
"Aawww...!" teriak Embun saat pendaratan bokongnya tidak sempurna di paha Tara dan hendak tersungkur. Dengan cepat Tara menahan tubuh Embun dengan merengkuh pinggangnya dengan kedua tangannya. Sejurus kemudian Embun Refleks melingkarkan tangannya di leher Tara. Karena takut akan tersungkur.
Sesaat keduanya saling bersitatap, sambil sama-sama meredam debaran jantung yang begitu cepat terasa. Jelas saja jantung Embun terasa mau copot. Karena si bencong dengan kekuatan supernya menarik lengannya agar duduk di pelaminan, harusnya tepat di sebelah Tara.Tapi, nyatanya pendaratannya malah menciptakan adegan romantis.
Tara yang begitu mencintai Embun itu, jelas merasa dag dig dug disaat Dia bisa merengkuh wanita itu.
"Yee.... ciyee..... Romantis sekali saudara....!" teriak salah satu sepupu Embun dan Tara yang juga ikut meramaikan acara malam ber Inai itu.
Embun pun akhirnya tersadar. Dia pun mengerakkan tubuhnya agar lepas dari rengkuhan Tara. Tapi, Tara seolah tidak ingin melepasnya. Yang membuat suara siutan dan sorak riang gembira dari saudara-saudara mereka, membuat Embun kesal bukan main sekaligus malu.
"Lepas....!" ucap Embun pelan tapi dengan merapatkan giginya. Rahangnya terlihat mengeras. Matanya menatap tajam Tara. Embun pun melepas tangannya dari leher Tara. Mencoba melepaskan tangan Tara yang membelit pinggangnya.
Tara terseyum melepas tangannya dari pinggang Embun. Embun bergerak cepat, duduk sedikit menjauh dari Tara. Tapi, masih berada di sebelahnya. Dan menarik napas dalam, membuang wajahnya dari tatapan Tara, yang masih mengamatinya.
Tara menarik napas dalam. Dia tersenyum kepada Si bencong. Mengucapkan terima kasih dalam hati. Karena ulah si bencong yang nampak lembut tapi tenaga kuat itu. Membuat drama romantis.
"Kenapa kalian pakai baju beda begini? harusnya kalian itu pakai baju yang couple an atau baju adat." Ucap Ujing Embun, mendekati Embun dan mendorong tubuh Embun agar lebih dekat kepada Tara. #(Ujing: Tante/ adiknya Mama Nur).
"Boro-boro couplean, ber Inai saja Aku ogah." Ucap Embun pelan, tapi bisa didengar oleh Tara di sebelahnya. Tara terdiam, senyum di bibirnya seolah menyusut.
"Coba kalian pakai baju couplean, pasti lebih mantap lagi." Ucap Ujungnya Embun, tidak bisa membaca suasana yang memanas antara Embun dan Tara.
"Tapi, gak Apa-apa koq. Warna baju kalian hampir sama. Walau warna baju Embun sedikit lebih terang dari Tara." Ujing Embun masih banyak komentar. Memperhatikan penampilan Embun, yang memakai kaftan bertabur Swaroski di bagian dada dan lurus sampai ke bawah. Sedangkan lengan baju sampai siku.
"Cantiknya Boru Ujing." Pujinya menjawir dagu Embun yang nampak salah tingkah. Karena Tara memang memperhatikannya terus.
"Ini lagi, Bereku ganteng banget. Mana baik lagi." Ucap Ujing Embun, menepuk pelan lengan Tara. Sehingga Tara yang terkesima saat melihat penampilan Embun yang nampak anggun dan bercahaya itu, akhirnya tersadar.
Malam ini Embun sangat cantik di mata Tara. Warna Gamis yang dikenakan Embun begitu kontras dengan warna kulit Embun yang putih itu. Apalagi malam ini, Embun pakai hijab. Walau hijab yang dikenakannya asal pakai aja dan ujung fasmina yang dikenakan Embun, di samperin ke belakang. Tidak maksimal saja berdandan Embun sudah mempesona.
__ADS_1
Tangan dan kaki Tara dan Embun mulai dihias dengan Inai. Tentu saja dengan Inai yang sudah siap pakai. Tidak perlu lagi menumbuk daun pacar sampai halus.
Tara memintai hena yang dilukiskan di tangan Embun adalah warna merah. Entah kenapa Tara banyak komentar, mengenai tangannya dan Embun yang dihias.
"Say, gambarnya yang simple aja. Gak usah gambar bunga besar begitu." Ucap Tara memperhatikan si makhluk jadi-jadian yang melukis punggung tangan Embun dengan ekspresi tidak suka. Sedangkan Embun cuek saja. Terserah tangannya mau diapain dia tidak peduli. Toh Dia tidak semangat untuk menikah.
"Sayang, cintaku, honey, tampan.. Kamu tenang saja. Hasilnya pasti bagus. Cocok banget dengan tangannya yang cantik ini." Ucap pelukis hena dengan centilnya. Tetap serius melukis tangan Embun.
