DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
-


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Tara berjalan cepat meninggalkan Embun di belakang. Pria itu langsung masuk ke ruang kerjanya. Embun mendesis kesal, melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya itu. Tadi juga saat makan malam di restoran. Tara hanya diam saja. Embun tahu, pasti Tara cemburu. Tapi, cemburu karena apa? sebelum ke rumah sakit, dia sudah minta izin pada suaminya itu.


"Kenapa lagi tu orang?" ucap Embun kesal. Menggeleng pelan dengan menekuk bibirnya. Embun malas mau berdebat dengan Tara. Akhirnya dia memilih masuk ke kamar dan tidur saja. Daripada menyusul Tara, yang akhirnya nanti berdebat.


Sesampainya di ruang kerja. Tara menghempaskan bokongnya di kursi dengan kerasnya. Menghela napas dalam. Suasana hatinya memburuk, setelah menguping pembicaraan Ardhi dan sang istri saat di ruang rawat inapnya Melati.


Tara tidak mengerti dengan dirinya, yang selalu cemburu, apabila Ardhi dan Embun bertemu. Otak warasnya bilang jangan cemburu. Tapi, hatinya berkata lain. Kalau sudah begini dia juga yang akan rugi. Embun tidak akan membujuknya, jika dia merajuk.


Tidak mau larut dalam masalah yang dibuat sendiri. Tara akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar, menyusul isterinya. Sesampainya di kamar. Dia mendapati Embun sedang duduk bersila di atas ranjang, dengan eskpresi wajah sedih menatap layar ponselnya.


Embun nampak larut dalam kesedihannya. Tara jadi merasa bersalah. Pasti istrinya sedih, karena dirinya yang bersikap dingin sedingin es itu.


Eehhmmm....!


Deheman Tara membuat Embun menoleh kepada sang suami yang sudah berdiri di dekat ranjang dengan wajah penuh rasa bersalah. Menatap sendu Embun yang matanya sudah berair itu. Tara naik ke atas ranjang dan langsung memeluk sang istri. Embun terkejut dengan tingkahnya Tara. Tapi, wanita itu tetap membalas pelukan hangat sang suami.


"Maafkan Abang ya? pasti adek jadi sedih, karena Abang cueki."


Dug


Embun yang terkejut itu, membulatkan matanya yang sembab, mendengar permintaan maaf Tara. Dari cara bicara suaminya itu. Sepertinya pria itu begitu menyesal. Atas sikap dinginnya pada sang istri.


"Iya bang..!" Embun akhirnya berakting menangis seolah layaknya istri yang tersakiti. dia akan mengikuti apa maunya suaminya ini. Padahal Embun bersedih, bukan karena Tara mengabaikannya. Tapi, karena wanita itu melihat postingan yang menyayat hati di sosmednya. Yaitu, seorang anak yang dianiaya oleh ibu tiri dan ayah kandungnya. Sehingga sang anak lari dari rumah.


"Pak Ardhi itu harus secepatnya menikahi Melati. Biar Abang legah."


"Iya Bang, memang harus dipercepat." Embun mengelus-elus lembut punggungnya Tara yang sedang memeluknya. Mencoba memahami suaminya yang sedang cemburu itu.

__ADS_1


"Adek kenapa sih gak pernah membujuk Abang, disaat Abang merajuk?" Ucapan Tara membuat Embun memutar kedua bola matanya. Dia benar-benar tidak menyangka kalimat bodoh itu, keluar dari mulut sang suami.


Tubuh Embun bergetar, karena menahan tawanya yang hendak lepas, dalam dekapan sang suami. Dia merasa suaminya itu lucu. Kesambet apa sih suaminya ini. Kenapa jadi seperti anak kecil yang minta dibujuk? Lalu gak dibujuk jadi Tantrum. Suaminya korslet atau kesambet tuyul, yang minta mimik susu pada istri majikannya?


"Iya hasianku, makanya jangan merajuk-rajuk lagi. Dan jangan cemburu lagi sama Mas Ardhi ya? di hati ini, hanya ada nama Abang. Hanya kau yang bertahta di hatiku. Hanya kau yang tersemat di jiwaku." Ucap Embun tersenyum manis. Merasa geli dengan gombalannya.


Tara mengurai pelukannya. Menatap Embun dengan mata yang berbinar-binar. Tara merasa tersanjung dengan ucapan sang istri. Hatinya sejuk, seperti kena tetesan embun.


Sementara Embun saat ditatap sang suami, sudah tidak tahan lagi untuk meluapkan rasa geli di hatinya. Akhirnya wanita itu pun tertawa terbahak-bahak. Suaminya itu ternyata seperti anak-anak.


