
Hari ini Tara tidak pergi bekerja ke kantor. Dia seharian bersama Embun dan Mama Mira di rumah. Setelah Embun merasa baikan. Mereka menghabiskan waktu bercengkrama di taman, hingga sore hari.
Embun sangat heran dengan kepribadian Tara yang ternyata orangnya rame dan suka buat lelucon. Bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh Rose, waktu itu. Katanya Tara itu orangnya dingin dan jarang tertawa.
Saat asyik tertawa-tawa, ponsel Tara berdering. Pria itu pun meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Setelah menggeser ikon hijau, sambungan telepon pun tersambung.
"Bos, aku ke rumah sekarang, ada yang harus di tandatangani." Ucap Doly dari sambungan udara.
"Iya." Jawab Tara singkat.
"Dek, Mama. Aku ke ruang kerja dulu sebentar ya? Doly mau datang." Tara yang sudah bangkit dari duduknya menatap istri dan Ibunya itu dengan tersenyum. Tara merasa bahagia sekali, bisa dekat dengan Embun, seperti saat ini. Rasanya semangatnya bertambah beratus-ratus kali lipat.
"Nanti saja, kalau Doly sudah datang. Kita disini dulu." Ucap Mama Mira. Dia lagi menikmati momen kebersamaan mereka. Tara pun mengiyakan ucapan Mamanya itu, kembali duduk di sebelah Embun
"Maenku Embun, tahu gak dulu ada cowok yang mogok makan, karena ingin kurus. Padahal matanya selalu melirik makanan." Maman Mira langsung menutup mulutnya yang ingin tertawa lepas itu.
Dia teringat Tara sewaktu remaja, yang ingin diet, karena si Embun mengejeknya gendut.
"Tara Gendut... Tara Gendut..!" Mama Mira melirik Embun yang kini menampilkan wajah terkejutnya. Bisa-bisanya ibu mertuanya itu mengolok-olok mereka.
Embun tertawa, kemudian tersenyum simpul. Kalau diingat-ingat tingkah sewaktu kecil ternyata lucu juga.
"Mama, sudah dong. Lagian ada juga gunanya dulu istriku ini mengejek-ejek si Tara gendut itu. Lihat ini Ma, sekarang jadi kekar begini." Celetuk Tara memamerkan otot bisepnya yang liat. Embun mencibikkan bibirnya, karena merasa suaminya itu terlalu narsis.
"Iya iya, anak Mama paling Kren." Ucap Mama Mira sambil mengacungkan jempolnya. Embun hanya tersenyum melihat keakraban ibu dan anak itu.
Melihat wajah bahagia suaminya hari ini, membuat hati Embun tersentuh. Ingin rasanya dia terus melihat Tara sebahagia itu. Apakah dengan menyerahkan hatinya seutuhnya pada suaminya itu, adalah keputusan yang baik? lalu bagaimana dengan Ardhi, yang juga sangat tulus mencintainya. Mengingat Ardhi, raut wajah Embun langsung muram. Dia jadi tidak tega pada kekasihnya itu, apabila kelak dia memilih Tara.
Embun pun tersadar dari lamunannya, disaat Mama Mira menepuk pelan pahanya. Dia kembali tersenyum, untuk menutupi hatinya yang lagi gelisah itu. Bahkan Embun, mencoba untuk ikut tertawa.
"Terus tahu gak Maen, suamimu itu juga jadi sering olah raga. Baik di rumah, maupun di tempat kebugaran. Emang ya Maen ku yang satu ini. Hebat betul, bisa buat anakku yang superior itu, klepek-klepek. Celetuk Mama Mira, masih tertawa renyah. Melihat Tara yang wajahnya merah padam, karena di bully terus sama Mamanya.
"Ahhh aku masuk duluan deh, panas kupingku dengar ocehan Mama." Tara pun melirik Embun yang ikut tertawa itu. Pria itu menghela napas dan bangkit dari duduknya. Tapi, lagi-lagi Mama Mira menghentikan langkahnya.
"Tunggu sebentar lagi. Doly dan Rose kan belum datang." Mama Mira cemberut, dia belum puas bernostalgia dengan masa lalunya saat mendidik putranya itu. Embun lebih banyak diam, dia merasa belum terbiasa bercengkrama dengan Tara. Melihat indahnya bunga -bunga di taman, serta ikan koi di kolam. Dia pun melangkah ke arah kolam. Dia tertarik untuk memberi makan ikan-ikan koi itu. Sedangkan Tara dan Mama Mira, masih saja bercengkrama.
