DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Parsonduk Bolon


__ADS_3

Embun keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang. Dia merasa sangat bahagia, karena hubungannya dengan Tara membaik. Embun beranggapan, Tara masih ada di kamar itu. Duduk manis di atas ranjang menunggunya selesai mandi. Tapi, nyatanya dia tidak melihat keberadaan suaminya itu. Dia melongos kesal dan kecewa. Tara meninggalkannya sendirian di kamar. Melihat jam di dinding, waktu sholat sudah hampir lewat, Embun pun akhirnya sholat. Di akhir sholatnya dia berdoa, semoga suaminya itu selalu dilimpahkan kesehatan dan selalu bahagia.


Setelah sholat, Embun bersantai di atas ranjang, sembari menunggu kedatangan suaminya itu. Tapi, satu jam berlalu, Tara tak kunjung datang. Saat itu, kedua mata indahnya melihat keberadaan ponselnya di atas nakas. Padahal seingat dia, ponselnya itu disimpan di dalam tasnya.


Dia pun meraih ponselnya itu, berniat menghubungi Tara. Menanyakan di mana keberadaan suaminya itu.


Saat melakukan panggilan, Embun tersenyum, merasa lucu sekaligus kesal, dengan nama kontak Tara yang disimpannya.


"Kenapa sih, aku dulu membuat namanya dengan ini." Ucapnya tersenyum kecut, menyesali sikap bodohnya, yang terlalu membenci suaminya itu. Dan sekarang, dia malah sangat mencintainya.


"Benarkah cinta tidak harus memiliki?" ucapnya lagi, bicara sendiri dengan mata berkaca-kaca. Merasa sedih, dengan keputusan yang diambilnya dengan kembali pada Ardhi.


"Bagusnya dibuat nama apa ya? ucapnya lagi, sambil berfikir, nama apa yang cocok untuk Tara di dalam kontak ponselnya.


"My husband," ucapnya tersenyum, mengingat Tara, membuatnya bahagia. Dia pun mulai mengganti nama Tara di ponselnya. Dari pria najis, menjadi My husband. Tapi, setelah dilihat-lihat sebutan itu terlalu biasa. Embun merasa kurang sreg.


Dia kembali berpikir, mencari nama yang unik menurutnya. Sehingga dia pun menemukannya.


Hasianku. (sayangku, sebutan sayang dalam bahasa Batak)


"Ya, ini sangat cocok." Embun masih bicara sendiri, mulai menyimpan kontak Tara dengan nama Hasianku. Dia masih saja senyam-senyum, merasa sangat bersyukur, bisa dekat dengan Tara. Pria yang sangat dibencinya dan sekarang menjadi pria yang sangat dicintainya.


Embun masih merasa kurang puas, dia masih menatap ponselnya sambil berpikir lagi. Nama apa yang pas di hatinya untuk menyimpan kontak Tara di ponselnya. Nama Hasianku, menurutnya masih kurang pas. Terlalu singkat.


"Aaahha..... ini baru Kren." Embun mulai mengedit nama kontaknya Tara menjadi Hasianku perfect Husband." Embun dengan semangatnya, mengedit kontaknya Tara.

__ADS_1


Saat itu juga pintu kamar diketuk, jantung Embun berdetak cepat. Dia tiba-tiba saja, jadi merasa grogi untuk bertemu dengan Tara. Embun beranggapan, Tara yang mengetuk pintu.


Dia dengan cepat merapikan rambutnya. Menyetel wajahnya, agar menciptakan senyum yang paling manis. Tapi, betapa kecewanya dia. Ternyata yang datang adalah pelayan hotel. Yang membawakan sarapan untuknya. Senyum manis, berubah sudah jadi muka kecut.


"Selamat pagi Dek?" ucap pelayan yang berjenis kelamin laki-laki dengan ramahnya.


"Selamat pagi juga Bang!" jawab Embun dengan logat bataknya, menyesuaikan cara bicara pelayan yang membawa sarapan untuknya.


"Aku letakkan disini saja ya Dek." Sang pelayan hotel meletakkan sarapannya Embun di atas meja, dekat jendela.


"Iya Bang. Oh ya, apa Abang tadi bertemu dengan suami saya?" tanya Embun penuh harap. Dia sangat penasaran kemana suaminya itu.


"Gak dek, saya hanya diperintahkan Bos untuk antar sarapan kesini." Pelayan sudah selesai menata makanan di atas meja. Dia pun berniat untuk pamit.


Embun tidak tenang, dia pun menghubungi Tara. Kedua bibirnya tertarik kesamping, melengkung sempurna. Disaat melihat layar ponselnya yang menampilkan Hasianku perpect Husband.


