
"Waaahhh.... lagi sarapan, kebetulan sekali aku belum sarapan." Ucapnya dengan semangat dan langsung mendudukkan bokongnya di kursi tepat dihadapan Melati.
"Tuan Rudi mau makan apa?" ucap pelayanan yang sudah memegang piring.
"Dendeng, ikan asin, telor dadar, tahu goreng, serta lauknya. Letakkan semua di hadapanku. Dan terasi itu, jauhkan. Aku gak suka terasi." Ucap Rudi dengan semangatnya menu pagi ini, kesukaannya semua. Kecuali sambal terasi, dia paling benci sambal itu. Karena, bauk menurutnya.
"Baik tuan." Melati pun terheran melihat asisten suaminya itu. Seperti yang punya rumah saja. Gak ada segan-segannya sama sekali.
"Napa Mel, heran loe." kadang si Rudi bisa lupa, kalau Melati sekarang adalah istri Bosnya. Maklumlah dia sudah terbiasa dulu menyuruh-nyuruh si Melati sewaktu jadi ART di rumahnya Ardhi.
"Ya heran saja, kamu seperti tidak punya sopan santun saja " Jawab Melati malas, sikap Rudi yang sesuka hatinya memang tidak terlalu disukai Melati. Dia lebih suka, pria yang kalem dan sopan gitu.
Rudi cengir, dia sadar juga. Wanita yang ada di hadapannya sekarang bukan seorang pembantu lagi. Tapi, istri Bosnya dan juga putri pemilik rumah itu.
"Serius amat sih istri si Bos. Si bibi saja biasa aja tuh. Iya kan Bi?" Rudi menatap pelayanan dengan tersenyum tipis.
"Iya Nona, tuan Rudi memang begitu." Jawab pelayan sopan. Melati tercengang, ternyata di Rudi sudah akrab dengan orang-orang di rumah Ayahnya.
"Si Bos Mana Non Mel?" bicara sambil menyantap makanan.
"Masih istirahat." Melati yang sudah selesai makan, kini nampak meminum obat anti mual dan vitamin ibu hamil.
"Emang si Bos pulang jam berapa tadi malam?'
__ADS_1
Melati diam, dia tidak tahu jam berapa suaminya itu pulang. Kalau dia bilang tidak tahu, nampak sekali dia tidak mau tahu tentang sang suami.
"Tuan Ardhi dan tuan besar nyampe rumah, sekitar pukul 04.30wib tuan." Jawab si bibik, yang masih setia melayani si Rudi.
Melati terkejut mendengar ucapan pelayan itu. Berarti saat dirinya di gendong sang suami masuk kamar, suaminya itu baru pulang. Berarti dia tidur di ruang keluarga semalam.
"Oohh... Berarti si bOs masih tidur Non Mel?" Melati hanya mengangguk menanggapi pertanyaan si Rudi.
"Mas Ardhi berpesan, agar jangan diganggu." Dia pun akhirnya mengatakan pesan sang suami. Disaat melihat Rudi sudah selesai makan.
"Pasti tuan besar juga masih tidur. Ya sudah aku ke kantor saja. Padahal aku ke sini, mau membicarakan soal pengacara untuk Nyonya besar. Aku dapat kenalan pengacara yang dulu suka sama si bos. Siapa tahu, dengan memakai jasanya, masalah Nyonya besar cepat selesai. Pengacara Bos yang biasa sedang diisolasi."
Rudi memang mulut ember. Rahasia perusahaan pun dibicarakan didepan ART. Perkataan Rudi sedikit mengusik hatinya Melati Ada wanita yang menyukai suaminya itu. Wajar sih, banyak wanita yang suka pada suaminya itu. Sudah kaya tampan, good looking lah pokoknya.
"Hape si Bos gak bisa dihubungi.
Ting Nong
Ting Nong
Suara bel terdengar nyaring sampai ke ruang makan. Sepertinya belnya pakai Zainuddin pakai speaker.
