
Tara memeluk erat tubuh Embun. Menghadiahi banyak kecupan di wajah istrinya itu dengan mata berkaca-kaca. Tara terharu sekali, dia tidak menyangka mereka akan melakukan malam pertama serumit itu. Hingga menjelang shalat Dzuhur Acara unboxing mereka tuntas juga.
Senyum mengembang masih terlukis indah diraut wajah Tara, mengingat pergumulan panas mereka. Pria itu sangat bahagia, akhirnya Embun jadi miliknya seutuhnya.
Setelah gawang pertahanan Embun gol. Saat dirinya memeluk tubuh erat Embun di atasnya. Tara menggulingkan tubuh Embun ke sebelah kiri. Dia pun mengambil alih permainan dengan gaya misionaris, melakukan tugasnya menghujam bagian intinya Embun, karena istrinya itu masih merasa kesakitan, Tara melakukannya dengan lembut. Serta tangan kirinya, bergrilia menyentuh bagian-bagian sensitif milik istrinya itu.
Dalam aksinya itu, Tara selalu bertanya apa yang dirasakan Embun. Wanita itu hanya menjawab sakit. Tara menjeda permainannya.
Dia fokus memberikan sentuhan kepada istrinya tanpa penyatuan. Embun yang masih malu dan canggung itu, benar-benar membuatnya susah rileks. Tapi, Tara tak tinggal diam. Dia selalu memuji istrinya itu saat melancarkan aksinya. Ucapan lembut dan penuh pujian akhirnya membuat Embun percaya diri. Dan tak butuh lama, wanita itu akhirnya merasakan surga dunia itu. Dengan des*ahan dan erangan panjang, yang membuat, birahi Tara semakin tersulut. Hingga Tara pun menghentikan aksinya setelah hentakan pinggul Embun yang kuat.
Tara membiarkan bagian inti istrinya itu istirahat sebentar. Tapi, bagian sensitif lainnya masih terus di eksplor nya hingga Embun meminta mereka melakukan penyatuan.
Embun masih merasakan sakit, Tapi, Embun selalu memaksa suaminya itu untuk meneruskannya, agar Tara bisa tuntas. Hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai *******. Tara ambruk di atas tubuh Embun. Memasrahkan wajahnya terbenam di dada istrinya itu.
Hingga Embun mengeluh, saat tubuh suaminya berlama-lama menimpanya. Tara pun turun dengan pelan dari atas tubuh istrinya. Menarik napas dalam penuh kepuasan. Kemudian melirik Embun di sebelahnya. Mencium kening istrinya itu, dan mengucap Terimakasih.
"Kita mandi ya sayang?" ucap Tara lembut, mereka masih berpelukan. Embun mengangguk lemah. Dia merasa tubuhnya sakit semua, remuk redam. Apalagi bagian bawahnya.
Tara pun duduk di sisi ranjang. "Ayo naik biar Abang gendong." Tara meminta Embun naik di punggungnya. Embun tidak langsung mengiyakan permintaan suaminya itu.
Masak digendong belakang. Mana mereka masih dalam keadaan polos.
"Ayo sayang, gendong ala bridal style. Abang gak sanggup. Tangan Abang sekarang terasa sakit." Tara masih menunggu Embun naik di punggungnya Tara.
"Adek masih bisa jalan. Tidak usah digendong." Tolak Embun mulai turun dari ranjang dengan meringis kesakitan. Miliknya lecet parah.
"Istriku, jangan buat Abang merasa bersalah. Abang tahu, itu rasanya sakit. Kamar mandi kita jauh tu. 10 m dari sini." Tara menepuk-nepuk bahunya dengan tangan kirinya.
Dengan lemasnya Embun naik ke punggung suaminya itu. Sentuhan kulit mereka membuat Embun tersipu malu.
Saat Tara menggendong Embun di punggungnya. Pria itu menggerak-gerakkan punggungnya. Sehingga punggungnya dengan dada kenyalnya Embun bergesekan.
__ADS_1
Puukkk...
"Ihh.... kesel dech?" protes Embun memukul bahu suaminya itu. Tara pandai sekali memanfaatkan keadaan. Pria itu tertawa kecil. Dia kembali menggoyang punggungnya.
"Habis enak sih, kenyal-kenyal hangat gitu sayang." Tara terus saja menggoyangkan punggungnya. Embun pun akhirnya diam saja. Di protes pun tak ada gunanya. Suaminya itu makin bertingkah.
Tara berjongkok, Embun pun turun dari punggung suaminya itu.Wanuta itu langsung menyambar handuk yang tergantung di rak. Dia Sangat malu dengan tatapan Tara kepadanya. Embun belum terbiasa.
Tara mengisi bathtub dengan air hangat dan aromaterapi lavender. Sesekali pria itu menatap Embun yang duduk dengan merapatkan pahanya di dekat Bathtup.
"Kita sudah mau mandi, kenapa pakai handuk." Tangan Tara terulur untuk melepas handuknya Embun. Embun pasrah aja dengan perlakuan Tara padanya.
