DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Bertentangan


__ADS_3

Acara manortor semalaman suntuk pun sedang berlangsung. Embun yang kurang sehat itu, merasa tidak sanggup lagi untuk duduk manis di pelaminan. Matanya sudah kantuk sekali, mungkin efek obat yang diminumnya. Ditambah tubuh nya terasa pegal dan sakit semua. Benar-benar tidak enak badan.


Tara melirik ke arah Embun yang sudah sempoyongan menahan kantuk. kaca mata hitam yang digunakannya untuk menutupi matanya yang kantuk seolah tidak berguna lagi. Karena tubuhnya tidak bisa di ajak kerjasama lagi untuk duduk tegap, menyaksikan acara manortor.


"Adek mau tidur?" bisik Tara, menyentuh tangan Embun yang berada di atas pahanya. Sontak Embun terkejut dan rasa kantuknya terbang dibawa angin malam.


Embun menghempaskan tangan Tara yang menyentuh tangannya.


"Jangan pegang-pegang. Sudah tahu nanya lagi."Ketus Embun penuh kekesalan. Dia yang dipaksa menikah, merasa acara ini sangat membosankan.


"Kalau Adek kantuk, Adek bisa bersandar disini. Terus kakinya di seloncorin. Tidak apa-apa itu." Tara masih saja menjawab kemarahan Embun dengan kelembutan. Menunjuk sandaran tempat mereka duduk, yang terbuat dari kasur dan bantal yang disusun banyak.


Ya, tempat duduk mereka saat ini bukan kursi mewah. Tapi kasur yang ditumpuk, bersandarkan kasur dan bantal empuk. Itu sengaja dibuat, agar pengantin merasa nyaman. Disaat harus menyaksikan acara manortor semalam, sampai dini hari.


"Tidur? kalau ngomong mikir. Mana bisa Ku tidur disini dengan memakai Bulang yang berat dan ribet begini." Keluh Embun, tidak suka dengan acara yang sedang mereka ikuti.


Tara menghela napas dalam.


"Bang, tolong dibuka Bulangnya. Istri saya mau istirahat. Dia merasa kepalanya sakit." Tara minta tolong kepada MUA yang dari tadi memang duduk tak jauh dari mereka.


"Emang bisa dibuka ?" tanya Embun dengan muka kesel, enak sekali si Tara dengan tenangnya menyebutnya istri. Dia geli mendengar kata istri disematkan untuknya.


"Bisa dong cin, nanti gantinya kamu pakai selendang." Ucap seorang pria berjenis kelamin laki-laki tapi kelakuan seperti wanita.


"Aku lepasin ya Bulangnya." Bulang lepas dari kepala Embun. Dia merasa kepalanya ringan dan plong.


"Adek tidurlah!" ucap Tara pelan dan tersenyum kepada Embun.


Dengan wajah malas, Embun menatap Tara dan mulai menyandarkan punggungnya di tumpukan kasur dan bantal yang disusun sedemikian rupa, sehingga kedua pengantin bisa nyaman duduk di pelaminan tersebut.


Tara menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya, atas sifat Embun yang tidak pernah baik kepadanya.


Tara merasa sedih dan mengasihani dirinya sendiri. Sampai kapan Dia akan tahan, diperlakukan dengan tidak baik seperti itu. Semua ucapannya ditanggapi dengan penuh kebencian dan kekesalan.


Tara pesimis, mungkin Dia tidak akan pernah mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Embun. Tapi, setidaknya dalam kebersamaan mereka ini. Dia bisa meluruskan kesalahpahaman Embun kepadanya terkait Doly yang menjadi salah satu sumber kebencian Embun kepadanya.


Kepala Embun terhuyung-huyung ke samping dan ke depan bahkan hendak tersungkur ke samping, karena kepalanya yang sedang tidur tidak ada yang menyangganya. Dengan lembut, Tara meraih kepala Embun. Menempatkannya di bahunya.


Saat Tara meraih kepala Embun, tangan Tara menyentuh keningnya. Dia bisa merasakan bahwa Embun masih demam.


Tara jadi merasa bersalah, Dia bisa merasakan posisi Embun yang menyedihkan saat ini. Dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintai, tentu bisa membuat setres dan hasilnya imun tubuh menurun, sehingga gampang diserang penyakit.


