
"Aku menendang alat vitalnya. Karena mereka sedang mesum di saung itu." Ucap Embun dengan intonasi tegas yang membuat semua penghuni ruangan melihat ke arah Embun dengan ekspresi wajah tidak percaya.
Kemudian orang-orang di ruangan itu kembali menoleh ke arah Tara. Merasa dipretelin, Tara malah menutup organ diantara selangkangannya dengan kedua tangannya. Padahal Dia kan masih berpakaian lengkap.
Tara menggeleng, Dia sangat terkejut dengan ucapan Embun yang tidak punya rem itu.
"Astaghfirullah.... Apa yang kamu lakukan Embun? aduhhhh..... pahoppu ( cucu ) ku sayang, kamu tidak kenapa-kenapa kan? tidak ada luka yang serius kan?" Ompung Boru mereka begitu khawatir, mendengar benda pusakanya Tara kena tendang. Dia sampai mendekat ke Tara, memperhatikan tubuh cucunya tersebut dengan seksama. Tentunya kedua mata rabunnya yang memakai kaca mata presbiopi itu tertuju ke selangkangannya Tara. Yang membuat Tara menjadi malu.
Tara diam tidak menjawab pertanyaan konyol Ompungnya itu. Jelas saja benda pusakanya kesakitan saat kena tendang Embun. Tapi, syukur telornya gak sampai pecah.
"Kenapa diam? ayo kita periksakan ke dokter kelamin? Ompung tidak mau nantinya ada masalah dikemudian hari." Ucap Ompung Boru mereka. Dia menarik tangan Tara keluar dari kamar tempat Embun dirawat. Tapi, Tara tidak bergeming dari tempatnya. Sungguh kelakuan Neneknya ini membuat Tara sangat malu. Ingin rasanya Dia menyembunyikan wajah ke dalam tanah, bergabung dengan cacing-cacing kepanasan. Itu rasanya lebih melegakan, dibanding membahas organ sensitifnya dihadapan Embun dan juga orang tuanya.
"Tidak apa-apa koq Pung? hanya nyeri sedikit, namanya juga kena tendang. Tapi, tidak ada hal serius." Ucap Tara dengan malunya, Dia sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dan berbalik menghindari tatapan mata Embun yang melotot itu.
Embun pun sebenarnya sangat malu. Dia tidak menyangka, pria yang di bandara dan yang diserangnya di dalam saung adalah Tara. Dia juga akan sangat malu, jikalau Tara tahu bahwa Embun sudah memeluk-meluknya di bandara. Sesaat Embun terdiam. Haruskah Dia melanjutkan niatnya memperkeruh suasana, agar pernikahannya dengan Tara batal.
Lagian Embun yakin, wanita yang bersama Tara adalah wanita yang spesial buatnya. Walau Mama Mira, menanyakan pacar Tara yang dikatakan Embun.
"Apa yang kamu lakukan Embun? kamu jangan menyesal nantinya jikalau Tara tidak bisa memuaskan mu. Gara-gara ulah gilamu itu." Ompung Boru merepeti Embun, Sedangkan suami dan anak-anaknya dan menantunya. Dibuat tercengang dengan ucapan Ompung Boru yang tidak punya rem itu.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ompung Boru mereka ini. Kenapa jadi mempermasalahkan burungnya Tara. Padahal Embun yang harusnya sekarang dikhawatirkan.
Embun menangis dengan sedihnya, karena dimarahi Ompung Boru. Dia yang terluka, kenapa malah Dia yang dimarahi. Kenapa setiap tindakan Embun ,selalu salah dan gagal. Itu semua gara-gara Tara.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bahwa Dia adalah Tara." Ucap Embun dengan sesunggukan. "Kenapa Ompung malah memarahiku. Aku harus menahan sakit disekujur tubuhku. Gara-gara Dia dan pacarnya itu."
"Pacarnya siapa sayang?" Mama Mira menatap lekat wajah parumaennya itu. Sungguh mereka tidak mengerti dengan arah pembicaraan Embun.
"Abang Tara dan pacarnya itu. Mereka sedang bermesraan di saung itu. Itu tempat wisata, bukan untuk tempat mesum. Makanya Aku menjambak rambut pacarnya itu. Kemudian menendang selangkangannya Abang Tara. Aku tidak tahu, bahwa Dia adalah Tara." Embun mengatakan sebenarnya, walau sebenarnya Dia hanya dendam saja. Karena Tara dan Ros membawanya kembali ke kampung mereka. Seumpama ada pasangan berzina di saung itu pun, Dia tidak akan peduli. Dia hanya ingin membalas Tara dan Ros. Yang diawal dianggapnya adalah pasangan kekasih.
Mama Mira melihat ke arah Tara d egan wajah penuh selidik dan tanda tanya. Tara menggeleng, menolak pernyataan Embun.
"Apa maksudmu Ros?" tanya Mama Nur. Embun Mengangguk.
