DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Jangan salahkan cinta


__ADS_3

"Ibunya Bos menjual rumah yang di Surabaya. Apa Bos tahu alasannya?" Ardhi belum membuka lembaran dalam file yang sudah ada di tangannya. Cara Rudi berbicara membuat Ardhi tidak tertarik memeriksa lembaran dalam map itu. Dia lebih penasaran dengan apa yang akan di ucapkan Rudi berikutnya.


"Mama mau tinggal menetap denganku di sini. Dan Mama menyumbangkan semua hasil menjual rumah ke panti asuhan." Jawab Ardhi polos, sesuai dengan laporan Ibunya.


Hahahaha... Rudi sudah mulai mabuk. Dia merasa Bos nya ini terlalu polos, sehingga percaya saja dengan ucapan sang Ibu. Rudi saja sudah menaruh kecurigaan, kepada Ibu Jerniati dan Anggun. Disaat Embun diculik oleh calon istri bosnya itu.


"Sebaiknya Bos periksa dulu dokumen yang ku berikan!" seru Rudi, pria itu kembali meneguk minuman alkohol yang ada di tangannya.


Kecemasan Ardhi semakin menjadi saja, setelah mendengar ucapan Asisten Rudi yang seolah mengajaknya berfikir. Dia pun menghela napas dalam dan membuang pelan. Mulai membuka map file di tangannya.


Lembaran pertama adalah foto-foto sang Ibu. Kening Ardhi menyergit melihat foto Ibunya tersebut. Tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.


Ibunya itu sedang berpose mesra dengan pria yang nampak masih muda yang diperkirakan, usianya sama dengan dirinya. Saat ini Ardhi belum berfikiran negatif pada ibunya itu. Tapi, di lembaran berikut nya. Ardhi sungguh tidak sanggup melihat fose sang ibu dengan pria itu.


"Astaghfirullah..!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya hancur melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Benarkah itu sang Ibu? hati kecilnya mengatakan tidak. Tapi, bukti ada di depan mata.


Dengan tangan gemetar Ardhi kembali membuka lembaran hasil laporan penyelidikan yang dilakukan oleh Asistennya itu. Selain foto ibunya yang tidak wajar bersama seorang pria. Di dalam map file itu juga, tertera banhaknya hutang sang ibu.


"A--pa ini Rud. Ini tidak benar, informasi yang kamu berikan ini tidak valid." Ardhi melempar map file itu kepada Rudi. Pria yang setengah teler itu pun menangkap map file.


"Sabar Bos. Itu memang Nyonya." Tegas Rudi, kembali meneguk minumannya. Rudi pun akhirnya meneteskan air mata. Karena dia juga punya pengalaman seperti Bosnya itu. Tapi, sang Ayahnya lah yang punya perilaku bejat seperti itu. Bahkan sang Ayah meninggal di tempat kotor itu, saat melakukan maksiat.


"Tidak Rud, Mama tidak seperti itu. Dia wanita yang baik. Tauladan ku, dia penyemangat hidupku. Harta yang ku miliki satu-satunya di dunia ini" Ucap Ardhi frustasi. Pria itupun memijat kepalanya yang sudah mulai terasa sakit.


"Itu faktanya Bos. Pria itu suami sirihnya Nyonya. Pria itu sudah beristri. Dan nyonya dibuatnya sebagai ATM berjalannya." Kedua mata Ardhi melotot mendengar ucapan sang Asisten. Dia berulang kali menggeleng kan kepala nya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


Rasa sakit yang dirasakan Ardhi saat ini begitu besar dan dalam, Rasanya lebih sakit daripada ditinggalkan Embun.


Sang Ibu menyimpan perilaku seburuk itu. Kalau benar sang ibu, ingin menikah, kenapa tidak membicarakannya padanya. Kenapa malah salah memilih pria dan mau dijadikan istri siri.


Ardhi begitu kecewa pada ibunya. Ibu, sosok sang Ibu buat Ardhi saat ini adalah orang terdekatnya. Dikecewakan oleh orang terdekat merupakan pengalaman yang sangat tidak  menyenangkan. Hatinya terluka sangat dalam.


