
Hari ini Melati masuk kuliah di siang hari. Ya libur semester telah habis. Ini hari kedua masuk kuliah. Dan sudah tugas Ardhi setiap hari akan mengantar sang istri, jikalau dia tidak sibuk.
"Mas, nanti gak usah jemput adek." Mereka sudah sampai di parkiran kampus. Dan keduanya masih di dalam mobil, saling tatap penuh dengan percikan api cinta.
"Adek jam berapa selesai kuliahnya?" Meraih jemari Melati dan mengusap-usapnya.
"Pukul empat sore Mas." Ardhi tersenyum pada sang istri. Yang selalu masih canggung padanya.
"Ini baru jam 10, adek masuk kuliahnya pukul 2 siang. Adek kelamaan nunggu di sini? kita ke rumah yang lama dulu. Nanti supir yang antar adek ke kampus." Ardhi kembali memberi saran. Dari tadi Melati menolak terus untuk pulang ke rumah lama mereka. Melati sudah merasa tidak nyaman di rumah itu, apalagi nanti Ardhi gak di rumah, karena mengurus ini Jerniati yang akan ke luar dari rumah sakit . Iya kalau semua cepat beres. Kalau lama, dia akan BETE disana. Makanya dia mau di kampus saja seharian. Syukur-syukur si Butet sudah balik ke kota Medan. Dia akan berkunjung ke kost an si Butet, karena memang kost an si Butet dekat dengan kampus. Semalam adalah hari pertama masuk kuliah dan si Butet gak hadir. Tapi hari ini si melati yakin, kalau temannya itu sudah datang dari kampungnya Ilham.
"Ya Allah, lama sekali adek disini. Tadi katanya masuk kuliah pukul dua."
Melati terdiam dan menunduk. Ia sebenarnya ingin ke kost an si Butet. Melati takut meminta izin, karena nanti bahasannya jadi panjang. Ardhi pasti mikirnya Dia akan bertemu dengan Ilham.
Mobil pun berputar keluar dari parkiran kampus. "Mas, Mas kita mau ke mana ini? addk mau kuliah." Melati menatap bingung sang suami. Kini mobil sudah keluar dari kampus.
"Adek kuliahnya pukul dua, adek ikut mas ke rumah sakit." Melajukan mobil dengan cepat. Mereka harus sampai di rumah sakit sebelum pukul sebelas siang. Sebenarnya Rudi dan Bi Kom sudah di rumah sakit untuk mengurus semuanya. Tapi, gak baik rasanya seorang anak tidak ikut menjemput ibunya ke rumah sakit.
"Mas, nanti kalau Nyonya besar melihat saya dan marah kek mana? Nyonya besar tidak menyukaiku Mas."
Ardhi melirik Melati. "Ibu akan suka dengan adek, apalagi kalau ibu tahu, adek itu putrinya ayah Zainuddin. Ibu sangat menghormati dan segan pada Ayah. Karena berkat bantuan ayahlah Mas jadi bisa seperti sekarang."
Melati menelan ludahnya kasar. Sungguh dia belum siap bertemu dengan ibu mertuanya itu. Mentalnya belum kuat. Dia masih traumah atas perlakuan kejam ibu mertuanya. Tatapan mata yang tajam dan wajah judes itu, membuat Melati ketakutan.
"Kalau Nyonya tetap tidak suka pada adek. Sikap apa yang akan mas ambil?" Menatap lekat Ardhi yang konsentrasi menyetir.
__ADS_1
"Pertanyaan bodoh apa itu sayang? apa pun yang akan terjadi kita harus tetap sama." Melirik sesekali Melati, saat mengemudi. Mana mungkin dia akan menuruti sang ibu, jikalau nanti memintanya berpisah dari Melati. Bisa jadi gembel dia dibuat Pak Zainudin. Lagian dia juga mencintai Melati.
"Adek gak usah khawatir ya. Mas fokus nyetir dulu. Ok sayang, cintaku, istriku, halal bagasku. Apa, apa itu dek, benar halak Bagas ya?" Kening Melati mengerut mendengar celotehan Ardhi. Sok ngerti saja bahasa Batak. (Halak Bagas artinya istri dalam bahasa Batak.)
Melati mencoba tersenyum pada Ardhi, Walau saat ini dia sedang gamang. Memikirkan bagaimana reaksi Ibu Jerniati jika melihatnya.
Mobil pun melaju dengan pelan, karena jalanan lumayan macet. Ardhi fokus menyetir, dan sesekali menatap sang istri yang kini memang nampak tidak tenang itu.
"Ayo sayang turun!" Ardhi sudah membuka pintu mobil untuk sang istri. Tapi, Melati tetap tidak mau turun.
"Mas, aku nunggu di sini saja ya?" memelas dengan mulut bengkoknya.