"Nona, ada tamu. Katanya ingin berjumpa dengan Tuan Ardhi." Seorang pelayan pria memberi laporan.
__ADS_1
Melati beranjak dari duduknya. Rudi mengekor di belakang. Dia ke kantor saja. Pekerjaan di kantor sangat banyak. Mana Ardhi sang Bos, akhir-akhir ini jarang ke kantor. Sehingga tugas untuknya jadi double.
"Wahhhh Nona Lidya, cepat sekali datangnya. Padahal aku baru saja ingin menghubungi Non Lidya. Agar pertemuannya di tunda dulu." Rudi langsung menjabat tangan Lidya yang mulus dan putih itu.
Melati yang berdiri di antara dua manusia itu hanya diam memperhatikan wanita yang ada di hadapannya. Cantik, manis, putih, tinggi, pakaiannya juga masih tergolong sopan. Karena wanita dihadapannya kini memakai kemeja berbahan silk, dengan kerah Korea ditambah tali di model pita, serta bawahannya celana kulot. Sepatu heels berwarna maron berbahan brokat terlihat kontras ke kulit kakinya yang putih.
"Iya, rumahku kan dekat sini. Karena kamu bilang nya ketemu disini. Ya sudah, aku singgah saja, sebelum ke kantor." Ucap wanita itu tersenyum manis. Menoleh pada Rudi dan Melati secara bergantian.
"Iya, tapi si Bos belum bisa ketemu pagi ini." Melati akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Malas kali rasanya dia mendengarkan pembicaraan Rudi dan wanita cantik itu.
Keberadaan dia disitu pun seolah tidak terlihat. Mungkin wanita yang bernama Lidya itu, hanya menganggap Melati sebagai ART. Walau dia sudah berhias tipis. Tapi, outfid yang dikenakan Melati memang masih nampak kayak babu, walau dia sudah memakai pasmina. Biasanya juga dia memakai hijab Sorong seharga 25 RB bahan Jersey.
"Oohh begitu, kalau begitu saya cabut dulu." Saat meninggalkan ruangan itu. Melati masih bisa mendengarkan suara lembut wanita cantik itu.
"Kita sama saja Dek." Rudi tersenyum. Tadi dia manggil Non dan sekarang sudah berubah jadi Dek. Dasar Rudi selalu pandai memanfaatkan situasi.
Melati berjalan sambil mengkhayal ke lantai dua, ke kamarnya, hatinya jadi tidak tenang setelah melihat wanita cantik yang akan jadi pengacara suaminya itu.
"Emang ada masalah apa? kenapa harus pakai pengacara segala." Melati memasuki kamarnya. Menoleh ke arah Ardhi yang masih tertidur. Kali ini Ardhi tidur dalam keadaan miring ke kanan. Dengan kain sarungnya yang sudah tersingkap. Sehingga menampakkan paha putih berbulunya Ardhi.
Melati mendekati Ardhi, kemudian menyelimuti suaminya itu. Dia menatap ke arah jam yang bertengger di dinding kamar itu. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 08.50 WIb.
Setelah menyelimuti sang suami. Melati naik ke atas ranjang mereka. Tidur miring menghadap sang suami. Memperhatikan lekat wajah Ardhi yang tidur dengan pulas itu. Sembari memikirkan hubungannya dengan Ardhi. Kenapa hatinya begitu susah untuk berbaur dengan sang suami. Kalau terus-terusan begini. Tentulah biduk rumah tangga yang dijalani nya akan sangat membosankan.
__ADS_1
Dia juga memikirkan penampilannya yang terlalu sederhana. Beda sekali dengan Ardhi yang bahasa tubuhnya memang mengeluarkan aura konglomerat. Melati jadi menarik diri. Walau dia ternyata putri dari seorang milyarder. Tapi, dia tidak nampak seperti putri orang kaya. Dia masih seperti orang kampung yang pernah jadi pembantu. Larut dalam pikiran sendiri, akhirnya wanita itu pun tertidur juga.
TBC.