DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Agoi Amang


__ADS_3

"Sudah jebol ya, sampai jalan pun pincang." Ucap pria itu dingin. Embun dibuat spot jantung melihat pria dihadapannya.


"Mas Ardhi," ucapnya lirih, suara Embun yang terdengar sedih itu, membuat Tara kesal. Untuk apa lagi pria ini datang ke rumahnya. Berani sekali dia cari mati.


Tara menatap tajam mantan kekasih istrinya itu. Bisa-bisa mulutnya itu mengkomentari cara Embun yang berjalan pincang itu.


Cemburu bilang bos! Tara membathin. Merasa menang, dari Ardhi. Sudah saatnya membuat perhitungan tegas dengan pria dihadapannya ini. Kerjasama perusahaan jadi batal, ya batal lah. Daripada terus berurusan dengan pria tak pantang menyerah ini.


"Ayo pak Ardhi silahkan duduk!" Tara mempersilahkan Ardhi untuk duduk dengan kode tangannya. Kemudian pria itu menuntun Embun untuk duduk disebelahnya. Ardhi yang duduk dihadapan Embun, dengan pandangannya gak pernah lepas dari Embun. Raut wajah sedih dan frustasi jelas terlihat di wajah tampan pria itu.


Embun yang ditatap intens oleh Ardhi hanya bisa menunduk. Dia merasa sangat bersalah kepada kekasihnya itu. Bagaimana caranya memberi pengertian pada mantan kekasihnya itu. Bahwa mereka tidak berjodoh.


"Ada gerangan apa Pak Ardhi datang ke rumah kami, malam-malam begini?" tanya Tara, berusaha bersikap tenang. Tapi, jangan tanya hatinya sekarang panas membara.


Ardhi yang menatap lekat Embun, tidak mendengar pertanyaan Tara. Saat ini yang ada dipikirannya adalah Embun. Tega sekali wanita itu meninggalkan.


"Pak Ardhi, ada keperluan apa anda kesini? kalau kedatangan anda kesini, hanya untuk memandangi istri saya, sebaiknya anda pulang." Kali ini ucapan Tara yang keras dan to the poin itu, membuat Ardhi dan Embun menoleh secara bersamaan kepada Tara.


"Untuk apa memandangi seorang pengkhianat. Mulutnya manis, tapi berbisa. Janji palsu, katanya setia untuk selamanya. Tapi, menikah dengan pria lain." Ucapan Ardhi itu membuat Embun syok, dia yang dari tadi sedih terus, semakin melow saja. Iya benar yang dikatakan mantannya itu. Dulu Embun selalu mengatakan dia cewek setia.


Embun langsung melap air matanya yang jatuh tanpa permisi itu. Memalingkan wajah dari tatapan kedua pria itu.


"Syukurlah Pak Ardhi sadar juga. Itu berita bagus namanya." Tara masih menampilkan ekspresi wajah tenang.


"Kedatanganku kesini, hanya ingin meminta tolong. Agar Anggun putri Wijaya, anda bebaskan. Cabut laporan dari kantor polisi malam ini juga." Ucap Ardhi tegas, masih melirik Embun yang tidak berani menatapnya.


"Pak Ardhi, ditelpon, ini sudah kita bahas. Tindakan kriminal harus dapat sanksi sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya." Tolak Tara tegas. Mana mau dia melepaskan wanita yang ingin menghabisi nyawa isterinya.

__ADS_1


"Pak Tara tahu sendiri kan bagaimana karakterku. Aku tidak akan mengemis begini, Kalau tidak menyangkut orang tuaku" Embun akhirnya menoleh kepada mantan kekasihnya itu. Kalau sudah diungkit-ungkit kepada orang tua. Tentu kita sebagai anak tidak akan tega.


"Dek Embun, Bicaralah pada suamimu. Agar mencabut laporannya. Mas butuh bantuanmu. Mas lakukan ini, karena Mas tidak ingin kehilangan semua orang yang mas cintai. Mas telah kehilangan Kamu. Mas tidak ingin kehilangan ibu untuk selamanya dari dunia ini. Ibu Mas dalam keadaan kritis di rumah sakit. Karena mendapat kabar Anggun ditahan pihak yang berwajib." Ucapan Ardhi yang seperti anak kecil, minta bantuan kepada orang dewasa itu, membuat Embun semakin bersalah dan juga sedih.


Wanita itu hanya diam termangu, melirik Tara yang menampilkan ekspresi wajah simpatik pada Ardhi.


Ardhi bangkit dari duduknya. "Saya harap malam ini, Anggun sudah dibebaskan." Pria itu pun langsung pergi dari rumah itu. Tidak ada gunanya berlama-lama di tempat itu Ardhi bisa gila. Membayangkan Embun dan Tara bermesraan.