Tara menatap lamat-lamat wajah Embun yang pucat. Dia memegang tangan Embun. Tara sampai berdoa dalam hati, agar sakitnya Embun dipindahkan saja kepadanya. Karena Dia tidak akan tahan melihat Embun dalam keadaan sakit.

__ADS_1


Kemudian Tara menatap ke arah Mamanya yang duduk tak jauh dari mereka. Tara memberi kode, bahwa Embun sedang tidak baik-baik saja.


"Tara sayang, apa panas Embun sudah turun? tadi Dia katakan sudah baikan?" Mama Mira ikut menempelkan punggung tangannya di kening Embun.


Tara tidak menjawab, Dia malah menampilkan ekspresi wajah khawatir nya.


"Embun semakin panas loh Tara. Kenapa kamu tidak cepat beritahu Mama. Ayo bawa Dia ke kamar. Tidak usah lagi kalian di pelaminan ini." Ucap Mama Mira penuh ke khawatiran.


Tara pun mulai membopong Embun masuk ke dalam rumah. Yang diikuti oleh Mama Mira.


"Namahua do Boru i? asi di oppa?"


(kenapa pengantin wanitanya? kenapa di gendong?"


Suara-suara para tamu undangan terdengar begitu penasaran nya, kenapa pengantin meninggalkan gelanggang.


"Masih mau gak ya Dokter Fadli datang ke sini?" Ucap Mama Mira sambil memijat-mijat tangan Embun. Dia begitu mengkhawatirkan menantunya itu. Kalau Embun sakit, bagaimana dengan acara Margondang ini. Akan sayang sekali apabila pengantin tidak bersanding di pelaminan, menyaksikan tortor dari para tamu.


Embun terbangun, Dia menatap lemah Mama Mira yang begitu mengkhawatirkan nya saat ini.


"Ma---ma sakit...!" ucap Embun lemah, air mata menetes di pipinya.


"Mama Aku ingin pulang." Embun benar-benar tidak sadar dengan apa yang diucapkannya. Saat ini Dia hanya ingin mengatakan apa yang ada di hatinya.


"Iya sayang, kamu harus sembuh ya." Nanti juga kita akan berkunjung ke rumah Abang Baginda." Ucap Mama Nur, mulai melonggar baju yang dikenakan Embun.


"Tara kamu ganti pakaian Embun. Agar Dia lebih leluasa bergerak. Mama ambil dulu obat herbal penurun panas." Mama Mira Langsung meninggalkan kamar itu tanpa mengubris ucapan Tara. Yang mengatakan bahwa, agar Dia saja yang menyiapkan ramuannya. Karena Dia tidak berani melakukan perintah Mama Mira, yaitu mengganti pakaian Embun.


"Dek, kita ganti bajunya dulu ya?!" Tara nampak ragu mengatakannya. Embun menampilkan wajah kesakitan. Sungguh badannya rasanya remuk redam. Mungkin Dia juga masuk angin.


"Apa perlu Abang bantu?" tanya Tara penuh ke khawatiran.


Embun menggeleng, Dia seolah tidak punya tenaga untuk marah-marah.


"Ambilkan baju ganti ku di koper." ucap Embun lemah. Ya, pakaian yang dibawah Embun, belum sempat di tata di lemari.


"Oh iya Dek." Jawab Tara bergegas masuk ke walk in closet. Dia mengambil piyama berbahan sutera yang sangat lembut dan nyaman untuk dipakai dari dalam lemari.


Embun hanya melongok melihat kepergian Tara, Kenapa malah masuk ke ruang ganti. Bukannya mengambil baju ganti nya di koper.


"Apa di lemari itu juga ada baju untuk tidur untukku?" gumam Embun dalam hati.


Tara membawa satu stel piyama tidur berwarna nude.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri, kamu keluar. Dan jangan masuk lagi ke sini. Melihat wajahmu tubuhku semakin panas rasanya. Darahku mendidih." Ketus Embun dengan wajah penuh kebencian. Disaat Tara ingin mencoba membantu Embun membuka aksesoris baju adat yang menempel di baju yang dikenakannya.


