DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Aku menyayangimu


__ADS_3

Ardhi senyam-senyum setelah selesai VC an dengan sang istri. Makin kesini, dia merasa makin senang pada istrinya itu. Cepat sekali perkembangan rasa suka yang timbul di hatinya pada Melati, sejak mereka menandatangani buku nikah dua hari yang lalu.


Pria itu masih senyam-senyum mengingat semua moment yang terjadi pada mereka saat Melati jadi pembantu di rumahnya. Semakin diingat koq semakin indah. Apalagi moment disaat dirinya memilih Melati jadi koki khusus untuknya. Tidak mungkin kan dia menyukai wanita itu sejak pertama kali bertemu di rumahnya. Disaat Melati jadi asisten rumah tangganya. Padahal saat itu dia masih menunggu jandanya Embun.


Apa karena dia yakin Embun akan pergi darinya sehingga dia membiarkan hatinya respect pada sang pembantu? entahlah.... Yang jelas saat ini Melati sudah jadi istrinya. Akan mencurahkan kasih sayang penuh pada wanita itu. Apalagi istrinya itu mengandung anaknya.


Ditambah Melati adalah putri Pak Zainuddin.


Ardhi bangkit dari duduknya. Memasukkan ponselnya ke saku celananya. Dia pun kembali masuk ke ruang ICU tempat Ini Jerniati dirawat. Saat dia masuk ke ruangan itu layar monitor memperlihatkan kondisi detak jantung, sang ibu melemah. Dengan cepat Ardhi menekan bel memanggil pihak medis.


Kondisi Ibu Jerniati cukup parah. Dia kena serangan jantung dan stroke. Itu disebabkan karena videonya yang mantap-mantap tersebar ke media sosial dan group arisannya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Anggun. Yang meminta bawahannya melakukan itu semua.


"Bagiamana kondisi ibu saya Dok?" Ardhi begitu khawatirnya pada sang ibu yang tua tua keladi itu.


"Kondisi pasien drop." Jawab Dokter, tersenyum tipis pada Ardhi yang begitu khawatir pada sang ibu.


"Kita sudah lakukan yang terbaik Pak. Semoga Ibu anda cepat pulih. Kalau kembali normal tidak mungkin lagi. Mungkin Ibu anda akan lumpuh selamanya."


Ucapan Dokter membuat Ardhi semakin frustasi saja. Begitu banyak masalah yang datang. Tentu saja masalah ini semua bermuara dari sang ibu.


Setelah kepergian sang dokter. Ardhi tetap memilih di ruang ICU itu, duduk di kursi dengan berpangku tangan. Memandangi lekat wajah sang ibu yang sudah dipasangi selang oksigen itu.


Dia tidak menyangka, harta membuat sang ibu hancur. Dulunya Ibunya itu adalah seorang wanita yang baik, mendidiknya jadi Anka yang baik. Walau mereka serba kekurangan.


Hufff.....


Ardhi menghela napas berat, keluar dari ruangan itu. Menjaga sang ibu di luar saja. Kalau seperti ini, mana mungkin dia bisa cepat pulang. Setidaknya dia menunggu beberapa jam lagi, untuk memastikan keadaan sang ibu.


Dalam perenungannya, Ardhi juga memikirkan Melati sang istri. Kalau dia cerita semuanya tentang ibunya pada istrinya itu. Apakah istrinya itu akan memaafkan ibunya dan tidak takut lagi pada wanita tua itu?


Melihat sifat Melati yang baik, pasti istrinya itu akan memaafkan sang ibu. Tapi, mengingat reaksi Melati yang begitu ketakutan pada ibunya itu, membuatnya ragu untuk meminta Melati memaafkan sang ibu.


Ardhi harus bijak, dia baru saja membina rumah tangga dengan Melati. Wanita yang dibenci sang ibu. Sebaiknya jangan terlalu membahas ibunya dulu kepada Melati.

__ADS_1


Ardhi menghampiri para suster yang berjaga. Meminta penjagaan tambahan untuk sang ibu. Dia harus pulang. Pasti istrinya sudah menunggunya, mana tadi dia menawarkan akan membawa makanan untuk istrinya itu.


Ardhi melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, sembari melewati koridor rumah sakit. Ternyata sudah pukul satu dini hari. Dia yakin, Melati pasti sudah tertidur. Itu bagus. Jadi dia bisa mencuri kesempatan nantinya. Setidaknya satu kecupan di bibir sang isteri.


Entahlah, apa ini namanya nafsu atau memang kebutuhan. Dia ingin sekali bermanja-manja dengan sang isteri. Apa mungkin karena dia lagi suntuk? sehingga ia ingin hiburan?


Huufffttt....


Ardhi lagi-lagi menghela napas saat menyetir. Melati terus saja menari-nari dipikirannya. Dia benar-benar terobsesi pada istrinya itu saat ini. Dia penasaran sekali untuk menyentuh sang istri. Dia butuh kehangatan.


Ardhi berhenti di sebuah warung kebab. Saat menunggu pesanan nya matang. Dia mengirim pesan pada Bi Kom, yaitu kepala Asisten rumah tangga nya. Untuk besok pagi, sudah menjaga Ibunya di rumah sakit.


Setelah mengirim pesan pada Bi Kom. Ardhi pun mencoba menghubungi Melati melalui panggilan video. Dia ingin memastikan apakah istrinya itu sudah tidur atau belum.