Embun bangkit dari duduknya, membalik badannya, menatap mobil Ardhi yang keluar dari pagar rumah itu.


Setelah mobil Ardhi hilang dari pandangan. Wanita itu langsung berjalan meninggalkan Tara yang masih berdiri mematung di tempat itu. Tara menatap Embun yang berjalan pincang ke dalam rumah. Istrinya itu mendiamkannya. Tara tahu, Embun sangat tertekan saat ini.


Tara menarik napas dalam, pria itu juga mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka Ardhi akan mendatanginya. Malah meminta permintaan aneh.


Mana mungkin dia akan melepaskan wanita yang mencelakai istrinya.


Betapa bodohnya wanita itu, rela mengorbankan nyawanya. Agar pria yang dicintainya, tidak bersama dengan wanita lain. Dasar wanita psikopat.


Padahal Embun tidak memilih Ardhi. Dan sekarang wanita itu telah berhubungan dengan pihak kepolisian.


"Dasar cinta, memang gila." Pekik Tara, kesal dengan semua yang terjadi.


Dia pun merogoh ponsel dari saku celananya. Dan langsung melakukan panggilan kepada anak buahnya.


"Kamu urus kasus Nona Anggun Putri Wijaya. Cabut aja laporannya." Titah Tara dalam panggilan telepon.


Setelah selesai menelpon. Lagi-lagi Tara menarik napas panjang. Begitu banyak masalah satu hari ini. Dia pun bergegas menyusul Embun ke kamar mereka.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, dia melihat Embun sudah berbaring di atas ranjang. Wanita itu pun membalik badannya disaat Tara menatap wajah sembabnya. Embun malas berdebat dengan Tara, jika nanti membahas Ardhi. Wanita itu memilih diam saja.


Tara pun tidak mau mengganggu Embun. Pria itu masuk ke kamar mandi. Bersih-bersih dan bersiap-siap untuk memberi kenikmatan pada istrinya itu. Semoga dengan kenikmatan surga duniawi yang akan diberikannya membuat Mood Embun membaik.


Senyum tipis terlukis manis di wajah tampannya Tara. Dia merasa lucu dengan tingkah Embun yang tidak mau menatapnya.


Perlahan Tara naik ke atas rancang. Berbaring di sebelah Embun yang memunggunginya. Tara menatap frustasi punggung indah itu. Berpikir keras, topik apa yang harus dibahas agar Embun tidak mengabaikannya seperti saat ini.


Membahas anak atau membahas keinginan Ardhi? sepertinya akan lebih baik jika membahas keinginan Ardhi.


"Sayang, sudah tidur?" Tara menciumi punggung Embun yang masih ditutupi pakaian itu.


Embun diam, merasa kesal dengan kalimat basa-basi itu. Kalau sudah tidur, mana mungkin bisa diajak komunikasi. Kekesalan Embun semakin menjadi. Disaat pria itu membuka celana tidurnya Embun. Tangannya langsung masuk menelusup ke bo#kong wanita itu.


Suaminya itupun langsung memberikan pijatan dibok#ongnya. Awalnya Embun ingin protes. Tapi, koq lama-kelamaan bok"ong yang dipijat itu, terasa sangat enak.


"Koq enak ya bokoong dipijat." Embun membathin. Sembari menikmati pijatan suaminya dengan tersenyum . Tapi, Tara tidak bisa melihat senyuman Embun itu. Karena kini wanita itu malah telungkup. Berharap bo#kong nya dipijat lebih lama.


"Walau digenggam kuat, andai ia bukan milik kita, ia akan terlepas jua. Walau ditolak ke tepi, andai ia untuk kita, ia akan datang jua. Itulah namanya JODOH." Ucap Tara disela-sela kegiatannya memijat bokongnya Embun. Embun bergerak, ingin berbalik terlentang. Ucapan suaminya itu membuatnya penasaran. Apa maksud Suaminya itu, berbicara seperti itu.


"Eiittsss sayang, jangan berbalik dulu. Nanti Abang jadi salah pijat." Ucap Tara dengan nada menggoda. Embun berdecak kesal. Dia tahu apa maksud suaminya itu. Dia juga takut Sekarang. Pasti mereka akan kuda-kudaan. Kalau dia hamil gimana?


Tapi, sentuhan Tara di bokong wanita itu sudah menyulut birahinya. Bahkan kini inti bawahnya sudah berdenyut-denyut.


"Baru juga sehari masuk surga dan sekarang sudah kena hukum di neraka. Agoi Amang.... terlanjur tahu enaknya, gimana ini...!" ucap Tara ngebanyol dalam logat Batak Toba.


TBC

__ADS_1


__ADS_2