
Sesampainya di apartemennya. Ardhi langsung berjalan cepat menuju kamar tempat Melati disekap oleh Rudi. Sang asisten dengan sigap membuka pintu kamar itu. Nampaklah Melati yang langsung berlari kepojokan. Dia takut melihat Ardhi dan Rudi memasuki ruangan itu.
"Tu--an, Tuan, lepaskan saya tuan. Lepaskan saya!" Tubuh Melati bergetar hebat dengan mengatupkan kedua tangannya. Air mata bercucuran deras membasahi pipi pucatnya. Dia yang takut kepada Ardhi, semakin memundurkan langkahnya Karena, Ardhi berjalan ke arahnya.
Ardhi sungguh kasihan melihat keadaan Melati saat ini. Rawut wajahnya sangat pucat. "Benarkah dia mengandung anakku?" Ardhi membathin, terus melangkah pelan menghampiri Melati yang kini sudah mentok di pojokan.
"Tuan--- Lepaskan saya! saya tidak akan menceritakan kejadian itu tuan. Saya akan tutup mulut. Lepaskan saya..?!" Melati sudah bersimpuh di kakinya Ardhi dengan suara isakan tangis yang begitu memilukan.
Ardhi sungguh tidak tega melihat Melati yang menyembahnya. Wajah Melati kini tepat di atas sepatu mengkilap pria itu. Melati yang lemah dan ketakutan, tidak mau mati sia-sia. Dia ingat ancaman Ibu Jerniati saat di kampus tepatnya di kamar mandi. Ibu Jerniati bilang, Ardhi ingin melenyapkan. Karena, Ardhi tidak mau kejadian malam itu terungkap.
Ardhi semakin kasihan melihat keadaan Melati. Dengan tangan gemetar, karena merasa bersalah. Pria itu membantu Melati bangkit. Melati terbengong dengan sikapnya Ardhi. Melati mengira, Ardhi akan menghajarnya sampai mati di kamar mewah ini. Tapi, nyatanya majikannya itu malah menuntunnya untuk duduk di sofa dengan penuh kelembutan.
Melati masih ketakutan, walau sikap Ardhi sangatlah bersahabat. Dia menunduk, karena tidak berani menatap Ardhi yang juga menatapnya lekat penuh rasa kasihan.
"Tinggalkan kami berdua!" Ucapan Ardhi membuat Melati terlonjak kaget. Tubuhnya sampai bergetar. Melati melirik dengan ekor matanya pria yang menculiknya keluar dari kamar itu.
Ardhi jongkok di hadapan Melati yang sedang duduk di sofa. Lagi-lagi Melati terkejut dengan sikap Ardhi. Apa maunya pria ini?
"Tuan lepaskan saya!" Melati kembali bangkit dan langsung berlari ke arah pintu. Berusaha membuka pintu itu untuk melarikan diri. Tapi, usahanya sia-sia. Pintu kamar itu terkunci.
Ardhi bangkit, menatap sedih Melati. Dia baru sadar, bahwa wanita itu ketakutan melihatnya. Ardhi pun tidak mau menghampiri Melati. Dia memilih duduk menjauh dari Melati. Karena kalau dia melakukan itu. Melati pasti akan mempertahankan dirinya.
Ardhi menatap lekat Melati yang berdiri sambil memegangi daun pintu yang tertutup itu. Melihat reaksi Melati yang takut dan tidak menginginkan pertanggung jawaban darinya membuatnya bingung. Apa yang harus dilakukannya. Sepertinya Melati tidak ingin menikah dengannya.
__ADS_1
"Jangan takut, saya tidak akan menyakitimu. Saya akan melepaskanmu. Saya akan mengantarkannu pulang ke rumah Pak Tara." Ardhi bangkit dari duduknya. Melati terkejut mendengar ucapan Ardhi. Benarkah dia akan dilepaskan. Kenapa mantan majikannya itu tahu, dia tinggal bersama Embun sekarang.
Melati tidak percaya seratus persen. Mungkin Ardhi dan Ibu Jerniati sedang merencanakan sesuatu yang lebih ekstrim.
"Ayo, Saya akan antar kamu ke rumah Pak Tara. Sekalian, kita akan bicarakan semua hal-hal yang diperlukan untuk pernikahan kita malam ini."
Duarr..
