
Sore harinya, Pak Baginda sudah bebas dari tahanan. Sesampainya di rumah, setelah sholat Ashar Pak Baginda berdiam diri di dalam kamar. Sepertinya Dia sedang introspeksi diri. Atau sedang meredam amarah, karena dijebloskan ke penjara.
Sementara keluarga besar lainnya sedang berkumpul di ruang keluarga, membicarakan proses akad nikah dan resepsi yang akan dilaksanakan, tinggal lima hari lagi.
Walau Embun memohon kepada Tara, agar perjodohan ini dibatalkan. Nyatanya pernikahan ini harus tetap dilaksanakan. Karena keluarga besar tidak ingin Embun menikah dengan pria lain. Sebab, Tara dan Embun sudah dijodohkan sejak kecil.
"Nantulang, saya minta izin membawa Embun untuk berjumpa dengan Pak Ardhi." Ucapan Tara membuat orang yang sedang diskusi di ruang keluarga itu tercengang. Kenapa Tara, malah mau mempertemukan calon istrinya dengan kekasihnya?
"Hari pernikahan kalian sudah dekat. Menurut tradisi, kalian tidak boleh lagi keluar rumah. Kalian dipigit. Bahkan kamu Tara, seharusnya tidak boleh lagi datang ke rumah ini. Tapi, karena insiden semalam. Ya terpaksa Nantulang membutuhkan bantuanmu." Ucap Mama Nur menatap lekat Tara yang nampak tidak tenang. Bagaimana mungkin, Dia membolehkan Embun berjumpa dengan kekasihnya.
Tara sedikit kecewa dengan penolakan Nantulangnya itu. Pasalnya, apabila Tara tidak bisa membawa Embun keluar dan menemui Ardhi. Maka, Ardhi tidak akan mau menyetujui kesepakatan dari Tara.
Mama Mira yang duduk di sebelah Tara, mengusap lengan putranya. Mendongak, dengan ekspresi wajah bertanya. Tara hanya memberi kode dengan tangannya bahwa semuanya baik-baik saja.
"Begini, semua sudah tahu apa yang terjadi. Antara Embun dan Ardhi. Pak Ardhi, sedang dirawat di rumah sakit. Yang menyebabkan beliau terluka adalah kita. Saya tidak mau terlalu egois, dengan menjauhkan embun dari Pak Ardhi dengan cara menyedihkan seperti ini. Jadi, saya menyanggupi permintaan Pak Ardhi. Untuk mempertemukan mereka. Tentu saya juga ada di situ." Ucap Tara tegas dan serius, yang membuat semua anggota keluarga kembali terdiam dan terbengong.
Mama Nur berdecak kesal. "Tara, Nantulang tidak ingin ada masalah lagi. Bagaimana kalau Embun kabur dengan pria itu. Kamu jangan aneh-aneh. Pernikahan kalian tinggal lima hari lagi." Ucap Mama Nur, sangat keberatan dengan permintaan Tara.
Dia merasa akan menimbulkan masalah baru, jikalau Embun bertemu dengan kekasihnya itu.
Tara menghela napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Yang mulai panik, apabila tidak bisa membawa Embun bertemu dengan Ardhi. Maka Ardhi akan mengacaukan pernikahan mereka. Ardhi bukan orang biasa. Jadi Dia bisa melakukan apa yang Dia mau.
"Tidak Nantulang, malah kalau kita tidak mempertemukan Embun dan Pak Ardhi. Maka beliau akan mengacaukan pernikahan kami nantinya. Nantulang tenang saja, percayakan sama Tara." Ucapnya tersenyum, menatap Nantulangnya, Mamanya dan Ompung Borunya, yang menampilkan ekspresi wajah resah dan gelisah.
Mama Nur menatap mertuanya, seolah meminta pendapat. Ompung Boru mengangguk pertanda, Embun bisa bertemu dengan Ardhi.
"Baiklah, Nantulang percaya kepadamu." Ucap Mama Nur, Kembali fokus dengan buku catatan yang ada di tangannya.
Tara menatap Ibunya yang kembali mengelus lengannya. Penasaran, apa maksud Tara mempertemukan Embun dengan kekasihnya.
__ADS_1
"Mama tenang saja, semuanya pasti beres. Embun akan kita boyong ke rumah." Ucap Tara dengan suara sedikit keras dan tersenyum. Yang membuat Mama Mira dan yang lainnya ikut tersenyum dengan ucapan Tara.
***
Kini Embun dan Tara sedang diperjalanan menuju Hotel tempat Ardhi menginap. Ardhi yang merasa sudah sedikit baikan, memilih istirahat Hotel, walau wajahnya masih nampak memerah dan membiru.
"Bacalah!" Tara menyerahkan map dokumen kepada Embun yang sedang duduk termenung di sebelah kanannya. Embun menoleh ke arah Tara. Melihat map itu dengan bingungnya.
"Apa itu?" tanya Embun, tidak tertarik untuk mengambil dokument yang sedang di pegang Tara.
"Ambillah, baca baik-baik. Kalau ada mau ditambahkan katakan secepatnya, biar saya edit lagi." Ucap Tara datar, kembali mendekatkan dokumen itu kepada Embun.
Embun pun akhirnya penasaran, dan meraih map dokumen warna hitam itu. Dia mulai membukanya. Ada kertas bertorehkan tinta hitam yang harus dibumbui tanda tangan bermaterai 10.000. Dengan ekspresi wajah serius dan dengan debaran jantung yang tidak beraturan. Embun mulai membacanya dengan serius.
SURAT KESEPAKATAN
Pada tanggal 12 Juni 20xx, kami yang bertanda tangan di bawah ini:
Pekerjaan: Wiraswasta
Alamat: Jl. kenangan cinta no 14C.
Selanjutnya akan disebut sebagai Pihak Pertama
Nama: Ardhi Siraz, M.A.
Pekerjaan: Wiraswasta
Alamat. Jl. Harapan No. 10.
__ADS_1
Selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua
Surat ini menyatakan bahwa kedua pihak telah sepakat dan setuju untuk:
Tanggal 12 Juni 20xx, Pihak Kedua menitipkan kekasihnya yang bernama Siti Embun Harahap kepada pihak pertama yang akan menjadi suaminya Siti Embun Harahap. Dimana ia berjanji akan menjaga Siti Embun dengan baik, selama waktu yang sudah ditentukan (Enam bulan).
Pihak Kedua berjanji tidak akan melakukan kontak apapun kepada Siti Embun Harahap, selama waktu yang sudah ditentukan.
Pihak pertama berjanji, tidak akan menggauli istrinya Siti Embun Harahap, selama waktu yang sudah ditentukan.
Setelah waktu yang ditentukan tiba, maka pihak pertama harus menyerahkan Siti Embun Kepada pihak kedua.
Apabila salah satu pihak pertama atau pihak kedua melanggar kesepakatan. Maka, pihak yang melanggar perjanjian akan membayar denda kepada yang tidak melanggar. Sesuai dengan permintaan pihak yang tidak melanggar.
Demikian surat kesepakatan ini dibuat secara sadar dan tanpa adanya tekanan dari manapun.
PSP, 12 Juni 20xx
Pihak Pertama . Pihak kedua
Tara. Ardhi.
Embun tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Dia merasa dadanya semakin sesak, setelah membaca torehan tinta hitam di kertas putih itu. Bisa-bisanya kedua pria itu membuatnya sebagai barang mainan.
"Apa-apa an ini?" Embun melempar map dokumen itu kepada Tara dengan kesalnya. Matanya menatap tajam Tara. Dia kesal bukan main.
TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote