tapi, kalau sekarang rasanya sangat risih.


"Mas sangat senang melihat kamu begitu bahagia bersama Pak Tara." Embun terkejut mendengar ucapan Ardhi yang terdengar ikhlas itu. Dia pun akhirnya menoleh kepada Ardhi dan tersenyum tipis.


"Mengingat janji cintamu dulu. Mas tidak menyangka, kamu begitu cepat melupakan Mas."


Nyut.....


Embun kembali menunduk, merasa bersalah sekaligus sedih. Dia juga tidak menginginkan ini semua. Tapi, begini lah takdir yang harus dijalaninya.


"Kamu bahagia, mas begitu menderita. Dan sekarang mas harus menikahi wanita yang juga mencintai pria lain. Huufffttt...!" Ardhi benar-benar emoisonal saat ini. Dia tidak bisa menahan kegundahan hatinya lagi.


"Mas juga manusia, pingin merasakan dicintai, disayangi. Tapi, lihatlah mas harus menikah dengan wanita yang tidak mencintai mas. Bahkan wanita itu ketakutan melihat Mas. Kehidupan apa yang akan saya jalani ini Dek?" Ucapnya frustasi, mengusap wajahnya kasar dan pria itu menarik napas dalam. Ardhi mengusap pelan dadanya yang terasa sesak itu.


Embun benar-benar terhenyak mendengar curahan hatinya Ardhi. Ini bukan seperti Ardhi yang dia kenal. Ardhi yang dia kenal sangat kuat, bukan melankolis seperti ini.


"Adek meninggalkanku, melupakan janji manis mu. Janji busukmu itu." Ardhi bangkit dari duduknya. Memegang kepalanya yang terasa sakit, memijatnya sekilas. Kemudian pria itu menghempaskan tangannya dengan kuat. Inilah titik terlemah nya Ardhi.

__ADS_1


Embun dibuat sedih dengan ekspresi wajah frustasi nya Ardhi. Dia hanya bisa berdoa, semoga Ardhi bisa mengontrol dirinya. Ini di rumah sakit, ada Melati dalam kamar mandi. Kalau Melati dengar bagaimana?


"Mas sangat terpukul, tak seharusnya Mas meminum minuman haram itu. Lihatlah, Melati jadi korbannya. Dia jadi takut kepadaku. Harusnya tidak usah memberitahu Mas. Kalau wanita bersamaku malam itu adalah Melati. Biar dia bisa menikah dengan pria yang dicintainya itu." Ardhi merasa sedikit baikan, setelah meluapkan uneg-uneg di hatinya. Dia kembali memilih duduk di sofa.


Embun dibuat bingung dengan pernyataan Ardhi yang terakhir ini. "Apakah Ardhi akan menyerahkan Melati kepada Ilham?


"Mas, Melati hamil anakmu. Mana mungkin dia menikah dengan Ilham." Ucap Embun lembut, menatap sedih Ardhi yang pandangan nya lurus ke depan.


"Nyatanya dia ingin menikah dengan pria itu. Dia tidak ingin menikah denganku. Mas tidak sadar malam itu. Mas tidak tahu kalau dialah wanita bersama Mas malam itu. Dia kan tahu, kenapa dia malah menghilang, dan tidak meminta mas bertanggung jawab?" Ardhi menggeleng, ini yang membuat dia ragu untuk menikah dengan Melati.


"Pasti Melati punya alasan yang kuat. Kenapa dia menghilang. Mungkin Melati trauma dan takut kepada Mas. Atau tunangan Mas mengancamnya. Apa Mas tidak tahu, Melati ingin dibunuh Anggun?" Ardhi tersentak mendengar ucapan Embun. Dia juga sempat kepikiran kesitu.


"Maafkan Embun Mas. Kalau sikap dan ucapan Embun dulu, membuat Mas tersakiti. Dulu, memang seperti itulah yang Embun rasakan pada Mas. Kalau sekarang Mas mengatakan Embun jahat, Embun terima. Kita manusia bersifat Baharu." Ucap Embun lembut dengan mata berkaca-kaca. Jujur, masih ada Ardhi di hatinya. Pria itu sangat baik. Tidak ada cacatnya. Mana mungkin Embun bisa secepat itu melupakannya. Tapi, hidup harus terus berlanjut. Tidak mungkin dia terus memupuk rasa cintanya pada Ardhi. Padahal dia sudah memilih Tara.


"Kamu begitu cepat melupakan Mas. Karena kamu mendapatkan pengganti Mas yang mencintaimu. Kalau Mas mungkin akan selamanya menderita, menikahi wanita yang tidak pernah mencintai Mas. Bahkan wanita itu membenci mas." Ucapan Ardhi membuat Embun, tersenyum tipis. Dia teringat dengan kisahnya dengan Tara. Dia juga tidak mencintai suaminya itu. Tapi, lihatlah kini mereka bahagia.


"Apa bedanya dengan yang aku alami Mas. Dulu juga aku menikah dengan Abang Tara saat, Aku cinta mati sama mas."


Krek....


Ucapan Embun terhenti, disaat pintu kamar itu terbuka. Nampak Tara dengan raut wajah kesal memasuki ruangan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2