
Pasangan pengantin baru Ardhi dan Melati, telat masuk ke ruang rapat. Itu semua terjadi karena, terjadinya perdebatan antara Ardhi dan Melati, saat di kamar mandi. Ardhi ngotot ingin mandi bareng dengan sang istri, sedangkan Melati tidak mau mandi bareng dengan sang suami. Melati masih belum terbiasa kontak fisik dengan Ardhi, lagian akan sangat memalukan sekali, jika Desi mengetahui kalau mereka Mandi sama.
Karyawan yang bertugas menjaga pintu ruang rapat, memberi kode pada peserta rapat, agar menutup mulutnya. Karena Bos yang ditunggu-tunggu dari tadi akan masuk ke ruangan. Gimana para peserta rapat tidak ribut di dalam ruangan itu, Ardhi yang sangat membenci karyawan yang tidak tepat waktu, nyatanya dia tidak tepat waktu saat ini. Dia telat
tiga puluh menit dari waktu yang ditetapkan.
Ardhi masuk ke ruangan itu dengan menggandeng tangannya Melati dengan erat, melempar senyum manis pada karyawannya yang tercengang melihatnya menggandeng seorang wanita. Karyawan yang pernah melihat Melati tentu bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Bos mereka sedekat itu dengan Melati. Benarkah Bosnya itu sudah menikah dengan Melati. Ardhi mempersilahkan sang istri duduk di kursi empuk di sebelahnya. Memperlakukan sang istri bak ratu yang sangat dihomati. Raut wajah bahagia masih menghiasi wajah tampan pria yang hatinya sedang berbunga-bunga itu.
Para karyawan banyak yang takjub
melihat cara Ardhi yang memuliakan sang istri di hadapan mereka. Semua mata benar-benar terfokus pada mereka. Desi mulai membuka acara, meyampaikan kembali maksud diadadakan briefing mendadadak itu. Padahal tadi pagi, semua divisi sudah melakukan rapat kinerja. Setelah Desi selesai menyampaikan maksud dari acara itu, Ardhi pun mulai memberi arahannya. Tentu saja, dia tidak akan menyidang sang resepsionis beserta geng nya di acara itu. Karena dia bukan tipe pemimpin yang mau mempermalukan bawahan ke anggota lainnya. Ardhi adalah pemimpin yang bijak. Sudah banyak garam kehidupan yang dirasanya. Sehingga dia, pada waktu tertentu bersikap dengan bijak.
Melati tentu saja grogi saat ini. Tatapan mata orang-orang disitu terfokus padanya. Yang ada di hadapannya, bukan hanya karyawan biasa. Semua manager juga ada di acara itu. Melati hanya bisa menunduk dan sesekali mengangkat wajahnya dan tersenyum manis pada orang-orang yang ada di hadapannya. Sedangkan tangan Ardhi masih saja menggenggam tangannya di bawah sana.
“Assalamualikum warahmatullohi wabarakatuh, salam sejahtera buat kita semua. Untuk mempersingkat waktu, saya akan langsung berbicara pada tujuan dari pertemuan ini. Saya sengaja mengumpulkan kalian semua di sini dengan tujuan untuk memperkenalkan istri saya yang bernama Melati assyifa. Wanita yang duduk manis dengan sopannya di hadapan kalian semua. Ini perlu saya lakukan, karena saya ingin memberikan ketenangan
pada istri saya. Saya tahu setelah perkenalan ini, akan banyak wanita yang patah hatinya. Karena mengetahui saya sudah menikah.” Ucapan Ardhi kali ini, membuat Melati terperangah, narsis sekali suaminya itu. Dia pun akhirnya tersenyum tipis, merasa malu dengan kelakuan sang suami.
“Ada pepatah mengatakan, saya harap kalian semua melengkapi kalimat dari pepatah ini." Ardhi berdehem, sehingga Melati menoleh kepadanya. Pandai sekali dia menarik perhatian istrinya itu.
" Tak kenal makanya..?" ucap Ardhi dengan sumringah.
“Tak sayang…!” pertemuan yang
tadinya tegang, akhirnya mencair juga.
