
"Maaf, sekali lagi Adek minta maaf!" ucap Embun dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu betapa sakitnya yang dirasakan suaminya itu sekarang. luka jahitan yang baru berumur dua hari itu, telah kena remass. Tentu itu rasanya sesuatu banget.
"Iya sayang, jangan sedih begitu." Tara melap air mata Embun dengan jemarinya, yang sudah membasahi pipi istrinya itu. Kini Embun sedang mengganti perban suaminya itu. Karena aksi tidak terduganya itu. Perban yang menutup luka Tara sudah terlepas.
Embun benar-benar tidak bisa menahan dirinya, saat Tara mencumbunya. Dia gemes sekali pada suaminya itu. Ingin rasanya dia menelan Tara hidup-hidup karena tidak tahu lagi, bagaimana meluapkan gejolak naf#su birahi yang dirasakannya.
"Apa masih sakit bang?" Embun merasa ngilu melihat luka suaminya itu. Lukanya ternyata di dalam masih basah. Walau dari luar nampak kering.
"Gak lagi dek. Tapi, kalau kena sentuh sepertinya akan sakit." Jawab Tara tersenyum tipis.
"Iya bang. Sebaiknya tangan Abang jangan banyak bergerak. Agar jahitannya tidak lepas. Adek jadi takut, tangan Abang infeksi." Embun masih mengkhawatirkan suaminya itu.
"Gak akan, Abang kan konsumsi obat paling bagus. Tidak usah khawatir. Yang sekarang Abang khawatirkan ini sayang." Tara menunjuk benda pusakanya. Embun kembali terlonjak kaget melihatnya. Ya organ tak bertulang itu, masih on dibalik celananya Tara. Harusnya kan benda pusaka milik suaminya itu sudah tertidur lemas. Karena Tara kesakitan. Ini kenapa masih hidup tegak lurus.
"Jadi bagaimana bang? apa kita coba lagi?" tanya Embun ragu. Sebenarnya Embun sudah tidak bern#afsu lagi. Konsentrasi nya pecah, melihat keadaan tangan suaminya itu.
"Iya sayang," Jawab Tara dengan suara serak, karena menahan gejolak nafsunya, dengan raut wajah merah merona. Tara tidak akan tenang, kalau hasratnya tidak tuntas.
Embun menyimpan kotak obat. Kemudian mendekati suaminya itu kembali.
"Adek takut, nantinya Adek tanpa sadar kembali mencengkeram tangan Abang." Ucap Embun lemah, mengusap-usap jemari Tara yang terluka itu dengan lembut.
"Kalau kena cengkram lagi. Kita stop dulu, setelah sakitnya hilang. Kita lanjutkan lagi dek." Ucapan memelas suaminya itu, benar-benar membuat Embun tidak tega. Sebegitu menginginkannya suaminya itu. Apa tidak bisa ditunggu sampai tangan suaminya itu sembuh.
"I----ya bang." Ucap Embun kembali tersipu malu. Karena Tara meraup gunung kembar Istrinya, yang masih ditutupi pakaiannya.
Embun membantu Tara menyingkirkan pakaian yang melekat di tubuh mereka. Itu Embun lakukan, karena tangan Tara sebelah kanan sakit. Sebenarnya Embun merasa malu dengan kelakuannya. Seolah dia yang tidak sabar, sampai melucuti pakaiannya sendiri dan suaminya itu. Tentu Tara sangat senang, Istrinya itu begitu mengerti, apa yang diinginkannya.
Tara tidak menyangka, istrinya itu ternyata wanita penurut dan sangat pengertian. Sangat berbeda dengan Embun yang dulu. Yang selalu merendahkan dan bersikap kasar padanya.
Kini keduanya sudah dalam keadaan polos. Tapi, kali ini Embun benar-benar tidak bisa menikmati setiap sentuhan suaminya itu. Dia sangat tegang. Sangat banyak faktor yang membuatnya tidak bisa menikmati percintaan mereka ini.
Salah satunya, karena masih malu kepada Tara dan memikirkan tangan Tara yang masih sakit. Walau pun seperti itu, percumbuan terus saja berlanjut. Sepertinya stamina suaminya itu sangat besar. Semalaman suaminya itu belum tidur. Dan sekarang masih segar bugar.
