
Tok tok tok...
"Melati, melati... buka pintunya." Suara Bi Kokom yang kuat mengejutkan Melati yang hampir terbang ke alam mimpi. Dengan malasnya dia pun beranjak dari tempat tidurnya. Membuka pintu kamarnya dengan menguap. Melati ketiduran saat membaca buku.
"Tuan Ardhi gak keluar dari kamarnya. Dan makanan yang kamu sajikan tadi, masih terletak di meja makan. Sana kamu beresin!" titah Bi kokom, menampilkan ekspresi wajah kesal.
Bi Kokom sedikit kecewa pada Melati malam ini. Tugasnya gak selesai dengan baik. Majikan mereka belum makan malam. Tapi, dia sudah masuk ke dalam kamar. Dan membiarkan makanan terhidang di atas meja.
"Iya kah Bi? haruskah aku mengetuk pintu kamar tuan dan mengingatkannya untuk makan?" tanya Melati ragu. Mengingat kemarahan Ardhi tadi sore, membuat Melati ketakutan kepada majikannya itu.
Tuannya itu melewatkan makan malam, berarti tuannya itu sedang tidak ingin diganggu. Padahal selama ini, jikalau majikannya itu di rumah. Makan selalu teratur, makan malam pukul 19.00 wib, setelah sholat Maghrib. Dan sarapan pukul 06.30 Wib.
"Nanya lagi, ayo cepetan sana! Tanyakan pada tuan Ardhi, makan malamnya di antar ke kamarnya atau tidak?" ketus Bi Kokom. Dia adalah kepala pelayan di rumah itu. Dia tidak mau kena tegur. Karena, kelalaiannya dalam mengemban tugas.
"Ii--ya Bi." Melati tergagap. Karena merasa ketakutan pada atasannya itu Diapun Merapikan hijabnya. Mulai melangkah dengan khawatirnya ke kamarnya Ardhi.
Melati sangat takut untuk berhadapan dengan majikannya itu saat ini. Melati takut jadi bahan pelampiasan atas kekecewaan yang dialami majikannya. Masih terekam jelas, bagaimana frustasinya majikannya itu tadi sore.
Sudah enam bulan Melati kerja di rumah gedong itu. Belum pernah dia melihat ekspresi wajah Ardhi semengerikan tadi. Walau memang dia tidak dekat dengan majikannya itu. Tapi, Ardhi masih sering tersenyum disaat Melati melayaninya. Bahkan seminggu terakhir ini, setelah Ardhi pulang dari Singapura. Sudah dua kali Ardhi mengajak Melati naik ke mobilnya, disaat Melati ingin ke kampus. Karena kantor Ardhi dan kampusnya Melati sejalur.
Tok tok tok
"Assalamualaikum... Tuan!" Melati yang gugup itu malah mengucap salam, seperti mau masuk ke dalam rumah saja. Tak ada sahutan dari dalam.
"Tu--an, tuan, sudah saatnya anda makan malam!" Melati memegang dadanya yang bergemuruh. Dia sangat takut majikannya itu murka dan memarahinya. Apalagi kalau sempat memecatnya. Dia tidak mau kehilangan pekerjaan ini. Gajinya lumayan besar, kerjaannya tidaklah berat. Karena ART di rumah itu jumlahnya puluhan orang.
Melati semakin tidak tenang, karena majikannya itu tidak menjawabnya. Melatih menengadahkan kedua tangannya. Berdoa, agar majikannya itu tidak marah kepadanya.
__ADS_1
"Tuan, apakah makan malam anda di antar ke kamar?" Melati tidak mau menyerah, dia harus memastikan majikannya itu makan saat ini.
Hening...
Tetap tidak ada sahutan. Melati yang bingung dan takut itu pun akhirnya pasrah. Melorotkan tubuh rampingnya dan bersandar di daun pintu kamarnya Ardhi.
Kemarahan Ardhi kembali melintas dipikirkannya. Melati lagi-lagi bergidik ngeri dibuatnya. Sebegitu hancurnya hati majikannya itu, sampai menangis dan menyakiti diri sendiri.
'Biasanya orang yang patah hati, yang kemarahannya menggila seperti itu. Tadikan tuan Ardhi menyebut nama Embun. Apakah wanita yang bernama Embun itu yang melukai hatinya tuan Ardhi?'' Melati bermonolog, masih bersandar di daun pintu.
Melati merasa betapa bodohnya wanita yang mencampakkan majikannya itu. Menurutnya majikannya itu sangatlah sempurna untuk kategori seorang pria. Sudah tampan, kaya raya, baik dan sholeh. Hanya saja orangnya sedikit dingin.
