DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Suara Ardhi


__ADS_3

Kini mobil mewahnya Tara sudah melaju membelah badan jalan menuju pusat kota PSP untuk membelikan ponsel kepada Embun. Sepanjang perjalanan, senyuman indah merekah, tak pernah lepas dari raut wajah Tara yang nampak bahagia sekali.


Bagaimana tidak bahagia, wanita yang akan menjadi istrinya ini, meminta sesuatu kepadanya. Tentu saja, itu sebagai pertanda baik untuk kelanjutan hubungan mereka. Tara berasumsi, Embun sudah tidak membencinya lagi dan welcome kepada hubungan mereka.


Apalagi kejadian di kamar mandi, masih terus terekam di pikiran Tara. Yang membuatnya selalu senyam senyum. Tubuhnya sampai bergetar, jikalau tubuh polosnya embun terlintas dipikirannya. Iihhhh..... Dia merinding.


"Apa---? Apa---? kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? menertawakan saya ya?" ucap Embun ketus kepada Tara. Menampilkan ekspresi wajah kesal.


Tara terlonjak kaget mendengar suara Embun yang marah. Dia memegangi dadanya yang berdetak cepat itu. Kemudian melirik Embun dengan terseyum. Maklumlah, kalau Embun kesal, suaranya jadi melengking.


"Adek ngagetin saja. Siapa yang menertawakan Adek." Jawab Tara, kembali fokus menyetir dan mencoba menahan untuk tidak tersenyum. Tapi, tetap saja Tara tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang lagi bahagia itu. Pagi-pagi dapat pemandangan indah, membuatnya jadi semangat.


"Eellle--- Dasar mesum. Pasti otak kotor mu itu masih menari-nari, karena kejadian di kamar mandikan? ayo ngaku--!" ucap Embun berang. Dasar Embun, tidak ada sopannya kepada calon suami.


Tara terdiam, benar memang yang dikatakan Embun. Tubuh polos Embun, melintas terus dipikirannya. Cara bicara Embun yang jutek, menandakan, sepertinya Embun masih benci kepadanya. Gaya bicaranya saja, tidak ada kelembutan dan tutur sapa.


"Kamu bisa gak sih, ngomongnya sedikit sopan. Biar enak gitu didengar. Jangan manggil Aku, pakai kamu atau loe gua. Kita masih saudara kali." Ucap Tara, melirik Embun yang menampilkan ekspresi wajah masam.


Embun terdiam. Dia mengubah posisi duduknya membelakangi Tara. Menatap keluar jendela mobil. Dia malu, benar memang kata Tara. Dia tidak sopan kepada pria itu. Tapi, namanya tidak suka. Ya tentu gaya bicaranya gitu deh. Apalagi Embun, tifikal cewek yang blak-blakan. Dia tidak pandai manis dibibir. Kalau tidak suka, ya ngomongnya jadi kasar gitu.


"Maaf, kalau Saya salah ucap. Tapi, apa salahnya memanggil saya itu dengan sebutan Abang atau Iban (Singkatan dari Pariban)." Ucap Tara hati-hati. "Kitakan Pariban-an." Tara melirik Embun yang masih memunggunginya.


"Iban Embun," Embun terlonjak kaget dari tempat duduknya. Disaat Tara menyentuh pundaknya dan memanggilnya dengan sebutan IBAN. Embun sedang melamun. Memikirkan hubungannya dengan kekasihnya Ardhi.


Dengan cepat Embun menepis tangan Tara. "Apaan sih, megang-megang?" ketus Embun menatap kesal Tara.


Tara menarik napas dalam. "Kita sudah sampai Iban, kamu melamun ya?" ucap Tara menatap Embun yang nampak linglung menatap sekitar.


"Oohh sudah sampai." Ucap Embun, sambil melepas seatbeltnya.

__ADS_1


"Saat Tara hendak membuka pintu mobilnya. Ponsel dalam saku celananya bergetar. Dia pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil, meminta Embun tidak keluar mobil dengan memberi kode gerakan tangan. Merogoh ponselnya dari saku celananya. Ada nama rose sedang melakukan panggilan suara di layar ponselnya.


"Ya Ros, ada apa?" ucap Tara, Dia mengaktifkan speaker, karena suara bising kendaraan.


"Kontraktor yang menangani bangunan perusahaan baru kita di kota M. Tidak bisa mengadakan pertemuan denganmu malam ini. Katanya Dia ada urusan keluar kota. Jadi, beliau menawarkan pertemuan melalui zoom saja. Aku akan mengirimkan link Zoomnya nanti." Terdengar suara Rose yang tegas dan lantang.


"Baiklah, padahal Aku ingin sekali membicarakan proyek ini secara langsung dengan beliau. Bahkan Aku sudah meluangkan waktuku yang mepet hari." Jawab Tara dengan penuh kekecewaan.


"Iya sih, tapi kan bisa dibicarakan via zoom." Tegas Ros."


"Iya, kamu atur saja semuanya. Pastikan semua pekerjaan tidak ada yang keteteran. Aku percaya padamu Ros." Ucap Tara, melirik Embun yang berdehem di sebelahnya. Mengibas-ngibaskan rambutnya dengan tangannya. Seolah merasa panas di dalam mobil yang ber AC.