Kening Tara menyerngit, melihat Embun menertawakannya Embun merasa gombalannya sangat lucu. Sehingga kini dirinya yang berusaha keras, menahan tawanya yang gak bisa tertahan lagi.


"Sudah, sudah, jangan merajuk lagi ya bayi besarku. Sini, sini peluk sayang!" Embun mencoba meraih Tara kembali lagi ke pelukannya. Tapi, pria diam mematung menatap tajam Embun yang menertawakannya.


Embun yang gemes dengan Tara, akhirnya berhambur memeluk Tara dengan semangatnya. Saking semangatnya tubuh Tara terjatuh ditimpah Embun. Wanita itu masih saja menertawakan sang suami, dalam posisi dirinya di atas tubuhnya Tara.


Tara menatap tajam Embun, wanita itu pun perlahan menurunkan volume suara tawanya. Embun menunduk, merasa bersalah atas tingkahnya.


"Stop... stop... aku mau pipis..!" teriak Embun, tapi Tara tidak menghiraukan teriakan istri nya itu. Hingga Embun merasa kelelahan, karena berontak. Tara pun menghentikan aksinya menggelitik Embun.


***


Melati terbangun, karena dia merasa ingin BAB. Ya wanita itu masih mencret, walau rentang waktunya sudah lama. 2-3 jam baru dia merasakan perutnya mules lagi. Melati menatap jam yang ada di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.


Dia mengendarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Seketika hatinya legah. Karena, tidak melihat Ardhi di ruangan itu. Melati masih ketakutan pada Ardhi. Sehingga dia merasa lebih nyaman dan aman, apabila tidak satu atmosfer dengan pria itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya dia akan menjalani hari-harinya setelah menikah dengan pria itu.


Melati menggeleng lemah, memikirkan itu semua. Membuat dadanya terasa sesak dan sempit. Impiannya menikah dengan Ilham pupus sudah. Pria baik yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Melati turun dari bed. Dia berjalan dengan memegangi tiang infusnya, ke arah suster yang tertidur di sofa.


Sesampainya di hadapan suster yang tertidur pulas itu. Melati jadi tidak tega membangunkan suster, untuk membantunya Pup. Akhirnya wanita itu berjalan dengan lemasnya menuju kamar mandi. Tangan kirinya yang tidak diinfus, memegang tiang infus.


Melati mengunci pintu kamar mandi itu. Dia pun mulai menanggalkan pakaian bagian bawahnya semua. Menggantungnya di dinding, yang menyediakan tempat pakaian untuk digantung.


Saat mengeluarkan kotorannya. Melati masih sempat-sempatnya kepikiran keluarganya di kampung. Bagaimana caranya dia memberitahu orang tuanya. Haruskah dia menceritakan semuanya? Melati menggeleng, sepertinya itu bukan cara yang tepat.


Saat memikirkan itu semua. Suara pintu kamar mandi digedor-gedor. Membuat Melati tersentak kaget. Lagi-lagi jantungnya berdebar-debar karena ketakutan. Karena, mendengar suara Ardhi yang marah-marah dari balik pintu kamar mandi.


"Saya suruh kamu menjaga orang sakit. Bukannya tidur dengan pulas seperti itu?" Melati cepat-cepat meraih tisu, membersihkan anusnya. Dia juga membersihkannya dengan shower Closet. Dia sungguh ketakutan mendengar suara Ardhi yang marah-marah itu.


"Dek, Dek Melati? kamu di dalam kan?" terdengar suara suster, yang ketakutan.


"I--ya, iya Sus." Jawab Melati tak kalah gugup. Dia pun dengan cepat meraih pakaian yang dilepasnya. Memakainya dengan menggunakan satu tangan.


"Buka dek, biar kak bantu kamu." Suara suster masih terdengar seperti ketakutan. Jelas suster itu merasa takut. Pasalnya Ardhi mengancamnya. Akan melaporkannya, karena bekerja tidak becus. Padahal Ardhi sudah mengeluarkan uang lebih untuk perawat itu.


"Iya Sus." Melati kesusahan saat memakai celananya. Ini karena dia gugup dan ketakutan. Bahkan dia hendak terjatuh.


"Buka dek!" desak Suster, karena Ardhi yang berada di belakangnya sudah seperti singa siap menerkam.


Krek....


Melati membuka pintu dengan tarikan napas yang berat. Ya dia merasa kelelahan saat memakai CD dan celana piyamanya.


Saat menoleh, matanya langsung tertuju kepada Ardhi yang menampilkan ekspresi wajah kesal bercampur sedih. Ekspresi wajah Ardhi tidak bisa dibaca olehnya.

__ADS_1


TBC


Yuk dukung Novel ini agar cepat tamat😁🤗


__ADS_2