Tara yang sudah selesai dipakai kan Hena, malah mendapat godaan dari pariban- Pariban lainnya. Dimana Tara dibuat senang. Karena sepupu-sepupunya itu tidak habis-habisnya memujinya.
"Iban koq nikahnya sama Kak Embun. Padahal aku sudah lama naksir sama Iban." Ucap Dewi, sepupu mereka lainnya. Dia sok manja duduk di sebelah Tara. Bergelayut di tangannya yang membuat Tara sedikit keberatan dengan tingkah Si Dewi. Karena Inai yang melekat di kuku Tara bisa mengenai bajunya.
"Ya, Iban harus nikahi yang tua dulu. Tidak mungkin Iban nikahi anak baru tamat SMA kek kamu. Bisa-bisa yang tua tidak laku-laku nanti." Ucap Tara bercanda menatap Embun yang menampilkan ekspresi wajah kesal. Enak saja Tara mengatakan nya tua dan tidak laku.
"Heran saja, setahuku Iban itu sudah lama berpecat sama Kak Embun, Sekarang malah nikah sih?" rengek Dewi tak tahu malu. Masih sok manja bergelayut di lengan Tara sebelah kanan.
"Itu Dia jodoh itu tidak bisa ditebak. Sudah kami sana Dek. Gabung sama yang lain bernyanyi kasidah." Tara menunjuk panggung tempat Ibu-ibu rebana an.
"Kak, cantik banget Henna nya." Ucap Dewi, memperhatikan tangan Embun dengan terseyum.
"Iya Dek." Jawab Embun pendek.
"Cong, jangan lupa buat inisial Nama Iban Tara di telapak tangannya kak Embun" Ucap Dewi sok mengatur.
"Beres, bentar itu. Siapa namamu tampan?" tanya si bencong kepada Tara.
Tara menoleh." Tanya aja Dia." Ucap Tara menunjuk Embun.
Embun menilik, "Namanya Ar,!"
__ADS_1
"Tara say." Tara langsung memotong ucapan Embun yang ingin mengatakan nama Ardhi kekasihnya.
Embun Kembali membuang pandangannya dari tatapan Tara. Dia sama sekali tidak merasa bersalah kepada Tara. Karena akan menyebutkan nama Ardhi.
Saat itu juga, saudara-saudara Embun dan Tara mendekat kepada mereka. Melakukan banyak sesi potret. Hingga kini mereka berdua diminta berfoto dengan memamerkan tangannya yang sudah dihias dengan henna.
***
Selesai acara malam ber Inai, Embun langsung masuk ke kamar. Dengan alasan ingin cepat tidur. Agar besok saat ijab kabul bisa fres. Sedangkan Tara yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Embun. Memutuskan pulang ke rumahnya. Saat ini juga di rumah mereka masih ramai. Karena banyaknya yang harus dipersiapkan besok untuk acara ijab kabul dan mangalap Boru. (Mangalap Boru : Menjemput pengantin wanita).
Dengan kesalnya Embun mengusap dan mencuci telapak tangannya dengan kasar. Agar inisial nama Tara, bisa terhapus dari telapak tangannya.
"Sebel, kesal.... kenapa ini Henna susah banhet hilangnya. Padahal kan baru juga di tempeli " Gerutu Embun, terus mengucek tangan nya dengan sabun cair.
"T... T.... kesal... Te iya. Kamu memang Te." Teriak Embun di depan wastafel. (Te : Tinja atau kotoran pup, bahasa Batak) Dia menyamakan Tara dengan kotoran, saking tidak sukanya.
Embun yang sudah capek membersihkan tangannya akhirnya menyerah. Dia pun akhirnya mencuci wajahnya, bergsosok gigi dan bersiap-siap untuk tidur.
"Cantik juga Inainya." Ucap Embun memperhatikan lukisan bermotif bunga-bunga kecil di tangannya. Motif itu adalah pilihan Tara.
Embun tersenyum, sesaat Dia membayangkan akan bersama dengan Ardhi nantinya. "Harusnya iniasial namamu di sini sayang." Ucap Embun masih tersenyum.
"Aku akan memfotonya. Nanti Aku edit, menghilang nama Si Tara gila itu. Menjadi inisial namamu sayang." Ucap Embun dengan semangatnya. Memfoto tangannya dan telapak tangannya. Kemudian Dia mengedit hasil fotoannya. Mengganti inisial huruf T jadi A.
"Ok selesai, tinggal simpan." cluuuttt.... ponsel kehabisan daya habis. Ponsel padam, padahal Embun belum men save Hasil editannya.
"Aduh sial," Ucapnya bergerak untuk menchas ponsel milik Ardhi yang diberikan kepadanya. Dia berbaring di ranjang dengan terlentang. Mengkhayal kan Ardhi jikalau jadi suaminya. Enam bulan lagi kita akan bersatu selamanya. Gumam nya dalam hati. Tak butuh lama Dia pun tertidur pulas.
TBc
__ADS_1
Like coment positif dan Vote say. agar popularitas ku menaik. 🙏❤️