“Salah…. Salah… Bapak ibu.” Para
karyawan dibuat bingung dengan ucapan Ardhi, semua orang juga tahu, pepatah itu, tak kenal makanya, tak sayang. Tapi, kenapa Ardhi malah mengatakan salah.
“Menurut saya kalimat pepatah itu kurang tepat. Karena, banyak diantara kita, kenal tapi, tidak sayang. Bahkan kebencian dan pertikaian sering terjadi pada orang yang saling kenal. Para karyawan mangggut-manggut, ucapan Ardhi ada benarnya.
“Tak Kenal, makanya, kenalan dong…!! Itu baru pepatah yang tepat. Agar apa, agar kejadian di loby tadi siang tidak terjadi lagi.” Kini tatapan Ardhi tertuju pada sang sekretaris kinan yang
menundukkan wajahnya.
__ADS_1
“Ketika anda menilai orang lain, anda tidak mendefinisikan mereka, anda mendefinisikan diri anda sendiri. Janganlah menilai orang dari luarnya saja. Kalau anda melakukan itu, itu
artinya anda angkuh dan sombong. Saya tidak mau, punya karyawan yang tidak punya karakter dan attitude yang tidak baik. Jadi di sini akan saya sampaikan juga, bahwa dalam minggu-minggu ini, akan diadakan evaluasi kinerja setiap karyawan.” Seketika wajah para karyawan menegang, kalau Ardhi sudah melakukan itu, jelas akan ada karyawan yang akan di rumah kan.
“Istri saya ini adalah wanita yang sangat luar biasa. Punya hati yang baik dan tulus.” Melati terharu sekali dengan ucapan sang suami. Dia benar-benar dimuliakan di depan para karyawan suaminya itu.
“Istri saya ini adalah putritunggal Pak Zainuddin. Pak Zainuddin adalah pengusaha sukses di bidang kontraktor, proferty dan perhotelan bintang lima.” Seketika ruangan itu jadi riwuh, karena para karyawan yang sibuk berbisik bisik satu dengan yang lainnya. Mengeluarkan pertanyaan tidak percaya, apa yang dikatakan Ardhi.
“Tenang… Tenang bapak ibu.” Desi memberi
peringatan. Karena suara samar mengganggu Ardhi saat memberi arahan. Seketika ruangan
kembali kondusif, dengan tatapan fokus kepada Melati yang nampak menawan saat
ini dengan model baju pejabat.
“Tidak banyak yang ingin saya sampaikan hari ini, saya hanya ingin memperkenalkan istri saya pada kalian semua.” Ardhi menarik napas legah. Dia melirik sang istri yang juga sedang
menatapnya. Mata keduanya beradu pandang. Melati merasa sangat terharu dan berterima kasih dalam hati pada Ardhi yang memperkenalkannya dengan penuh rasa bangga. Sedangkan Ardhi memang lagi mabuk kepayang pada wanita itu. Dia sudah tidak sabar sebenarnya untuk pulang ke rumah. Tapi, dia masih harus memberi ganjaran setimpal pada karyawan yang merendahkan sang istri.
“Baiklah bapak ibu, pertemuan kita cukupkan sampai di sini. Selamat Sore!”Desi menutup acara dengan tegas. Para karyawan pun berhambur dari ruangan itu dengan suara-suara sumbang, Membahas pasangan Melati dan Ardhi yang nampak mesra itu.
“Saya tidak ingin penjelasan apapun dari kalian bertiga. Karena, sikap kalian bertiga, tidak mencerminkan motto dari perusahaan kita. Sanksi yang akan kalian terima adalah. Kalian
bertiga saya masukkan untuk ikut kursus kepribadian selama satu bulan. Dan selama satu bulan itu, kalian tidak akan menerima gaji sepeserpun. Jikalau kalian keberatan dengan sanksi yang sama berikan. Kalian boleh angkat kaki dari perusahaan saya. Saya tidak membutuhkan manusia yang tidak beretika.” Ardhi menatap tajam ketiga wanita itu, ingin rasanya dia membawa masalah ini ke jalur
hukum dengan tuduhan perkara penghinaan. Tapi, itu terlalu tidak manusiawi. Makanya Ardhi memikirkan hukuman yang mendiidik untuk karyawannya yang tak beretika itu.
