
"HENTIKAN..... DIAM..... !" teriak Melati dengan berurai air mata. Ucapan pria dihadapannya begitu menyakitkan. Pria itu menuduhnya berzina. Dia tidak menyangka Ilham tega mengatakan kalimat sekejam itu.
Melati menatap tajam Ilham yang sedang menampilkan ekspresi wajah terkejut. Pria itu baru kali ini melihat Melati semarah ini. Wajah cantik itu penuh dengan kesedihan serta tertekan. Wanita itu tidak bisa menahan emosinya lagi.
Ilham jadi tidak tega melihat wanita yang begitu mencintainya, dalam tertekan bathin. Dia sengaja mengatakan kata-kata kejam seperti itu, agar wanita itu mau bicara. Diajak bicara baik-baik Melati selalu bersikap tertutup.
"ABANG AKAN MENGHABISINYA SEKARANG!!!" Ilham geram bukan main. Mata tajamnya memerah. Tangannya mengepal kuat. Tarikan napas penuh keputusasaan terdengar jelas. Dia merasa sedih dan kesal bukan main, akan kejadian yang menimpa Melati.
Melati yang tadinya tersentak dengan kalimat Ilham yang menyudutkannya. Kini semakin ketakutan dengan ekspresi wajah Ilham yang seperti predator siap menerkam mangsanya.
"Bang, jangan... Jangan lakukan itu!" Melati berlari cepat, menarik tangan kanan Ilham, agar tidak pergi dari ruangan itu. Dia tidak mau, Ilham terseret dalam masalah ini.
__ADS_1
Ilham menghempaskan tangan Melati yang memegang erat pergelangan tangannya. Pria itu masih membelakangi Melati.
"Bang, jangan pergi!" kali ini Ilham akhirnya memutar tubuhnya. Suara Melati yang memohon penuh dengan kesedihan itu, membuatnya jadi tidak berdaya.
Melati melepaskan tangan Ilham. Wanita itu terduduk dan menundukkan kepalanya, di hadapan Ilham. Pria itu semakin sakit hati melihat sikap lemahnya Melati saat ini.
"A--ku, A--ku tidak mau seluruh dunia mengetahuinya. Aku tidak sanggup mendengar komentar dari orang-orang untukku nantinya. Orang kampung akan menggunjingku. Keluargaku akan malu, Ayah dan Ibu akan kecewa." Melati menangis sesenggukan di hadapan Ilham yang kini masih menjulang di hadapannya. Melati masih terduduk lemah di hadapan pria itu.
Wanita yang sangat dicintainya, wanita yang dijaganya, telah dinodai oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Saat ini hati Ilham sangat hancur. Ingin rasanya dia mengirimkan Ardhi ke neraka. Tapi, lihatlah wanita baik di hadapannya, masih membela pria berengsek itu.
Pria bodoh mana yang akan diam, disaat mengetahui wanita yang diimpikannya, dihancurkan dengan kejinya. Melati berkeliaran di tengah malam. Tentu karena wanita itu ingin menyelamatkan diri.
__ADS_1
Ilham sangat terpukul dengan fakta ini. Dia gagal sebagai seorang pria, karena tidak bisa menjaga wanita baik di hadapannya saat ini.
"Tidak bang, tidak ada gunanya. Ini aib, aku tidak mau orang memandangku hina. Tidak semua orang selalu berkomentar positif. Aku tidak mau Ayah dan Ibu sedih. Aku tidak mau mereka nantinya jadi bahan gunjingan." Melati berbicara dengan derai air mata, menatap Ilham dengan frustasinya.
"Dek, Melati, sadar kamu!" keadilan harus kamu dapatkan!" Ilham menggoyang tubuh Melati yang seperti orang tidak punya arah tujuan itu. "Kamu dilecehkan, Abang tidak terima. Dia harus dapat hukuman setimpal." Ilham geram dengan Melati yang lemah. Dia pun akhirnya meraih Melati keperluannya.
Tangis Melati pecah. "Aku sudah hancur..... Mereka orang kaya bang. Kita tidak bisa melawannya. Aku tidak mau ayah dan ibu jadi kepikiran di kampung." Melati yang butuh teman berbagi itu, akhirnya memasrahkan dirinya dirangkul Ilham. Dia butuh teman berbagi, yang benar memahami keadaan mentalnya saat ini.
Ilham mendongak, mencoba menahan air mata yang memberontak ingin keluar itu. Dia sangat sedih mendapati Melati dilecehkan.
"Aku tidak mau mau menuntutnya. Aku sudah tahu hasilnya nanti. Aku akan tetap kalah dan orang-orang sudah mengetahui tentang aib itu." Melati masih menangis dalam dekapan Ilham. Dia sampai melupakan batasannya dengan Ilham. Tak seharusnya dia berpelukan dengan pria itu.
__ADS_1
"Aib, Aib apa?"