__ADS_1
Saat Embun asyik memberi makan ikan koi. Ros dan Doly pun datang. Perhatian Embun teralihkan, disaat Rose memilih duduk di sebelah Tara. Padahal ada bangku kosong di sebelah Mama Mira.
Dari arah kolam renang, Embun memperhatikan gerak-gerik Rose yang menurutnya tidak tahu batasan dengan atasannya. Seenaknya saja Si Ros, menepuk paha Tara saat dia merasa seru dengan topik yang mereka bahas.
Entah kenapa dia merasa cemburu, Embun kesal. Dia pun melempar wadah pakan ikan koi yang ditangannya itu ke dalam kolam dengan sekuat tenaga. Hingga menimbulkan suara gaduh. Bahkan menciptakan riakan air di dalam kolam.
Embun pun tersadar dengan kelakuannya. Dia menarik napas dalam. Dan menoleh ke arah Tara serta yang lainnya. Dengan tatapan mata penuh cemburu, raut wajah masam. Tetapi wanita itu mencoba untuk tersenyum. Menyembunyikan perasaan kesal dihatinya.
Embun yang sudah mengetahui perasaan Tara itu, kini dibuat tidak tenang. Apabila ada wanita lain yang ingin merebut perhatian suaminya itu. Padahal Rose sebelumnya dekat dengan Tara, dia tidak merasa kesal. Tapi, sekarang kenapa dia jadi tidak suka melihat kedekatan Tara dan Rose. Padahal Tara dulu pernah bilang, tidak ada rasa pada Rose. Tapi, kenapa dia jadi takut, Rose menggodanya?
"Ayo kita ke dalam rumah saja." Embun pun jadi ikut melangkah, mendengar ucapan Tara yang mengajak sekretaris dan asistennya itu masuk ke dalam rumah.
"Ayo." Ucap Rose. Melambaikan tangan kepada Embun yang sekarang sudah berada disisi Gazebo dengan raut wajah dibakar api cemburu.
Embun menarik napas, setelah Tara dan bawahnya menghilang dari pandangan mereka. kemudian membuang pandangan ke kolam ikan di sebelah kirinya lagi.
"Embun sayang," Panggil Mama Mira dengan menggerakkan tangannya.
"Ya Bou." Embun menoleh, penuh dengan penasarannya. Suara Ibu mertuanya itu tiba-tiba lemah. Dia pun kembali duduk di kursi, yang didudukinya tadi.
Embun termehok mendengar ucapan Ibu mertuanya itu. Dia pun diam serta merasa takut.
"Apa kurangnya Tara Maen?" Mama Mira menatap sendu Embun. Apa maksud ucapan Bounya itu. Apa dia mengetahui segalanya.
"Mengetahui kamu tidak hamil, Bou yakin, kalian belum pernah melakukannya kan?"
Duar..... Ucapan Bounya yang tepat sasaran itu, membuat Jantung Embun melompat. Dia melirik Mama Mira sekejap kemudian membuang muka. Dia malu pada Bounya itu.
"Apa kamu tidak bisa melupakan kekasihmu itu Maen?" Lagi-lagi ucapan Mama Mira, membuat Embun merasa tersudut. Dia juga malu, karena jelas-jelas Disini dialah yang salah. Tapi, kan Tara salah juga, kenapa membuat surat perjanjian dengan Ardhi.
"Bou, Embun minta maaf. Kalau belum bisa jadi parumaen (menantu) yang baik di keluarga ini. Embun dari awal merasa tidak pantas Bou, untuk Abang Tara. Apalagi, Bou tahu sendiri. Insiden menghilangnya Doly saat dibawa arus sungai, membuatku menjauh dari Abang Tara. Tapi, tidak disangka, akhirnya kami menikah juga. Walau sebelum menikah terjadi lagi insiden yang sama-sama tidak kita inginkan." Ucap Embun sendu. Dia begitu gamblang mengatakan uneg-uneg di hatinya. Karena Mama Mira orangnya bijaksana dan penuh pengertian.