"Bos, anda baik-baik saja?" Rudi memegang bahu Ardhi yang nampak menahan emosi dengan meremas wajahnya kasar. Tarikan napas Bosnya itu terdengar kasar dan tak teratur. Seperti nya Bos nya itu sedang menahan amarahnya yang hampir meledak itu.


Tanpa pikir panjang, Ardhi meraih gelas berisi minuman beralkohol yang ada di hadapannya. Minuman yang dari tadi, ditolaknya. Tapi kini dia akan meneguknya.


Sebelum minuman itu masuk ke dalam organ pencernaannya. Dia menatap gelas itu denan penuh amarah dan Ardhi pun meminum, minuman haram itu.


Glukk...glukk.. glukk.


Gelas yang kosong, kini sudah diletakkan kembali di atas meja.


Wajah Ardhi menyergit masam, setelah meneguk minuman haram itu. Rasanya tidak cocok dengan lidah pria itu. Dia ingin memuntahkannya. Tapi, dia ingin merasakan efek dari minuman itu.


Kata asistennya itu, jikalau meminum minuman haram itu, maka pikiran akan plong. Segala masalah terbang jauh dan menghilang tanpa bekas.


Happy....


Happy...


Happy...

__ADS_1


Begitulah sugesti yang diucapkan oleh sang asisten. Ardhi pun terperangah melihat kelakuan sang Asisten.


"Bos, kita sama. Nasib kita sama Bos." Celetuk Rudi yang sudah mulai hilang kesadaran itu.


"Nasibku lebih parah Bos. Sangat parah!" Sang asisten menitikkan air mata. Ardhi tidak menyangka Rudi yang terlihat gagah itu, bisa menangis juga.


Ardhi yang terluka itu, mencoba mendengar curhatan sang Asisten.


"Bos selalu tanyain kan kenapa aku gak percaya cinta? ya karena cinta itu gak ada Bos. Manusia itu tidak ada yang setia. Manusia itu sifatnya Baharu. Bisa berubah dengan keadaan. Manusia itu gampang tergoda." Ucapan sang Asisten semakin membuat hati Ardhi sakit. Dia teringat kepada Embun yang mengkhianati cintanya. Yang meninggalkan dirinya. Padahal wanita itu dulu yang selalu berjanji setia untuk selamanya, sampai maut memisahkan.


"Ibuku selingkuh dengan pria yang usianya masih muda. Saat itu Ayah dan ibu LDR an. Ibu yang punya usaha menjual sarapan, kepincut dengan pemuda pemalas yang hanya bermodalkan tampang. Dengan mata kepala ini aku melihat mereka berzina di kamar.


"Tahu gak bos, saat itu usiaku empat belas tahun. Aku masih duduk di kelas dua SMP. Aku down Bos, aku terluka. Tapi, aku yang masih kecil ini tak bisa berbuat apa-apa.


"Yang lebih menyakitkan lagi Bos, disaat perselingkuhan Ibu diketahui orang sekampung. Ibuku sudah hamil. Dia lari dengan pria itu dan meninggalkan aku. Dia lebih memilih selingkuhannya, daripada aku anaknya. Tapi, yang lebih membuat aku tambah tertekan adalah. Ternyata pria itu meninggalkan ibuku. Padahal ibu sudah memilihnya. " Ucap pria itu Lirih. Kini Rudi benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.


Ardhi termangu mendengar cerita asistennya itu. Dia tidak menyangka asistennya itu, punya kehidupan yang buruk di masa kecil.


"Ayah defresi dengan kelakuan Ibu. Sehingga Ayahpun terjerumus ke dalam maksiat itu. Bodoh, memang bodoh!" Ardhi kembali meneguk minumannya, dia bahkan sudah menghabiskan satu botol.


Melihat Rudi begitu menikmati minuman haram itu. Ardhi pun akhirnya ikut-ikutan. Mereka senasib, jadi mereka memutuskan untuk melupakan cerita pilu itu dengan mabuk-mabukan


"Bos, jangan marahi Nyonya. Rangkul dia Bos. Arahin Bos, sebelum Nyonya terjerumus semakin dalam." Rudi masih saja bicaraara bijak. Padahal dia sudah mabuk berat.


"

__ADS_1


__ADS_2