Dug
Dug
Ucapan Ardhi seperti petir disiang bolong. Benar-benar membuat Melati spot jantung. Apa maksud ucapan majikannya itu? menikahinya? oohh tidak, itu kabar baik atau kabar buruk. Dia belum siap untuk bergabung dengan keluarga Ardhi. Walau tadi siang dia sempat kepikiran akan menikah dengan Ardhi. Agar si Butet, bisa dekat dengan Ilham.
"Baiklah, kalau kamu ingin di sini. Kamu bisa tunggu di kamar ini. Saya sendiri yang akan ke rumahnya Tara." Ardhi mengatakan itu, karena dia melihat Melati tidak mau ikut dengannya.
"Bo--lehkah aku menghubungi kak Embun?" Melati ingin memastikan semuanya kepada Embun. Apa benar yang dikatakan pria di hadapannya.
"Boleh." Ardhi tersenyum tipis. Dia merasa sedikit legah. Melati mau bicara juga.
Ardhi berjalan ke arah meja tempat tas selempang Melati berada. Pria itu mengambil tas itu dan memberikannya pada Melati.
"Kamu telepon Embun sekarang." Ardhi mental heran Melati yang nampak bingung.
__ADS_1
"Hapenya ma--na tu-an?" Melati masih gugup dan takut melihat Ardhi. Tapi, dia berusaha tegar.
"Kamu tidak punya hape?" Ardhi mencodongkan wajahnya guna melihat jelas wajah Melati yang menunduk ketakutan.
Melati menggeleng lemah. Ya sejak Ibu Jerniati terus-terusan menerornya dia tidak berani menggunakan handpone. Bahkan menghubungi orang tuanya keseringan pakai ponsel Ilham atau si Butet.
Ardhi tersenyum tipis, sikap Melati yang ketakutan terlihat lucu dan memprihatinkan. "Ini, kamu telepon Embun. Kalau kamu tidak percaya." Ardhi menyodorkan ponsel mahalnya ke hadapan Melati.
Melati ragu untuk mengambilnya. Akhirnya Ardhi berinisiatif sendiri menghubungi Embun. Sebenarnya Ardhi malu pada Embun. Karena dia ketahuan melakukan pelecehan. Tapi, mau gimana lagi. Semuanya telah terjadi. Dia harus muka tembok pada mantannya itu.
"Assalamualaikum Dek!" ucap Ardhi kini panggilan video sedang berlangsung. Nampak Tara dan Embun di layar sedang duduk bersebelahan di sofa. Tara menampilkan ekspresi wajah masam, setelah mengetahui siapa yang menelpon. Dia tidak suka pada Ardhi yang menelpon istrinya. Tara kembali fokus pada orang di hadapannya saat ini. Ya, mereka sedang ada tamu di rumah. Tara tidak ke kantor lagi setelah dari restoran. Karena mereka mendapat telepon dari Ilham. Bahwa Melati diculik.
"Walaikum salam." Jawab Embun seadanya. Keadaan di rumah mereka saat ini sedang tegang. Karena, Ilham datang ke rumah mereka melaporkan Melati dicuri sekelompok penjahat. Ilham langsung melapor ke kantor polisi. Setelah itu dia meluncur ke rumahnya Tara. Guna meminta bantuan.
"Dek, ada yang mau bicara." Ardhi langsung mengubah camera jadi camera belakang.
"Melati..?" Embun terkejut melihat Melati ada bersama Ardhi. Tara langsung memperhatikan layar ponselnya Embun. Setelah mendengar istrinya itu menyebut nama Melati. Ya di layar itu ada Melati sedang menangis.
Ilham yang segan pada pasangan suami istri di hadapannya, hanya bisa diam sambil mendengarkan percakapan panggilan video itu.
"Iya, kami tunggu di sini." Ujar Embun, Panggilan pun terputus. Tara dan Embun saling pandang. Kemudian mereka berdua beralih menatap Ilham yang tercengang dengan hati menduga-duga.
Setengah jam kemudian, Ardhi dan Melati sudah sampai dikediaman pasangan suami istri Tara dan Embun. Kehadiran Ardhi dan Melati, langsung disambut oleh pasangan suami istri itu di beranda rumah, Ilham juga terlihat di sana dengan ekspresi wajah penuh amarah.
__ADS_1
Melati berjalan lemas ke arah Tara, Embun dan Ilham yang menunggunya. Jiwanya tidak tenang saat ini. Dia semakin tertekan, setelah melihat Ilham juga ada di rumah Tara dan Embun.
TBC