
Embun memukul tangan Tara yang berada di bawah pahanya. Sehingga Tara menjauh dari tubuh Embun. Dia sangat kecewa dengan sikap Embun tersebut. Syukur hanya ada Mama Nur di ruangan itu. Sempat banyak orang melihat sikap Embun yang tidak menyukainya itu, betapa malunya Dia.
"Ma, Aku ingin didorong saja dengan kursi roda." Ucap Embun dengan memelas. Dia melirik Tara yang masih berdiri di dekat ranjangnya dengan cemberut. Tara malah ingin tertawa dalam hati melihat ekspresi Embun yang cemberut itu. Begitu besar rasa cintanya kepada Paribannya itu. Walau Embun bersikap dingin. Dia tetap tidak memasukkannya ke hati. Dia memaklumi sikap Embun tersebut.
"Bentar, kita tunggu perawat datang." Ucap Mama Nur. Dia mendekati Tara, dan mengelus lengannya pelan.
"Embun, Tara ini adalah saudaramu juga. Dia sepupumu, sikap mu tadi tidak baik." Ucap Mama Nur, menatap tajam kepada Embun.
Embun semakin cemberut mendengar ucapan Mamanya itu. Kenapa Mama nya memarahinya. Padahal Mama nya tahu betul kalau Embun memang tidak suka kepada Tara. Embun membuang wajahnya dari hadapan Tara dan Mama Nur.
"Maafkan Embun ya Tara, Dia itu malu samamu. Secara kalian kan sudah lama tidak bertemu." Ucap Mama Nur dengan lembut. Embun dibuat tersedak dengan ucapan Mamanya itu, padahal Dia sedang tidak makan atau minum. Bisa-bisanya Mamanya itu mengatakan kalimat yang membuatnya semakin kesal saja.
"Malu..? malu apanya, yang ada kesal dan benci iya." Gumam Embun dalam hati. Dia pun menoleh kepada Tara dan melototkan matanya. Yang membuat Tara ingin tertawa, karena melihat ekspresi wajah Embun yang lucu itu. Tapi, ditahannya.
Perawat pun datang, untuk membantu Embun bangkit dari bed nya.
"Sus, mana kursi rodanya?" tanya Embun dengan tersenyum. Dia sangat berharap benda itu ada.
"Maaf Bu, kursi rodanya sedang di pakai semua." Ucap suster dan membantu Embun untuk turun dari ranjang yang juga dibantu oleh Mamanya. Sedangkan Tara, hanya berdiri di dekat mereka.
"Habis? Rumah Sakit sebesar ini kehabisan syok kursi roda? Aduuhh .... itu tidak masuk akal namanya." Ucap Embun jengah, Dia meringis kesakitan disaat kakinya melangkah. Saat dipapah Mama dan satu perawat.
"Iya Dek, begitulah dulu kondisinya." Jawab perawat dengan tidak enak hati. Entahlah, memang tidak biasanya kursi roda habis.
Embun masih berusaha melangkahkan kakinya
__ADS_1
Dimana Suster memapahnya dibagian lengan yang tidak cidera. Mamanya juga ikut membantu Embun berjalan. Tapi tetap saja Embun merasa kakinya nyeri, saat menekan lantai. Dia meringis, yang membuat Tara tidak tahan melihatnya.
Bagaimana pun Embun itu saudaranya, Dia harus mengesampingkan perasaannya yang masih tidak diterima oleh Embun.
"Suster, biar Aku gendong saja." Ucap Tara dengan tegas. Suster pun senang mendengarnya, begitu juga dengan Mamanya. Hanya Embun yang mendumel dalam hati.
Tara pun langsung menggendong Embun Ala Bridal style. Dengan ringannya, sungguh jantung Tara berdegup kencang saat ini. Sedangkan Embun yang berada dalam gendongan Tara, dibuat salah tingkah. Entahlah, Dia merasa malu sekali.
Embun yang tidak senang berada dalam gendongan tangan. Dia pun berontak-berontak kecil, yang membuat Tara jadi sedikit kesusahan menggendongnya.
"Bisa diam gak? kamu pikir tubuh gendutmu ini tidak berat." Ucap Tara dengan melototkan matanya kepada Embun. Embun tidak terima dengan ucapan Tara yang mengatakannya gendut. Dia malah semakin berontak untuk lepas dari gendongan Tara.
"Ya udah turunin Aku, kalau kamu tidak sanggup menggendong. Enak saja bilang orang gendut. Yang ada kamu itu yang gendut." Ucap Embun, yang membuat Tara menghentikan langkahnya.
"Baiklah, Aku akan turunkan." Tara menurunkan Embun di lantai koridor rumah sakit. Yang membuat Mama Nur dan perawat terheran-heran dengan kelakuan Tara yang menurunkan Embun di lantai tersebut.