Saat Embun menghubungi ponsel suami sempurnanya itu, malah terdengar deringan ponsel dari atas meja dekat tempat sarapan diletakkan. Embun berjalan ke arah meja tempat ponsel Tara terletak. Ternyata suaminya itu meninggalkan ponselnya. Embun semakin lemas dan kesal saja. Kenapa suaminya itu pergi, tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ponselnya juga ditinggalkan. Embun jadi merasa tidak tenang. Tidak biasanya suaminya itu seperti itu.


Embun meraih ponsel Tara dari atas meja. Memperhatikan ponsel Tara yang masih berdering, di layar ponsel itu tertera parson­duk bolon naburju (Parsonduk/Parsonduk Bolon \= isteri, ibu rumah tangga, nyonya rumah. Asal kata “sonduk” \= sendok dan “bolon” \= besar. Parsonduk \= yang menyajikan/ menghidangkan makanan untuk keluarga. ******Naburju****** : yang baik dan ber­sahaja)


Begitulah nama Embun disimpan dalam kontak ponselnya. Sebutan nama itu, bukanlah main-main. Sebutan itu punya makna yang dalam dan penuh arti.


Mengetahui itulah nama dirinya di save di ponsel suaminya, membuat Embun sedih sekaligus merasa bersalah. Ternyata suaminya itu, masih memberikan nama yang baik dan penuh makna untuk dirinya. Sangat berbeda dengan dia, yang mensave no ponselnya Tara dengan kata-kata yang kotor. Pria najis.


"Astaghfirullah..... Ya Tuhan, maafkanlah hambamu ini. Sungguh, aku jadi merasa tidak pantas untuk mendampingi pria sebaik suamiku. Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Embun melorotkan tubuhnya, bersandar di meja tempat ponselnya Tara tergeletak.

__ADS_1


Dia berbicara sendiri, dengan air mata yang bercucuran. Kembali menyesali semua sikap buruknya kepada suaminya itu.


"Aku harus menghubungi Pak Budi. Pasti dia bersama Pak Budi." Embun pun dengan tidak sabarannya menscrol ponselnya Tara, mencari kontaknya pak Budi.


Setelah menemukannya, dia pun langsung melakukan panggilan video. Dia ingin mengetahui keberadaan Tara. Saat ini Embun merasa ada yang tidak beres. Tidak biasanya suaminya itu, tidak mengabarinya kalau ingin pergi.


Panggilan terhubung, "Pak, mana suami saya?" Embun mencari keberadaan Tara dalam video yang terhubung. Dia tidak melihat Tara didekat Pak Budi.


"Bos sedang sibuk Nona. Beliau tidak bisa diganggu." Jawab Pak Budi dengan ekspresi wajah datar. Sepertinya Pak Budi, tidak sreg kepada Embun.


"Ada apa pak, kenapa wajah Bapak, masam begitu melihat saya. Apa saya ada salah?" Embun yang punya sifat tak sabaran, sangat penasaran, untuk mengetahui alasan supir mereka nampak tidak bersahabat saat ini.


"Tidak ada Nona, bos dan saya lagi kerja nyonya. Oh iya, Bos pesan tadi. Nona disuruh membaca pesan yang masuk ke WA. Baiklah Nona, saya tutup ya. Assalamualaikum...!" Panggilan pun berakhir. Embun mendengus kesal. Merasa tidak puas setelah menghubungi supirnya itu.


"Ada apa emang di WA. Mana ada pesan yang masuk." Ucapnya heran sekaligus penasaran. Dia pun membuka aplikasi WA. Mulai membuka pesan dari Ardhi dengan debaran jantung yang cepat.


Setelah membaca chat Ardhi, sejenak wanita itu berpikir. "Apa Abang Tara membaca pesan dari Mas Ardhi? tidak mungkin kan dia marah gara-gara pesan ini. Isinya hanya sharelock dan menanyakan kabarku." Ucap Embun, dengan ekspresi wajah bingungnya.


Embun pun mencoba menenangkan dirinya. Dengan menatap indahnya pesona danau Toba, dari balik kaca jendela kamar tempat dia menginap. Setelah merasa tenang, dia pun sarapan dengan tidak berselera. Sungguh membosankan ditinggalkan sendirian.


Waktu terus berlalu, hingga waktu dzuhurpun tiba. Tapi Tara tak kunjung datang ke kamar hotel. Embun sudah mulai bosan mengelilingi seluruh sudut hotel itu. Mulai dari restoran, kolam renang, bahkan taman.


"Dia ke mana sih? koq perasaanku jadi tidak enak ya?" Ucap Embun, mulai bosan mondar-mandir di dalam kamar itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2