
"Restu Keluarga Adalah Kunci Bahagia Pernikahan. Sepertinya kamu tidak bisa diberi nasehat saat ini. Karena rasa cintamu sedang menggebu-gebu. Hanya satu pinta Ompung. Jangan permalukan Keluarga besar kita. Undangan sudah disebar." Ucap Ompungnya dengan menitikkan air mata. Wanita tua itu keluar dari kamar Embun dengan dituntun oleh Mama Nur. Saat itu juga, Ompung Boru terkejut melihat sosok pria di ambang pintu.
"Tara, kamu kenapa berdiri di situ?" tanya Mama Nur, berbasa-basi. "Ayo, Nantulang mau bicara sama kamu." Ucap Mama Nur tersenyum. Tara pun mengiyakan ajakan Nantulangnya itu. Dia ikut memapah neneknya, hendak meninggalkan kamar Embun.
"Tunggu----! Embun mau bicara sama Abang Tara." Ucap Embun. Lidahnya terasa terkilir menyebut Tara dengan sapaan Abang. Biasanya Dia memanggil Tara dengan kamu atau kau.
"Jangan terpancing dengan ucapan Embun." Bisik Mama Nur, kemudian menoleh kepada Embun. Memberi ancaman, agar lebih sopan kepada Tara. Dengan tatapan tajam. Embun yang mengerti dengan bahasa tubuh Mamanya. Akhirnya menunduk dan memalingkan wajahnya.
Dia tahu Dia memang kurang sopan. Tapi, Dia sengaja melakukan itu. Agar Tara ilfeel kepadanya.
"Iya Nantulang," ucap Tara, melepas rengkuhan tangannya dari bahu Ompung Borunya. "Pung, sarapan dulu ya, jangan banyak pikiran. Semuanya pasti beres." Tara menatap lekat Ompungnya dengan terseyum. Ompung Boru membalas tatapan Tata dan membuang napas berat.
Tara berjalan pelan menatap punggung Embun yang membelakanginya.
"Mau ngo,"
"Kenapa kamu menerima perjodohan ini Haaahhh--?" ucap Embun, memotong ucapan Tara. Dia berbalik dan menatap tajam Tara. Tatapan Embun penuh dengan kebencian. Padahal semalam, Embun sudah bersikap ramah kepadanya.
Sesaat Tara berfikir, bagaimana cara bersikap. Agar Embun, bisa lebih menghargainya. Tara merasa Embun terlalu merendahkannya. Entahlah, mungkin karena Embun tidak menyukainya. Sehingga sedikit pun tidak ada sikap manisnya Kepada Tara.
"Kenapa kamu menerima perjodohan ini---?" Embun yang tadinya bicara keras dan menampilkan ekspresi wajah penuh kebencian, kini sudah bicara lemah dan putus asa.
Tara yang hendak bersikap tegas dan keras. Agar Embun bisa lebih menghargainya. Urung dilakukannya, Dia malah kasihan melihat Embun yang kini terduduk di lantai, tepat di hadapannya. Menunduk dan menangis tersedu-sedu.
"Harusnya kamu tidak menerimanya. Kenapa kamu, selalu membuat hidupku menderita penuh dengan air mata." Ucap Embun sambil tersedu-sedu terduduk di lantai dengan lemahnya. Dia sedang dilema. Tara tahu itu.
Tara tidak tega melihatnya. Dia hanya diam mematung, memlerhatikan Embun yang terduduk lemah di hadapannya.
Awalnya Dia juga takut, menerima perjodohan nya dengan Embun. Karena Embun sedari kecil membenci nya. Tapi, ucapan Pak Baginda yang mengatakan bahwa Embun pun setuju. Akhirnya membuatnya menerima dengan senang hati dijodohkan dengan Embun. Karena Tara diam-diam menyukai Embun sedari mereka remaja.
"Apa yang harus ku lakukan?" ucap Embun lagi, Dia pun menurut saja disaat Tara menuntunnya untuk bangkit. Ingin rasanya Tara meraih Embun dalam dekapannya. Memberi penguatan kepadaqda wanita itu. Tapi, Dia takut Embun menepisnya.
"Kamu harus tenang. Kita akan lakukan sesuai keinginan mu. Membatalkan pernikahan ini." Ucap Tara, menatap wajah Embun yang bergelimang air mata. Sejurus kemudian, Embun melepas kedua lengan Tara dari bahunya. Mendudukkan tubuhnya di kursi meja belajarnya.
"Itu tidak mungkin, akan banyak korban dan masalah yang datang. Ayah akan membenciku selamanya. Ompung juga akan down. Aku tidak sanggup melihat Ompung nantinya masuk ke rumah sakit." Ucap Embun dengan frustasi. Menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Tara menghela napas dalam. "Kenapa seolah Adek saja, yang merasa terperangkap dalam masalah ini." Tara mendekati Embun yang duduk di kursi meja belajarnya. "Saya juga tertekan." Embun menoleh kepada Tara. Dia bisa melihat ekspresi wajah Tara yang frustasi. Tapi, Embun tidak terlalu memikirkan perasaan Tara. Dia tidak peduli dengan lelaki itu.
