DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
cemburu tanda cinta


__ADS_3

"Kalian tinggal di sini Mel?" tanya Embun dengan tidak percayanya. Masak Si Ardhi kasih rumah sempit gini buat sepupunya itu. Embun masih memperhatikan ruang tamu yang terbilang menyatu dengan dengan dapur.


"Iya kak, Ayo duduk dulu kak." Melati terlebih dulu mendaratkan bokongnya di ambal empuk berwarna ungu,. merenggangkan kaki dan otot-otot punggungnya yang terasa kaku.


Embun masih menyoroti setiap sudut rumah kecil itu. Di ruang tamu hanya ada meja kerja dan kursi satu. Terus di sudut kiri ada meja makan. Dan di sebelah kanan dapur.


"Eehhmm Kamu jangan mau diajak miskin sama mas Ardhi." Embun tersenyum tipis, dia ingin menilai kepribadian Melati lebih jauh.


"Kalau takdirnya mau miskin, mau gimana lagi kak. Sepasang suami istri harus tahan dengan cobaan disaat materi belum memadai." Melati bangkit dari duduknya, dia akan mengambil sendok dan piring ke dapur, siapa tahu Embun butuh sendok saat menikmati es dawet yang mereka beli tadi.


"Waahhh... kamu benar-benar istri Soleha Mel. Beruntung mas Ardhi dapat kamu. Sudah anak orang kaya, rendah hati, Soleha, cantik. Aduhh.... jadi minder akunya." Melati terkaget-kaget mendengar ucapan kakak sepupunya itu. Kenapa jadi si Embun yang minder. Harusnya dia yang minder.


"Koq kakak bilang seperti itu?" Membawa nampan yang di atasnya ada piring, sendok. Serta toples yang berisi biskuit coklat. Mereka banyak membeli jajanan di pinggir jalan. Karena Embun saat ini maunya ngemil mulu. Beli gorengan, piscok, es dawet. Pokoknya makanan tradisional. Maklumlah kedua wanita itukan orang kampung. Jadi selera mereka ya seperti itu.


"Kamu itu sempurna tahu gak sih Mel. Pasti mas Ardhi merasa nyaman dekat denganmu. Karena kamu itu gak banyak tingkah. Kamu tahu apa yang diinginkan orang disekitarmu. Tanpa orang itu mengatakannya. Kamu itu rendah hati." Ucap Embun serius dan mulai menikmati es dawet yang dicampur es itu. Gula aren dalam es dawet itu asli. sehingga aromanya begitu nikmat.


"Masak sih kak, perasaan biasa saja." Melati tersenyum, merasa senang karena dikatakan gadis yang baik.


Ya begitulah manusia, selalu melihat hidup orang lain lebih sempurna. Tanpa mau bersyukur dengan apa yang dimilikinya hari ini.


"Iya, kamu gak usah cemburu atau sakit hati ya, kalau aku bahas mas Ardhi. Di mataku, mas Ardhi itu gak ada cacatnya. Jadi, wajar kalau kak gak bisa loh lupain dia. Tapi, bukan berati kakak mau mengusik hidup kalian. Gak ada alasan untuk membencinya. Karena, kakak yang salah pada mas Ardhi."


"Iya kak, tapi aku takut. Mas Ardhi lupain aku dan mikirin kakak." Melati langsung memotong ucapan Embun. Dia harus mengatakan hal yang mengganjal di hatinya. Tapi, Melati berbicara dengan nada bercanda.


"Maksudnya apa tu dek?" tanya Embun bingung.


"Ya aku takut, kalau kakak masih perhatian sama mas Ardhi. Aku takut, mas Ardhinya mikirin kakak terus. Secara kan Mas Ardhi cinta banget sama kakak."


"Oohhh..!" Embun akhirnya tersadar, sikapnya selama ini telah banyak disalah artikan orang. Termasuk Tara dan sepupunya ini.


"Eemmmm.... kak seneng kamu ngomong seperti itu. Berarti kamu cemburu nih?" Melati tersenyum tipis, meras malu dengan Embun yang meledeknya.


"Kak gak ada maksud deketin mas Ardhi dek. Posisi mas Ardhi di hati kak saat ini tak lebih dari seorang saudara laki-laki. Kak gak bisa lupain dia, bukan berarti kakak, masih memupuk perasaan cinta yang pernah ada. Kakak hanya mau tetap jalin silaturahmi dengan kalian." Memegang tangan Melati. Mencoba meyakinkan sang sepupu.


"Iya kak, tapi kadang ada rasa takut gitu. Karena, kakak dan Mas Ardhi kan pernah berhubungan." Jawab Melati dengan tersenyum tipis.


"Iya, itu benar. Kak bisa ngerti koq. Tenang saja, kakak akan bersikap biasa aja untuk lain kali." Embun menyeruput es dawetnya dengan sesekali tersenyum pada Melati.

__ADS_1


Ya semuanya harus bisa dijaga, tindakan yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain baik.


Keduanya terdiam dan menikmati minumannya masing-masing. Es dawetnya benar-benar enak dan gurih. Embun sudah menghabiskan satu gelas. Dia kini beralih makan tahu goreng ekstra pedas.


"Kak gak mengalami morning sick?" tanya Melati yang heran melihat Embun yang maka. lahap itu. Bahkan tahunya pedes banget. Banyak sambal di dalam isi tahu itu.


Embun yang menikmati tahu goreng isi itu hanya mengangguk. Dia belum bisa berkata-kata. Karena menikmati makanannya.


