
"Umak...!" Ucapnya lirih, menahan sakit dari serangan ibu Jerniati. Ibu Jerniati menarik kuat rambutnya yang panjang itu. Hingga rambut itu tergerai sudah, menutupi wajahnya Melati. Tangan lemah wanita malang itu, berusaha menahan tarikan sang ibu majikan. Dia hanya bisa menangis, merintih dilepaskan.
Kini Melati terduduk lemah, menghadap Ibu Jerniati. Tangan wanita tua itu masih menjambak rambut panjang hitam legamnya. Anggun tersenyum puas, dia suka atraksi yang dilakukan oleh calon ibu mertuanya.
"Mom, kita beri pelajaran, sebelum kita jebloskan dia ke penjara." Ujar Anggun geram, penuh kepuasan. Ini atraksi yang sangat disukainya.
Plak...plak..
Auuwwh.... Melati mengaduh kesakitan.
Anggun wanita gila itu langsung melancarkan aksinya. Menampar keras Pipi kiri dan kanannya Melati. Wajah Melati terhuyung-huyung efek dari tamparan itu. Sakit, tentu sangat sakit. Perilaku satu keluarga ini, akan diingatnya seumur hidupnya.
Ardhi sang majikan, Nyonya besar dan Anggun, sang calon istri majikan. Dia tidak akan pernah memaafkan ketiga orang ini. Begitulah pemikiran Melati saat ini.
"Mom, coba tampar dia. Lihatlah dia Mom, pasrah kali." Hasutan Anggun, membuat wanita tua itupun ikutan menggila.
Plak...
Satu tamparan di pipi Melati. Tamparan itu mengeluarkan darah dari sudut bibir wanita malang itu.
Auuuuwhh... "Sakit, Sa--kit, Jangan pukul aku lagi. Jangan..!" Wajah Melati memelas, sambil menahan sakit. Sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.
Teriakan penuh kesakitan Melati, mengusik tidur lelapnya Ardhi. Tapi, pria itu merasa susah sekali untuk bangun. Bahkan kedua matanya sangat berat untuk dibuka.
Hahhaha... Hahahaha...
"Itu hukuman bagi wanita yang suka menggoda tunangan orang. Wanita gila itu tertawa penuh kepuasan. Dia suka adegan penyiksaan. Anggun memang wanita gila, sama gilanya dengan Ibu Jerniati.
Merasa tidak diperlakukan layaknya manusia.
__ADS_1
Melati ingin berontak, menepis sekuat tenaga tangannya Ibu Jerniati. Tapi, dia tidak sanggup tenaganya habis sudah.
"Kamu akan mendekam di penjara." Hardik Anggun. Menoyor kepala Melati kuat. Sehingga kepala wanita itu terhuyung ke belakang.
Mendengar dirinya akan dijebloskan ke penjara, membuat Melati gemetar ketakutan. Kenapa malah dia yang dipenjara. Dia kan korban, harusnya pria brengsek Ardhi yang dijebloskan ke penjara.
"Apa bisa kita singkirkan dia dengan dijebloskan ke penjara?" tanya Ibu Jerniati ragu, masih menjambak rambutnya Melati. Saat ini Melati, benar-benar tidak punya tenaga untuk melawan.
Dia yang dari tadi siang tidak makan, ditambah harus melawan Ardhi agar tidak menodainya. Membuatnya kehabisan tenaga. Benar-benar tidak ada tenaga lagi. Bahkan saat ini dia merasa kepalanya sudah pusing tujuh keliling. Sepertinya dia akan pingsan.
"Bisa Bu, aku punya cara agar dia nanti kita jebloskan ke penjara." Melati benar-benar ketakutan. Lawannya adalah orang kaya, orang berduit. Yang salah. jasa jadi benar.
"Nyonya, jangan jebloskan aku ke penjara. Biarkan aku pergi Nyonya." Ketakutan yang berlebihan membuat Melati jadi lemah dan tidak bisa berfikir panjang lagi. Dia down, dia pesimis. Apa yang bisa dilakukan orang miskin seperti dia.
Dia tidak mau mengalami nasib sial dua kali. Sudah dinodai, dijebloskan lagi ke penjara. Orang-orang di hadapannya tidak punya perasaan.
"Kamu harus di penjara, agar tidak mengganggu anak saya. Lihatlah kelakuanmu. Kamu menjebaknya di sini. Dasar wanita gatal."
Plak..