"Embun tidak mau digendong Nantulang. Dia berontak terus. Aku takut Engsel-engsel tulangnya yang lepas lagi, karena Dia tidak mau diam. Biar saja Dia berjalan sendiri." Ucap Tara dengan mimik wajah datar. Dia sengaja melakukan itu. Dia ingin melihat, sampai sejauh mana Embun mengandalkan sikap keras kepalanya itu.
"Sus, Carikan kursi roda. Masak tidak ada di rumah sakit ini." Embun histeris, Dia kesal sekali dengan Kejadian-kejadian yang menimpa hidupnya dalam tiga hari ini.
"Baiklah, akan saya periksa lagi." Suster berlari mencari kursi roda.
"Sayang, kita sudah mau sampai di parkiran. Biarlah Tara menggendongmu." Mama Nur menunjukkan wajah lelahnya, sehingga Embun tidak tega. Dia melirik ke arah Tara yang masih berdiri disebelah nya dengan ekspresi datar. Sedikitpun tidak ada senyuman di wajah Tara.
"Maaf Bu, kursi roda tidak ada yang kosong. Semuanya terpakai." Ucap Suster yang datang berlari menghampiri mereka.
__ADS_1
"Nak Tara, ayo Nak gendong lagi Embunnya." Mama Nur mengelus pelan lengan Bere nya itu. Tara melihat ke arah Embun dengan tatapan mematikan, yang membuat Embun tidak berkutik. Akhirnya Embun memasrahkan dirinya digendong Tara ke parkiran.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Embun memandangi wajah Tara yang kali ini menampakkan ekspresi dingin. Tara ternyata sengaja melakukan itu. Dia ingin membuat Embun segan kepadanya.
"Kenapa Dia kalau cool begini sangat tampan?" Embun memperhatikan dengan detail wajah Tara, mau dari bulu-bulu yang ada di dagunya yang sudah mulai tumbuh. Mungkin kalau disentuh akan terasa risih. Bibirnya juga begitu menggoda. Tidak tebal dan tidak tipis. Hidungnya juga semakin mancung."Perasaan dulu sewaktu Dia gendut, hidungnya pesek." Embun membathin. Dia pun tidak menyadari, kalau mereka sudah sampai Di parkiran. Dia asyik menikmati pemandangan menawan dihadapannya. Untuk sejenak Dia melupakan Mas Ardi nya.
Dengan hati-hatinya Tara mendudukkan Embun di belakang jok supir yang disusul oleh Mama Nur. Mobil pun melaju ke rumah Embun.
Sesampainya di depan rumah megah itu. Tara kembali membawa Embun ke dalam kamar dengan menggendongnya. Tentu saja, Tara menampilkan ekspresi wajahnya yang dingin. Benar saja, sikap Tara yang cool itu membuat Embun tidak banyak tingkah.
"Nak Tara, baringkan Embun langsung di ranjang." Mama Nur membuka pintu kamar Embun. Dia berjalan cepat menuju ranjang Embun. Dia memukul-mukul ranjang Embun dengan bantal. Dia sengaja melakukan itu, karena ranjang itu sudah satu malam tidak ditiduri.
Tara meletakkan tubuh Embun di ranjang tersebut, mata keduanya bersitatap. Kemudian Tara tersenyum.
"Cepat sembuh ya Dek," Ucap Tara dan mengelus pelan puncak kepala Embun. Yang membuat Embun salah tingkah. "Kenapa tiba-tiba jadi rumah begini. Tadi wajahnya sangat mengerikan." Gumam Embun. Dia pun mengangguk, menjawab ucapan Tara.
Mama Nur kemudian duduk disisi ranjang, dekat kepala Embun. "Kamu harus berterimakasih kepada Tara, karena Dia masih mau menggendongmu." Ucap Mama Nur pelan.
"Untuk apa berterimakasih, itukan maunya Dia. Biar bisa menggendong cewek. Itu mah hanya modus Dia tu Ma. Pura-pura nurunin Embun di koridor rumah sakit. Padahal Dia senang, menggendong cewek cantik seperti ku." Embun menampilkan wajah kesal dan melirik Tara.
"Terserah kepadamu lah Dek mau bilang apa." Ucap Tara dan berniat pergi dari kamar itu. Tapi, Mama Nur menghentikannya.
"Tara, kamu mau kemana?" Ucap Mama Nur, Tara menoleh. "Mau pulang Nantulang, masih banyak yang harus Tara kerjakan." Ucap Tara masih berdiri di dekat pintu.
"Tunggu, temani sebentar Embun ya. Nantulang mau ke perkebunan salak sebentar. Nantulang ingin melihat kondisi perkebunan salak yang terbakar." Ucap Mama Nur, Dia sangat berharap Tara mengiyakan permintaannya. Sebenarnya itu hanya alasannya saja. Dia ingin Tara dan. Embun berduaan.
__ADS_1
"Mama, Aku ingin sendiri dan tidak ingin ditemani." Ucapnya dengan kesal, Dia pun melotot ke arah Tara.
TBC