"Dek, jangan tegang begitu. Nikmati saja setiap sentuhan Abang." Bisik Tara di daun telinga istrinya itu, setelah pria itu mengisap habis telinga Embun.
Tara kembali melancarkan aksinya, dengan ******* bibir Embun. Dan ternyata istrinya itu sudah pandai membalas serangan Tara. Embun yang kegelian, menggelinjang keenakan. Dia sangat gemes pada Tara. Suaminya itu pandai sekali menyulut birahinya. Tangan Tara yang bergrilia menyentuh setiap inchi tubuh Embun, membuat wanita itu, melayang-layang.
Tara pun meningkat ritme ciumannya dan membuat Embun kehabisan napas. Pria itu sudah sangat bernafsu sekali.
Embun mendorong wajah suaminya itu. Dia ingin menarik napas dalam dan panjang. Dia tidak mau kehabisan napas lagi. Kemudian pasangan yang dimabuk cinta itu. kembali melakukan ciuman panjang yang mendebarkan. Seperti prangko dan amplop, rasanya tak mau lepas.
Diakhiri momen intim ciuman hangat itu. Keduanya memperlambat gerakan lidah. Lalu, Embun melepaskan dekapannya dari tubuh Tara secara perlahan.
Melihat gairah Embun sudah bangkit. Tara yang tidak sabaran itu meminta persetujuan kepada Embun. Agar mereka melakukan penyatuan. Embun yang sudah berada di bawah kungkungan suaminya itu, hanya mengangguk dengan malu-malu.
Dia juga merasa sudah siap. Karena. Bagian bawahnya sudah basah dan berdenyut-denyut.
Tara berdoa, Embun yang mendengar suaminya itu berdoa, akhirnya ikut berdoa juga.
"Ok sayang, kita mulai ya!" Tara memberikan aba-aba. Embun langsung memberi ruang dan jalan kepada kapal selamnya Tara, untuk mengarungi danau milik wanita itu.
Tut... Tut... Embun terlonjak kaget, disaat miliknya Tara menyundul-nyundul miliknya.
__ADS_1
Mentok, Tara mencoba lagi. Mentok, semakon mentok. Jalan hak ketemu. Kunci gerbang sepertinya macet, masih karatan. Pelumas yang keluar dari milik istrinya itu belum bisa membuat benda pusakanya Tara masuk.
"Dek, tahan ya. Kita coba lagi." Ucalam Tara benar-benar membuat Embun semakin takut. Kenapa sakit sekali. Batu juga kepalanya menepi-nepi di danaunya.
"Iya bang." Jawab Embun dengan meringis, karena Tara sedikit mendorong paksa miliknya masuk. Tapi mentok lagi. Tara kembali mencoba, untuk ketiga kalinya percobaan itu. Tara tidak tahan sakitnya.
"Auwwuu..." Embun menerjang dada suaminya itu dengan lututnya. Bahkan terjangan lututnya Embun mengenai dagunya Tara.
Tak sampai disitu, Embun yang lepas kendali. Kembali meremas tangan Tara yang sakit. Dia sungguh tidak sadar dengan kelakuannya.
Tara pun terkapar di sebelah istrinya itu. Menahan sakit di tangan dan dagunya. Karena kena lutut istrinya. Begitu juga dengan Embun, yang menangis tersedu-sedu. Dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut.
Keduanya mencoba menenangkan diri.
"Sepertinya tidak akan berhasil, kita perlu belajar gimana caranya, agar punya Abang bisa masuk dan Adek tidak kesakitan." Ucap Tara frustasi, menatap Embun dengan sedihnya. Coba tangan kanannya tidak sakit. Dia mungkin akan merangkul penuh istrinya itu. Memberi ketenangan pada Embun.
"Iya bang " Jawab Embun lemah.
"Masih sakit?"
"Iya,"
Tara meminta istrinya itu memeluknya dengan hati-hati. Jangan sempat menyentuh tangannya yang terluka.
"Baiklah, kita istirahat dulu ya sayang!" Tara mencium puncak kepala Embun. Wanita itu mendongak, menatap sendu suaminya itu. Dia tidak menyangka, bisa seintim ini dengan Tara. Walau di awal dia malu dan grogi.
