DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Pemaksaan


__ADS_3

Kreekkk...


Ardhi langsung menoleh ke arah pintu kamarnya. Tampaklah Ibunya berjalan ke arahnya dengan ekspresi wajah masam.


"Ada apa lagi Ma? Ardhi mau istirahat lelah." Ardhi nampak malas melihat kedatangan Ibunya itu. Dia lagi malas berdebat. Dia yang tadinya sedang rebahan, kini mengubah posisinya jadi duduk bersandar di headbord tempat tidur.


Ibunya itu menghela napas dalam dan membuangnya kasar. "Ibu ingin kamu mengusir Melati dari rumah ini. Ibu tidak mau rumah kita dihuni wanita gatel seperti dia." Wajah penuh kebencian terpancar jelas di wajah ibunya Ardhi saat ini.


Ardhi berdecak kesal, menatap malas ibunya. "Kenapa sih Ma, begitu membencinya? emang dia ada salah apa sama Mama? kan gak ada, dia itu kerjanya bagus, anaknya baik. Kenapa Mama selalu mengusiknya." Ardhi berbicara penuh dengan kejengkelan saat ini.


Sang Ibu terdiam, entah kenapa dia merasa. Apabila Melati seterusnya bekerja di rumah itu. Dia takut anaknya tergoda dengan pembantu itu. Karena, ibunya Ardhi tahu. Bahwa Anaknya yang baik hati itu, akan kecantol kepada pembantu itu. Apalagi kalau setiap hari memakan masakannya.


"Dia itu bukan wanita yang benar. Tadi sore, Mama pergokin dia sedang bersama pria. Kalau kamu gak percaya periksa CCTV di depan gerbang." Sang ibu bicara penuh keyakinan. Ardhi sampai terpengaruh.


"Ya kalau hanya sekedar bertemu apa salahnya. Siapa tahu, pria itu teman atau saudaranya. Sudahlah Ma, jangan bahas dia lagi. Seberapa hebat sih dia, sehingga Mama menghabiskan energi Mama mengurusi dia terus." Ardhi merasa kurang kerjaan membahas Melati. Dia pun beranjak dari ranjangnya, berjalan cepat ke ruang kerja. Sang Ibu Mengikuti langkah lebarnya.


"Dia hamil." Ucap ibu ketus di belakang Ardhi.


Ardhi memutar bola matanya. Sangat jengah mendengarkan fitnah ibunya itu.


“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka terkena laknat di dunia dan akhirat. Dan bagi mereka adzab yang besar,” Ardhi mengatakan kutipan ayat Alquran. Ardhi bukan Ustadz. Tapi, sejak kenal dengan Pak Zainuddin. Dia jadi lebih dekat dengan Sang Khalik.


Sang Ibu terdiam sesaat mendengar ucapan anaknya itu. Tapi, bahasa tubuhnya mengatakan tidak mau kalah.


"Ya sudah, kita lihat saja. Kalau saatnya melahirkan kita bawa ke Dokter kandungan. Itu saja koq repot!" ucap Ardhi penuh kekesalan, Melihat Ibunya tidak terpengaruh dengan ucapannya. Pria itupun mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya.


"Astaga Ardhi.... Mama tidak memfitnahbya. Tapi, beneran semalam dia bertemu pria."

__ADS_1


"Sudahlah Ma, buatku Melati itu tidak penting dibahas. Kenapa kita malah habiskan waktu membahas ART. Aku banyak kerjaan Ma. Sebaiknya Mama kembali ke kamar Mama." Ardhi bicara memberi kode dengan gerakan wajahnya ke arah pintu keluar. Ibunya kesal dengan sikap putranya itu.


"Mama akan tenang, jika kamu dan Anggun menikah secepatnya." Ucap Wanita tua itu dengan tegas. Ini tujuan utamanya.


"Itu sudah kita sepakati kemarin, Ardhi akan menikahi Anggun tiga bulan lagi." Ucap Ardhi.


"Gak, Mama gak mau. Dua Minggu lagi, kalian harus menikah, titik!" Sang Ibu berkacak pinggang, tidak ingin perkataannya dibantah.


"Ma---!" Ardhi bicara keras. Dia kecewa kepada Mamanya yang tidak mau mengerti itu. Dia meminta waktu tiga bulan, bukan tidak punya alasan. Dia ingin mengenali Anggun lebih dalam lagi. Dia tidak mau gegabah dalam setiap mengambil keputusan. Pernikahan bukanlah permainan, itu adalah hal yang sakral.