"Adek, sampai kapan mau memelihara perasaan takut gitu. Mas tahu apa yang adek rasakan. Tapi, ini lah kenyataannya. Mas akan tetap lindungi adek." Mencoba memberi pengertian pada sang istri. Bagaimana pun ketakutan itu harus dilawan. Karena, tak mungkin, istrinya itu sembunyi terus dari kenyataan. Istri dan Ibu harus bisa berdamai. Dia tidak akan memihak pada salah satunya. Karena, bagaimana pun keduanya sangat berarti buat Ardhi. Sejahat apapun wanita tua itu, dia tak mungkin mengabaikannya. Karena itulah ibunya. Yang melahirkan dan membesarkannya.
"Dek, sayang, kamu baik-baik saja kan?" Melap keringat sebiji jagung di kening Melati dan merangkum wajah sang istri yang kini terasa dingin.
"Dek, kamu baik-baik saja sayang?" benar-benar panik dan ingin membopong Melati. "Kita berobat sekarang." Melati berontak, tak mau turun dari mobil.
"Gak usah Mas. Aku baik-baik saja." Ucapnya lemah.
"Adek sedang tidak baik sekarang." Masih bersih keras untuk membawa Melati ke dalam untuk diperiksa. Dia akan membawa Melati ke IGD. Melati pun tak bisa menolak keinginan sang suami. Ardhi langsung membawa Melati ke IGD.
"Sus, sus periksa istri saya." Ucapnya heboh masih membopong Melati yang nampak pucat itu.
"Iya pak, mari dibaringkan di sini dulu." Pelayanan rumah sakit yang pelayanan nya bagus itu, langsung memeriksa melati di ruang tindakan itu. Dan perawat meminta Ardhi mendaftarkan Melati ke administrasi, yang tempatnya tak jauh dari tempat Melati berbaring di bed dan sedang diperiksa oleh Dokter dan satu orang perawat berjenis kelamin wanita.
__ADS_1
"Ibu sedang hamil?" Melati mengangguk dengan lemah.
"Coba kakinya diangkat dan ditekuk." Dokter itu ingin memastikan apa benar Melati hamil.
Seperti nya Dokter itu tahu banyak tentang ibu hamil.
"Tensi ibu rendah. Tidak ada yang serius sebenarnya. Karena, sudah hal biasa, kalau tekanan darah ibu hamil rendah." Terang Dokter, dan seketika perhatian Dokter dan perawat teralih ke arah Ardhi yang berjalan dengan penuh kekhawatiran itu.
"Bagaimana Dok istri saya?" Ardhi menatap lekat Melati, dan membelai kepala sang istri yang ditutupi hijab itu dengan sayangnya. Dokter dan perawat sempat terkesima melihat sikap Ardhi yang begitu sayang pada wanita yang terbaring lemah di hadapannya. Kenapa istrinya itu, kembali lemah. Padahal, dua Minggu ini, istrinya itu sudah jarang muntah. Paling mual-mual gitu.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pak. Istri anda hanya mengalami tekanan darah rendah. Serta anemia. Biasa itu pak, kalau ibu hamil seperti itu. Makanya kita sebagai suami, harus benar-benar menjaga istri kita dari setres. Karena apabila ibu hamil sering setres, akan mempengaruhi perkembangan janin dan juga kesehatan sang istri." Ardhi mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan sang Dokter. Dia benar-benar mengkhawatirkan istrinya itu.
"Kalau bapak ingin memeriksa keadaan ini dan janin lebih detail. Bisa mendaftar ke poli kandungan sekarang. Sebelum waktu pendaftaran tutup." Ucap Dokter ramah, meninggalkan mereka, karena akan memeriksa pasien yang lain.
"Mas, gak usah ke Dokter kandungan. Kan baru Minggu kemarin kita periksa. Obat dan vitamin juga masih ada." Melati tahu, pasti suaminya itu akan memeriksa keadaannya.
"Iya, tapi keadaan adik sekarang lemah. Harus diperiksa." Ardhi ngotot, kini pria itu akan membopong lagi sang istri.
"Gak usah di gendong Mas. Adek malu." Bisiknya pada Ardhi. Suaminya itu langsung menunjukkan ekspresi wajah tak sukanya, karena Melati tidak mau dibopong.
Akhirnya dia pun menuntun sang istri untuk duduk di taman yang ada di rumah sakit itu. Melati ingin menghirup udara segar.
"Mas masuk aja, urus nyonya. Adek akan tunggu Mas di sini." Ucap Melati, dia juga tidak mau egois. Dia harus bisa tenang, agar bisa tetap sehat, bagaimana pun juga. Seorang anak pasti akan lebih memilih ibunya. Karena, surganya suami ada di telapak kaki ibunya. Melati tidak mau membebani Ardhi, dengan sikapnya yang susah berdamai dengan hati, menyangkut ibu Jerniati.
TBC
__ADS_1