DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN

DIPAKSA MENIKAHI PARIBAN
Sabar


__ADS_3

"Kenapa sekarang Adek jadi ingin ikut campur. Bukannya kemarin abang kasih usul, Tapi adek tidak mahu melakukannya? Ucap Tara tegas. Embun terdiam, benar apa yang dikatakan suaminya itu. Tapi, itu sebelum dia mengetahui fakta sebenarnya mengenai Melati. Kini dia sudah tahu masalah sebenarnya. Jadi dia


ingin membantu Melati. Dia sangat kasihan pada wanita malang itu.


"Nanti Abang akan tahu semuanya. Abang boleh ikut koq bertemu dengan Mas Ardhi." Embun tersenyum tipis. Ternyata akar permasalahan mereka adalah pesan dari Ardhi.


"Gak usah adek ajak. Abang memang harus ikut. Jikalau pun adek pergi diam-diam menjumpai pak Ardhi. Abang akan mengintai dari belakang."


"So sweet.... Sebegitu cintanya pada Adek!" Embun yang tahu akar permasalahannya yang muncul, karena dirinya. Akhirnya mencoba meredam rasa kesal dan amarah sang suami dengan bergelayut manja di dada bidangnya Tara. Memainkan dasi suaminya itu dengan gemes.


Tapi sedetik kemudian sikap manjanya Embun berubah jadi umpatan. Disaat kejadian pagi tadi melintas di pikirannya.


"Katanya cinta, tapi kasar." Embun menjauh dari sang suami. Hatinya sakit mengingat kejadian tadi pagi.

__ADS_1


"Adek sih naik ke punggung Abang gak bilang-bilang. Abang kaget dong jadinya." Laki-laki memang pandai berdalih.


"Baru naik di punggungnya, Abang sudah kesakitan. Bagaimana dengan Adek yang setiap malam Abang naiki, Abang pompa. Abang pikir, Abang itu gak berat apa?"


Kwkwkwkwk...


Tara terbahak-bahak, mendengar ucapan sang istri. Pandai sekali istrinya itu cari jawaban, pembelaan diri. "Bilanganya berat, tapi enakkan sayang!" Lagi-lagi, Tara tertawa terbahak-bahak.


"Iya sayang, Abang minta maaf. Tadi abang sedang terbakar api cemburu. Jadi wajar lah sikapnya jadi dingin. Lagian hanya sebentar koq." Tara nyengir, kembali merangkul Embun dengan gemes nya.


Merasa lucu dengan kelakuannya disaat kesal dengan pasangannya.


"Rasanya gak enak banget loh sayang!" Tara menuntun Embun duduk di tepi ranjang. Mereka harus membicarakan semuanya. Termasuk disaat ada rasa kesal menguasai jiwa.

__ADS_1


"Iya sayang, lain kali kalau ada hal yang mengganjal di hati, dibicarakan ya. Jangan dipendam sendiri. Nanti penyakitan loh." Tara mengangguk pelan, meraih jemari sang istri dan mengecupnya lembut penuh penghayatan. Kelakuan Tara membuat Embun tersipu malu.


Cinta keduanya terasa semakin besar, setelah melewati kesalahanpahaman. Mereka sadar, bahwa mereka saling membutuhkan. Bersikap dingin dan cuek, membuat mereka setres.


"Iihh sayang, sudah dong!" Embun berontak kecil, saat Tara mel*umat bibirnya Embun, sedangkan tangannya sibuk mer*mas gundukan kenyal kembar miliknya Embun.


"Abang kan mau kerja, kenapa jadi begini." Embun yang cerewet, terus saja mengoceh, tapi sebenarnya dia menikmati permainan sang suami.


"Kita tuntaskan sayang, kalau tidak tuntas. Abang bisa uring-uringan nanti di kantor." Tangan Tara sudah lihai membuka pengait BRa nya Embun. Tangannya langsung meraup benda kenyal hangat itu.


Tara yang tak sabaran itu kembali membuka pakaian sang istri dengan cepat. Embun juga melakukan hal yang sama, membantu Tara melepas, semua yang menempel di tubuh kekar sang suami. Setelah keduanya dalam keadaan polos. Tara langsung mendekap Embun. Merasakan sensasi nikmat tiada Tara. Saat gesekan kulit keduanya mengalirkan kenikmatan yang tak ada gantinya.


"Abang selalu berdoa, agar adek cepat hamil. Tapi, sepertinya Allah belum mempercayakan amanah itu untuk kita." Ucapan Tara membuat Embun sedih. Sudah dua bulan lebih mereka bersama. Tapi, sampai saat ini Embun belum hamil juga. Fakta itu, kadang membuat mereka sedih.

__ADS_1


"Jangan putus asa gitu dong sayang. Baru juga dua bulan kita benar-benar berstatus sebagai suami istri. Ya harus sabar atuh. Yang jelas kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan kita melakukannya hampir setiap malam." Jelas Tara, menyemangati sang istri. Embun tersenyum kecut, menanggapi ocehan Tara.


__ADS_2