DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Dirahasiakan


__ADS_3

"Assalamualaikum..!"


Tok


Tok


Tok


Setelah selesai berkomunikasi dengan Ardhi melalui panggilan suara. Rudi langsung bertolak ke rumah orang tuanya Melati.


Sudah tiga kali Rudi mengetuk pintu rumah itu, tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam. Rudi terus mengucap salam, berharap orang yang ada di dalam rumah keluar. Tapi, nyatanya tetap juga tidak ada hasil.


Rudi yang putus asa, mencoba menghubungi nomor ponselnya orang tua Melati. Sudah panggilan kesepuluh, tetap juga tidak diangkat. Jadilah Rudi memilih duduk di kursi kayu yang ada di teras rumahnya Melati.


Sepuluh menit berlalu. Tak ada juga, penghuni rumah yang datang ke rumah itu. Hingga akhirnya Rudi pun memberanikan diri, bertanya pada tetangga orang tuanya Melati yang melintas di halaman rumah itu.


"Maaf Bu numpang tanya. Ke mana perginya orang di rumah ini ya?" tanya Rudi, memperhatikan wanita yang masih terlihat muda dengan menggendong anak di punggung, serta kadangan yang mengandung di bahu.


"Sekarang lagi musim jaga burung. Jadi, pagi-pagi sekali sudah pergi ke sawah." Jawab wanita itu ramah. Karena, Rudi pun bertanya dengan ramah. Dia juga mengajak bercanda, anak yang ada di gendongan wanita itu.


Sesaat Rudi berfikir. Wanita itu masih muda, tapi sudah harus bekerja keras. Ya, penampilan wanita yang diajak Rudi bicara. Layakanya orang yang hendak ke sawah atau ke ladang.


"Sawahnya jauh ya Dek?" tanya Rudi masih tersenyum manis.


"Gak jauh Bang, ikuti saja jalan lintas ini. Hanya dua kilo meter dari sini. Sawah Pak Samsul dekat jalan lintas. Nanti, ada bengkel tambal ban. Abang tanyakan saja pada tukang tambal ban itu, di mana sawahnya pak Samsul. Pasti ditunjukkannya." Rudi memperhatikan lekat ibu muda cantik dihadapannya. Hatinya berdesir hebat. Dia merasa kasihan pada ibu muda cantik itu.


"Oohh... Terimakasih ya Dek."

__ADS_1


Ibu muda itu tersenyum menjawab ucapan Rudi. Wanita itu pun melanjutkan langkahnya.


Rudi memperhatikan wanita yang menggendong anak itu berjalan di trotoar jalan. Dia berfikir, wanita itu mau ke mana? kenapa tidak naik becak atau angkutan lainnya?


"Ayo Pak jalan." Titah Rudi kepada sang supir. Dia akan mencari sawahnya Ayahnya si Melati.


"Pak stop, stop." Mobil mewah itu berhenti tepat di hadapan wanita yang ditanyain Rudi tadi. Wanita itu penasaran, kenapa mobil itu berhenti dihadapannya. Tapi, dia yang lagi buru-buru, terus melanjutkan langkahnya.


Rudi pun bergegas turun dari mobilnya. Dia mengejar wanita yang beranak satu itu.


"Hei, hei, ibu muda. Tunggu..!" ucapnya dengan nada keras. Sontak ibu muda itu jadi takut. Lokasi mereka saat ini sedang di tempat sunyi. Tidak ada lagi rumah. Hanya ada hamparan sawah yang padinya menguning di sisi kiri dan kanan.


Wanita itu jadi takut, karena Rudi terus saja mengikutinya. Wanita itu beranggapan Rudi, adalah oknum pencuri anak. Karena, saat ini lagi marak pencurian anak.


Wanita itu mempercepat langkahnya, dia tidak menggubris Rudi yang memanggil-manggil namanya. Padahal Rudi mau memberi tumpangan pada wanita itu, tidak ada niat yang macem-macem. Dengan perasaan sedih bercampur kesal, Rudi kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Aku kenapa sih? koq jadi sensitif begini." Rudi menoyor kepalanya sendiri. Kembali memutar tubuhnya, setelah wanita itu hilang dari pandangan matanya.