Mama Mira hanya terdiam mendengar menantunya. Dia harus bisa tenang dan sabar. Agar Embun benar-benar merasa nyaman saat ini.
"Hidup, mati, rezeki dan jodoh merupakan rahasia Ilahi yang tak pernah bisa kita tebak begitu saja. Empat perkara ini, kesemuanya telah dituliskan oleh Tuhan. Semuanya sudah digariskan sesuai kehendakNya, termasuk kehendak mengenai jodoh atau teman hidup selamanya di dunia hingga akhirat. Saat ini, Embun hanya berusaha menjalaninya sebaik mungkin Bou." Ucap Dengan mata berkaca-kaca.
Embun tidak mau berpura-pura dihadapan ibu mertuanya itu. Dia memang masih bimbang. Apakah mempertahankan hubungannya dengan Tara. Atau kembali kepada Ardhi, sesuai dengan kesepakatan.
__ADS_1
Satu hal yang membuat Embun kecewa kel
pada Tara. Kenapa harus membuat kesepakatan itu. Ya g akhirnya membuat Embun merasa dipermainkan.
"Jodoh adalah ketepanNya yang tak bisa ditolak kehadirannya. Saat ini Embun hanya bisa berdoa, selalu diberi yang terbaik olehNYA Bou." Ya, hanya itu Doa Embun sekarang. Karena, hanya yang kuasalah yang tahu apa yang terbaik untuk hidupnya.
Hati Embun dulunya mantap kepada Ardhi. Tapi, lihatlah ternyata dia menikah dengan Tara. Pria yang sangat dibencinya. Tidak sedikit orang yang telah terlanjur cinta bahkan sangat-sangat cinta tapi ternyata tak tertulis sebagai jodoh. Sekuat apapun cinta itu dipertahankan, kalau memang Tuhan belum mengizinkan dan berkendak, hubungan ini tak akan sampai pada pernikahan.
Sebaliknya, ketika seorang telah tertulis berjodoh dengan satu nama, seberat apapun rintangan yang harus dilewatinya, ia akan tetap dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu, HR Tirmidzi.
" Iya sayang, maaf ya! Bou membuatmu jadi terusik. Ya begitulah memang jodoh. Sekuat apapun kehadirannya ditolak, jodoh akan tetap berpihak. Semoga, kamu dan Tara tetap bersama. Hanya itu Doa Bou sekarang ini sayang." Mama Mira akhirnya menitikkan air mata. Dia sedih, sekaligus kecewa. Karena tidak mendapat jawaban yang pasti dan akurat dari Embun.
Embun mendekati Ibu mertuanya itu dan memeluknya.
"Bou, maafkan Embun juga. Embun tidak bisa mengatakan hal yang kepastiannya Embun gak tahu. Yang jelas saat ini. Embun akan beui jadi istri yang baik untuk Abang Tara Bou." Mama Mira mengelus punggung Embun dengan lembut.
"Iya sudah, sudah. Jangan menangis, nanti Tara marah lagi sama marah, karena istrinya menangis saat bersama Mamanya.
"Bou, kenapa kamu begitu baik samaku?" Embun yang sudah melepas pelukannya dari Mama Mira, melap air matanya dengan jemarinya.
"Kamu itu parumaen Bou. Ya Bou gak mungkin jahat, sama kamu. Darah bou juga ada di darah kamu. Ayahmu, Abangnya Bou." Ujar Mama Mira, melap air mata Embun yang membanjiri pipih putihnya.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi ucapan Bou tadi. Bou yakin, kamu bisa mengambil keputusan yang bagus." Lagi-lagi Embun memeluk Ibu mertuanya itu.
"Kita ke dalam saja ya sayang. Ini sudah mau dapat sholat magrib." Ucap Mama Mira, bangkit dari duduknya, yang diikuti oleh Embun.
Di ruang kerjanya Tara. Mereka sedang sibuk, membahas pekerjaan. Saat itu juga Embun mengetuk pintu ruangan itu dan kemudian masuk, tanpa ada sahutan dari dalam.
Embun yang berada di ambang pintu, dengan nampan berisi minuman dan cake di tangannya, dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya meradang, kepanasan dan penuh kecemburuan.
Saat ini Embun melihat, Rose dan Tara sedang berciuman.
TBC
Mohon dukungannya dengan like coment positif dan Vote
__ADS_1