"Apa masih sakit sayang?" tanya Tara di ceruk leher Embun. Kini mereka sudah masuk ke dalam Bathtub. Tara memeluk erat Embun dari belakang. Perlakuan suaminya itu benar-benar membuat Embun mati kutu.
Dia seperti bayi besar saja. Semuanya badannya di sabuni oleh Tara. Walau disaat Tara menyabuni tubuh mulusnya Embun. Pria itu tak henti-hentinya memberi rangsangan pada Embun. Entah karena, berendam di air hangat. Embun merasa rileks dan sentuhan suaminya membuat birahinya tersulut.
Hingga pergumulan panas pun terjadi lagi, bahkan Tara sampai dua kali pelepasan. Kalau Embun sudah tidak terhitung lagi, berapa kali wanita itu pelepasan.
❤️❤️❤️
"Sudah baikan koq sayang, gak sakit lagi." Ucap Tara bohong, padahal tangannya masih sakit. Apalagi saat di kamar mandi, Embun tak sengaja kembali menyentuhnya.
"Masak sih?" kening Embun mengkerut, kurang yakin dengan ucapan suaminya itu. Tangan Tara yang sakit terlalu lama kena air.
"Iya sayang." Tara mencuri satu kecupan dari pipi Istrinya itu. Yang membuat Embun tersipu malu.
"Kita makan ya sayang. Dari pagi kita gak ada makan apapun. Kecuali Adek yang makan pisang Abang. Hahhaha..!" Tara tertawa mesum. Embun kesal, mencibikkan bibirnya. Dia baru tahu, kalau stamina suaminya itu kuat. Tidak tidur semalaman, tidak makan.
"Iya," Jawab Embun lemas, menolak ajakan Tara untuk makan di bawah, tepatnya di ruang makan mereka
"Kita makan disini saja." Embun menatap Tara dengan malu-malu. Tara semakin gemes saja melihat tingkah Embun.
__ADS_1
"Adek malu, nanti diliatin orang. Ini terlalu berlebih-lebihan." Embun memegang lehernya yang penuh dengan cup#ang*n itu. Bahkan Embun merasa sedikit perih, Tara terlalu dalam melakukannya.
Tara tersenyum mendekati Embun kemudian memeluk istrinya tu dengan sayangnya.
"Paling juga yang lihat ART sayang. Kenapa harus malu. Mereka pasti memakluminya." Tara memperhatikan leher Embun yang bercorak kemerahan itu. Sangat kontras dengan kulit Embun yang putih. Tara merasa bangga serta bahagia, tidak menyangka Embun benar-benar jadi miliknya. Mana sekarang istrinya itu sikapnya sangat manis. Manjanya itu gemesin, tapi tidak lebay.
"Iya, Adek malu." Jawab Embun sedih.
"Baiklah kita makan disini saja. Sebentar Abang kebawa dulu. Sekalian, Abang akan ambilkan obat untuk Adek." Tara melepas pelukannya, kembali mencium kening Embun.
"Obat? obat apa? Adek gak sakit." Jawab Embun heran. Menahan tangan kiri Tara yang hendak beranjak itu.
"Tubuh Adek hangat, Abang jadi merasa bersalah. Hanya Paracetamol, sekalian biar ini tidak perih lagi." Tara menyentuh miliknya Embun. Wanita itu terkaget. Koq suaminya itu jadi nyeleneh gini.
"Apaan sih? suka sekali megang itu." Ketus Embun kesal. Dia belum terbiasa seintim itu dengan Tara. Satu tepukan mendarat di bahu suaminya itu.
"Maaf, habis enak sih. Tahu rasanya enak begitu. Tamat SMA, harusnya kita nikah." Tara cengir, merasa malu sendiri dengan dirinya yang mesumnya tingkat tinggi.
"Abang tamat SMA, lah aku baru tamat SMP dong." Embun merengut.
"Iya juga ya. Baiklah sayang, Abang kebawah dulu. Adek istirahat aja dulu, habis makan kita coba lagi ya?"
"Apa?" kedua bola mata Embun melotot penuh. Bisa lecet parah nanti miliknya. Tara mah minta sekali tapi jadinya tambuh juga.
Melihat Embun marah, Tara langsung lari kucar kacir.
Embun menghela napas dalam. Dia pun memilih berbaring di ranjang. Baru juga telentang sebentar, ponselnya berdering. Embun sangat malas untuk beranjak dari posisinya sekarang. Pasalnya kalau dia bergerak, bagian bawahnya masih terasa perih.
Tapi, ponselnya itu berdering terus. Akhirnya Embun beranjak dari ranjang meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Kening Embun menyergit melihat no baru yang masuk.
__ADS_1
Dengan penasarannya dia pun menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum Dek, ini Mas. Kenapa no ponsel Mas, Adek blokir!?" suara itu membuat Embun terkejut bathin. Suara Ardhi membuatnya sedih.