"Setahu Bou, Ros itu sekretarisnya Tara, dan mereka tidak ada hubungan. Ros bahkan kenal dekat dengan Bou." Mama Mira mencoba memberi penjelasan kepada Embun. Walau sebenarnya Embun tidak mempermasalahkan mau Tara punya cewek atau tidak. Dia hanya ingin keluar dari perjodohan ini. Jika Dia bisa membuktikan bahwa Tara punya kekasih. Dan kenapa harus dinikahkan dengannya.
"Tara, apa yang sebenarnya terjadi?" Pak Baginda kembali bertanya. Dia sungguh tidak mengerti masalah yang dibahas ini.
"Oohh tidak, cukup sudah ceritanya. Ayo kita periksa pahoppuku. Aku tidak mau, ada saraf yang putus di aset berharga mu itu." Ompung Boru Tara akhirnya menyeret Tara dengan kasar. Orang-orang di ruangan itu hanya menyaksikan kekhawatiran Mama mereka yang berlebihan.
Tara dan Ompungnya pun mendaftarkan diri untuk berobat. Kebagian kulit dan kelamin.
Sedangkan di ruang inap Embun. Mama Mira menjelaskan Siapa sebenernya itu Ros. Embun tidak terima penjelasan Mama Mira.
"Bou, Abang Tara dan Ros lama berteman saat kuliah di Australia. Benar begitu?" ucap Embun dengan tegas walau masih menahan sakit. Mama Mira mengangguk, sedangkan penghuni lainnya hanya sebagai pendengar.
"Hingga mereka dekat dan Tara menjadikannya sekretarisnya dan kemana-mana Tara selalu membawa Ros. Disini saja ada yang mencurigakan. Permainan anak muda di Negeri bebas seperti Australia, tidak bisa menjamin. Ros dan Tara pasti ada hubungan dan Aku tidak mau masuk dalam hubungan itu." Ucap Embun menatap lekat Mama dan Bounya. Dia masih berbaring.
__ADS_1
"Jadi Ayah, Mama, Amangboru, Bou dan Ompung Doli. Disini Embun katakan, bahwa sebaiknya perjodohan ini dibatalkan saja." Ucap Embun Dia pun menutup matanya. Dia tidak mau melihat Ekspresi orang tuanya yang akan marah.
"Apa maksudmu Embun?" tanya Pak Baginda geram, Dia berjalan ke arah bed tempat putrinya berbaring.
"Tolong buat kalian semua. Kedatangan kalian membuat ku semakin tersakiti. Putrinya sudah babak belur. Masih juga dibentak. Aku tidak mau menikah. Apalagi menikah dengan pria yang sudah punya kekasih." Ucap Embun menangis. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela ruangan.
Mama Mira dan suaminya terkejut dengan pernyataan calon menantunya itu. Dia tidak menyangka Embun akan menolak menikah dengan putranya. Sedangkan Ompung Doli hanya diam di sofa. Dia tidak mau ikut campur.
"Ma, Aku mau istrirahat. Aku juga ingin pakai pakaian jangan sarung saja." Rengek Embun, Dia malas melihat ke arah Ayahnya.
"Sayang, Tara sangat mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang. Ros bukan kekasihnya. Percaya sama Bou ya? kalau memang kamu benci sama Ros. Karena Dia memukulmu, biar Bou bicara sama Tara agar Ros minta maaf. Jangan menolak menikah ya sayang!?" Mama Mira nampak membujuk Embun, kedua bola matanya nampak berkaca-kaca. Sempat Embun tidak mau menikah dengan Tara. Mungkin selamanya anak nya itu akan menjadi bujang lapuk. Karena Tara hanya ingin menikah dengan Embun.
Embun sangat kesal dan tidak suka mendengar ucapan Mama Mira. Apa mereka tidak tahu, bahwa dipaksa menikah itu sangat tidak menyenangkan. Apalagi Embun sudah mempunyai kekasih.
"Ya Allah.... apa yang harus kulakukan?" gumam Embun dalam hati. Sungguh Dia sudah terjebak. Sepertinya bagaimana pun Dia menjelaskan. Pernikahan ini tidak bisa dielakkan.
"Mas Ardi.... Apa kamu mendengarku? tolong jemput Aku dari sini. Bawa Aku lari." Embun membathin, air matanya menetes lagi dari sudut matanya. Mama Nur mengelus kepala putrinya dengan sayang. Sedangkan Mama Mira, suaminya dan Pak Baginda. Memilih duduk di sofa bergabung dengan Ayah mereka.
Mereka akan membahas Kembali, keputusan yang sudah diambil tadi saat Martahi. Keputusan yang diambil pernikahan akan dilaksankan dua minggu lagi. Serta pesta Adat akan dilaksankan seminggu kemudian di rumah barunya Tara.
TBC
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
__ADS_1
Misteri Jodoh