
"Ada yang lebih serius dari hal itu. Abang mendengar semua percakapan kalian di kamar mandi."
Duar....
Melati sangat terkejut mendengar ucapan Ilham yang penuh dengan penekanan itu. Benarkah pria itu mendengar percakapannya dengan Ibu Jerniati?
"I--tu, itu, tidak seperti yang Abang dengar." Melati tergagap, karena ketakutan. Hal buruk yang dialaminya masih membekas begitu menyakitkan. Dia belum siap untuk membahasnya, walau sudah berlalu satu bulan.
"Nanti kita bahas. Sekarang kita makan dulu." Ilham menatap intens Melati yang masih nampak gugup itu. "Ayo makan dek!" Ilham mendekatkan wadah makanan ke hadapan Melati.
Kupulan asap soup daging terlihat menggoda. Ya, ternyata Ilham memesan sup daging sapi untuk menu makanan mereka. Walau sup nya nampak gurih dan menggiurkan, Melati sungguh tidak berselera untuk menyantapnya. Otaknya sibuk memikirkan, pertanyaan yang akan dilontarkan Ilham padanya.
Lima belas menit pun berlalu, Ilham sudah menghabiskan makanannya. Sedangkan Melati baru juga beberapa suap.
__ADS_1
"Ayo dek, cepat dihabiskan. Adek pasti tahu, hukum menyia-nyiakan makanan." Ucapan Ilham benar-benar membuat Melati semakin sedih. Dia jadi teringat keluarga di kampung. Mereka kadang yang serba kekurangan, harus mengurangi porsi makan, agar beras tidak cepat habis. Walau mereka bersawah, setiap panen. Sepertiga dari hasil panen dijual.
"Iya bang!" Melati akhirnya memaksa dirinya untuk memakan sup itu semua dengan mata berkaca-kaca. Saat makan, semua kenangan di kampung melintas.
Ilham yang mengingatkannya tentang tidak boleh menyia-nyiakan makanan, jadi teringat keluarga di kampung. Melati tidak bisa membendung dirinya. Dia emosional saat ini, air mata yang sedari tadi di tahan, akhirnya tercurah juga. Apa reaksi keluarganya, kalau tahu dia dinodai sang majikan? tentu sebagai orang awam yang tidak punya apa-apa, tidak bisa berbuat banyak.
Ilham menatap lekat Melati yang makan dengan menangis tersedu-sedu itu. Dia membiarkan wanita itu meluapkan kesedihannya.
"Kenapa menangis? Abang salah ucap?" Ilham masih menatap lekat Melati. Wanita itu masih menunduk lemah, diam seribu bahasa. Dia akhirnya mengambil tisu dan melap air mata serta bibirnya. Meneguk air hangat yang ada di gelas. Melati sudah selesai makan.
Haaaa?
Melati langsung melongok kepada Ilham dengan ekspresi wajah terkejutnya.
__ADS_1
"Pak Ardhi, apa kamu menangisinya?" Ardhi mengulangi ucapannya. Karena melihat Melati sedang tidak sinkron. Wanita itu masih tersentak, dengan pertanyaan Ilham.
"Dia tidak mau bertanggung jawab?!!" kali ini Ilham tidak bisa berbasi-basi lagi. Tatapan Ilham pada wanita di hadapannya, penuh dengan kesedihan serta kekesalan. Kenapa Melati jadi korban pria kaya itu. Dia sangat mencintai wanita ini.
"Aa--pa, aa--pa maksud Abang?" Melati terbata-bata. Air mata langsung bercucuran dengan derasnya. Kenapa begitu menyakitkan sebagai korban pemer-kosaan.
"Adek tidak perlu menyembunyikannya lagi. Sejak malam kejadian itu, Abang sudah curiga. Ada yang tidak beres. Tidak mungkin ada berkeliaran di tengah malam." Ekspresi wajah Ilham sangat sulit untuk dibaca oleh Melati. Dia melihat kekecewaan sekaligus dendam dan kasihan.
Melati menunduk, tangannya sibuk melap air mata yang bercucuran deras.
"Adek menyukainya? adek suka pak Ardhi, orang kaya itu?" Melati masih menunduk, selain merasa malu, sakit hati, dia juga tidak tahan mendengar pertanyaan Ilham yang bertubi-tubi.
"Adek jawab pertanyaan Abang. Biar Abang bisa ambil sikap. Aku amati selama ini. Pak Ardhi itu suka sama adek. Makanya Abang tanya, Adek suka Pak Ardhi? sehingga kalian melakukannya? dan Nyonya besar mengetahui perbuatan kalian. Nyonya besar marah, dan meneror Adek. Karena dia tidak mau punya menantu seorang pembantu?"
__ADS_1
"HENTIKAN..... DIAM..... !" teriak Melati dengan berurai air mata.
TBC