"Tidak ada tawar menawar, dua Minggu lagi. Besok Mama akan bilang ke Andi, akan mengurus semua dokumennya." Tatapan Mama yang mengintimidasi membuat Ardhi terdiam.


"Andi sedang banyak pekerjaan, begitu juga dengan Ardhi Ma. Usaha di Singapura, masih perlu penanganan cepat. Jadi Ardhi tidak bisa menikah secepat itu." Keluh Ardhi, dia tidak mau Andi sang Asisten kerepotan dalam bekerja. Apabila mendapat tugas tambahan dari sang Mama.


"Ya sudah, Mama yang akan urus semuanya. Dua Minggu lagi." Ucap Ibunya Ardhi tegas, dengan menunjuk Ardhi. Kode memberi peringatan.


Ardhi menggelengkan kepalanya. Ibunya ini dari dulu selalu memaksa kehendaknya. Ibunya itu terlalu keras kepala. Pria itu pun akhirnya memilih untuk diam dan membuang muka. Dia kesal sekali dengan ibunya itu.


"Nak, Kita banyak hutang Budi sama keluarganya Anggun. Sejak Ayahmu meninggalkan kita selamanya. Ayahnya dulu yang memberi Mama modal usaha kepada kita. Sehingga kamu bisa Mama sekolahkan hingga lulus SMA." Ucapan Mama ya itu mengingatkan Ardhi saat-saat sulit dulu. Sepulang sekolah dia akan membantu Mamanya menjaga warung sembako.


"Anggun juga menyukaimu, dia pinter sudah punya perusahaan juga seperti kamu. Coba bayangkan kalau kalian bersatu. Tentu kekuatan kalian bertambah. Ibu yakin, kalau kamu menikah dengan Anggun. Kamu akan makin sukses Nak." Masih membujuk putranya dengan mengusap-usap bahu pria itu.


"Tapi, Ardhi tidak mencintainya." Jawabnya tegas, melirik Ibunya yang berdiri di sebelahnya dengan ekor matanya.


"Cinta bisa tumbuh dengan salingnya bersama." kini wanita itu melembutkan cara bicaranya.


"Tidak Ma, itu berlaku pada orang yang sama-sama punya niat dan hati yang bersih. Ardhi tidak akan bisa menyukai Anggun." Kini pria itu beranjak dari duduknya. Menepis pelan tangan ibunya dari bahunya.

__ADS_1


Sang Ibu geram, dia merasa sakit hati. Dadanya juga terasa sesak dan sangat sakit. Sepertinya jantungnya kambuh.


Bragggkk.... Buuhhugg...


Sang Ibu jatuh ke kursi dan terpelanting ke lantai. Teriakan wanita tua itu saat jatuh, membuat Ardhi menoleh kebelakang.


"Mama, Mama---!" Ardhi berlari, mendekati ibunya yang tergeletak di lantai. Dia memeriksa napas ibunya dengan menempelkan jarinya di lubang hidungnya. Ternyata wanita itu masih hidup.


Dengan paniknya Ardhi mengangkat tubuh wanita yang berbobot 70 kg itu, tergolong berisi untuk wanita dengan tinggi badan 150cm.


Dia membaringkan ibunya di atas ranjangnya. Menepuk pelan, pipi wanita yang melahirkan nya itu. Dia ingin menyadarkan ibunya itu. Tapi, sang ibu tak ada respon.


Ardhi berjalan cepat mengambil ponselnya dari atas meja kerjanya. Dia mencari kontak Dokter pribadi mereka.


"Dok, cepat ke rumah. Ibu kritis." Ucap Ardhi kepada sang Dokter, setelah panggilan diterima.


"Iya Pak, siap!" jawab sang Dokter yang karakternya humoris.


Tok tok tok..


"Masuk!" titah Ardhi keras.


Ternyata yang mengetuk pintu adalah sang Dokter.


"Loh koq cepat Dok?" tanya Ardhi tidak percaya. Memperhatikan penampilan Dokter, dengan menenteng tas kerjanya. Baru juga tiga menit dihubungi.


"Cepatlah pak. Orang pak Ardhi nelpon, saat saya baru keluar dari kamar ART pak yang muntah mencret itu." Jawab sang Dokter apa adanya, tetap dengan ekspresi wajah lucu.

__ADS_1


TBC.


Like, comentnya makin pelit. 😀🤗


__ADS_2