****
Pukul 17.15 Wib, Ardhi dan Melati sudah keluar dari kantor itu, dan sekarang mereka lagi berada di perjalanan menuju pulang ke rumah.
“Mas, tak seharusnya tadi Mas suruh mereka minta maaf dan cium tanganku segala.” Keluh Melati, berusaha melepas jemarinya yang dari tadi diusap-usap suaminya itu. Sungguh perlakuan Ardhi menurut Melati terlalu lebay. Dari tadi kerjaannya, kalau tidak usap-usap pipinya. Ya usap-usap punggung tangannya.
“Dari situ saja mereka itu terlihat tak beretika dek. Tak mesti mas meminta mereka untuk memita maaf. Tanpa disuruh pun, sudah seharusnya mereka minta maaf pada adek.” Tersenyum pada Melati dan mentoel hidung mancungnya Melati.
__ADS_1
“Iya sih” Melati juga merasa ketiga karyawan suaminya itu sombong dan angkuh. Dia pun memegangi hidungnya yang baru saja ditoel Ardhi.
“Pak singgah di depan ya! Di tempat biasa.” Ucap Ardhi menatap ke badan jalan.
“Iya tuan.” Jawab sang supir, tempat yang dikatakan Ardhi ada sekitar lima puluh meter lagi.
“Oohh iya Pak. Ingatkan saya nanti untuk singgah di ATM ya.” Melirik sang istri yang nampak menikmat iperjalanan pulang yang lumayan macet, dengan menatap ke luar jendela.
“Oh ya Mas, emang kita mau singgah di mana?’ Melati akhirnya penasaran juga, tempat apa yang jadi tempat biasa yang dikatakan Ardhi pada supirnya itu.
“Mas pengen makan mie aceh dek, yang banyak dagingnnya terus pedas.” Melati mengangguk senang, dia juga ingin makan mie aceh.
“Adek masih suka mie aceh kan? Mas jadi teringat saat di rumah sakit. Jadi sekarang, mita puaskan makan mie aceh.” Melati tersenyum malu pada sang suami. Dia merasa lucu dengan dirinya, yang malu meminta mie aceh Ardhi waktu itu.
“Oohh di tempat ini.” Melati memperhatikan
warung mie aceh itu. Selama tinggal di kota Medan. Dia belum perah makan mie Aceh di warung mie aceh yang sebagus ini. Kalau soal pengalaman hidup di kota Medan. Melati masih sangat minim, Karena wanita itu pun hanya sebagai ART sejak merantau di kota itu. Dia punya banyak teman dan wawasan setelah kuliah dan dia baru semeter satu.
“Kita makannya di ruang private aja ya sayang.” Merangkul Melati menanyakan pada pramusaji apa masih ada tempat yang kosong.
“Maaf bang, tempat private sudah penuh semua. Terakhir yang mesan Bapak dan ibu itu.”Menunjuk sepasang manusia yang berjalan ke ruang private yang tak jauh dari mereka.
“Itukan kak Embun Mas.” Melati senang bisa melihat Embun di tempat itu. Ingin rasanya memanggil sepupunya itu. Tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Dia pun akhirnya membalik badan, karena Ardhi memang sudah menuntunnya untuk berbalik badan, ingin pergi dari tempat itu. Ini warung favorite Embun dan Ardhi saat pacaran. Dan dia tidak mau bertemu dengan Embun di tempat itu. Bisa saja kan kenangan manisnya dengan Embun, melintas lagi di pikirannya. Dia tak mau merusak suasana hatinya saat ini. Saat sudah berbalik badan, tepukan pelan dirasakan Melati di bahunya.
Puk…
TBC.
Like, coment, vote ya.
Sekalian mampir ke novelku yang
sudah End, yang berjudul Misteri Jodoh (Janda tapi perawan). Klik profilku ya
say, agar lebih muda menemukan novelnya.
__ADS_1