Tara terhenyak mendengarnya. Ucapan penuh kebencian itu, yang membuatnya hatinya hancur. Tidak bisakah istrinya itu mengatakan kata-kata yang baik. Sehingga orang tidak sakit hati mendegarnya. Ini malah main usir saja.


Syukur Tara begitu mencintai Embun, sehingga kata kasarpun seolah sanjungan dirasanya. Walau hatinya sakit mendegarnya.


Akhirnya Tara keluar dari kamar itu, dengan mengelus dadanya yang terasa sakit dan perih itu.


Tak berapa lama Mama Mira datang, dengan ramuan herbal penurun panas. Serta pembantu yang membawa makanan untuk Embun.


"Tara ke mana sayang?" Ucap Mama Mira, menyoroti ruangan kamar, mencari keberadaan Tara.


"Keluar Ma." Jawab Embun lemah.


"Makan sedikit ya sayang, terus minum obat dan ramuan ini. Semoga besok kamu sudah sehat. Karena besok acara puncaknya. Kalian harus manortor, terus di Patuaekkon


(Patuaekkon adalalah acara pengantin akan dibawa ke sungai dengan diarak beramai-ramai oleh sanak keluarga. Namun mengingat zaman semakin modern dan lokasi tidak memungkinkan ada sungai, maka nantinya Tara dan Embun diarak oleh ketua adat, raja-raja adat dan semua keluarga untuk pergi ke sungai sungai diganti dengan wadah berisi air yang menandakan itu air sungai. Kemudian mereka akan menaiki sebuah panggung yang tinggi dan akan didudukkan di atas panggung itu. Setiap mereka menaiki satu tangga, maka akan ada petuah atau nasehat yang disampaikan.)


"Iya Bou, Embun mengerti. Embun pasti sembuh Bou." Ucap Embun lemah. Dia pun mulai berbaring setelah makan dan minum obat.


❤️❤️❤️


Keesokan harinya, Embun terbangun kesiangan. Dia melirik jam yang bertengger di dinding kamarnya Tara itu, menunjukkan pukul tujuh pagi. Berarti Dia sudah tertidur selama empat jam. Sungguh efek obat yang diminumnya lumayan bagus.


Dia sudah lebih baikan, Dia tidak merasa demam lagi. Badannya juga sudah tidak pegal-pegal. Tapi, Dia merasa tidak berdaya. Tangan keringat dingin, mulut terasa kaku, air liur terasa pahit dan kepala terasa sakit.


Dia menyoroti setiap sudut kamar, mencari keberadaan Tara. Tapi Dia tidak menemukannya. Dia merasa legah sekali.


Suara Gondang, seruling serta onang- Onang terdengar jelas ke kamar mereka di lantai dua. Ya acara manortor tidak akan berhenti, kecuali disaat dapat waktu sholat.


Embun berjalan ke arah balkon ingin melihat acara manortor dari atas balkon, yang memang bisa jelas terlihat dari atas.


Dia langsung berdecak kesal, disaat matanya tertuju kepada Tara yang duduk di pelaminan dengan memakai kaca mata hitam.


Setelah berdecak kesal karena melihat Tara, Embun malah tertarik untuk melihat suaminya itu berlama-lama.


"Aku kenapa sih? Aku tu kesal banget sama Dia. Tapi, kenapa Aku jadi penasaran kepadanya? bahkan kadang Aku ingin melihatnya lebih lama." Ucap Embun kesal, meninju beton pembatas balkon. Dia sungguh membenci dirinya, yang bisa pusing jikalau berinteraksi dengan Tara.


Dia pusing, karena hatinya bertolak belakang dengan sikap dan prinsipnya. Di otaknya sudah terdoktrin, bahwa Tara adalah manusia yang paling dibencinya. Tapi, hatinya ingin dekat dengan Tara.


"Arrggh.... Kenapa sih Dia itu menyebalkan sekali..?" teriak Embun, melap air matanya dan berjalan cepat ke kamar mandi.


TBC

__ADS_1


Tinggalkan jejak like coment positif dan Vote dong say. Jejak kalian sangat mempengaruhi popularitas novel ini 😍🙏


__ADS_2