"Bos, ini ada bengkel tambal ban?" ucap sang supir, berhenti tepat di depan bengkel itu." Rudi memperhatikan sekeliling. Sepertinya ini bengkel yang dikatakan wanita itu.


Rudi dan sang supir turun dari mobil


Langsung bertanya kepada pemilik bengkel. Ya memang benar, di belakang bengkel itu, adalah sawahnya orang tua Melati. Tepatnya sawah orang yang ditanami mereka dengan berbagi hasil dengan pemilik sawah.


"Iya Bos, itu Pak Samsul, ayahnya calon istri tuan muda." Ucap sang supir, Rudi meneropong dengan membulatkan jari telunjuknya. Sang supir menggeleng melihat tingkah atasannya itu.


"Batangan sawahnya becek Bos. Yakin mau ke sana tuan?" tanya sang supir, memperhatikan Rudi yang sudah menggulung celana jeans-nya.

__ADS_1


"Yakin dong, lihat itu ada banyak jagung, di tanam di sana. Itu pasti jagung nya pak Samsul. Aku mau makan jagung bakar di sana." Ucap Rudi dengan tersenyum bahagia. Entah kenapa dia sangat menyukai kampungnya Melati ini.


"Ayo..!" Rudi memberi kode dengan tangannya. Akhirnya sang supir ikut saja apa maunya atasannya itu.


"Pak, pak Samsul?" teriak Rudi dengan suara riang dan semangatnya. Matahari belum menyingsing, udara juga sangat sejuk. Sungguh suasana yang sangat asri. Membuat hati jadi bahagia riang gembira.


Pak Samsul yang nampak sedang menjaring padinya itu, agar terhindar dari pagutan burung, menghentikan kegiatannya. Ya, padi Pak samsul baru berbulir, masih nampak hijau.


Bulir padinya masih tegak.


Pak Samsul dan sang istri Ibu Khadijah, saling pandang. Merasa mengenal dua pria yang datang ke sawah mereka. Seketika rasa was was dan takut menghinggapi perasaan pasangan suami istri itu. Apakah dugaan mereka itu betul adanya?


"Ya Allah, asi ro halaki nadua mulaki?" ucap Ini Khadijah dengan perasaan takut. Dia kini mematung memperhatikan Rudi yang sudah semakin dekat ke arah mereka. Hanya ada irigasi yang membatasinya. (Ya Allah, kenapa mereka berdua datang lagi?)


"Arakku giot mangalap Hepeng na 50 juta i." Jawab Pak Samsul dengan perasaan tak kalah kacaunya. (Mungkin mau mengambil uang yang lima juta itu).


Total uang yabg diberikan Rudi semalam 50 juta. 30 juta sebagai Beli atau Tuhor. 20 juta, uang untuk beli kalung emas.


Sepeninggalannya Rudi dan sang supir. Pak Samsul dan istrinya membahas lamaran mendadak itu. Mereka sempat beranggapan, bahwa kedatangan kedua pria itu ke rumahnya adalah salah alamat, atau ingin menipu mereka.


Kenapa pernikahan putrinya itu, harus dirahasiakan dari Melati? itu tanda tanya besar. Setelah selesai acara lamaran dan seserahan pun. Pak Samsul meminta kepada tokoh adat dan alim ulama yang dipanggilnya, sebagai saksi. Tidak menceritakan kejadian penting yang terjadi di rumah mereka, kepada orang kampung, terkait Melati yang ingin menikah.


Pak Samsul, takut pernikahan itu tidak terjadi. Karena, putrinya juga tidak bisa dihubungi sampai saat ini. Kata Rudi yang datang mewakili melamar Melati kepada Pak Samsul. Melati katanya akan datang bersama calon suaminya, sehari sebelum pernikahan.


Surat yang dibawa Rudi benar adanya. Dia sudah mempersiapkan berkas yang dibutuhkan untuk pernikahan dari pihak calon mempelai pria. Dan besok rencananya Pak Samsul akan mendaftarkan pernikahannya Melati ke Kantor Urusan Agama. Walau sudah jelas, seperti itu, pak Samsul masih ragu untuk memberi kabar baik itu pada tetangga-tetangga.


TBC.

__ADS_1


Dimohon dukungannya dengan like, comment positif dan vote. Sabar ya reader, Novel ini akan tamat di akhir bulan.🙂🤗


__ADS_2