"Enak banget ya kak, hamil tapi gak ada efek apa-apa." Ucap Melati lemah. Dia bahkan tiap pagi harus minum obat anti mual. Agar bisa menjalani hari-harinya dengan baik.


"Iya dek, kak juga heran. Makan sih makin kuat, tapi kak sering sakit kepala, apalagi kalau kecapean. Itu saja sih keluhannya." Kini Embun beralih menikmati piscok.


"Gak takut jadi gemuk kak, banyak makan?" pertanyaan bodoh keluar juga dari mukuinya Melati.


"Takut sih, tapi itu yang di suka abangmu. Katanya jangan kurus kali. Tapi, jangan gemuk juga. Aduhh pusing kak jadinya." Ucap Embun tertawa lebar.


"Abang pingin yang agak berisi kali kak."


"Iya itu bener." Jawab Embun, menuangkan air putih ke gelas, dan meneguknya.


Melati tersenyum melihat Embun yang nampak sangat berselara saat makan itu. Embun yang makan dia ikut kenyang.


"Iya kak."


"Kata orang kalau lagi hamil muda, gak boleh makan buah nanas. Tapi, kak makan tuh, syukur Alhamdulillah gak ada apa-apa." Ujar Embun.


"Kakak mungkin makanan gak banyak." Jawab Melati.


"Iya sih gak banyak, kalau makan buah nenas itu jadi seger gitu." Ujar Embun, menatap Melati dengan tersenyum tipis. Dia tahu dari tadi melati memperhatikannya terus.


"Kata Dokter kalau terlalu banyak. Kandungan di nenas itu, bisa buat kontraksi kak. Makanya dilarang ibu hamil makan buah nenas. Takutnya belum saatnya lahir. Rahim sudah kontraksi." Jelas Melati.


"Itu kamu tahu, tadi kak penasaran juga lihat kamu yang beli dua buah buah nenas. Kak takut, kamu makan semua. Hehee.,!" Embun nyengir.


"Gak kak, ini untuk mas Ardhi. Paling nanti aku coba, satu potong kecil saja." Jawab Melati melirik jam yang bertengger di dinding ruangan itu, sudah menunjukkan pukul 15.40 Wib. Waktu sholat ashar telah tiba.


"Kak shokat ashar yuk!" ajak Melati, Embun pun menyetujuinya.

__ADS_1


"Kak mau ke mana?" tanya Melati, melihat Embun berjalan ke taman belakang.


"Mau cari toilet dek."


"Di sini kak," Melati menunjuk kamarnya. Kening Embun mengerut. Gak mungkin kan dia masuk ke kamar mandi pasangan pengantin baru itu.


"Makanya kalian gak usah tinggal di sini. Kamar mandinya saja hanya satu." Ucap Embun, merasa enggan. Masuk ke kamarnya Melati.


"Ya gak apa-apa kak. Ayo!" Melati menarik lembut tangan sepupunya itu. Saat masuk ke kamar itu, tentu rasa tidak nyaman dirasakan Embun. Tapi mau gimana lagi. Dia hanya mau berwudhu.


Setelah selesai berwudhu dengan mata jelalatan menyoroti isi kamar mandi dan kamarnya Melati. Akhirnya mereka melaksanakan sholat ashar berjamaah. Tentu saja Embun yang jadi imamnya. Embun juga Soleha, dia kan lulusan pesantren.


Setelah selesai sholat, ponselnya Embun berdering. Embun dengan cepat melepas mukenanya. Dia tahu sang suami pasti sudah mencarinya.


Benar saja yang menelpon adalah Tara. Dia mengangkat panggilan video itu.


"Assalamualaikum hasian!" ucapnya lembut, dia tersenyum manis pada sang suami. Melati yang mendengar cara bicaranya Embun pada sang suami yang mesra. Membuatnya jadi rindu Ardhi.


"Lagi dimana? kenapa belum pulang?" terlihat di layar ponsel, Wajah Tara terlihat lelah.


"Lagi di rumah Melati Hasian, jenguk Melati." Jawab Embun tersenyum.


"Jenguk Melati, atau mau ketemu mantan?" Kali ini Melati mendengar ucapan Abang sepupunya itu.


Embun melotot kan matanya pada Tara. Dia gak suka kalau Tara menyudutkannya seperti itu


"Cepat pulang, adek gak lupa kan kita mau ke kampung malam ini."


"Iya Mas, gak lupa koq.Ya sudah, adek matikan. Assalamualaikum hasian..!" Embun mematikan panggilan itu, kemudian berbalik badan menatap Melati.


"Abang juga ternyata cemburuan ya kak?!" tanya Melati tersenyum tipis, memberesi bekas makan mereka.


"Sangat, sangat cemburuan. Sama kek kamu dek." Ucap Embun sembari mengenakan hijabnya. Tak lupa touch up, agar wajahnya terlihat fresh saat bertemu Tara.


"Wajar kak, habis kisah kalian itu mengharukan. Terpisah karena dipaksa menikah." Jawab Melati, Embun menarik napas, dia malas bahas itu.


"Yang lalu gak usah dibahas. Kakak pamit dulu. Kamu harus ingat, gak perlu cemburu in kaka. Ok!" Embun nampak terburu-buru. Dia memeluk Melati, melepas pelukan itu dan tangannya langsung menekan handle pintu. Dan saat pintu terbuka dia terlonjak kaget.

__ADS_1


"Astaghfirullah... " Embun memegangi dadanya yang berdebar kencang itu. keberadaan Ardhi dihadapannya membuatnya terkejut.


__ADS_2