Baru juga melakukan panggilan. Melati sudah menerima panggilan itu. Nampaklah wajah cantik sang istri sedang rebahan di atas ranjang tanpa mengenakan hijab. Melihat wajah cantik sang istri di layar ponselnya dengan posisi tidur miring itu, membuat Ardhi gemes. Rasa kantuk hilang sudah, setelah melihat wajah sang istri.


"Belum tidur?" Ardhi semakin gemes saja melihat Melati yang tersipu malu-malu menatap ke camera. Istrinya itu hanya menggeleng lemah. Tapi, sesekali menguap.


"Ini Mas sudah mau pulang. Mas matikan ya, Assalamualaikum..!" Adhi manis tersenyum manis pada Melati. Begitu juga sang istri.


Panggilan pun terputus. Ardhi bergegas masuk ke dalam mobil dan memacunya dengan cepat. Tidak sabar rasanya untuk sampai ke rumah dan berjumpa dengan sang istri.


Sedangkan Melati tersenyum tipis, memandangi ponselnya yang menampilkan foto Ardhi, sebagai wallpapernya. Dia akan menunggu suaminya itu pulang. Berbaring di ranjang sambil melamun, Melati teringat kejadian saat mereka di sawah.


Mengingat-ingat Kejadian di sawah, ternyata membuat perasaan Melati jadi tak karuan. Dia senang sekaligus gelisah. Bingung dengan apa yang dirasakan nya saat ini pada suaminya itu. Apa karena Ardhi memperlakukannya dengan baik, sehingga wanita itu jadi baper.


Melati tersenyum menyambut kedatangan Ardhi. Pria itu masih berdiri diambang pintu kamar dengan tatapan yang menghanyutkan. Melati jadi tersipu malu dibuatnya. Melati yang terdiam itu kembali tersenyum dengan manisnya kepada Ardhi. Senyuman yang sangat cantik, demikian batin Ardhi.


Melati beranjak dari ranjang, menghampiri Ardhi yang juga berjalan ke arahnya. Wanita itu memperhatikan tangan Ardhi yang menenteng sebuah kresek. Apalagi isinya kalau bukan kebab.


Ardhi tersipu malu, karena Melati juga memandanginya terus. Pria itu pun berjalan ke arah meja yang ada di dekat jendela kamar. Meletakkan kebab yang di kantong plastik itu.


Saat membalik badan, Ardhi hampir saja menabrak sang istri. Ardhi tidak menyadari bahwa Melati mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Adek..!"


"Mas...!"


Ardhi merangkul pinggang Melati dengan cepat, disaat dirinya berbalik. Melati yang dibelakangnya hendak terjatuh. Karena, terkejut dengan sang suami yang tiba-tiba berbalik badan itu. Padahal jaraknya Melati kepada Ardhi sangatlah dekat.


Saat ini adegan romantis pun tercipta. Tangan kokohnya Ardhi masih membelit pinggang sang istri. Sesaat kemudian kedua mata mereka saling beradu pandang dan ini bukanlah tatapan biasa, jelas sekali ada binar-binar cinta di mata mereka. Lama sekali mereka beradu pandang seakan-akan saling mengagumi wajah paling indah di belahan bumi ini.


Ardhi mendekatkan wajahnya ke wajah Melati, saat kedua wajah mereka semakin dekat, Ardhi memberikan kecupan lembut di kening Dewi, dengan kilat.


"Kenapa hanya di kening?"batin Melati. Entahlah dia jadi ingin kecupan yang lebih intim. Jantungnya berdegub tak beraturan saat menerima kecupan Ardhi di keningnya. Walau secepat kilat itu. Melati merasakan desiran halus menjalari seluruh pembuluh darahnya dan kemudian seakan ada gejolak bergemuruh di rongga jantungnya.


Sepertinya Ardhi juga merasakan hal yang sama, kedua tangannya berkeringat dingin karena rasa gugup dan derisan cinta yang bercampur menjadi satu.


Malam itu Melati terlihat sangat cantik, rambut lurus sepinggang terurai indah dan poni menutupi kening yang membuatnya terlihat semakin manis. Ardhi gemes pada istrinya itu.


"Mas menyayangimu..."kata Ardhi setengah berbisik, Melati terkesiap dengan perkataan yang baru saja dilontarkan Ardhi. Kedua bola mata terbelalak menatap Ardhi yang masih tersenyum manis itu.


Segera saja pipi Melati bersemu merah, namun dia segera tersadar dari perkataan Ardhi yang membuatnya terlena. Tentu saja ucapan suaminya itu hanya menyayangi karena dia mengandung anaknya. Melati tidak ingin menyalahartikan kalimat itu sebagai ungkapan perasaan seorang pria kepada gadis yang dicintainya.


Asyik memikirkan ungkapan sayang sang suami. Melati merasa terkejut. Karena bibir lembutnya Ardhi sudah menempel di bibirnya. Mengecup dengan lembut bibir yang tak ada perlawanan itu.


Melati sungguh dibuat penasaran. Ingin dia membalas ciuman hangat itu. Tapi, dia merasa malu. Tapi, dia ingin lebih. Dengan perlahan dia pun membuka sedikit bibirnya. Dia akan membalas kecupan sang suami.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan membuat ciuman yang penuh dengan rasa penasaran terhenti juga.


TBC

__ADS_1


__ADS_2