Tara tidak tenang, Embun jadi merasa bersalah dalam dekapan suaminya itu. Dia tidak bisa membuat suaminya tuntas
"Apa itu harus di keluarkan?" Ucapnya menunjukkan benda pusakanya Tara yang masih on.
Tara pun merilekskan tubuhnya. Menikmati setiap sentuhan yang dilakukan istrinya itu kepada tubuhnya.
Istrinya itu belum mahir, tapi karena Tara sudah sangat kebelet dan nafsunya sudah diubun-ubun. Akhirnya lahar itu muncrat juga. Saat itu juga, Embun terkejut. Merasa geli, lucu dan jorok. Maklum itu pertama kalinya dia melakukan hal aneh dan konyol seperti itu.
"Terimakasih sayang. Koq Adek hebat banget sih? dulu nilai IPA nya berapa saat di bangku sekolah?" Tara melawak, tapi Embun tidak tertawa.
"Tidak lucu." Embun cemberut, suaminya saja yang merasa enak. Dia kapan? dari tadi rasa nikmat yang didapat nya gak tuntas-tuntas. Malah sekarang miliknya jadi sakit dan pedih.
Setelah mereka membersihkan diri, pasangan suami istri itupun sholat shubuh berjemaah. Ternyata, udah tiga jam mereka belajar sistem reproduksi. Sampai dapat waktu sholat shubuh gak selesai juga.
Kemudian keduanya tertidur lelap. Embun membuat lengan Tara sebagai bantalnya. Memeluk erat tubuh kekarnya Tara.
❤️❤️❤️
Keesokan harinya.
Tara terbangun, pria itu melirik Embun yang masih tidur memeluknya. Pria itu mencium keningnya Embun dengan penuh rasa cinta. Melirik jam yang bertengger di dinding kamar itu. Ternyata sudah pukul delapan pagi. Cukup sudah buat Tara bugar, dengan tidur pulas selama tiga jam.
Saat Tara hendak memindahkan kepala istrinya itu dari tangannya. Embun pun jadi ikut terbangun. Wanita itu membuka sebelah matanya. Dia pun tersipu malu. Karena tatapan Tara yang penuh dengan cinta.
Mereka berdua pun langsung melakukan morning kiss. Tentu saja bukan hanya ciuman bibir. Pasangan suami istri sudah saling mencu"mbu, hingga mereka akan mencoba untuk menerobos gawang pertahanan Embun.
Percobaan kedua pun di mulai. Dengan pelan Tara melakukannya, dengan gaya misionaris. Lagi-lagi gagal, mentok lagi. Embun menangis lagi.
__ADS_1
Kemudian keduanya ke kamar mandi, membuang hajat masing-masing. Dan kembali mereka ingin melakukannya. Perut kedua insan yang dimabuk kepayang itu tidak lapar. Hanya organ bagian sensitif bawah mereka saja yang kelaparan.
"Dek, coba Adek di atas. Jadi adeklah nantinya yang mengatur ritmenya." Pinta Tara lembut, menatap Embun yang ada di bawah kungkungannya.
Sejenak Embun berpikir, wanita itu sedikit merasa keberatan. Dia malu, sangat malu. Apabila dirinya ada di atas. Tapi, apa salahnya dicoba.
Embum pun mulai memposisikan miliknya kepada benda pusakanya Tara.
"SAKIT, SAKIT SEKALI..!" keluh Embun, turun dari tubuh suaminya. Dan langsung berbaring lemah di sebelah suaminya itu.
Tara pun jadi merasa ibah melihat Embun yang mengadu kesakitan. Belum juga masuk, tapi Embun sudah kesakitan begitu. Baru juga kepalanya yang menempel di bibir miliknya Embun.
Tara akhirnya mengambil ponsel pintarnya yang ada di atas nakas dekat tempat tidur. Langsung mensearching di mba google.
Cara melakukan malam pertama langsung gol. Itulah kata kunci yang diketik oleh Tara. Maka muncullah banyak refrensi. Tara membacakan satu persatu caranya. Embun jadi merasa lucu dengan tingkah mereka.