"Itu urusanmu. Salah sendiri, kenapa mau dijodohkan denganku." Ucap Embun berdecak kesal. Membuang wajahnya, menatap ke jendela dihadapannya.
Tara merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Embun. Akhirnya Dia memutuskan keluar saja dari kamar itu.
"Bawa Aku bertemu dengan Mas Ardhi." Ucapan Embun, membuat langkah Tara terhenti. Dia menoleh ke arah Embun yang juga melihatnya. Tara masih berdiri mematung. Embun menghampiri nya.
"Aku ingin bertemu dengannya. Bagaimana kondisinya?" Tanya Embun sembari menyeka air matanya.
Emang ya, mentang-mentang Tara diam saja. Embun semakin melunjak saja. Selalu memikirkan perasaannya sendiri. Tanpa memikirkan perasaan Tara yang juga merasa sakit, karena sikap Embun.
"Nanti saya kabari Adek. Kita bertiga memang harus membicarakan ini. Mencari solusi terbaik." Ucap Tara datar. Embun mengangguk.
__ADS_1
"Kamu harus sarapan dan jaga kesehatan. Karena saat ini, kamu harus punya tubuh yang sehat dan pikiran yang sehat juga. Agar bisa keluar dari masalah ini." Tara masih saja bersikap tenang kepada Embun. Walau hatinya sangat sakit saat ini.
Gimana tidak sakit. Dia yang awalnya merasa bahagia akan menikah dengan wanita yang dicintainya sudah lama. Akhirnya keinginan nya harus kandas. Karena Embun menolak Menikah dengannya.
"Nanti kita bicarakan lagi. Abang akan kabari kamu." Tara dengan cepat keluar dari kamar Embun, tentu saja dengan perasaan kacau.
Sepeninggalannya Tara, Embun bukannya sarapan. Dia malah mengunci kamar nya. Berjalan lemah ke arah ranjang dan mendudukkan bokongnya di tepi ranjang dengan pasrah.
Dia sedang dilema berat. Bingung mau ambil keputusan yang mana. Menikah dengan Tara atau menikah dengan Ardhi.
Kalau Dia bersih keras untuk ikut bersama Ardhi. Konsekwensinya, Dia harus kehilangan keluarga besarnya. Itu yang tidak bisa Dia lakukan. Dia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Walau Ayahnya bersikap Diktator.
Apalagi Ompungnya mengatakan, akan meninggal saja. Apabila Dia tidak mau menikah dengan Tara. Sungguh, ancaman Ompungnya membuatnya susah mengambil keputusan.
"Aaaarrgggghhh----!" Embun berteriak dengan histerisnya, sembari menarik rambutnya. Kepalanya mau pecah memikirkan semuanya.
Dia pun akhirnya menjatuhkan tubuh langsingnya di atas ranjang. Menelungkup dan membenamkan wajahnya di bantal. Dia mulai menangis sejadi-jadinya, sembari memukul-mukul ranjangnya dengan frustasinya.
***
Aku sungguh rela…
Bila harus memandangimu,
meski tak pernah melihat sedikitpun senyum di sudut bibirmu.
Aku sungguh sanggup..
Tertampar oleh kata-kata mu
yang sedikitpun tidak mau menerimaku..
Aku sungguh terima..
Bila Kamu harus terus-menerus menyuruh ku
Menyuruh agar pergi meninggalkanmu
Bahkan tak pernah kembali lagi.
Tara merutuki sikap bodohnya yang lemah dihadapan Embun. Dia menurut saja apa kata wanita itu. Dia begitu mencintai Embun, sehingga Dia tidak ingin membuat Embun menderita. Seperti kata Embun tadi, Dia sejak kecil sudah menderita karena nya. selalu menangis dibuatnya. Padahal Tara dari dulu, tidak ada niat jahat kepada Embun. Dia hanya cari perhatian, agar Embun mau bermain dan bercengkrama dengannya. Tapi, cara Tara selalu salah di mata Embun. Apalagi sejak kehadiran Doli.
Dengan pikiran kacau, Tara turun dari mobil mewahnya. Berjalan cepat menuju ruang tempat Ardhi dirawat. Walau Ardhi menolak bertemu dengannya. Dia tetap menemuinya. Karena Tara harus membebaskan Pak Baginda ayahnya Embun.
Tara menarik napas dalam, memperhatikan pintu ruang rawat inap nya Ardhi. Dia pun menghembuskan napasnya itu dengan kasar. Dia mengucapkan salam. Membuka pintu itu setelah salamnya dijawab.
Tara tersenyum menatap Ardhi yang nampak sedang duduk di atas bed, dengan ponsel pintar ditangan kanannya. Di kamar itu hanya ada Ardhi seorang.
"Aku sudah memprediksi, Pak Tara akan datang. Dan Aku tahu pasti apa tujuan Bapak datang kesini." Ucap Ardhi membalas senyuman Tara. Dia mulai meletakkan ponselnya disebelahnya. Mengubah posisi duduknya lebih tegap.