"Coba sekali lagi. Kalau tidak ada jawaban, mau gimana lagi. Yang penting aku sudah mengerjakan tugas sesuai aturan." Melati hendak bangkit, saat itu juga dia terjungkal kebelakang. Karena, pintu tempat dia bersandar terbuka. Kini posisinya tepat di kaki Ardhi. Dia mendongak dengan ekspresi wajah penuh ketakutan. Seketika dia bangkit dengan tergopoh-gopoh. Saat itu juga dia terhuyung. Ardhi dengan cepat menangkapnya. Melati sangat terkejut, tidak menyangka majikannya itu akan menangkapnya.
Melati yang tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenisnya, selain Ayah dan saudara laki-lakinya dibuat grogi bukan main. Kini jantungnya sudah bertalu-talu kencang. Rasa grogi itu bukanlah rasa suka atau cinta. Karena, Melati tidak pernah menaruh hati pada majikannya itu. Dia tahu diri, jadi dia sudah membentengi dirinya sendiri. Agar tidak pernah menaruh hati pada Ardhi sang majikan.
Dia juga sadar itu. Seorang pembantu bersentuhan dengan majikan. Itu sangatlah tidak pantas. Disini Melati sudah salah tanggap. Padahal, Ardhi cepat-cepat melepaskan Melati dari rengkuhannya. Karena, sangat menghargai pembantunya itu. Cara berpakaian dan prilaku Melati yang baiklah membuat Ardhi menghargainya.
"Maaf tuan, maaf. Aku tidak bermaksud untuk," ucapan Melati terhenti, disaat Ardhi melenggang pergi dan tidak menggubris ucapan pembantunya itu.
Melati menghela napas, memegangi dadanya yang masih bergemuruh. Mungkin semua wanita akan terpesona pada majikannya itu. Majikannya itu benar-benar sempurna sebagai laki-laki.
Merasa sedikit tenang, Melati berlari mengejar ketertinggalan langkahnya dari Ardhi. Wanita itu membungkukkan badannya di saat sudah bersejajar dengan Ardhi. Dia pun mempercepat mendahului Ardhi ke ruang makan, sambil memegangi dadanya yang detakan jantungnya belum normal itu.
"Masakkan soup daging lembu sekarang!" titah Ardhi setelah duduk di meja makan. Melihat menu yang terhidang di depannya membuat perutnya mual. Karena dia telat makan.
"Baik tuan." Melati menundukkan kepalanya sebagai pertanda siap melaksanakan tugas. Dia pun mengambil daging dari freezer. Membersihkannya, setelah bersih dia masukkan ke panci presto. Karena waktu yang mepet, makanya wanita itu melunakkan daging dengan fresto. Sembari menunggu daging lunak. Melati meracik bumbu soup.
__ADS_1
Ardhi tidak suka makanan pakai penyedap, atau bumbu siap saji. Koki yang melihat Melati sibuk di dapur akhirnya ikut membantu.
"Pak Ardhi tidak mau menu yang saya masak?" tanya koki berjenis kelamin pria, yang bernama Rudi.
"Iya, Tuan sepertinya ingin makan yang segar-segar." Jawab Melati tersenyum manis pada koki yang bernama Rudi.
"Aku juga mau dong Mel, masaknya banyakin. ya!" pinta Rudi memelas.
"Bantuin dong kalau mau juga. Ini dari tadi Abang lihatin mulu. Itu cabe rawit Abang haluskan, tapi jangan halus banget." Titah Melati, sang koki yang bernama Rudi menurut perintahnya Melati. Karena berharap diberi soup daging. Masakan Melati sangat lezat. Koki Rudi saja ketagihan. Padahal dia seorang koki.
"Tuan koq betah duduk di kursi meja makan?"
" Iya ya?" jawab Melati. Melirik Ardhi yang sibuk dengan ponselnya.
"Calon istrinya Tuan, cantik ya?" si Koki mulai menggibah.
"Suka Abang?"
"Gak lah!" jawab si Rudi dengan membengkokkan bibirnya
"Please bang, jangan jeruk makan jeruk dong! sayang banget ketampanan Abang."
"Emang Abang tampan?" si koki tersenyum lebar. Ya Melati orangnya asyik diajak bicara. Selalu membuat hati orang senang mendengarnya.
"Banget, pakai banget. Kalau cara bicara Abang jangan kemayu begini."
TBC.
__ADS_1