"Mom, kita bunuh saja dia. Aku tidak mau gara-gara dia, pernikahan ku gagal. Aku yakin dia akan merusak semua rencana kita." Ucapan Anggun benar-benar membuat Melati syok. Dia tidak mau mati di tangan kedua wanita ini.
"Jangan.. Tidak..!" teriak Melati histeris.
Uhuk..uhuk.. emmm...
Suara batuk dan deheman terdengar dari kamar. Sontak Anggun dan Ibu Jerniati selaras menoleh kearah suara.
"Anggun, kamu atasi Ardhi. Mommy akan mengeksekusi wanita gatal ini. Ayo sana cepat!" Titah sang Ibu Jerniati. Anggun langsung masuk ke kamarnya Ardhi.
__ADS_1
Saat itu juga Ibu Jerniarti lengah, karena melihat ke arah Anggun yang berlari ke kamarnya Ardhi. Wanita itu merasa Anggun kurang gerak cepat. Dia pun akhirnya meninggalkan Melati yang duduk terkulai lemas itu, menyusul Anggun ke kamar.
"Waaww... gila!" teriak Ibu Jerniati, saat melihat Anggun sang calon menantu. Sudah melepas semua pakaiannya. Ibu Jerniati juga membuang wajahnya, tidak sanggup melihat tubuh polos anaknya yang terlentang di atas ranjang. Tapi, pria itu sudah menggerakkan-gerakkan kaki dan tangannya. Sepertinya pria itu akan tersadar.
"Mom, urus wanita itu. Aku akan urus Abang Ardhi." Ucapnya tersenyum mesum. Langsung mendekap tubuh polosnya Ardhi.
Ibu Jerniati pun beranjak dari tempat itu. Saat itu juga dia terlonjak kaget, Melihat Melati sudah tidak ada di ruangan itu. Bahkan tas ranselnya juga sudah tidak ada tergeletak di atas lantai.
"Berengsek!" Ibu Jerniati bingung tujuh keliling. Antara pergi mengejar Melati secepatnya. Atau, melapor dulu pada Anggun. Tapi, tidak mungkin juga dia kembali ke kamar, melihat Anggun bersama putranya sama-sama bu#gil.
Akhirnya dia memutuskan mengejar Melati. "Cepat juga pergerakan wanita gila itu." Keluhnya, dia sudah berada di lantai paling bawah. Bahkan dia sudah keluar dari gedung itu, memperhatikan sekitar yang sudah sepi kendaraan. Karena sudah larut malam.
Lama Ibu Jerniati mondar mandir di halaman kantornya Ardhi, mencari sosoknya Melati. Tapi, dia tidak melihat wanita itu. Akhirnya Ibu Jerniati memutuskan masuk ke dalam gedung kantornya Ardhi.
Sesampainya di ruang kerjanya Ardhi. Wanita itu malah masuk ke kamar.
"Ayo cepat lakukan. Mommy akan mengambil beberapa foto kalian." Ucap Ibu Jerniati kesal. Dia teringat Melati. Gadis itu hampir saja, merusak semua rencana nya. Syukur wanita itu sudah pergi.
Dia juga akan menghubungi orang-orang di rumahnya. Apabila melihat Melati datang ke rumah itu. Maka mereka harus menahannya. Melati harus benar-benar disingkirkan.
Dengan tidak malunya Anggun pun mulai mencumbu Ardhi dihadapan sang Ibu. Sang Ibu Jerniati sebenarnya merasa risih. Melihat anaknya dicummbui di hadapannya. Tapi, rencana harus dilanjutkan. Sehingga dia membuang rasa malunya.
Ternyata sentuhan Anggun membangunkan pria itu. Pria itu langsung tersadar penuh. Dia tidak suka sentuhan Anggun.
"Ka--mu..!" Ardhi mendorong kuat tubuhnya Anggun dari atas tubuhnya. Wanita itu pun terjerembab di sampingnya. Masih di atas ranjang.
"Ardhi... Ardhi.... Apa yang kamu lakukan sayang? kamu menodai Anggun Nak." Ibu Jerniati berakting, seolah-olah, dirinya tidak tahu menahu dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Ardhi yang sudah sadar itu, langsung meraih selimut. menutupi bagian tubuhnya yang sensitif.
__ADS_1
Dia menatap sang Ibu penuh dengan rasa bersalah serta takut. Karena, saat ini sang ibu menampilkan ekspresi wajah penuh kekecewaan.
TBC