__ADS_1
Tara tersenyum, menarik kursi dan duduk di dekat bed nya Ardhi.
Ardhi terdengar menarik napas dalam dan menghembuskan nya. Menatap Tara dengan lekat. "Dalam urusan pekerjaan, kita bekerja sama Pak Tara. Tapi, dalam hal asmara kita harus bersaing." Ardhi terseyum, Tara pun ikut tersenyum.
"Tidak disangka, selain dalam hal pekerjaan, ternyata dalam hal asmara kita saling terkait." Jawab Tara mencoba bersikap tenang.
Ardhi terseyum. "Saya yang akan jadi pemenangnya Pak Tara." Ucapnya penuh percaya diri.
Tara mengangguk. "Harusnya Pak Ardhi bisa jadi pemenangnya. Tapi, Pak Ardhi sudah salah dalam mengambil strategi." Ucap Tara datar, tapi penuh keyakinan yang membuat Ardhi sedikit bingung.
"Maksud Pak Tara apa?" tanya Ardhi bingung.
"Tidak seharusnya Pak Ardhi melaporkan Pak Baginda ke pihak berwajib. Pak Ardhi tahu sendiri, siapa Pak Baginda?" ucap Tara, menatap lekat wajah Ardhi yang mulai pesimis.
"Yang bersalah harus dapat sanksi." Jawab Ardhi tegas.
"Iya benar. Tapi, yang Bapak penjarakan adalah calon mertua Bapak. Siapa sih yang mau anggota keluarganya masuk jeruji besi. Tentu tidak ada. Itulah sekarang yang sedang dirasakan Keluarga besar Embun. Mereka kecewa kepada Bapak. Jadi jelas Bapak kalah." Jawab Tara dengan terseyum.
Ardhi terdiam, ya Dia tahu tindakannya itu terlalu terburu-buru.
"Bapak tenang saja. Saya akan tetap ingin Bapak jadi pemenangnya. Saya tidak ingin bersaing dengan Pak Ardhi. Sekarang kita harus kerja sama, agar keinginan Bapak itu terwujud." Ucap Tara dengan ekspresi sedih.
Ucapan Tara membuat Ardhi tercengang. Kenapa Tara, tidak ngotot mempertahankan Embun?
"Kamu tidak mencintainya?" tanya Ardhi hati-hati, menatap lekat netra Tara yang sedikit berembun.
"Kami ini Pariban, kami ini sepupu. Walau Aku tidak menikah dengannya. Kami ini masih saudara. Embun bukan tipeku. Aku lebih suka dengan gadis beda suku atau beda ras." Ucap Tara terseyum kecut.
Ardhi menarik napas legah dan tersenyum. Dia bisa tenang. Ternyata penghalangnya satu sudah beres.
"Iya bener itu. Pria mapan seperti mu. Harusnya dapat wanita yang sukses dan sexy. Embun Memang tidak cocok denganmu Pak Tara. Dia saja masih anak kuliahan." Ucap Ardhi, mencoba mempengaruhi Tara. Agar yakin, Embun tidak cocok untuknya.
Tara mengangguk, kemudian menoleh kepada Ardhi. "Bener Pak, tapi Keluarga besarnya Embun hanya ingin Aku menikah dengannya. Bahkan pernikahan kami tinggal lima hari lagi. Itu tidak mungkin dibatalkan." Ucapan Tara membuat Ardhi jadi kalut. Dia nampak tidak tenang.
Ardhi terdiam dengan mulut sedikit menganga. Dia mendengar dengan seksama ucapan Tara.
"Poin kemenangan Bapak hanya satu. Yaitu Embun mencintai Bapak. Sedangkan dukungan dari keluarga Embun, Bapak tidak dapat. Sedangkan Aku punya banyak point kemenangan. Dimana point' yang kumiliki, bisa mempengaruhi Embun, agar tidak memilih Bapak Ardhi. Yaitu keluarga Embun." Ucapan Tara membuat Ardhi terpancing.
"Aku akan melakukan segala cara, agar bisa membawa Embun keluar dari rumah neraka itu." Ucap Ardhi penuh percaya diri.
"Tidak semudah itu Pak Ardhi. Embun sangat menyayangi keluarganya. Dia pasti tidak akan mau ikut dengan Pak Ardhi." Ucap Tara.
"Bebaskan Pak Baginda." Ucapan Tara membuat Ardhi menatap tajam kepada Tara.
"Kita harus kerja sama. Aku akan memberikan Embun kepada Bapak. Tanpa ada yang tersakiti. Tapi, dengan sebuah kesepakatan." Ucap Tara penuh tegas, menyembunyikan hatinya yang luka.
"Kesepakatan seperti apa yang akan kamu tawarkan pak Tara?" tanya Ardhi antusias. Dia sangat penasaran, apa yang diminta pria itu padanya. Sampai Dia rela memberikan calon istrinya kepada orang lain.
TBC
__ADS_1
like, coment positif dan Vote say 😊