"Abang gak punya lubricant. Gak mungkin kan kita pakai minyak goreng." Ucap Tara bercanda. Embun tertawa terbahak-bahak. Rasa sakitnya hilang sudah.
"Tempe kali mau digoreng, kalau pakai minyak goreng." Ucap Embun masih tertawa, sambil menahan perutnya yang sudah kram. Kelamaan tertawa.
Hehheeh... Tara ikut tertawa lemas. Koq melakukan itu susah begini.
"Abang akan telpon Pak Budi untuk membelinya."
"Jangan sayang, Adek jadi malu nanti sama pak Budi. Kira-kira kalau pakai minyak zaitun bisa gak ya? di tas Adek, ada minyak zaitun." Embun memandang suaminya itu dengan ekspresi wajah bertanya-tanya. Apakah minyak zaitun, bisa digunakan mereka sebagai pelumas.
"Minyak zaitun, sepertinya bisa." Tara langsung bangkit dengan tubuh polosnya untuk mengambil minyak zaitun dari tas Istrinya itu. Embun menatap terkesima penampakan tubuh kekar suaminya itu. Pantas susah, pentongan suaminya besar begitu.
Embun pun mulai melumuri miliknya dengan minyak zaitun. Kembali memasukkan milik suaminya dengan posisi tetap dirinya di atas. Masih mentok juga. Lagi-lagi Embun menambah minyak zaitunnya. Terus mencoba dan mencoba lagi. Hingga percobaan kelima. Pada akhirnya Embun berhasil memasukkan sedikit demi sedikit benda pusaka suaminya itu.
Hingga percobaan keenam, berhasil masuk.
"Yes….!" Tara teriak penuh kemenangan. Tapi, karena Embun merasa sangat sakit. Perih tak tertahankan. Embun kembali mengeluarkan benda pusakanya Tara dari gua miliknya.
Seketika Embun dibuat lemas. Ketika miliknya mengeluarkan beberapa tetes darah. Melihat itu Tara dengan tidak teganya menyeka tetesan darah itu dengan jemarinya.
Merasa kepalang tanggung. Embun kembali mencoba memasukkan punya Tara, dengan masih posisi Embun di atas.
Percobaan ketujuh, benda pusakanya Tara sudah semakin masuk. Tapi, Embun merasa kesakitan luar biasa. Embun kira sudah selesai berdarah, tapi ketika benda pusakanya Tara diangkatnya, darah berceceran menetes-netes dari kema#luannya. Ternyata baru jebol selaput darahnya Embun. Banyak sekali darahnya sampai Embun syok. Tapi, dia tetap menahan sakitnya. Ini harus tuntas, pikirnya Embun.
Sedangkan Tara dibuat terharu dengan perjuangan Istrinya itu.
Percobaan kedelapan Akhirnya pasangan suami istri itu mencoba ganti posisi jadi misionaris, tapi disini Embun kembali sangat kesakitan, akhirnya mereka kembali dengan posisi woman on top.
Percobaan kesembilan, Embun masih mencoba memasukkan. Sambil dirinya terus meminta maaf pada suaminya Tara. Suaminya itu hanya tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa sayang. Abang gak capek, kan Adek yang capek karena Adek di atas". Tara lalu tersenyum sambil menyeka keringat di dahi Embun. Tara tidak menyangka, Embun benar-benar ingin memuaskannya.
Embun istri Soleha, yang mengetahui tugas ya sebagai istri.
Embun bersyukur sekali mendengarnya. Apalagi raut wajah Tara begitu bahagia. Embun semakin bersemangat untuk mencoba sampai akhirnya Tara sedikit mendorong benda pusaka nya supaya masuk dan tiba-tiba, masuklah seluruh buah pisang Ambon itu.
Tara langsung memeluk Embun dengan tersenyum puas. Tidak peduli lagi dengan tangannya yang terluka dan berkata.
"Posisinya sudah pas dan enak sekali sayang. Terimakasih Banyak ya istriku.." Embun hanya tersenyum puas mendengar ucapan Tara yang senang, seperti dapat harta karun itu. Walau dia belum merasa enak. Setidaknya benda pusakanya Tara sudah masuk ke sarangnya.
__ADS_1
TBC