Tara tersenyum dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Rose, sekretarisku." Ucap Tara memperhatikan Embun yang ingin membuka pintu mobil.


"Gak nanya." Jawab Embun cepat dan turun dari mobilnya Tara. Berjalan ke dalam Mall, mencari counter HP. Tara pun mengekori Embun.


"Bang, Aku mau beli ponsel terbaru yang aplikasinya lengkap untuk anak kuliahan dan kameranya yang bagus untuk foto." Ucap Embun, setelah duduk di bangku dekat etalase. Tara pun mendudukkan bokongnya disebelah Embun.


Setelah mendengar penjelasan si pelayan counter. Embun melirik Tara yang nampak sedang sibuk dengan ponselnya. Dia ingin menyapa Tara, berapa kemampuan uang yang dimiliki pria itu. Tapi, Dia enggan untuk berkata manis. Jadilah Dia meminta penjaga counter untuk menegur Tara.


"Eehhmmm--- Maaf Bang, cewek Abang ingin Abang sendiri yang memilih handphone untuknya." Ucap si penjaga toko dengan polosnya. Dia tidak melihat ekspresi wajah Embun yang melotot kepadanya. Embun kesal, kenapa pula si penjaga toko mengatakan hal demikian. Tahu begitu, mending Dia yang menanyakan langsung kepada Tara.


Tara yang sibuk dengan ponselnya, akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Embun dan beralih kepada penjaga counter.


"Berikan yang terbagus." Jawab Tara melihat kepada penjaga counter.


"Emang Adek mau yang mana?" tanya Tara, menatap Embun yang bingung dan merasa tidak enak hati.


Embun merasa ponsel yang ditawarkan penjaga ini, terlalu mahal. Walau Dia dari keluarga kaya. Orang tuanya tidak terlalu memanjakannya. Orang tuanya hanya membelikan nya ponsel seharga tiga jutaan.

__ADS_1


Embun sebenarnya punya dua ponsel. Satu pemberian Ardhi, ponsel dari Ardhi sendiri harganya sangat mahal sekitar 15 jutaan. Dan ponsel itu terjatuh di kebun salak saat pelariannya.


"Yang ini saja." Embun meraih ponsel dengan harga 2 juta. Dia tidak mau terlalu banyak berhutang Budi kepada Tara. Toh, Dia ingin pernikahan ini batal. Kalau Dia sudah punya ponsel, Dia akan menghubungi kekasihnya Ardhi. Memintanya untuk membawanya pergi.


Dia tidak peduli lagi dengan semuanya. Ditentang keluarga pun Dia akan jalanin. Karena Dia sudah bosan dikekang dan diatur boleh Ayahnya.


Saat ini hanya satu kelemahan Embun. Yaitu Ompung Borunya (Nenek). Semoga Ompungnya mau merestuinya dengan Ardhi. Dia akan mempromosikan habis-habisan Ardhi dihadapan Ompungnya. Karena Ardhi memang pria baik dan mapan.


Tara melirik Embun " Yakin mau yang itu? katanya mau cari ponsel yang aplikasi cocok untuk anak kuliahan dan fotonya bagus. Kalau kamu milih itu. RAm nya kecil itu." Ucap Tara, memilihkan ponsel yang harganya 12 juta kepada Embun.


"Jangan, jangan yang itu. Aku ingin yang ini saja." Embun langsung menyodorkan ponsel pilihannya kepada penjaga counter.


Tara pun mengalah, Dia tidak mau memaksa Embun. Dia tahu Embun saat ini sedang tidak enak an kepadanya. Karena Dia tahu, Embun tifikal wanita punya harga diri. Karakter Embun memang baik dan apa adanya.


Transaksi beli ponselpun selesai, Tara yang punya waktu banyak. Karena jadwal keberangkatan ke kota M, gagal. Meminta Embun menemaninya untuk minum kopi di Restoran yang ada di Mall itu. Embun pun mengiyakan ajakan itu.


Tara sengaja mengajak Embun minum kopi atau teh. Karena Dia akan melakukan Meeting Zoom dengan relasi kerjanya.


"Kita sebentar ajakan disini. Aku harus ke GraPARI lagi. Mau aktifkan no lama ku." Ucap Embun pelan, Dia merasa enggan Kepada Tara. Yang menurutnya sudah baik kepadanya.


"Iya, hanya sebentar." Ucap Tara terseyum kepada Embun yang duduk di hadapannya.


"Aku hanya ingin zoom meeting." Tara pun memposisikan ponsel canggihnya di meja. Zoom meeting pun berlangsung.


"Assalamualaikum... Pak Ardhi, Apa kabar?" suara Tara, menarik perhatian Embun yang mengotak Atik ponsel barunya. Dia mendengar Tara menyebut nama Ardhi.


Ardhi kan nama kekasihnya. Apakah yang melakukan zoom dengan Tara itu adalah Ardhi?


Praduga-praduga itu membuat Embun tidak tenang. Ingin rasanya Dia ikut nimbrung di aplikasi tersebut. Tapi, tentu saja itu tidak mungkin. Akhirnya, Embun mencoba menguping pembicaraan Tara melalui zoom tersebut.

__ADS_1


TBC


Mohon tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote.


__ADS_2